Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Terjebak Di Lembah Neraka


__ADS_3

Sudut pandang orang pertama, Rama :


"Dimana … Ini?"


Ucapku sambil memandang sekitar.


Dalam keadaan malam aku kemudian melihat pemandangan sekitar, yang isinya hanyalah dataran gurun yang sangat tandus.


Menyadari bahwa Renia dan Isabella sedang pingsan, aku kemudian membangunkan mereka.


"Renia, Isabella. Bangunlah!"


Ucapku sambil menggoyangkan tubuh mereka.


"Ada apa,Rama?"


Ucap Renia setelah bangun dari pingsannya.


"Dasar, Anak bantal!."


Ucapku dalam hati dengan ekspresi kesal.


Catatan : Anak bantal merupakan ejekkan untuk orang yang suka tidur.


"Lihatlah ke sekeliling!"


Ucapku pada Putri Renia.


Renia kemudian melihat ke sekeliling, sadar bahwa kita sudah berada di tempat entah berantah, seketika membuatnya panik.


"Aaaaa!"


"Dimana kita!"


Teriak Putri Renia.


Aku yang melihatnya sepanil itu justru merasa heran.


"Bukankah Dia sendiri yang setuju untuk di teleportasikan kesini?"


Ucapku dalam hati, sambil melihat Dia kepanikan.


"Ada yang jauh lebih penting dari itu!"


"Isabella masih belum sadar dari tadi!"


Ucapku dengan nada khawatir.


"Kamu benar, Rama."


Ucap Putri Renia sambil melihat ke arah Isabella.


Kami berdua kemudian memeriksa tubuh Isabella. Terasa badannya begitu panas, tanda bahwa Dia demam.


"Gawat, Dia demam."


Ucapku pada Renia.


Renia kemudian merobek pakaian Isabella, berniat membuka sedikit celah agar Dia bisa bernafas dengan normal.


"Apa yang Kau lakukan, Renia?"


Tanyaku.


"Aku harus melakukan ini, agar Isabella dapat bernafas dengan sedikit leluasa."


"Ini alasannya aku benci pakaian bangsawan, dan jarang sekali untuk menggunakannya.


Sudah pengap, panas lagi!"


Jawabnya.


"Apa yang Kau lihat?"


Tanya Renia padaku.


"Tidak ada."


Ucapku sambil tersenyum.


"Berbalik!"


Ucap Renia dengan nada marah dan setelahnya memukul diriku.


______________________________________________

__ADS_1


Beralih sudut pandang orang pertama, Putri Isabella :


"Dimana, Aku?"


Ucapku sambil membuka mata.


Aku menyadari sedang berbaring di atas pasir, dengan baju seseorang menjadi bantalku tidur. Melihat ke sekeliling, sejauh mata memandang hanyalah gurun pasir yang terlihat.


Saat itu malam yang begitu dingin, namun sedikit hangat berkat adanya api unggun.


Saat akan bangun, tubuhku terasa sakit dan penglihatanku cukup buram. Menyadari bahwa diriku saat ini sedang sakit, aku kemudian bertanya-tanya siapa yang menjagaku selama ini.


Tiba-tiba, datang seseorang yang mengambilkan air hangat dan membasuh kain padanya. Dia membuat kompres dengan itu, dan menempelkannya di keningku.


Terlihat, Dia duduk di sampingku dan mengompresku dengan sabar. Tangannya begitu lembut saat menyentuh keningku, wajahnya begitu dekat dan seketika itu, Dia kemudian mencium keningku.


Namun, sayangnya aku tidak bisa melihat wajahnya dengan begitu jelas dan setelahnya, aku kembali terlelap tidur.


_________________________________________________


Beralih sudut pandang orang pertama, Rama :


Aku pergi untuk mencari bahan seperti kayu, agar api unggun yang kubuat tidaklah cepat padam.


Meskipun bisa menggunakan sihir api di telapak kanan, namun itu tidaklah cukup untuk menghangatkan badan baik diriku atau orang lain.


Ada cukup banyak dahan kayu yang sudah kering di gurun ini. Entah itu dari tumbuhan kaktus ataupun pohon lain yang terlihat sudah mati dan mengering.


Aku kemudian mendapati satu pohon kayu dengan ukuran sekitar 5 meter. Terlihat darinya sudah cukup tua dan akan segera mati. Tanpa menyia-nyiakannya, aku kemudian mematahkan ranting maupun dahannya untuk dibakar bersama api unggun nantinya.


"Baiklah, mungkin segini cukup!"


Ucap senangku.


