
Sudut pandang orang pertama, Rama.
"Aaaa!"
Teriakku menyerangnya dengan sekuat tenaga.
Aku kemudian melompat dan melancarkan tebasan pedang yang dilapisi oleh api padanya. Namun, Dia berhasil menangkisnya menggunakan tombak yang dimiliki olehnya.
"Orang ini kuat sekali!"
Ucapku dalam hati sambil beradu kekuatan dengannya.
"Lemah!"
Ucapnya seketika menghempaskan diriku.
Akibatnya, Aku terhempas dan terlempar cukup jauh.
Dalam posisi tidur, Aku kemudian membalikkan badan dan melihat ke arahnya.
"Sudah menyerah?"
Tanya Dia padaku.
Aku dengan segenap tenaga, mencoba untuk bangun. Namun, hanya mentok pada posisi berlutut.
"Masa depanmu masih cerah sebagai anak muda."
"Aku bisa merasakan potensi didalam dirimu."
"Yang sewaktu-waktu, Kau bisa menjadi salah satu dari kami!"
Ucap Ao padaku.
"Apa maksudmu?"
Tanyaku padanya.
"Kau pasti pernah mendengar julukan kami … The mighty fourteen!"
Jawab Ao.
"Empat belas orang terkuat?!"
Tanyaku dengan tidak percaya.
"Ya, tujuh pengguna sihir cahaya dan sisanya kegelapan."
"Aku adalah pengguna sihir kegelapan, sama sepertimu!"
"Dan dari Mighty Fourteen, Aku bersama kembaranku Ai, kami menduduki posisi ke tujuh."
Jawab Ao.
"Kami merupakan simbol dari salah satu dosa besar manusia. Nafsu!"
Lanjut perkataanya dengan tegas.
"Kenapa kekuatan pengikatmu, tidak berpengaruh padaku, Renia dan Isabella?!"
Ucap bertanya padanya.
"Kata siapa?"
Ucapnya berbalik tanya padaku.
"Hah?"
Redaksiku terhadap pertanyaannya.
"Kekuatan pengikat nafsuku berpengaruh terhadap kedua gadis itu, terbukti dari mereka berdua yang melihatku tampan, bukan?"
"Namun anehnya, mereka tidak terlalu terpikat."
Ucapnya.
"Khusus untuk dirimu, Kau bisa melihat rupa asliku yang menyeramkan ini."
"Ini aneh, karena hanya sesama "terkuat" lah, yang bisa melakukannya."
Lanjut perkataanya.
Aku kemudian melihat sebuah celah, dimana Dia terlihat lengah karena berpikir demikian. Dengan cepat, aku menggunakan sihir tanah dengan tangan kiri dan sihir air dengan tangan kanan, membuat sebuah lumpur hisap agar dirinya terjebak.
Dia tampak kaget karena serangan kejutan ku tersebut. Dengan melapisi pedangku menggunakan api, seketika aku melemparkan pedangku padanya.
"Rasakan ini!"
Teriakku.
Tiba-tiba, kembarannya Ai datang dan membelokkan seranganku tersebut.
"Kau lengah, Ao."
Ucapnya.
__ADS_1
"Maaf, Ai. Aku tadi sedikit berbincang-bincang dengannya."
Jawab Ao.
Ai terlihat membawa kepala Luna, yang seketika membuat diriku sadar. Bahwa Luna si Serigala, sudah dibunuh olehnya.
"Apa yang Kau bawa itu?!"
Tanyaku dengan nada kesal.
"Oh ini? Ini serigalamu, ambilah!"
Jawab Ai sambil melemparkan kepala Luna yang sudah terpenggal kepadaku.
Aku melihat kepala Luna menggelinding di depan mataku secara langsung, dan setelahnya melirik ke arah mereka berdua.
"Dimana temanku yang lain?!"
Tanyaku kembali dengan nada kesal.
Ai terlihat tersenyum, dan mengatakan hal yang tidak pernah terbayangkan olehku.
"Oh, gadis yang bernama Isabella itu, Dia tadi ku tusuk menggunakan pedangku. Mungkin sekarang kondisinya sedang sekarat."
"Sementara untuk gadis yang bernama Renia, Dia sepertinya terluka parah akibat kedua tangannya yang putus."
Jawab Ai.
"Nyx?!"
Lanjut pertanyaanku padanya.
"Manusia setengah kucing itu?"
"Oh iya, Dia kemungkinan sama sekaratnya!"
Jawabnya sambil tersenyum.
Mendengar keadaan ke tiga temanku itu, membuat Diriku merasa bersalah karena meninggalkan mereka terlalu lama. Membayangkannya saja membuat Diriku langsung mual dan muntah.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Bukankah Kau ingin menjadi seorang petualang?"
Tanya Ao.
"Benar, kematian seperti ini merupakan hal yang lumrah dan sering kali terjadi!"
Ucap Ai dengan tegas.
"Aku sudah tidak peduli lagi!"
"Hah?"
"Apa maksud dari perkataanmu?"
Ucap tanya mereka berdua.
"Akan ku lenyapkan kalian berdua!"
Teriakku.
...****************...
Beralih sudut pandang orang pertama, Putri Isabella.
"Aku beruntung sekali. Karena sempat merapalkan sihir heal, sesaat sebelum kesadaranku hilang!"
Gumamku sambil menyambungkan tangan Kak Renia.
