
Sudut pandang orang pertama, Rama.
"Aku berhasil mengambil satu kertas berisi misi untuk kalian."
Ucap Lisa sambil tersenyum.
"Jadi ini yang namanya penggelapan?"
Ucapku dalam hati sambil menyipitkan mata kepada Lisa.
"Apa yang Dirimu lihat, Rama?"
Tanya Lisa padaku.
"Tidak, bukan apa-apa!"
Ucapku dengan seketika bersiul dan membuang muka.
"Oh iya Kak Lisa. Memangnya apa misi khusus untuk kami?"
Tanya Renia padanya.
Lisa kemudian tersenyum, dan menyuruh kami untuk membacanya sendiri.
Setelah menerima kertas berisi misi tersebut, Kami berempat lalu membaca isinya. Ternyata, misi yang tertulis adalah Kami diminta untuk memetik bunga mawar hitam yang berada di lembah Neraka.
"Apa benar, isinya ini?"
Ucapku bertanya pada Renia.
"Jika Kamu tidak percaya, baca saja sendiri!"
Ucap Renia sambil menempelkan kertas tersebut dikeningku.
"Aww, sakit Renia!"
Reaksiku.
"Tapi, kenapa misinya terdengar mudah?"
Ucap tanya Isabella.
"Benar, apa kita akan dibayar mahal hanya dengan memetik bunga itu?"
Ucap tanya Nyx.
"Entahlah, yang pastinya kita harus mencobanya terlebih dahulu!"
Ucap Renia meyakinkan Kami semua.
"Baiklah, tunggu apa lagi? Ayo!"
Ucapku dengan bersemangat.
Kami semua kemudian pergi ke lembah Neraka, tempat dimana keberadaan bunga mawar hitam berada.
"Hutannya lebat sekali!"
Ucapku sambil menyingkirkan ranting-ranting pohon.
"Hati-hati, hutan ini pasti mudah terbakar!"
"Nyala api sedikit saja mungkin dapat
menyebabkan kebakaran yang besar!"
"Aku berbicara padamu loh, Rama!"
Ucap Renia.
"Iya, Aku tahu!"
Jawabku padanya.
Kami berjalan menyelusuri hutan yang begitu lebat. Terasa hawa disini begitu panas, meskipun ditutupi oleh lebatnya hutan.
"Itu wajar saja, Benua ini memang terkenal dengan kondisi iklimnya yang panas."
"Tidak heran jika panas begitu terasa ada dimana-mana."
Ucap penjelasan Renia.
Dalam hatiku justru bertanya-tanya, Dengan kondisi iklim yang begitu demikian panas, namun mengapa masih bisa terdapat hutan yang begitu lebat disini. Aku kemudian bertanya kepada Renia.
"Oh iya Renia. Bukankah tumbuhan memerlukan air untuk melakukan fotosintesis, lalu dengannya dapat bertahan hidup?"
__ADS_1
"Dengan kondisi demikian ini, mana mungkin tumbuhan dapat tumbuh sampai lebat seperti ini, kan?"
Tanyaku pada Renia.
Dia kemudian menjelaskan sejarah bagaimana tempat ini dijuluki sebagai Lembah Neraka.
"20 tahun yang lalu, ketika perang sedang berada di puncaknya. Jendral kerajaan Turifnes beserta prajuritnya pergi menuju tempat ini, mereka melakukan invasi besar-besaran untuk menaklukkan kerajaan Volcanofall. Banyak sekali korban dari pihak Volcanofall yang gugur, dan darah jenazah mereka konon menyerap ke dalam tanah, dan membuat hutan yang begitu lebat disini. Itulah mengapa, Lembah ini disebut sebagai lembah Neraka!"
Ucap penjelasan Renia.
"Hutan disini konon tidak memerlukan air untuk bertahan hidup, melainkan membutuhkan darah."
Lanjut perkataanya.
Mendengar hal tersebut lantas membuatku merinding ngeri.
"Kau … Sama sekali tidak menakutiku, kan?"
Tanyaku pada Renia.
"Kau bisa melihat sendiri buktinya, Rama."
Ucap Renia.
"Hah? Maksudmu?"
Aku kembali bertanya padanya.
"Gunakan saja darahmu, dan cipratkan ke pohon!"
Jawab Renia.
Tiba-tiba, Nyx berteriak dan mengatakan kalau Dia sudah melakukan hal tersebut.
"Aku sudah melakukannya!"
Ucap Nyx berteriak.
"Kau mengagetkanku, dasar kucing oren!"
Ucapku kaget dengan teriakannya.
"Lihat, benar-benar terserap!"
Ucap Isabella.
"Secepatnya, kita harus menyelesaikan misi ini!"
Ucapku sambil gemetaran.
