
Sudut pandang orang pertama, Putri Isabella.
"Maaf saja, tapi tipeku bukanlah om-om."
"Dan satu lagi, mukamu begitu jelek!"
Ucapku mengejeknya.
Setelah mengucapkan hal itu, terlihat ekspresinya menjadi kesal.
"Akan ku bungkam mulutmu itu!"
Ucap kesalnya.
Dia kemudian mendekat dan menghunuskan pedangnya padaku.
"Jika Kau tidak ingin terluka, maka turutilah semua perkataanku!"
Ucapnya sambil menghunuskan pedangnya.
"Maaf saja, tapi aku tidaklah sudi!"
Balas perkataanku dengan tegas.
Dengan cepat, aku segera menyerangnya. Namun, pukulanku berhasil di tangkis menggunakan badan pedangnya.
"Kuat sekali!"
Ucapku dalam hati.
Dia kemudian menghempas diriku menggunakan pedang besarnya. Namun, aku berhasil mendarat dengan selamat.
Tiba-tiba, dengan cepat Dia mendekat ke arahku dan memukulku menggunakan tangan kirinya dan berhasil mengenai wajahku.
Dengan serangannya berhasil membuatku terpental dan menabrak tembok.
"Sakit."
Ucapku sambil meringis kesakitan.
"Bagaimana rasanya, Nona?"
Tanya Dia padaku.
Aku sadar bahwa orang yang kulawan saat ini merupakan seorang petualang tingkat menengah, dan kesempatan untukku menang darinya hanyalah sedikit.
Dengan cepat, Dia menggunakan sihirnya padaku. Membuat sebuah tali dari elemen air dan mengikatku dengannya.
"Hahaha … Aku kira kamu sangatlah kuat. Tapi hanya segini kemampuanmu!"
Ucapnya dengan nada sombong.
Aku kemudian menggunakan sihir angin menggunakan mulutku, berniat untuk menghempaskannya.
"Apa?!"
Ucap kagetnya setelah menerima seranganku.
Akibatnya, tali air yang semula mengikatku kemudian lepas. Aku dengan segera menggunakan sihir air, membuat proyektil air untuk menyerangnya!
"Aqua Burst!"
Teriak jurusku.
Dalam posisi jatuh, Dia menggunakan pedang besarnya untuk bertahan.
"Gawat!"
Ucapnya dengan segera menggunakan pedangnya untuk dijadikan tameng.
Serangan proyektil airku berhasil mengenai beberapa bagian tubuhnya, dan seketika itu Dia tumbang dan menyerah.
"Aku menyerah, tolong ampuni aku."
Ucapnya sambil memohonkan.
Aku kemudian menghentikan seranganku, dan berkata kepadanya untuk tidak mengikutiku lagi.
"Sekarang, pergilah!"
"Namun ingat, jangan pernah mengikutiku!"
Ucapku dengan nada mengancam padanya.
Aku kemudian berbalik dan berniat untuk meninggalkannya. Namun, tanpa kusadari Dia menggunakan sihir petir padaku dan berhasil mengenai tubuhku.
"Aaa!!!"
Teriakku terkena sihir petirnya.
Tubuhku terasa lemas setelah terkena serangan darinya, Dia kemudian mendekat padaku dengan perlahan.
"Kita akan bersenang-senang, sekarang!"
__ADS_1
"Ayo, layani aku!"
Ucapnya sambil berjalan perlahan mendekatiku.
Bingung harus bagaimana lagi, yang bisa kulakukan sekarang ini hanyalah menyeret tubuhku untuk menjauh darinya, sambil memohon untuk jangan mendekatiku.
"Aku mohon, jangan mendekat!"
Ucapku sambil menyeret badan.
"Sudah kubilang, aku akan memberikan seluruh cinta serta rasa nyaman ke padamu!"
Balasnya.
Dengan segera Aku membuang muka dan menutup kedua mataku. Kemudian, terdengar suara rintihan kesakitan darinya. Saat membuka mata, alangkah terkejutnya diriku ketika melihat tangan kirinya yang sedang memegang pedang, tiba-tiba putus dan jatuh bersamaan dengan pedang miliknya.
"Aaaaa!!!"
"Tanganku!!!"
Ucap teriaknya sambil memegang tangan kirinya yang lurus dengan tangan kanan.
Rama datang dengan membawa sebuah pedang bersamanya. Kilat dari bilah pedangnya begitu memukau mataku, terlebih lagi ekspresi wajahnya terlihat sangat kesal.
"Rama … "
Ucapku sambil memandang kagum padanya.
"Jika kaki beserta tanganmu yang lain ingin masih ada, sebaiknya cepatlah pergi dari sini!"
Ucap Rama pada orang itu.
Terlihat orang tersebut ketakutan oleh ancamannya Rama. Saking takutnya, Dia hanya bisa berdiam diri mematung di tempatnya saat ini.
"Cepatlah pergi, selagi kewarasanku masih ada!"
Teriak kesal Rama pada orang itu.
