Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Party Amatir


__ADS_3

Sudut pandang orang pertama, Rama :


Aku kemudian memberitahukan rencanaku kepada Renia.


"Boleh juga."


"Ayo kita lakukan!"


Ucap yakin Renia.


Singkat cerita, kami kemudian memulai rencana. Untuk memancing makhluk cacing tersebut, kami meletakkan Isabella. Sementara Aku bersama Renia lari berpencar.


Cacing-cacing itu kemudian bergerak menjadi 3 arah. Ada yang mengikutiku, Renia dan juga menuju tempat Isabella.


Dengan cara tersebut kami lebih mudah untuk menyerangnya, karena jika tidak, kami bisa saja terkepung.


Aku bersama Renia menyerang cacing-cacing tersebut menggunakan kekuatan sihir kami masing-masing.


Walau begitu, cacing tersebut amatlah sangat banyak seperti tidak pernah habis, meskipun sudah dihabisi berapa kalipun.


"Jumlah mereka terus bertambah, Rama!"


Teriak Renia.


"Ya aku tahu!"


Jawabku.


Tanpa kami sadari, jarak cacing-cacing yang menuju tempatnya Isabella sudah mulai dekat.


"Rama, selamatkan Isabella!"


Teriak Renia.


"Kenapa bukan dirimu saja?"


Balasku.


"Dasar anak goa … ini semua rencanamu, maka Kau lah yang harus bertanggung jawab!"


Teriak kesal Renia padaku.


Karena takut, Aku kemudian mengaliri Mana ke kakiku agar kecepatanku bertambah. Hasilnya, Aku berhasil menyelamatkan Putri Isabella.


Tiba-tiba, terasa sebuah guncangan yang begitu kuat dari dalam pasir tempatku berdiri.


"Ada apa ini?"


Tanyaku sambil melihat ke bawah.


Saat melihat ke belakang, alangkah kagetnya diriku ketika melihat cacing yang begitu besar sedang berusaha merayap keluar.


Seketika itu, makhluk tersebut meludahkan sebuah cairan yang bersifat korosif ke arahku. Namun dengan sigap, aku berhasil menghindarinya.


Ketika cairan tersebut mengenai pasir, langsung membuatnya berubah warna menjadi hitam dan terlihat asap keluar darinya. Apalagi jika terkena kulit manusia, pasti akan membakar dan hanya meninggalkan tulang.


"Gawat, aku harus berhati-hati!"


Ucapku dalam hati.


Karena Diriku sedang menggendong Putri Isabella, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menghindari cairan korosif tersebut, tanpa bisa melawan sama sekali.


Disaat menghindarinya, kemudian tercetuslah ide untuk mengalahkannya bersama cacing kecil lain.


"Renia, ikuti aku!"


Teriakku padanya.


Kemudian Renia mengangguk tanda setuju, Aku pun berlari bersamanya menuju suatu tempat.


"Kemana kita akan pergi, Rama?"


Tanya Renia padaku.


"Nanti Kau juga akan mengetahuinya!"


Jawabku sambil melihat ke sekitar.


"Nah, ketemu!"

__ADS_1


Lanjut perkataanku karena menemukan sesuatu.


Hal yang kutemukan tersebut tak lain dan tak bukan adalah pohon Blastwood.


"Apa yang dirimu rencanakan dengan pohon ini?"


Tanya Renia kembali.


"Aku akan menggiring cacing-cacing itu ke mari, dan seketika meledakkannya!"


Jawabku.


"Tapi itu terlalu beresiko untukku, Rama!"


Balas Renia.


Saat itu, terlihat cacing-cacing tadi bergerak dengan cukup cepat. Termasuk cacing besar yang terlihat bergerak dari bawah pasir menuju ke tempat kami berada.


"Tidak ada waktu lagi, ini satu-satunya cara!"


Tegaku pada Renia.


"Baiklah." Balasnya.


Aku kemudian menyerahkan Putri Isabella yang sedang pingsan padanya untuk digendong, dan menyuruhnya untuk lari terlebih dahulu.


Dengan menggunakan sihir api, Aku memancing cacing-cacing kecil bersama yang besar untuk mengejarku dan menggiring mereka ke pohon Blastwood.


"Bagus, mereka terpancing!"


Ucapku dengan nada yakin.


Aku kemudian berada dekat dengan pohon Blastwood dan sejenak memeganginya. Berbalik kebelakang, terlihat banyak sekali cacing gurun yang sudah mengepungku dari segala sisi.


