
Sudut pandang orang pertama, Rama.
"Tidak ada upah untuk kalian!"
Ucap Lisa dengan tegas.
Kami yang mendengar hal tersebut, tentu merasa kecewa.
Tidak heran juga sih, karena kami semua gagal menjalankan misi untuk mencari bunga mawar hitam di lembah neraka.
Meskipun, Renia dan yang lainnya seperti tutup mulut dan merahasiakan tentang bagaimana caranya bunga mawar hitam itu bisa hilang.
"Rapat … rapat!"
Teriakku.
"Apa yang akan kita diskusikan kali ini?"
Ucap tanya Isabella.
"Tentu saja bagaimana caranya kita mendapatkan uang!"
Jawabku dengan tegas.
"Sudah lebih dari sepekan kita berada disini, namun tidak ada progres atau kemajuan dalam hal apapun!"
Lanjut ucapku.
"Benar apa yang dikatakan oleh Rama, kita harus segera mengumpulkan uang agar bisa ke daratan utama dan kembali ke kerajaan Verdifield."
Kata Renia.
"Kita saja gagal pada misi pertama … "
Celetuk ucap Nyx.
Mendengar hal itu, sontak membuat kami semua murung dan menyadari kesalahan masing-masing.
"Tidak, kali ini kita pasti berhasil!"
Ucapku dengan yakin sambil mengepalkan kedua tangan.
"Sebaiknya, kita menyadari batas kemampuan dan memilih misi yang sekiranya cocok."
Kata Renia sambil fokus melihat quest bord.
"Yah, kamu benar."
Gumamku yang kemudian sama melihat quest bord.
Aku menyadari, terdapat sebuah misi yang kemungkinan cocok untuk party kami.
"Teman-teman, bagaimana jika ini?"
Ucapku sambil menunjuk sebuah kertas yang berisi misi.
Renia kemudian mengambil dan membaca kertas yang berisi deskripsi misi tersebut.
"Misi tingkat C."
__ADS_1
"Deskripsi misi : menemani, melindungi serta membantu Anna dalam mencari obat herbal di hutan."
"Upah dari misi ini sebesar 3 koin emas."
Kata Renia membaca kertas berisi misi tersebut.
"1 koin emas setara dengan 100 perak dan 1 perak setara dengan 10 tembaga."
"Tidak salah lagi, ini cuan!"
Ucap Nyx dengan mata duitan.
"Misi ini terdengar mudah, namun kenapa upahnya terbilang cukup tinggi?"
Tanya Isabella.
Kami semua kemudian diam, sesaat setelah mendengar pertanyaan tersebut terlontar dari mulut Isabella.
Tiba-tiba, Lisa datang dan memecah kesunyian diantara kami.
"Hey!"
Teriak Lisa mengagetkan Diriku.
"Kamu membuatku kaget saja!"
Ucap kesalku.
"Maaf-maaf, hehe."
"Wajar saja bila bayaran misi itu lumayan tinggi, karena mencari obat herbal tidaklah mudah!"
"Apa Kamu tahu sesuatu tentang orang yang bernama Anna ini, Lisa?"
Tanya Renia.
"Tidak sama sekali, namun Dia sering datang kemari dan menaikkan upahnya."
"Orang-orang disini lebih mementingkan kepentingan pribadi, padahal dengan membantu gadis kecil dalam mencari obat herbal merupakan tugas yang mulia."
Jawab Lisa.
"Hah, gadis kecil?"
"Coba ku lihat!"
Ucapku sambil merebut kertas misi dari tangan Renia.
"Apa-apaan Kau ini, Rama!"
Ucap reaksi Renia karena kertas misi yang dipegangnya ku rebut.
"Ya, benar!"
"Mungkin, Dia berumur 12 tahun."
Ucap Lisa.
"Kau salah Nyet, Dia berumur 9 tahun!"
__ADS_1
Kataku memperjelas.
"Onii-chan!"
Tidak ada angin ataupun hujan, tiba-tiba terdengar suara yang memanggil "onii-chan" kepada diriku.
Saat menoleh, terlihat ada seorang gadis kecil yang tengah berdiri tepat di sampingku.
Karena mendadak, Aku hanya bisa diam dan bertanya balik padanya. Apakah yang dipanggilnya "onii-chan" itu adalah Diriku atau bukan.
"Hah, onii-chan? Aku?"
Ucapku sambil menunjuk Diriku sendiri.
Dia kemudian tersenyum dengan sangat manis, sambil memeluk kakiku Dia bertanya apakah Aku akan membantunya mencari obat herbal di hutan.
"Ne .. ne .. ne, Apakah onii-chan yang akan membantuku mencari obat herbal dihutan Merah?"
Ucapnya dengan senang.
"Tunggu .. tunggu .. tunggu .. "
"Apakah gadis ini yang bernama Anna?!"
Ucapku dalam hati.
Dia terlihat begitu senang, karena berpikir Akulah yang akan membantunya. Yang padahal, ini merupakan kesalahan pahaman semata, yang dimana Kami sebenarnya masih sedang memilih-milih misi yang akan kami kerjakan.
"Anna senang sekali … Karena akan dibantu oleh seorang petualang!"
Ucapnya sambil tersenyum manis.
Renia kemudian mendekat dan berbisik ke telingaku.
"Apa yang harus kita lakukan, Rama?"
Ucapnya berbisik.
"Entahlah … "
Jawabku sambil melihat Anna yang begitu senang.
"Ya .. ya .. hore!"
Ucap senang Anna sambil melompat-lompat.
Aku kemudian tersenyum tipis ke arahnya, membayangkan Dirinya adalah adikku sendiri.
Setelah itu, kemudian Diriku kembali teringat perkataan Lisa.
"Orang-orang disini lebih mementingkan kepentingan pribadi …"
Aku sadar, bahwa perkataan Lisa merupakan sebuah kebenaran. Dimana, sifat manusia pada dasarnya adalah ingin pamrih dan akan bergerak ketika itu berhubungan dengan uang dalam jumlah besar. Tidak, bukan hanya manusia saja! melainkan ras lainnya pun sama.
"Baiklah, kita akan membantu Anna mencari obat herbal itu!"
Ucapku sambil berteriak.
Sontak Isabella, Nyx dan Renia keheranan dengan keputusanku tersebut.
__ADS_1
_Bersambung.