Tanpa menunggu waktu lama, aku pun berlari kembali ke tempat Renia dan Isabella berada. Tanpa ku sadari, akan adanya sebuah bahaya yang tak lama lagi akan segera menimpa kami.


"Cukup banyak juga dahannya, Rama."


"Dengan ini, kita bisa bertahan lebih lama lagi."


Ucap Renia.


"Ya." Jawabku.


"Rama, mundurlah!"


Teriak Renia.


Karena kaget, Aku kemudian melompat ke belakang. Dan secara tidak terduga l, dahan pohon tadi meledak.


"Apa yang terjadi?!"


Tanya kagetku pada Renia.


"Dasar anak kurang pintar, Kau malah mengambil dahan pohon blastwood!"


Teriak Renia padaku.


"Hah … Blast … apa tadi?"


Tanyaku.


"Blastwood!"


Teriak kembali Renia padaku dengan nada kesal.


Catatan : Blastwood merupakan pohon yang mudah meledak jika terkena panas api secara langsung. Namun uniknya, pohon ini tidak akan meledak oleh panasnya cuaca gurun.


Getahnya lah yang menyebabkan pohon ini bisa meledak.


"Mana Ku tahu kalau pohon seperti ini bisa meledak!"


Teriakku pada Renia dengan nada kesal.


"Dasar anak goa, padahal ini merupakan pengetahuan umum!"


Balik teriak padaku.


Catatan : Anak goa adalah ejekkan untuk orang yang kudet (kurang update) atau untuk orang-orang yang ketinggalan informasi terbaru.


"Anak goa, katamu?!"


Tanyaku dengan nada kesal.


"Ya, Kau adalah anak Goa, benar kan?!"

__ADS_1


Ucap Renia dengan nada sombong.


"Dasar, Kau anak bantal!"


Ucapku mengejeknya.


"Apa yang Kau bilang, Rama!"


Balas kesal perkataan Renia padaku.


Ditengah perseteruan kami, tiba-tiba muncul sebuah makhluk yang keluar dari dalam tanah. Bentuknya seperti cacing dilengkapi dengan banyaknya gigi pada mulutnya.


"Ma-Makhluk apa itu?!"


Ucap panik Renia.


Aku kemudian bergegas menggunakan sihir apiku dan menyerang makhluk cacing tersebut.


"Chc, sudah anak bantal, sekarang anak kucing penakut!"


Ucapku mengejek kepada Renia.


"A-Aku bukan takut, Aku hanya jijik dengannya!"


Ucapnya menyanggah perkataanku.


Kami kemudian melirik ke arah Isabella secara bersamaan. Terlihat Dia sedang ditarik ke bawah oleh makhluk cacing lain ke bawah tanah. Sontak hal itu membuat kami berdua menjadi panik.


"Aaaa!!!"


"Isabella!!!"


Teriak panik kami.


Segera, Renia mengambil dahan kayu yang tadinya akan dijadikan api unggun. Dia menusukkannya ke badan cacing tadi, dan menarik Isabella dari makhluk tersebut.


"Rama, bakar makhluk itu!"


Teriak Renia.


"Ya!"


Jawabku


Dengan segera, aku kemudian menggunakan sihir Api dan membakar makhluk cacing tadi. Hal tersebut membuatnya meledak menjadi potongan yang kecil-kecil.


"Syukurlah sudah berakhir."


Ucapku sambil menghela nafas.


"Tidak, belum!"


Ucap Renia dengan nada yang tegas.


"Lihatlah kesana, Rama!"


Lanjut perkataan Renia sambil menunjuk ke sebuah arah.


Aku melihat ke arah yang ditunjukan oleh Renia, dan alangkah kagetnya diriku dengan banyaknya makhluk cacing, yang sedang bergerak ke arah kami.


"Apa keadaan bisa menjadi lebih buruk?"


Ucapku dengan nada lemas.


"Jangan menyerah, pasti ada cara!"


Tegas Renia.


Kami kemudian berpikir, cara untuk meloloskan diri dari makhluk cacing-cacing ini. Kemudian, tercetuslah sebuah ide di kepalaku.


"Renia, kita gunakan Isabella sebagai umpan!"


Ucapku dengan yakin.


"Apa kau gila, Kau akan mengorbankan adikku untuk meloloskan diri!"


Balasnya sambil memukul kepalaku.


Dalam keadaan tergeletak sehabis dipukul olehnya, Aku kemudian bangkit dan menjelaskan maksud dari rencana ku padanya.


"Boleh juga!"


Ucapnya.


_Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2