Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Lisa VS Rama


__ADS_3

Sudut pandang orang pertama, Putri Renia.


"Sudah cukup"


"Hentikan semua ini!"


Ucap Isabella memeluk Rama.


"Lepaskan!"


Balas perkataan Rama dengan tegas.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?!"


Teriak Isabella bertanya.


"Kau tidak ada sangkut pautnya!"


Balas Rama.


Dia kemudian memegang pergelangan tangan Isabella dengan sangat kuat. Yang alhasil membuatnya kesakitan.


"Aaa! Sakit!"


Teriak Isabella.


"Rama, lepaskan tanganmu!"


Reaksiku ucapanku berkata padanya.


Rama kemudian melemparkan Isabella ke sebuah pohon yang seketika membuatnya terpental dan menabrak pohon tersebut dengan sangat keras.


Isabella terlihat kesakitan dan batuk berdarah akibat hal tersebut.


"Uhu …uhu … "


Isabella batuk berdarah.


Dia kemudian menatap ke arahku sambil berkata.


"Bukankah Kau tidak peduli padanya?!"


"Kenapa sifatmu sekarang berubah?"


Tanya Rama padaku.


"Sekarang, Akuilah dosa-dosamu!"


Lanjut perkataan Rama yang seketika melepaskan api besarnya tersebut padaku.


Tiba-tiba, dengan cepat Lisa datang dan membelah serangan api tersebut.


"Kau tidak apa-apa, Renia?"


Ucapnya setelah datang menyelamatkanku.


"Lisa, apa yang Kau lakukan disini?"


Tanyaku padanya.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya!"


"Aku mohon, untuk jangan ikut campur dengan pertarungan ini!"


"Biarkan Aku untuk mengurus dan menyadarkan Rama!"


Jawab Lisa.


"Satu hal lagi, Dia bukanlah Rama. Melainkan orang lain!"


Lanjut perkataanya.


Lisa dengan cepat melesat menyerang Rama menggunakan pedang cahaya yang dibawanya. Rama kemudian memanipulasi apinya, membuatnya menjadi sebuah pedang juga, terlihat api tersebut berfungsi layaknya pedang pada umumnya.


*Ting


*Ting


*Dashhh


*Darrrr


(Suara mereka beradu ilmu pedang)

__ADS_1


Kecepatan pergerakan mereka berdua melebihi penglihatanku!


"Tidak salah lagi!"


"Jika Aku ikut campur, maka Aku hanya akan menjadi beban bagi Lisa!"


Ucapku dalam hati kagum dengan pertarungan mereka.


...****************...


Beralih sudut pandang orang pertama, Lisa.


"Anak ini, seberapa kuatnya Dia?!"


Ucapku dalam hati sambil melancarkan serangan padanya.


Namun, semua tebasan milikku dapat dipatahkan olehnya. 


"Tidak ada pilihan lain!"


"Aku tidak boleh ragu!"


Ucapku dalam hati meyakinkan diri.


Aku kemudian menambahkan Mana pada pedangku, berencana menyerangnya dengan teknik rahasia.


Namun, Rama dengan cepat bisa membuat keseimbangan tangan pada pedangku sedikit terganggu. Dia kemudian melayangkan tendangan dan berhasil mengenai perutku.


Aku terhempas begitu jauh dan berhenti ketika menabrak sebuah pohon


"Sakit!"


Ucapku sambil mencoba berdiri.


Aku merasakan bahwa bahaya akan segera datang. Benar saja, bola api terlihat datang dengan sangat cepat, yang seketika itu menyerang diriku. Namun beruntung, Aku berhasil menghindarinya.


Melihat ke arah atas, muncul puluhan bola api yang tiba-tiba saja datang dan menyerang diriku.


"Gawat!"


Ucap panikku.


Aku kemudian menghindar dan membelokkan beberapa serangan bola api tersebut. Namun, ada tiga bola api yang berhasil mengenai tubuhku dan membuat diriku seketika terkena ledakan.


Ucapku setelah terkena serangan bola api tersebut.


Tiba-tiba, muncul sebuah uap yang sangat panas. Yang seketika membuat jarak penglihatanku menjadi terbatas dan juga sulit untuk bernafas. Aku kemudian merapalkan sihir angin, agar uap air ini pergi.


"Sihir angin : putaran angin!"


Ucapku dengan jurusku.


Tiba-tiba, Rama sudah berada dibelakangku. Dia melancarkan serangan berupa elemen gabungan! Yakni elemen air dan api menjadi elemen uap!


