
Sudut pandang orang pertama, Putri Isabella.
Cahaya tiba-tiba datang menyilaukan mataku, tanda bahwa waktu pagi sudahlah tiba sekarang ini.
Aku kemudian membukakan mata, dan beranjak dari tidurku. Melihat ke sekeliling, kudapati diriku berada di dalam kandang kuda.
Sadar bahwa diriku sudah dibuang oleh Ayah, Kak Renia beserta Rama, membuatku sadar dan mempertanyakan kehadiranku selama ini. Meneteskan air mata setelahnya dan kemudian berjalan keluar dari kandang kuda.
Di luar, tampak orang-orang tengah disibukkan oleh pekerjaan mereka masing-masing. Hiruk pikuk pasar beserta orang-orang didalamnya membuatku terpana kagum kepada mereka.
Hal yang paling kubutuhkan ketika berada di dunia sebenernya adalah uang dan tempat tinggal. Namun, aku bingung harus mencarinya kemana.
Aku pun terus berjalan, tanpa arah tujuan. Entah kemana langkah kaki ini membawaku pergi, namun inilah yang bisa kulakukan saat ini.
Terlihat orang-orang memandang ke arahku, sepertinya penampilanku terlalu mencolok dengan pakaian bangsawan yang ku pakai. Namun, aku tidak memakai perhiasan sama sekali, yang padahal tadi aku memakainya saat berada di kerajaan.
Mungkin, Rama dan Kak Renia sudah mengambil serta menjualnya, mereka saat ini pasti sedang berpoya-poya dengan uang hasil menjual perhiasanku tersebut.
______________________________________________
Beralih sudut pandang orang pertama, Rama :
Yang sebenarnya terjadi :
"Bagaimana kondisinya, Renia?"
Tanyaku padanya.
"Dia baik-baik, mungkin sebentar lagi Dia akan sadar."
Jawabnya padaku.
Aku kemudian menghela nafas, tanda bersyukur atas keadaannya sekarang ini. Namun, disamping itu semua, Aku memikirkan berbagai macam hal, seperti uang dan tempat tinggal. Karena tidaklah mungkin bagi kami untuk terus seperti ini.
Aku kemudian berjalan-jalan kecil sambil memikirkan semua itu. Tanpa menyadari, bahwa Renia dari tadi terus memanggil-manggil namaku.
"Rama."
"Rama."
"Oi, Rama!!"
Teriaknya padaku dengan nada kesal.
Sontak hal itu kemudian mengagetkan diriku, yang lalu bertanya padanya.
"M-maaf … ada apa, Renia?"
Tanyaku padanya.
"Kau sedari tadi terus berputar-putar, membuatku pusing saat melihatnya."
"Apa yang sedang dirimu pikirkan, Rama?"
Balas serta tanya Dia padaku.
Karena ditanya seperti itu secara tiba-tiba olehnya, membuatku merasa tidak enak. Aku pun tidak menjawab pertanyaannya tersebut.
"..."
Diamku sambil memalingkan muka.
Saat itu, terdengar suara kalung yang bergemericik. melihat ke belakang, tRenia tengah melepaskan kalung emas di lehernya.
"Ini … ambilah."
Ucapnya sambil menyerahkan kalungnya tersebut.
"Tapi … Renia …"
Ucapku padanya.
"Jangan dipikirkan, ini semua merupakan keputusanku."
"Meskipun kalung ini berharga, nyawa kita semua saat ini sedang dipertaruhkan!"
Jawab Renia.
Mendengar hal tersebut darinya tentu membuatku bingung. Padahal, yang ingin ku sampaikan padanya saat ini, bahwa dengan menjual kalungnya saja belumlah cukup untuk menunjang kebutuhan kita semua.
"Maaf Renia, sepertinya Kau salah paham."
"Kalungmu saja belumlah cukup."
__ADS_1
Ucapku sambil mengambil kalung emas dari tangannya.
Mendengar hal itu dariku sontak membuatnya marah, dan dengan segera Dia memukulku.
"Dasar anak goa!!!"
Ucap kesalnya sambil memukulku.
Singkat cerita suasana hatinya sudah mulai membaik. Dia kemudian menyetujui bahwa dengan menjual kalungnya saja belumlah cukup untuk memenuhi semua kebutuhan kami.
"Sepertinya Kau benar, Rama."
"Tapi apa yang bisa kita jual saat ini?"
Tanya Dia padaku.
Aku kemudian melirik ke arah Putri Isabella yang tengah tertidur. Disusul dengan pandangan mata Putri Renia yang juga melirik ke arah Putri Isabella.
"Apa Kau ingin menjualnya, Hah?!"
Ucap Renia dengan nada kesal.
"Kau-kau salah paham!"
Jawabku.
"Aku hanya melirik ke perhiasan yang Dia pakai saat ini!"
Jawabku menyakinkan dirinya.
Renia kemudian melihat ke arah Putri Isabella yang tengah tertidur. Dia kemudian menyetujui bahwa ideku untuk menjual perhiasan yang di pakai olehnya merupakan ide yang bagus. Setidaknya hal itu bisa menutupi keuangan kita untuk beberapa hari ke depan.
