Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Bertarung Secara Habis-habisan!


__ADS_3

"Gawat, jumlah mereka banyak sekali!"


Ucapku dalam hati sambil melihat ke sekitar.


Jika dihitung, mungkin lawan memiliki jumlah sekitar 50 orang. Dan masing-masing dari mereka, kurasakan energi Mana yang kuat.


"Rama, apa yang akan kita lakukan?"


Tanya bisik Renia padaku.


"Entahlah."


Jawabku berbisik padanya.


Situasi seperti ini tentu sangatlah merugikan kami semua. Apalagi 2 dari mereka, kurasakan energi Mana melebihi tingkat diriku.


"Cepat serahkan serigala itu kepada kami!"


Ucap salah seorang dari mereka.


"Mengapa Kau begitu ingin Diriku memberikan Luna padamu?!"


Teriak tanyaku padanya.


"Serigala itu, merupakan salah satu peliharaan favorit Caligor si Raja iblis di masa lalu."


"Tentu, Kami akan melenyapkannya!"


Jawabnya dengan tegas.


"Semua itu sudah tidak berlaku lagi!"


Reaksiku terhadap ucapannya.


"Apa?!"


Tanya Dia dengan keheranan.


"Tidakkah Kau dapat melihat?!"


"Bahwa Luna sangat patuh padaku?!"


Teriakku berbalik bertanya padanya.


"Serigala itu telah memakan banyak nyawa dimasa lalu!"


"Dia salah satu makhluk kendali Raja Iblis Caligor, yang sangat kuat dan berbahaya!"


Jawabnya.


"Suatu saat nanti, mungkin Dia akan menyakitimu dan juga temanmu!"


Lanjut perkataanya menasehati Diriku.


"Itu tidak akan pernah terjadi!"


"Bagiku, Dia bukanlah sekedar hewan peliharaan!"


"Bagi Kami, Dia adalah panther!"


Ucapku dengan keyakinan penuh.


"Meskipun di masa lalu, Dia merupakan pembunuh. Bukan berarti kita tidak bisa memberinya kesempatan kedua!"


Lanjut perkataan dengan nada tegas.


"Meskipun Dia hewan sekalipun?"


Tanya Dia.


"Ya, meskipun Dia merupakan hewan!"


Jawabku dengan tegas.


Mendengar jawaban dariku, terlihat Dia tersenyum dan membalikkan badan. 


"Ternyata benar apa yang dikatakan olehnya."


Ucapnya padaku.


"Hah?"


Reaksiku terhadap ucapannya.


"Kau banyak bicara."

__ADS_1


"Serang mereka!"


Lanjut perkataannya.


Dengan cepat, orang-orang yang mengepung kami kemudian berlari dan menyerang. 


"Awas!"


Ucapku memperingatkan Renia, Nyx, Isabella dan Luna.


Dengan cepat, Isabella dan Renia merapalkan sihir perisai. Untuk melindungi kami semua dari serangan orang-orang ini.


Basis perisai yang mereka buat, sama-sama dari elemen angin. Sehingga membuatnya kokoh dan juga kuat, walaupun di serang bersamaan oleh 50 orang sekaligus.


"Hebat!"


Ucapku dalam hati.


"Gunakan sihir apimu pada perisai ini, Rama!"


Ucap Renia padaku.


"B-baik!"


Reaksiku terhadap ucapannya.


Aku kemudian merapalkan sihir api, dan mengumpulkan energi Mana di telapak tangan. Seketika, terciptalah api jingga yang berkobar-kobar darinya, dan setelah itu Diriku melepaskan bola api tersebut ke dinding perisai milik Isabella dan Renia.


"Bagus, Rama!"


Ucap teriak Renia.


Renia kemudian mengubah perisai anginnya, menjadi sebuah angin yang besar bersama apiku dan setelah itu melepaskannya secara bersamaan ke arah orang-orang yang menyerang kami.


"Hebat!"


"Meskipun kalian semua masih bocah, kemampuan kalian tidak bisa ku anggap enteng."


Ucap orang yang pernah menyelamatkanku.


"Terutama Dirimu, Putri Renia."


"Kau paham betul dengan kelemahan dan juga kelebihan sebuah elemen dasar."


"Ayahmu sepertinya mendidikmu dengan sangat baik!"


Renia tampak kesal dengan perkataan orang tersebut. Yang dimana, Diriku mengerti bahwa Dia sekarang sedang memprovokasinya.


"Sepertinya, daritadi kita hanya mengobrol terus."


"Bagaimana jika, sekarang kita bertarung secara habis-habisan?!"


Ucapnya.


Mereka kemudian mengeluarkan bayangan, dan bayangan tersebut berubah menjadi sebuah senjata berupa tombak dan juga pedang.


"Sihir kegelapan : Tombak bayangan!"


"Sihir kegelapan : pedang bayangan!"


Ucap mantra jurus mereka berdua.


