
"Isabella dan Reina, kalian berdua harus sama-sama pergi menjelajahi seluruh pelosok negeri ini, dan menyelesaikan masing-masing permasalahan yang ada disana.
"Kalian pergi tentunya membawa beberapa prajurit dan satu orang kepercayaan kalian sendiri.
"Dengan ini, semua keputusan yang Ku buat sudah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat!" Ucap Ayahanda kepada seluruh orang.
"Maaf jika saya lancang, Ayahanda.
Mengapa Ayahanda repot-repot, ingin kami melakukan ini semua?"
Tanya Kak Reina pada Ayah.
"Isabella mengatakan, bahwa Dia tidak pantas bila kelak memimpin negeri ini. Dia juga mengatakan, bahwa Kaulah yang harus menjadi penerus kerajaan Verdifield.
Namun, Aku harus bertindak adil dengan menguji kalian berdua." Jawab Ayah.
Ingat! Kalian harus segera pulang ke istana, setelah puncak perayaan hari panen berakhir!"
Dan setelahnya, kalian harus kembali bertarung pada ujian kenaikkan peringkat akademi Verdifield." Sambung perkataan Ayah.
"6 bulan, yah." Ucapku dalam hati.
Singkat cerita, kami dalam masa pengasingan dan menjalankan misi masing-masing untuk pergi ke sebuah Desa yang memiliki masalah. Sebenarnya diriku pergi dengan perasaan setengah hati, mengingat semua ini tidaklah berarti bagiku. Karena, aku tidak memiliki minat untuk menjadi penerus kerajaan.
Singkat cerita aku bersama prajurit tiba di sebuah Desa yang kumuh, terlihat orang-orang disini menderita gizi buruk. Mulai dari anak-anak, pemuda, orang tua dan yang lainnya.
Awalnya aku enggan untuk berbaur, namun karena merasa kasihan dengan keadaan mereka, akhirnya aku bertanya mengapa hal mengerikan seperti ini bisa terjadi.
Salah seorang warga desa mengatakan, bahwa ini bisa terjadi karena kemarau yang berkepanjangan ditambah dengan kepala Desa yang korup. Mendengar hal tersebut tentu saja membuatku geram, mengingat Ayah selalu berlaku adil dengan membagikan bantuan keuangan untuk Desa-desa.
"Apa yang akan kita lakukan, Tuan Putri?" Ucap Dristin orang kepercayaanku.
Sejenak aku berpikir dan tercetuslah ide untuk menggali sumur baru yang nantinya bisa dimanfaatkan oleh warga desa. Namun, mereka mengatakan bahwa, sudah melakukan hal tersebut dan hasilnya adalah kegagalan.
__ADS_1
"Apa kalian bisa menunjukkan sumur yang sudah kalian buat?"
Tanyaku pada seluruh warga Desa.
Kemudian salah seorang dari mereka menunjukkan sumur yang sudah digali cukup dalam, tetapi tidak mengeluarkan air sama sekali.
Mereka kemudian menjelaskan bahwa daerah ini memang minim dengan sumber mata air, sumur di desa ini saja diketahui hanya ada satu dan itu pun hanya dipakai oleh pejabat Desa.
Mendapatkan fakta lainnya membuatku semakin geram, bertanya-tanya dalam hati, mengapa mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri daripada berbagai dengan rakyat.
Kemudian orang kepercayaanku, menyarankan agar kita melaporkan hal ini kepada pihak istana. Ide tersebut memang baik, namun dengan melibatkan pihak kerajaan justru akan menambah kerumitan. Dimana Ayahanda pasti akan menjatuhi hukuman mati kepada orang-orang yang terlibat.
