
Sudut pandang orang pertama, Rama
"Apa maksudmu? Tidak ada siapapun dibelakangku."
Ucapku.
*Berbeda dengan apa yang dilihat oleh Rama, Isabella justru dapat melihat seorang wanita!
"Sudah, jangan bercanda lagi!"
"Ayo kita pulang!"
Ucapku yang langsung menggenggam tangan Isabella.
"Tunggu dulu, Rama!"
Ucapnya sambil mencoba melepaskan tanganku.
Saat akan membawanya pergi, tubuhku secara tiba-tiba tidak bisa digerakkan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?!"
"Tubuhku, tidak bisa digerakkan!"
Ucapku keheranan.
Aku bersusah payah untuk bisa menoleh kebelakang, mencoba melihat keadaan Isabella.
Alangkah terkejutnya diriku, bukan hanya Isabella yang berada disana. Namun, terdapat sosok lain yang sangat menyeramkan, sedang berdiri tepat dibelakang Isabella.
Sontak! Tubuhku gemetar melihat sosok tersebut, keringat mengucur deras darinya dan mataku melotot kaget melihatnya.
"Ada apa, Rama?"
Tanya Isabela padaku.
"Kamu seperti ketakutan."
Lanjut perkataanya.
"Isabella, sebenarnya apa yang dirimu lihat?"
Tanyaku padanya.
Sosok itu kemudian memeluk Isabella. Karenanya, Dia langsung pingsan dengan posisi berdiri.
"Isabella!! Isabella!!"
"Apa yang terjadi, Isabella?!"
Ucapku mencoba membangunkannya.
Mata Isabella kemudian terbuka, terlihat kini matanya berubah menjadi warna merah runcing.
Isabella kemudian berjalan mendekat kearah Diriku secara perlahan. Tangannya yang semula memiliki kuku cukup pendek, kini secara perlahan-lahan memanjang.
Setelah dekat, Dia meletakkan tangannya di kepalaku. Saat itu juga, Dia mengirim serta memperlihatkan semua ingatannya padaku.
Aku hanya bisa diam, seolah tidak mempercayai semua ingatan yang ditunjukkan Isabella kepada Diriku.
Bertanya-tanya, mengapa Dia begitu tega melakukannya.
"Apakah ini tipuan?"
"Tidak, ini terlalu nyata untuk di manipulasi!"
Ucapku dengan yakin.
"To-long … Tolong …. "
Ucap Isabella dengan suara yang berbeda.
"Kuntilanak merah?!"
Ucapku dalam hati menyadari bahwa Dia kuntilanak merah.
Kemudian, Isabella melepaskan tangannya dari kepalaku. Dia seketika jatuh ambruk ke tanah.
Sesuatu yang membuat Diriku tidak bisa bergerak kemudian menghilang. Dengan segera, Aku memastikan kondisi Isabella.
"Isabella!! Isabella!!"
Ucapku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Tanganku kemudian memegangi pipinya. Mencoba untuk membangunkannya, dengan cara menepuk kedua pipinya tersebut. Namun, Aku seketika berhenti memandangi wajahnya yang begitu cantik. Kulit wajah yang begitu bening, dipadukan dengan pipi merahnya seperti mengingatkanku pada salju.
"Tidak heran jika namanya Isabella."
Ucapku sambil tersenyum.
Tiba-tiba, Renia datang sambil berteriak ke arahku.
"Rama!!!"
"Apa yang sedang Dirimu lakukan?!"
Teriaknya ke arahku.
"Renia?!!"
"Apa yang sedang Kau lakukan disini?!"
anyaku dengan panik.
"Justru Akulah yang seharusnya bertanya itu Kepadamu!"
"Terlebih lagi, apa yang sedang Dirimu lakukan kepada Adikku?!!"
Ucapnya dengan nada kesal.
Dia kemudian berjalan mendekatiku.
__ADS_1
"Tunggu Renia, Aku bisa menjelaskannya!"
Ucapku mencoba meyakinkannya.
Dengan segera, Dia memukulku.
Singkat cerita, Kami sekarang berada di penginapan. Mencoba membangunkan Isabella, namun usaha kami semua sia-sia.
"Apa hanya itu yang Kalian lakukan?"
Tanya Renia padaku.
"Y… ya."
Balasku.
Aku tentu tidak bisa memberitahukan kepada Renia, tentang sosok kuntilanak merah yang memperlihatkan ingatannya kepadaku.
"Hanya itu yang terjadi."
Lanjut perkataanku meyakinkannya.
"Aku pulang!"
Ucap Nyx yang tiba-tiba datang membukakan pintu.
"Kau darimana saja?!"
Ucapku dan Renia secara bersamaan.
...****************...
Beralih sudut pandang orang pertama, Isabella.
"Isabella, bangunlah sayang … "
"Suara siapa itu?"
Ucapku sambil membukakan mata.
Suasana terlihat sangat damai disini, pemandangan sekitar terlihat berwarna abu-abu.
Kemudian, muncul bayangan seorang wanita dari kejauhan.
"Siapa … Siapa, kamu?"
Ucapku sambil kearahnya.
Perlahan-lahan, bayangan itu terlihat lebih jelas. Saat ku lihat lebih teliti, ternyata Dia adalah Ibundaku.