"Ayo, Ao!"


"Ya, Ai!"


Dengan cepat, mereka berlari ke arah kami dengan memecah arah menjadi dua bagian, kiri dan kanan.


"Renia, Isabella!"


Teriakku pada mereka berdua.


Renia dan Isabella kembali membuat sihir perisai. Namun kali ini, perisainya seketika hancur ketika di tusuk oleh senjata mereka berdua. 


"Mustahil!"


Ucapku, Renia dan Isabella.


Kami kemudian terhempas dan terpisah. Aku kemudian bangun dan berusaha kembali berkumpul dengan teman-temanku. Namun, orang yang bernama Ao datang, dan kemudian menghujamkan tombaknya ke arahku. Dengan sigap, Aku berhasil menghindari serangannya tersebut. Terlihat, tombaknya menancap begitu dalam di tanah.


"Gawat jika Aku terkena serangannya!"


Ucapku dalam hati.


"Masih belum!"

__ADS_1


Teriaknya.


Sambil berpegangan pada tombaknya, Dia melepaskan tendangan ke arah wajahku. Namun, kali ini aku berhasil bertahan, dengan menahan tendangannya menggunakan tangan kananku.


Diriku seketika melepaskan bola api dengan tangan kiriku.


"Sihir api : bola api!"


"Makan ini!"


Teriakku.


Namun, Dia berhasil menghindarinya dengan cara melompat. Dengan memanfaatkan pegangannya pada tombak sebagai tumpuan.


Sambil melompat tersebutlah, Dia melepaskan tombaknya yang tertancap tanah.


"Orang ini!"


Ucap panikku dalam hati.


Dia sepertinya sudah terbiasa bertarung menggunakan tombaknya tersebut. Terlihat dari kuda-kuda memegang serta gerakannya yang begitu lincah. 


Dengan segera, Aku membuat sihir air dan melepaskan proyektil air darinya.


"Sihir air : Aqua Burst!"


Teriakku dengan jurusku.


Dia terlihat bergerak dengan sangat cepat menghindari serangan proyektil airku tersebut.


"Bukankah Dia memegang tombak?!"


"Bagaimana caranya Dia bisa bergerak secepat itu?!"


Ucapku dalam hati keheranan dengannya.


Dirasa pada momen yang pas, Aku kemudian mengambil pedangku, dan menyerangnya. Namun lagi-lagi, Dia bisa menangkisnya menggunakan tombak yang dibawanya.


Aku kemudian melepaskan serangan beruntun padanya, dengan pedangku. Tapi, Dia dengan lihai bisa menangkis semua tebasan pedangku!


"Orang ini, terlalu kuat!"


Ucapku dalam hati sambil melayangkan tebasan padanya.


Aku kemudian melompat mundur, dan kembali merencanakan strategi menyerang.


"Apa yang harus kulakukan?!"


"Level Kami berbeda jauh!"


"Untuk menang darinya, bukan hanya otot!"


"Namun juga memerlukan otak!"


Ucapku dalam hati.


"Aku tidak mengerti, mengapa Kau sebegitu ngototnya ingin menang?"


"Baik kalah ataupun menang, tidak akan mengubah fakta. Bahwa Serigala itu merupakan makhluk jahat!"


Ucap perkataan Ao padaku.


"Sudah kubilang! Kini, Dia makhluk baik!"


Balasku dengan tegas.


"Kau tidak tahu, bagaimana berbahayanya Dia di masa perang dulu."


Ucap perkataan Ao.


Dia kemudian menceritakan, bahwa makhluk itu merupakan serigala Aul yang terkenal dengan keganasannya. Meski sekarang terlihat bahwa seperti serigala biasa, namun suatu saat nanti, makhluk itu akan kembali bertranformasi kembali menjadi Aul.


*Catatan : Aul merupakan sosok mitologi Indonesia yang mirip serigala, dimana mereka bisa berdiri tegak layaknya manusia. Ada banyak versi mengenai makhluk mitologi ini, namun penulis bersikap netral dengan tidak mencantumkan dari daerah mana sosok mitologi Aul ini. Satu kesamaan dari semua sumber yang penulis baca, bahwa sosok ini merupakan penjaga hutan.


"Dia merupakan salah satu hewan peliharaan Caligor si Raja iblis. Saat perang bergejolak antara kerajaan Volcanofall dan Turifnes , Dia turut andil dalam pembantaian yang terjadi di hutan ini!"


Ucapnya dengan nada tegas.


"Apa maksudmu?"


Tanyaku padanya.


"Ya, salah satu kerajaan yang kini telah rata dengan tanah. Volcanofall, beserta Ibukotanya, kini sudah tidak ada."


"Saat itu merupakan hari terburuk, dimana orang-orang yang tidak bersalah sekalipun, menjadi korban dari keganasan raja Iblis dan kerajaan Turifnes!"

__ADS_1


_Bersambung.


__ADS_2