Dengan segera Aku menggunakan sihir elemen tanah dan membuat sebuah tembok persegi tanpa penutup atas, sisi kanan kiri, depan belakang serta bawah, Aku tutupi dengannya agar makhluk ini tidak bisa kabur.


Terlihat cacing-cacing ini kemudian datang dan berniat menyerangku. Dengan segera, Aku kembali menggunakan sihir tanah, dengan membuat sebuah gundukan tanah yang cukup tinggi sebagai pijakanku untuk melompat.


Udara diatas begitu sejuk, sejauh mata memandang hanya ada gurun pasir. Melihat kebawah, cacing-cacing tersebut membuka mulut mereka.


"Kalian lapar, yah?"


Aku kemudian membalikkan posisiku dengan kepala berada dibawah. Membayangkan diriku sedang memanah dan terciptalah panah Api jingga.


"Flame Burst … Arrow!"


Teriakku dengan jurusku.


"Makanlah ini!"


Ucapku dalam hati.


______________________________________________


Beralih sudut pandang orang pertama, Putri Renia :


"Apa yang sedang dipikirkan olehnya."


Ucapku sambil berlari menggendong Isabella.


"Yang Dia lakukan belum tentu berhasil!"


Ucapku dengan yakin.


Di saat berlari, Aku merasakan sebuah aura Mana begitu besar disusul dengan getaran pasir tempatku berpijak bergetar.


"Ada apa ini?!"


Ucap panikku, seketika berhenti berlari dan mencoba bertahan agar tidak jatuh.


Saat melihat ke belakang, terlihat sebuah kurungan yang begitu besar terbuat dari elemen tanah.


"Apa yang Kau lakukan, Rama!"


Ucapku dengan kagum.


Kemudian, aku melihat sebuah kobaran api muncul dari langit. Saat melihatnya dengan lebih seksama, Rama berada di atas sana. Ternyata, Dialah yang mengeluarkan Api tersebut.


Rama kemudian melepaskan Apinya ke bawah, yang seketika itu membuat sebuah ledakan yang begitu hebat.

__ADS_1


*Booommmmm


Akibatnya, Aku terhempas bersama Isabella karena efek ledakan tadi. Setelah semuanya reda, aku melihat kurungan tanah tadi sudah dalam konsep retak parah, namun tidak sampai hancur, disusul dengan kobaran api yang begitu besar didalamnya.


Aku menyadari bahwa kekuatan Rama sudah meningkat dengan sangat pesat, yang berkat dari itu semakin membuatku termotivasi untuk melampauinya!


Namun, yang lebih penting dari itu sekarang adalah, dimana keberadaan saat ini.


Aku kemudian berteriak memanggil-manggil namanya, berharap Dia selamat. Karena tentu tidaklah lucu, Dia tewas dengan kekuatannya sendiri.


"Rama!!"


"Rama!!"


"Dimana, Kamu?!!"


Teriakku.


Karena sedari tadi aku tidak menemukannya, membuatku menjadi khawatir.


"Jangan bercanda, Rama!!"


"Keluarlah, Sekarang!!"


Teriakku kembali memanggil Dia.


Karena tidak kunjung direspon olehnya, Aku kemudian berpikir yang tidak-tidak. Tanpa ku sadari, air mataku keluar saat membayangkannya meninggalkanku.


"Rama!!"


"Aku mohon kembalilah!!"


"Jangan tinggalkan kami!!"


Ucapku sambil menangis.


Ditengah tangisku, Aku kemudian terkejut karena tiba-tiba ada yang menyentuh punggungku.


Dengan reflek, aku mengeluarkan sihir petir, namun tidak sangka bahwa itu adalah Rama.


"Tenanglah!"


"Ini aku … "


Ucap Rama sambil menenangkanku.


Melihatnya baik-baik saja, membuat perasaanku lega. Aku kemudian kembali menangis sambil memeluknya.


"Aaa!!!"


"Jangan buat diriku menjadi secemas itu, Rama!!"


Ucap tangisku sambil memeluknya.


"Kau benar-benar cengeng."


"Dasar Anak bantal!"


Balas Rama mengejekku.


"Biarin!!"


Balasku kembali padanya.


______________________________________________


Beralih sudut pandang orang pertama, Putri Isabella.


"Hangat sekali."


Ucapku sambil perlahan-lahan membuka mata.


Saat membuka mata, aku kaget bukan main melihat Rama dan Kak Renia sedang berpelukan. Mereka tampak begitu serasi, apalagi di belakang mereka terlihat sebuah cahaya yang entah itu apa.


"Begitu, yah … "


Ucapku kembali menutup mataku.


_Bersambung

__ADS_1


__ADS_2