
"Apa kalian berdua ingin melenyapkan orang-orang yang ada di sini!"
Ucap Raja Verdifield dengan nada tegas.
Terlihat semua orang yang berada di arena pertarungan berlutut kepadanya, sesaat setelah Raja Verdifield berbicara. Namun tidak dengan diriku yang masih berdiri dan memandang penasaran kepadanya.
Seketika itu, Raja Verdifield kemudian memandang ke arahku yang tentu saja membuatku menjadi gugup.
"Kau yang ada disana!"
Ucap Raja kepadaku
Namun, saat itu aku justru menoleh ke kiri dan ke kanan, setelahnya menunjuk diriku sambil berkata.
"Saya?" Tanyaku.
Tiba-tiba, Raja Verdifield dengan cepat berada tepat di depanku, terlihat bahwa tubuhnya begitu kekar dan juga tinggi, yang tentu saja untuk melihat matanya saja, diriku perlu melihat ke atas.
"Siapa, namamu?" Tanya Raja.
"R-rama." Jawabku dengan gugup.
"Rama, yah." Balasnya.
Raja kemudian membungkukan badannya.
"Terimakasih, karena sudah menyelamatkan nyawa putriku, Rama."
Ucapnya sambil membungkuk.
Aku kemudian merasa heran, mengapa seorang Raja bisa-bisanya membungkukkan badan untuk orang sepertiku.
Tidak berhenti sampai disitu, terl8hay orang-orang yang berada di arena pertarungan berbisik-bisik satu sama lain, mungkin mempertanyakan apa yang sedang dilakukan oleh Raja.
"Isabella merupakan teman pertamaku, tentu saja aku akan melindunginya."
Jawabku kepada Raja.
"Jangan pernah membungkukkan badan Anda terhadap orang sepertiku, angkatlah badan serta kepala Anda kembali."
Ucap permintaanku.
Raja kemudian mengangkat badan dan setelahnya terlihat Dia berjalan mendekati Putri Renia.
"Renia Putriku, Kau sudah menunjukkan bukti bahwa Kau memang layak menjadi seorang pewaris kerajaan ini." Ucapnya.
"Dengan ini kunyatakan, bahwa Kau merupakan satu-satunya pewaris kerajaan ini menggantikan posisi Isabella!"
Lanjut perkataan Raja.
Mendengar hal tersebut, membuat semua orang yang mendengarnya menjadi kaget. Bagaimana tidak? Posisi Putri sudah pewaris kerajaan sudah jatuh ke tangan Renia.
"Tidak!" Teriak Putri Isabella.
Dia kemudian melompat turun ke arena pertarungan, tempat diriku, Raja dan Kakaknya Renia berada.
"Apa yang Ayahanda bicarakan?"
"Bukankah aku merupakan satu-satunya orang, yang berhak untuk menjadi pewaris kerajaan ini?!"
Tanya Isabella sambil berteriak.
"Kenapa harus Kak Putri, Ayah?!"
__ADS_1
Lanjut perkataanya.
Setelah mengucapkan hal tersebut, membuat suasana menjadi hening, tidak ada satupun orang yang berbicara saat itu, bahkan diriku sendiri.
"Aku sadar, bahwa Kau tidaklah pantas, Isabella."
Ucap Raja Verdifield, yang seketika memecahkan diam orang-orang.
Putri Isabella kemudian menangis, dan Dia pun berlari menjauh dari tempat kami berada.
"Isabella, tunggu!" Teriakku padanya.
Aku kemudian berlari mengejarnya, namun saat beberapa langkah berlari, tiba-tiba tubuhku menjadi oleng dan penglihatanku seketika kabur. Karena rasa pusing yang luar biasa, aku kemudian jatuh dan pingsan di tempat.
_________________________________
Beralih ke sudut pandang orang pertama : Isabella.
"Aku sadar, bahwa kau tidaklah pantas, Isabella."
Ucap Ayahanda kepadaku.
Mendengar hal tersebut dari lisan Ayahanda, membuatku sedih, Aku sudah menyerah dengan semua impian yang baru saja ku rangkai.
Mata yang tadinya sanggup menahan semua kesedihan, akhirnya runtuh dan meninggalkan jejak air padanya.
Aku kemudian berlari dari sambil menangis dan berniat pergi sejauh-jauhnya dari kerajaan ini.
Namun, saat beberapa langkah lari yang ku ambil, tiba-tiba saja Rama jatuh pingsan. Aku dengan segera berlari ke tempat Dia berada, dan mengecek kondisinya.