"Bu-bunda?"
Ucapku seolah tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Bunda kemudian tersenyum manis kepada Diriku, Dia seolah datang untuk memastikan kondisiku saat ini.
Aku kemudian berdiri dan mencoba mendekati sosok Ibundaku tersebut dengan cara berlari.
"Bunda … Bunda … !!"
Ucapku bersusah payah mendekati Dirinya.
"Jangan tinggalkan Aku lagi, Bunda!"
Lanjut perkataanku.
Terlihat sosok Ibunda perlahan menghilang, dengan raut wajah murung sedih.
"Maaf Isabella, Dunia kita sudah berbeda sekarang …"
"Selamat tinggal … "
Ucap Bundaku yang kemudian sosoknya menghilang pergi.
"Bunda!!!"
Teriakku.
Aku kemudian terbangun dari tidurku, dengan ditemani Rama yang sedang memegangi tanganku. Raut wajahnya nampak begitu mengkhawatirkan sesuatu.
"Isabella, apa yang terjadi?!"
"Kenapa Kamu berteriak?!"
Tanya Rama dengan nada khawatir.
Aku menyadari bahwa semua itu merupakan mimpi semata, dan menangis setelahnya.
...****************...
Beralih sudut pandang orang pertama, Rama.
Keesokkan harinya. Aku, Isabella, Nyx dan Renia berkumpul disatu tempat yang sama untuk pertama kali.
Nyx dan Isabella terlihat bisa langsung akrab, namun berbeda dengan Isabella dan Renia. Mereka berdua seolah masih menyimpan perasaan kesal satu sama lain.
Walaupun begitu, mereka berdua setuju untuk membentuk party bersama, mengumpulkan uang dan secepatnya kembali ke kerajaan Verdifield.
"Baiklah, ini pertama kalinya kita berdiskusi sebagai anggota party!"
"Apa ada yang ingin kalian bicarakan?"
"Untuk mempererat hubungan antar anggota pastinya."
Ucapku.
"Tidak ada!"
"Tidak berminat!"
Ucap Renia dan Isabella.
__ADS_1
"Kedua anak ini!"
Ucapku dalam hati dengan nada kesal.
"Aku!"
Ucap Nyx dengan semangat.
"Ya, apa itu Nyx?"
Tanyaku padanya.
"Berapa banyak uang yang harus kita kumpulkan untuk bisa pergi kembali ke istana Verdified?"
Balik Nyx bertanya padaku.
Seketika, Aku menyadari bahwa perkataan Nyx ada benarnya.
"10.000 koin emas!"
Ucap Renia menyela.
Kami semua lantas kaget dengan apa yang dikatakan oleh Renia.
"Se-serius?!"
"Yang benar?!"
"Memang, itulah uang yang harus kita kumpulkan."
Ucap Renia dengan serius.
"Butuh waktu berapa tahun agar bisa mengumpulkan uang sebanyak itu?"
Ucapku bertanya padanya.
"Entahlah, yang pasti akan sangat lama."
Jawab Renia.
"Kita tidak memiliki waktu sebanyak itu!"
Isabella menyela.
"Kau kira, Aku hanya berdiam diri dan tidak mencari solusi?!"
Ucap Renia dengan nada tegas.
"Setidaknya diamlah, dan cari solusi!"
Lanjut perkataan Renia pada Isabella.
"Ba-baik."
Jawab Isabella.
Tiba-tiba, datang seekor burung merpati pemberi pesan arahku.
"Apa isi suratnya, Rama?"
Tanya Renia.
"Ini dari Guild!"
Ucapku.
"Surat ini bertuliskan tangan Lisa untuk segera datang ke serikat sekarang juga. Dia mengatakan bahwa, saat ini serikat memerlukan bantuan para petualang bersama partynya."
Lanjut perkataanku.
"Cuan!"
Ucap Nyx.
"Tunggu apa lagi, Ayo."
Ucap Renia.
"Ayo!"
Ucap Isabella.
Kami semua bergegas mengemas barang-barang yang sekiranya diperlukan, dan kemudian pergi ke serikat untuk memenuhi panggilan.
Saat sampai, terlihat suasana serikat begitu ramai. Orang-orang berdesakkan untuk bisa masuk.
"Ramai sekali."
Ucapku dalam hati.
Tiba-tiba, bajuku terasa seperti ada yang menarik. Melihatnya, ternyata Lisa yang melakukan itu.
Dia seperti memberikan isyarat kepadaku untuk mengikutinya. Kemudian, Aku mengajak yang lain untuk pergi mengikuti Lisa.
Kami dibawa ke sebuah sudut bangunan, terlihat Lisa begitu pusing karena sesuatu.
"Aku sudah tidak sanggup lagi!"
Ucapnya mengeluh pada Kami.
"Memangnya, apa yang sebenarnya terjadi?"
Tanyaku padanya.
"Ini merupakan kesempatan yang langka, dimana kalian akan dibayar mahal untuk misi ini!"
Jawab Lisa dengan tegas.
"Aku berhasil mengambil satu kertas misi, dan akan memberikannya kepada kalian."
Lanjut perkataanya kepada Kami.
__ADS_1
_Bersambung.