"Chc … Kau penakut sekali, Rama!"
Ucap Renia meledek diriku.
Singkat cerita, kami berjalan menyusuri hutan cukup lama, tak terlihat tanda-tanda bahwa adanya bunga mawar hitam di sekitar sini.
"Apa Kamu memiliki sebuah petunjuk tentang keberadaan bunga mawar hitam, Renia?"
"Tidak. Setahuku, bunga mawar hitam merupakan bunga yang cukup langka. Namun, berdasarkan buku yang pernah kubaca, bunga tersebut sangat sering dijumpai disini."
Jawab Renia.
"Lalu, apa fungsi bunga hitam tersebut?"
Tanyaku kembali padanya.
"Setiap kelopak bunga mawar hitam memiliki khasiat terhadap kekuatan sihir kita. Dimana jika kita memakannya, akan memulihkan serta menambah kapasitas energi Mana yang kita miliki."
Jawab Renia kembali.
"1 kelopak saja, bisa menambah kapasitas energi Mana kita sebanyak 100%."
Lanjut perkataan Renia.
"Sebenarnya ini sangat berguna untuk kita sebagai penyihir pemula, dimana energi Mana yang kita miliki, hanya punya sedikit kapasitas dibanding penyihir tingkat menengah maupun atas."
"Tidak memerlukan latihan ekstra, cukup memakan 1 kelopak saja sudah memberikan efek secara maksimal."
Lanjut perkataan Renia padaku.
Aku kemudian menyadari, bahwa selama bertarung. Diriku selalu kehabisan energi Mana dengan sangat cepat. Itu artinya, kapasitas energi Mana yang kumiliki memang sedikit.
"Tunggu!"
Ucap Isabella menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa, Isabella?"
Tanyaku padanya.
"Lihatlah, teman-teman!"
Jawab Isabella menunjuk sesuatu.
Melihat ke arah yang ditunjuk oleh Isabella, terlihat sebuah pohon yang begitu besar. Dimana, pohonnya itu seperti berdiri sendiri dan tidak ikut bergabung dengan pohon lainnya yang lebih kecil. Sehingga, seperti membuat sebuah celah berbentuk lingkaran.
"Kita beruntung!"
Ucap Renia.
"Lihatlah, Di bawah pohon besar itu! Ada bunga mawar hitam."
Lanjut perkataanya dengan senang.
Kami kemudian berlari menuju tempat dimana bunga mawar hitam itu berada.
"Apa aku boleh memakannya?"
Tanyaku pada yang lain.
"Apa Kau sudah kehilangan akal?
kita diminta untuk memetik dan membawanya ke serikat, bukan untuk memakannya!"
Ucap Renia dengan tegas.
"Ayolah, satu kelopak saja."
Ucapku sambil memohon kepada Renia.
"Tidak … tidak … "
"Dalam misi jelas tertulis, untuk kita membawanya kepada serikat!"
Jawab Renia.
"Kurasa orang-orang serikat, tidak akan menyadari kehilangan satu kelopak pada bunga mawar hitam ini!"
Lanjut perkataanku sambil mencoba untuk mengambilnya.
Aku kemudian berhasil memetik bunga mawar hitam tersebut, dan mencoba untuk mencabut satu kelopak mata untuk ku makan.
"Hei, Rama. Hentikan!"
Ucap Renia sambil memegangi tanganku.
"Ayolah, satu kelopak saja!"
Ucapku sambil mencoba menarik tanganku kembali.
"Tidak boleh!"
Ucap Renia
"Kenapa Dirimu begitu ngeyel, padahal disana tidak tertulis untuk membawanya secara lengkap, kan?!"
Ucapku.
"Meskipun begitu, tidak ada salahnya untuk kita sedikit berhati-hati!"
Ucap Renia.
Kami berdua saling tarik menarik, dimana tangan kananku memegang tangkai bunga mawar hitam, dan tangan kiriku mencoba mendekatkannya padaku.
Secara tiba-tiba, tangan kananku mengeluarkan banyak darah karena memegangi tangkai yang terdapat banyak duri.
"Rama!!!"
"Tanganmu!!!"
"Darah?!"
Ucap Renia, Isabella dan Nyx.
Aku kemudian merasakan pusing yang begitu luar biasa hebat.
"Kamu tidak apa-apa, Rama?!"
Tanya Renia padaku dengan nada panik.
Belum menjawab, tubuhku seketika ambruk karena tidak tahan lagi.
__ADS_1
Melihat ke langit, Dunia seakan berputar di mataku. Kemudian, Aku merasakan kantuk yang sangat berat. Isabella, Renia dan Nyx terdengar memanggil-manggil namaku, namun suara mereka perlahan menghilang. Dan aku pun, pingsan.