Setelah kembali diancam oleh Rama, orang itu kemudian lari menyelamatkan diri. Setelah situasinya dirasa aman olehnya, Rama kemudian memasukkan pedangnya kembali ke sarung yang terletak di punggungnya.
Dia berbalik dan menanyakan kondisiku.
"Kau baik-baik saja, Isabella?"
Tanya Dia padaku.
Mendengar hal tersebut tentu membuatku bingung, kenapa Dia susah payah menyelamatkan Diriku yang sudah Dia buang di kandang kuda.
"Kenapa Kau menyelamatkanku, Rama?"
Tanyaku padanya.
"Aku tidak mengerti."
Ucap serta tanyanya padaku.
"Justru akulah yang tidak mengerti!"
Balasku padanya dengan berteriak.
"Kenapa Kau datang dan menyelamatkan diriku?"
"Kau sudah membuangku di kandang kuda itu, kan?"
Tanyaku kembali padanya.
"Kau salah paham, Isabela!"
Balasnya padaku.
"Jangan bohong!"
Teriakku membentaknya.
Setelah ku membentaknya, Rama kemudian diam dan tidak mengatakan sepatah kata apapun.
"Jelaskan sekarang padaku!"
"Untuk apa Kau menyelamatkanku, hah, jawab?!"
Tanyaku dengan nada keras.
"Sudah kubilang, Kau salah paham, Isabella."
Jawabnya.
Mendengar kata 'salah paham' terus darinya membuatku sadar. Bahwa selama ini, justru memang akulah yang salah paham menilainya selama ini.
"Salah paham, katamu?"
"Benar, aku memang salah paham menilai dirimu selama ini!"
"Kau … Kau menyukai Kak Renia, kan?!"
__ADS_1
Tanya kesalku padanya.
"Apa yang sebenarnya dirimu katakan, Isabella?"
Kembali tanya Rama.
"Sudah cukup, jangan ganggu Diriku lagi!"
Ucapku sambil lari meninggalkannya.
Terdengar, Rama berulang kali memanggil diriku. Namun aku justru tidak menghiraukannya dan tetap berlari menjauh darinya.
______________________________________________
Beralih sudut pandang orang pertama, Rama :
"Kau … Kau menyukai Kak Renia, kan?!"
Tanya Isabella padaku.
Mendapat pertanyaan tersebut darinya tentu membuatku bingung, apa sebenarnya maksud dari perkataannya.
"Apa yang sedang dirimu katakan saat ini, Isabella?"
Tanyaku padanya.
Namun, bukannya menjawab, Dia malah marah dan pergi berlari dariku.
"Sudah cukup, jangan ganggu Diriku lagi!"
Teriaknya padaku sambil lari menjauh dariku.
Aku kemudian memanggil-manggil namanya, berharap agar Dia berhenti dan meluruskan semua kesalahpahaman ini.
Saat akan mengejar Isabella, Renia dengan tiba-tiba datang dan menghentikan diriku.
"Biarkan Dia sendiri terlebih dahulu, Rama!"
Ucap Renia sambil memegang tanganku.
"Tapi … "
Ucapku sambil melihat Isabella berlari.
"Untuk sementara ini, kita biarkan Dia sendiri. Setelah semuanya tenang, kita akan bicarakan secara baik-baik padanya."
Ucap Renia padaku.
Singkat cerita kami menyewa penginapan untuk sementara dan kemudian membicarakan tentang semuanya. Tidak lupa juga, Kami saling bertukar informasi.
"Begitu yah … "
Ucap Renia.
"Kalau begitu, kenapa Dia menyinggung namaku."
Lanjut perkataan Renia sambil akan menyeruput teh.
"Entahlah, Isabella bilang bahwa Aku menyukaimu."
Jawabku.
Saat mendengar jawaban dariku, Renia dengan tiba-tiba menyemburkan teh yang tadinya akan Dia minum.
"Kau tidak apa-apa, Renia?"
Tanya panikku padanya.
"Tidak tidak, aku hanya tersedak."
Jawabnya sambil tersenyum dan kembali meminum tehnya.
"Yang lebih penting dari itu semua …"
"Saat ini, posisi kita bukanlah terletak di Benua tempat kerajaan Verdifield berada."
Ucapnya padaku.
"Lalu, dimana kita sekarang ini, Renia?"
Tanyaku padanya.
"Saat ini, kita berada di benua Ignis!"
Jawab Renia dengan tegas.
"Ignis merupakan sebuah Benua dengan karakteristik tanah yang tandus, cuaca yang panas, dominasi gunung berapi serta curah hujan yang sedikit. Masyarakat disini pandai dalam memanfaatkan sihir api, karena adaptasi mereka dengan lingkungan."
"Bukan itu saja, tercatat bahwa 81% orang-orang sini didominasi oleh ras demon"
"Kau sungguh beruntung, karena bertarung dengan petualang manusia serta Dia tidak pandai dalam menggunakan sihir Api. Jika tidak, Kau pasti akan kewalahan."
Lanjut perkataan Renia padaku.
__ADS_1
_Bersambung