
Sudut pandang orang pertama, Rama.
"Rasakan ini!" Teriakku menyerang salah satu serigala Aul.
Namun, Dia dengan cepat bisa menghindari seranganku. Karena lengah, serigala Aul yang lain kemudian mencoba menyerangku menggunakan cakar mereka.
"Awas, Rama!" Teriak Renia.
Dengan segera, Aku membuat perisai dari elemen tanah untuk berlindung dari serangan mereka semua.
"Sihir tanah : Perisai bumi!" Teriakku.
Aku kemudian melihat dari celah-celah perisai tanah yang kubuat, menyadari bahwa fisik serigala yang asli kini mengambil jarak cukup jauh.
"Sial! Sepertinya Dia menyadari kalau sekarang sedang kuincar!" Gumam kesalku.
Dari luar, terlihat serigala lainnya sedang berusaha menghancurkan perisai tanah yang kubuat. Berbagai macam upaya mereka lakukan agar bisa menghancurkannya seperti mengigit ataupun mencakar perisai tanah ini.
"Tidak semudah itu, Ferguso!" Ucapku dengan nada sombong.
Berkonsentrasi, Aku mencoba untuk menjebak para serigala yang mengepungku. Dengan segera, Aku merapalkan sihir tanah dan juga air.
Sihir tanah berfungsi agar tanah disekitar ku menjadi sedikit lebih lunak, sementara sihir air ku gunakan agar membuat tanah lunak tadi menjadi lumpur hisap.
"Dengan ini, Kita tidak perlu menyakitinya!" Ucapku.
"Hebat, Rama!" Ucap Isabella memujiku.
Aku kemudian menyuruh Renia dan Isabella untuk menyerang serigala satunya saja. Karena kuyakini, Dia merupakan pemilik tubuh asli dari semua kawanan serigala Aul ini.
"Serang serigala itu, Renia! Isabella!" Teriakku.
Mereka kemudian mengerti dan merapalkan sihir mereka masing-masing. Renia dengan kilatan petirnya dan Isabella dengan angin miliknya.
"Sihir petir : Kilat!" Teriak jurus Renia.
"Sihir angin : Pusaran!" Teriak jurus Isabella.
Serangan mereka berdua kemudian menyatu dan membentuk sebuah badai dan langsung menghantam serigala Aul tersebut.
"Hebat!" Ucap kagumku.
Serigala lainnya kemudian menghilang secara perlahan. Dan ternyata benar tebakanku, bahwa serigala tadi lah yang merupakan tubuh aslinya.
Tidak lama setelah itu, Kami kemudian berkumpul dan menyadari bahwa Nyx beserta Anna tidak ada.
"Nyx, sekarang sudah aman!"
"Dimana Kamu, Nyx! Anna!"
"Nyx! Anna!"
Teriak kami bertiga memanggil-manggil.
Namun, baik Nyx ataupun Anna sama sekali tidak memberikan respon.
"Gawat, jangan-jangan ... "
Ucapku khawatir dengan mereka berdua.
...****************...
Beralih sudut pandang orang pertama, Nyx.
Atas perintah Rama, Aku berlari membawa Anna sejauh mungkin dari tempat pertarungan.
__ADS_1
Anna sama sekali tidak bisa diam dan meronta-ronta ingin dilepaskan.
"Lepaskan! Lepaskan, Anna!" Teriaknya sambil meronta-ronta.
"Disana berbahaya, Anna!"
Ucapku sambil menggendongnya.
Anna kemudian bisa lepas dari gendonganku, dan segera setelah itu Dia berlari kembali ke tempat Rama dan lainnya berada.
"Jangan, Anna!" Teriakku padanya
Tiba-tiba, muncul seekor makhluk berukuran kecil mencoba menyerang Anna. Dengan cepat, Aku berhasil menghalanginya.
"Goblin?!" Ucap tidak percayaku dalam hati.
"Makhluk apa itu, Kak Nyx?" Tanya Anna sesaat setelah kuselamatkan.
"Tenang, selama Anna di dekatku, Anna akan aman!" Ucapku mencoba menghiburnya.
Tanpa kusadari, sebuah anak panah melesat dan berhasil mengenai tangan kiriku. Anna kemudian histeris karena melihat darah keluar dari tanganku.
"Aaaaa!" Tangis histeris Anna melihat darah.
"Tenanglah, Anna!" Ucapku mencoba menenangkannya.
Aku kemudian mencabut dan segera merapalkan sihir heal pada lukaku. Namun, anehnya sihir milikku sama sekali tidak bekerja.
"Heal! "
"Kenapa?!" Ucapku dengan panik.
"Heal! ... Heal! ... Heal! ... " Teriakku berusaha.
Aku sadar, bahwa sepertinya anak panah ini telah diolesi sesuatu yang sehingga sihir tidak bisa bekerja padanya.