Namun, Dia bingung dengan reaksi apa yang akan di tunjukkan oleh Isabella nanti. Setelah melihat bahwa dirinya tidak memakai perhiasannya lagi.
"Aku tidak tahu reaksinya saat melihat dirinya demikian."
"Entah Dia akan marah atau … "
Ucapnya padaku.
"Jangan dipikirkan!"
Jawabku.
'jangan dipikirkan'?"
Ucapnya dengan ekspresi kesal.
"Orang ini mudah sekali untuk salah paham."
Ucapku dalam hati.
"Isabella tidaklah seegois itu, Dia pasti akan mengerti dengan keadaan kita saat ini."
Balasku pada Renia.
"Apa yang Kamu tahu tentang Dia, Rama?"
"Kau baru berkenalan dengannya akhir-akhir ini, kan?"
"Berbeda dengan diriku yang sudah mengenal karakternya jauh-jauh hari."
Ucap Renia.
Aku kemudian terdiam, tanda mengiyakan apa diucapkan olehnya. Namun, Aku yakin ada banyak sisi yang tidak ditunjukkan oleh Isabella kepada orang-orang.
"Yang kamu katakan itu benar, Renia."
"Aku memang baru mengenal dirinya akhir-akhir ini."
"Dia adalah seorang Putri yang memiliki banyak sisi baik."
"Dia orangnya pintar memasak."
"Selalu membantu Mama beserta Kakak Wulan di dapur."
"Dia sangat lihai dalam sihir angin."
"Pandai merias diri."
"Dan tentunya mudah bergaul dengan semua orang."
"Apakah semua sisi lain, dari dirinya itu kamu ketahui, Renia?"
__ADS_1
Ucap dan tanyaku padanya.
Renia kemudian menggelengkan kepalanya, tanda bahwa Dia tidak mengetahui semua hal itu.
"Isabella … tidak, maksudku semua orang."
"Selalu memilih tempat, dimana mereka akan menunjukkan sisi lain dari dirinya kepada orang yang mereka sayangi."
"Itulah yang disebut dengan rasa nyaman."
"Luka dimasa lalu atau aturan kerajaan yang membuatnya seperti itu."
"Apa Kau pernah mendengar sebuah ungkapan konyol?"
"Yang mengatakan bahwa, Cinta itu buta serta tuli."
"Bagiku, cinta adalah usaha untuk menunjukkan sisi lain dari dirimu."
"Terlepas dari diterima atau tidaknya."
"Itulah yang disebut dengan kenyamanan."
Ucapku.
Mendengar perkataanku tersebut malah membuat Renia menjadi bingung, dan dengan polosnya Dia mengatakan.
"Apa yang Kau katakan, Rama?"
"Aku tidak mengerti sama sekali."
Tanya Dia.
"Intinya kita jual perhiasannya!"
Jawabku dengan nada kesal.
Setelah sekian lama berdebat, akhirnya kami menemukan kesepakatan. Dimana jika Isabella bangun dan mendapati dirinya sudah tidak memakai perhiasan, maka Aku yang akan menjelaskan semuanya.
Kami kemudian pergi ke pasar membeli beberapa bahan untuk dimasak. Dan berencana untuk menyewa penginapan, namun kami harus meminta izin dulu dari Isabella. Karena, sebagian uang ini merupakan hasil jual perhiasannya.
Namun, saat kami sampai di kandang kuda tempat kami bermalam dan mengistirahatkan Isabella. Dia sudah tidak ada disini.
"Rama, Isabella tidak ada!"
Teriak Renia dengan panik.
Aku kemudian bergegas mencari Isabella, menyadari akan dua hal. Yaitu dimana Dia diculik atau bisa bisa saja dirinya salah paham dengan apa yang kami lakukan.
Aku pun berlari dan menelusuri semua lokasi pasar. Karena diriku yakin Isabella belum pergi begitu jauh.
"Dimana Kamu, Isabella!"
Ucapku sambil berlari mencarinya.
______________________________________________
Beralih sudut pandang orang pertama, Putri Isabella :
Saat diriku berjalan, Aku sadar bahwa ada seseorang yang sedang membuntuti diriku.
Aku kemudian berlari ke sudut bangunan, berniat untuk lolos darinya.
Namun, karena tidak tahu betul dengan lokasiku saat ini, aku malah terpojok.
Melihat ke belakang, terlihat seorang pria sambil membawa pedang yang sangat besar. Dia merupakan seorang petualang yang sepertinya sedari tadi mengikutiku.
"Akhirnya kita berduaan, yah!"
Ucapnya.
"Siapa Kau, mengapa sedari tadi dirimu mengikutiku?!"
Tanyaku padanya.
"Kau begitu cantik dan juga manis, sayang jika aku harus melepaskanmu!"
"Apa kamu mau, bersenang-senang bersamaku?"
"Aku akan memberimu cinta dan juga kenyamanan yang begitu luar biasa padamu."
Ucapnya dengan niat macam-macam terhadap diriku.
_Bersambung
__ADS_1