"Bukan itu saja, energi alam begitu sangat berguna karena dapat memperkuat sihir heal. Aku sangat bersyukur, karena mempelajarinya walaupun belum sempurna!"
Lanjut gumamku.
"Apa yang sedang Kau lakukan?"
Tanya tanya Kak Renia yang sadar dari pingsannya.
"Jangan bergerak Kak, Kamu kehilangan banyak darah!"
Ucapku memperingatinya.
"Tidak apa, Kau pergilah ke tempat Rama berada sekarang. Melawan dua orang itu sekaligus merupakan hal yang mustahil, jika bisa kalian larilah terlebih dahulu!"
Ucap Kak Renia menyuruh Diriku.
"Apa yang Kau katakan?!"
"Mana mungkin Aku akan meninggalkanmu disini?!"
Teriak tanyaku pada Kak Renia.
"Jangan remehkan Aku. Bersama Nyx, Kami akan menyusul kalian!"
Jawabnya.
__ADS_1
"Tapi … "
Ucapku yang seketika disela oleh Kak Renia.
"Jangan mengulur terlalu banyak waktu!"
"Pergilah ke tempat Rama, dan bantu Dia!"
Ucap Kak Renia.
"B-baik."
Ucapku.
Dengan mengikuti jejak energi Mana yang terpancar dari Rama, Aku bergegas pergi menuju tempat keberadaannya saat ini. Namun, tiba-tiba energi Mananya seperti tertelan oleh kekuatan yang jauh lebih kuat dan mengerikan!
"Ada apa ini, kekuatan milik siapa ini?"
Ucapku dalam hati sambil berlari.
"Atau jangan-jangan, ada musuh lainnya juga?!"
Gumamku khawatir pada Rama.
Singkat cerita, Aku sampai ditempat dimana Rama berada sekarang. Dan syok ketika mengetahui, bahwa Rama lah yang mengeluarkan kekuatan itu tadi.
Energi Mana yang terpancar darinya begitu kuat dan juga jahat, seperti bukan Rama yang kukenal selama ini.
Rama dengan cepat bergerak menyerang salah satu dari kedua orang itu dengan kecepatan yang amat sangat tinggi, salah satu dari mereka terhempas menabrak rindangnya pepohonan.
"Ao!!"
Teriak dari mereka yang lain.
Rama kemudian memukul satu orang lainnya, namun orang tersebut dengan segera menghentikan tinjuan Rama menggunakan bilah pedang yang dipegangnya.
Seketika itu, bilah pedang milik Ai langsung patah setelah terkena tinjuan Rama. dan Dia kemudian melompat serta melayangkan serangan lutut kepadanya.
Ai langsung terlempar ke udara. setelahnya, Rama melompat kembali dan melakukan tendangan berputar menghempaskannya kembali ke tanah.
Darrrrrr!!!
(Suara Ai terhempas ke tanah)
Orang itu mendarat dengan sangat keras, bahkan sampai meninggalkan bekas yang begitu dalam.
Rama terlihat melayang di langit, memperhatikan Ai yang terbujur kaku tidak berdaya dibawahnya.
Ao langsung datang mencoba menyerang Rama menggunakan tombak yang Dia miliki dengan cara melemparkannya. Namun, Rama dengan cepat memegang ujung tombak tersebut dengan tangan kosong.
"Mu-mustahil!"
Ucapnya dengan nada panik.
Sambil berbalik badan, Rama terlihat tersenyum ke arah Ao, Dia merendahkan kekuatan yang dimilikinya.
"Monyet sepertimu, tidak pantas untuk melawan ku!"
Ucap Rama kepada Ao.
Senyum Rama terlihat begitu jahat, matanya berwarna merah dengan adanya pola sihir yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Aura Mana berwarna hitam, ungu, dan merah terlihat mengelilinginya.
"Masih belum, kekuatan sejatiku masih belum kudapatkan!"
Ucapnya dengan tegas sambil mengepalkan tangan kanannya.
"Namun, dengan batas kekuatan ini. Masih cukup untuk meratakan 2-3 kerajaan sekaligus!"
"Dan khususnya, melenyapkan dirimu!"
Lanjut perkataan Rama sambil membuka dan melihat telapak tangannya.
Rama kemudian bersiap, dengan akan melepaskan kekuatan api jingga miliknya. Memanipulasinya menjadi bentuk anak panah.
Dibawahnya, Ao terlihat bergidik ketakutan dan jatuh berlutut tanda pasrah dengan keadaan terpana melihat kekuatan Rama yang begitu dahsyat.
"Si-siapa Kamu sebenarnya?"
Tanya Ao dengan sekujur tubuh bergetar ketakutan.
"Iblis masa depan!"
Ucap Rama dengan tegas.
"Sihir Api : Panah Api Jingga!"
Teriak Rama dengan jurusnya.
Rama kemudian melepaskan jurusnya tersebut, yang seketika melesat layaknya anak panah. Saat menghantam Ao terjadi sebuah ledakan yang sangat keras.
*Bommmmm
(suara ledakan serangan panah api jingga milik Rama).
Ledakan tersebut juga membuat efek kejut, dimana diriku hampir saja terhempas akibat hembusan angin yang sangat kuat.
__ADS_1
"He-bat sekali serangan ini!"
Ucap kagumku sambil bertahan memegang sebuah ranting pohon.