Terlihat, bahwa terdapat puluhan goblin yang memakai persenjataan lengkap. Mereka sepertinya akan menjadikan kami berdua sebagai makanan malamnya!
Aku menyuruh Anna untuk segera pergi dan membiarkan Diriku mengulur waktu terlebih dahulu.
"Pergilah, Anna!"
"Kak Nyx akan mengulur waktu untukmu." Ucapku.
"Tapi ... " Balas Anna.
"Tidak ada tapi-tapi!"
"Jadilah anak penurut dan segera pergi dari sini!" Teriakku memarahi Anna.
Terlihat, Anna kemudian menangis karena Aku membentaknya. Dia segera lari menjauhiku bersama para goblin ini, namun dengan cepat salah satu goblin berhasil memanah kaki Anna.
"Anna!" Teriakku padanya.
Salah satu goblin terlihat akan menebas Anna menggunakan senjatanya. Namun, Aku segera melesat dan mencakar goblin tersebut.
"Manipulasi energi sihir : Cakar!" Ucapku sambil melesat menyelamatkan Anna.
"Kamu tidak apa-apa, Anna?" Tanyaku padanya.
"Iya, Anna baik-baik saja." Balasnya.
"Kak Nyx, dibelakang!" Teriak Anna dengan tiba-tiba.
Melihat kebelakang, salah satu goblin kemudian memukulkan tongkatnya ke kepalaku. Tentu saja, hal tersebut membuat kepalaku berdarah dan seketika Aku merasakan pusing yang begitu luar biasa hebat.
__ADS_1
Dalam keadaan pusing, mual serta sakit aku bisa terdengar mendengar Anna memanggil-manggil Diriku, bahwa para goblin semakin mendekat.
"Kak Nyx! ... Kak Nyx! ... Bangunlah!"
"Makhluk itu semakin dekat!" Teriak Anna.
Tiba-tiba, terlihat sebuah api yang langsung melesat dan membakar semua kawanan goblin yang mencoba mendekatiku.
"Rama, Kau datang?" Ucapku.
"Ya! Biarkan Aku yang mengurus sisanya!" Balas Rama.
...****************...
Beralih sudut pandang orang pertama, Rama.
"Bagaimana Kau bisa menemukan Kami, Rama?" Tanya Nyx.
"Itu mudah, Aku menggunakan kemampuan sensorik!" Jawabku.
"Untuk penjelasannya nanti saja, bertahanlah sampai Renia dan Isabella tiba!"
"Dan setelah itu, minta mereka untuk menyembuhkan Dirimu!" Lanjut perkataanku.
"Tunggu, Rama!"
"Jangan sampai Kau terkena serangan senjata mereka!"
"Aku tidak tahu apa penyebabnya, yang pasti Aku sama sekali tidak bisa menyembuhkan lukaku dengan rapalan sihir heal!" Ucap Nyx memperingatiku.
"Informasi yang sangat berguna!" Ucapku sambil menghunuskan pedangku ke arah kawanan goblin tersebut.
Aku kemudian melumuri pedangku dengan energi sihir, dan membuat pedang api darinya. Terlihat, para goblin sepertinya ketakutan!
"Benar, kelemahan para goblin adalah api!" Ucapku dalam hati.
Mengambil kuda-kuda menyerang, Aku menghitung sisa jumlah goblin yang ada.
"Delapan belas ... Sembilan belas ... Dua puluh!"
"Sisanya dua puluh ekor!"
Dengan cepat Aku melesat dan menebas satu persatu goblin yang ada. Mereka terlihat kocar-kacir karena serangan pedang api milikku. Goblin yang ada di atas pohon kemudian melesatkan anak panahnya berniat mengincar kepalaku, dengan sigap Aku berhasil menghindar dan melemparkan bola api padanya.
"Sihir api : Bola api!"
Pada akhirnya, Aku berhasil menghabisi semua goblin yang ada.
"Rama!" Isabella dan Renia berteriak memanggil namaku.
"Kalian berdua akhirnya datang, cepat! Nyx membutuhkan pertolongan!" Ucapku.
Isabella dan Renia kemudian pergi ke tempat Nyx berada. Setelahnya, mereka merapalkan sihir heal pada diri Nyx.
"Ada apa, ini?"
"Mustahil!"
Ucap Isabella dan Renia.
"Ada apa, Renia, Isabella?" Tanyaku kepada mereka berdua.
"Sihirku tidak berpengaruh, begitu juga dengan Kak Renia." Jawab Isabella.
"Aku belum pernah melihat kasus seperti ini." Ucap Renia menambahkan.
__ADS_1
"Ternyata, apa yang dikatakan oleh Nyx itu benar. Luka yang diakibatkan oleh senjata goblin-goblin itu tidak dapat disembuhkan oleh sihir heal!" Ucapku dalam hati.
_Bersambung.