"Rama, sadarlah!"
Ucap teriakku, sambil memegang kedua pipinya.
"Apa … Ini?"
Ucapku sambil melihat pola sihir tersebut.
Ayah kemudian datang mendekati, Dia menyarankan agar Rama segera kembali beristirahat, dikarena energi Mana Dia hanya tinggal sedikit.
Aku pun mengiyakan permintaannya, bukan tanpa alasan apapun, melainkan untuk Rama seorang.
_____________________________________________
Beralih ke sudut pandang orang pertama : Rama.
Saat itu, pandanganku terlihat sangat gelap, tak ada cahaya satu pun yang nampak.
"Dimana, Aku?" Ucapku bertanya-tanya.
Namun, tak lama kemudian, terdapat sebuah jalan cahaya yang seperti menggiringku ke sana. Perlahan-lahan berjalan maju seolah-olah mempersilahkan diriku untuk menelusuri jalan yang cahaya tersebut.
Aku kemudian berjalan maju, sambil mengikuti cahaya tersebut. Menoleh kebelakang dengan maksud melihat jalan yang tadi ku lalui, hanya gelap yang terlihat kembali.
Beberapa langkah ku lalui, kemudian terdengar suara seorang pria yang entah sumbernya datang darimana.
"Selamat datang."
Ucap suara yang entah darimana.
"Siapa?" Tanyaku.
"Tunjukkan dirimu!"
__ADS_1
Ucapku kembali karena Dia hanya diam.
"Tenang, Kau tidak perlu khawatir."
Ucap suara tersebut.
"Bagaimana rasanya setelah bereinkarnasi, Rama?"
Tanya suara tersebut.
Mendengar pertanyaannya, tentu membuatku panik. Bagaimana bisa ada orang lain yang tahu, tentang rahasiaku tersebut?
"Jangan bermain-main, tunjukkan wujudmu sekarang!"
Ucapku dengan nada kesal
"Bagaimana rasanya berada di dalam tubuh orang lain, Rama?"
Tanya kembali suara tersebut.
Aku pun kebingungan dengan keberadaan pemilik suara tersebut. Karena saat menoleh ke kiri, suara tersebut seolah berada di kanan, saat menoleh ke depan, suara tersebut seolah berada di belakang, dan seperti itu seterusnya.
Karena kesal, akhirnya aku menggunakan sihir api guna memperjelas penglihatanku. Dan saat aku menoleh ke depan dan mengarahkan apiku bersamanya, terlihat ada orang tepat berada di depanku.
Dengan sedikit memperbesar apiku, aku kemudian melihat wajah orang tersebut. Dan alangkah kagetnya diriku saat melihat wajah maupun fisiknya mirip denganku, namun perbedaan kecil terletak dimana Dia memiliki mata merah menyala dengan tanda aneh.
"Bagaimana, rasanya?"
Ucap Dia sambil tersenyum jahat kepadaku.
"Siapa Kau sebenarnya?!"
Tanyaku dengan nada tinggi.
Kemudian, Dia mengangkat tangannya dengan perlahan, dan dengan cepat menjentikkan jarinya.
Seketika itu, aku kemudian terbangun dan mendapati diriku sudah berada lagi di kamar.
"Mimpi, yah?" Ucapku setelah bangun.
Setelahnya, Aku melihat sebuah kertas berada di atas perutku. Kemudian mengambil serta membacanya, tertulis disana, bahwa aku dipersilahkan untuk mengganti pakaian dengan seragam akademi sihir Verdifield.
"Untuk Rama.
Jika kamu sudah bangun, cepatlah ganti pakaianmu dengan seragam sekolah akademi Verdifield.
Oh iya, jangan sampai pingsan terlalu lama, karena jam pelajaran akademi Verdifield dimulai dari pukul VIII-XVII."
Isi surat tersebut.
Saat melihat jam yang berada di dinding, alangkah kagetnya diriku karena jam sudah menunjukkan pukul IX.
"Aaaaaaa!"
"Aku telat!" Teriakku.
Dengan buru-buru, Aku mengganti pakaian dengan seragam akademi Verdifield. Tidak lupa juga, mengemas barang-barang yang diperlukan, walau sebenarnya aku tidak tahu barang apa saja yang harus kubawa.
"Bodo amat!"
Ucapku sambil acak mengambil barang apa saja.
Aku kemudian keluar kamar dan berlari menuju sekolah akademi Verdifield berada.
__ADS_1
_Bersambung