"Sihir kehampaan : Bola uap!"


Ucap Rama dengan jurusnya.


Saat serangan tersebut mengenaiku, terasa merasakan sebuah uap air yang sangat panas , yang seketika itu menghempaskan Diriku ke angkasa.


Aku kemudian jatuh ke tanah, dengan luka bakar serius di sekujur tubuhku. Terutama tangan kiriku akibat serangan elemen uapnya tadi.


"Mustahil, kenapa Dia bisa menggunakan sihir gabungan?!"


"Hanya petualang dengan pengendalian elemen alam yang baik saja, yang bisa menggabungkan Dua elemen sekaligus!"


Ucapku keheranan dengan apa yang terjadi.


"Apa jangan-jangan … "


"Rama bisa menggunakan Mana alam?!"


Lanjut perkataanku.


Ditengah kebingungan yang ku alami, tiba-tiba Rama datang dan kembali menggunakan elemen uapnya. Dia kali ini membuat sebuah kabut uap kembali, agar mengurangi jarak pandangku.


"Sihir kehampaan : Kabut uap!"


Ucap Rama dengan jurusnya.


Aku seketika berdiri dan melihat ke sekitar, fokus untuk bertahan bila mana sewaktu-waktu Dia datang menyerang secara tiba-tiba kembali.


"Begitu, yah?"

__ADS_1


"Ternyata Kau salah satu dari mighty fourteen."


Ucap perkataan Rama yang entah dimana keberadaannya.


"Haha, kenapa?"


"Apa Kau akan bersikap sombong karena berhasil memojokkan Diriku?!"


Tanyaku pada Rama sambil melihat-lihat ke arah sekitar.


"Lisandra Nyrtaf!"


"Salah satu orang yang menolak berkah yang diberikan oleh Dewa!"


"Dan memutuskan untuk menjadi seorang resepsionis Guild!"


Ucap Rama.


Mendengar hal tersebut darinya, tentu membuatku heran. Darimana Dia bisa mendapatkan informasi tersebut?


"Darimana Kau tahu semua itu?!"


Teriak tanyaku kembali pada Rama.


"Salah seorang Mighty Fourteen, yang berada di pihak cahaya!"


"Lambang dari 7 kebaikan manusia!"


"Cinta!"


Lanjut perkataan Rama mengabaikan pertanyaan Dariku.


"Jawab pertanyaan dariku, Rama?!"


"Darimana Kau mengetahui semua itu?!"


Lanjut aku berteriak, bertanya padanya.


"Namun, Kau membunuh Skylar, kan?!"


"Teman satu partymu sendiri?"


Ucap Rama bertanya padaku.


Mendengar pertanyaan tersebut darinya, seketika membuat Diriku kembali teringat masa lalu. Dimana, Aku membunuh salah satu rekan satu partyku. Skylar, dengan cara menusuknya menggunakan pedang cahaya ku ini.


Aku kemudian menjatuhkan pedangku ke tanah. Dan setelahnya, melihat kedua tanganku yang kulihat noda darah begitu banyak padanya. 


"Tidak … tidak … tidak … !!!"


Teriakku melihat tanganku.


Dari balik kabut uap, Rama kemudian muncul dan berkata padaku.


"Akuilah semua dosa-dosamu, Lisa!"


Ucapnya dengan tegas sambil tersenyum.


Dia kemudian bersiap membakar Diriku menggunakan api miliknya. Aku hanya bisa diam dengan pasrah ketika akan dibakar hidup-hidup olehnya. Namun, sebelum Rama akan menyerangku, dengan tiba-tiba Isabella datang dan memeluk Rama dari belakang.


"Sudah kubilang, hentikan!"


Teriaknya sambil menangis.


"Apa yang Kau lakukan?"


Tanya Rama sambil melihat ke arah Isabella.


"Hentikan semua ini, apakah Kau ingin melukai teman-temanmu juga?!"


"Kau bukanlah Rama yang selama ini ku kenal!"


Jawab Isabella dengan nada keras.


Cahaya kemudian keluar dari tubuh Isabella. Yang seketika itu aura Mana gelap yang menyelimuti tubuh Rama kini mulai memudar. Rama terlihat berteriak kesakitan, akibat cahaya yang terpancar dari tubuhnya Isabella.


"Fifi?!"


"Kau selalu menghalangi jalanku!"


Ucap Rama dengan kesal.


Seketika, Rama jatuh tersungkur pingsan ke tanah.

__ADS_1


_Bersambung


__ADS_2