Hukuman mati menurut pandanganku merupakan sebuah praktek kuno yang seharusnya sudah ditinggalkan, Mengingat perbuatan pelaku tidaklah sebanding dengan perbuatannya, dan jika pelaku divonis hukuman tersebut, sama saja dengan dia sudah lari dari tanggung jawab. Hukuman semacam ini juga tidak akan pernah memberikan kepuasan kepada korban, dan justru akan menimbulkan tali kebencian yang berkepanjangan diantara korban dan pelaku.
Apalagi saat ini, kerajaan sedang dalam masa krisis akibat perang 20 tahun terakhir, mengingat hukuman mati tidak serta merta langsung mengeksekusi pelaku kejahatan, namun juga ada anggaran yang harus dikeluarkan dan jumlahnya tidak sedikit.
Aku sebenarnya ingin mengajukan usulan kepada ayahanda dengan 3 alternatif untuk menutupi itu semua, yakni ;
Hukuman penjara serta kerja paksa, dimana pelaku mendekap di dalam sel istana. Namun, didalamnya pelaku dipekerjakan pihak kerajaan dengan upah sebagai rincian
Bila pelaku diketahui belum berkeluarga, upah dari kerja paksanya diberikan sebanyak 75% untuk keluarga korban, 15% untuk dirinya, dan 10% nya lagi untuk istana.
Bila pelaku diketahui sudah berkeluarga, upah dari kerja paksanya diberikan sebanyak 50% untuk keluarga korban, 40% untuk keluarganya sendiri, 5% untuk dirinya dan 5% nya lagi untuk istana.
Bila hukuman mati memang diperlukan, maka hukuman kerja paksa untuknya juga masih ada. Upah dari hasil kerja paksanya akan disisihkan sebanyak 20% untuk biaya operasional hukumannya kelak.
Dengan rincian :
Bilamana pelaku belum berkeluarga, upah dari kerja paksanya diberikan, 60% untuk keluarga korban, 20% untuk biaya operasional hukumannya, 10% untuk dirinya dan 10% nya lagi untuk kerajaan.
Bilamana pelaku sudah berkeluarga, upah hasil dari kerja paksanya diberikan, 40% untuk keluarga korban, 30% untuk keluarganya, 20% untuk biaya operasional, 5% untuk dirinya dan 5% nya lagi untuk kerajaan.
Semua sistem tadi dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, bilamana pelaku tindak kejahatan melakukan upaya untuk melarikan diri dari hukumannya, maka sistem tadi diperberat dengan tidak memberikan upah kerja paksanya untuk dirinya atau keluarganya, yang berarti hanya untuk keluarga korban dan juga pihak istana dengan rincian 80% : 20%.
__ADS_1
Jika tindak kejahatannya berupa memperkaya diri dengan uang kerajaan, maka sistem tadi diubah. Dengan rincian, upah untuk keluarga korban dihilangkan dan diganti dengan upah ganti kerajaan.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh menteri-menteri terkait serta bekerja sama dengan pihak-pihak swasta.
__________________________________
Semua sistem tadi ingin sekali ku bicarakan dengan Ayahanda, namun aku masih tidak memiliki keberanian.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Putri Isabella?" Tanya Dristin kembali.
"Kita akan mencoba menggali lebih dalam sumur ini, berharap ada air yang keluar." Jawabku pada Dristin.
Singkat cerita, sudah 7 hari kami menggali sumur ini. Namun, tidak pernah ada air yang keluar darinya. Kami bukan hanya menggali satu sumur, melainkan beberapa sumur juga.
"Maaf, tapi hasilnya tetap sama saja, Tuan Putri." Ucap salah seorang prajurit.
Saat itu, aku kemudian bertanya kepada salah seorang prajurit yang kutugaskan untuk memata-matai para pejabat desa ini. Faktanya adalah bahwa memang benar melakukan hal kejam seperti ini. Sadar dengan ketidakberdayaanku, akhirnya aku meminta bantuan Ayahanda.
Singkat cerita, kami pun beralih dari satu desa ke desa lainnya. Sambil mengendarai kuda, aku membaca surat yang ditulis tangan langsung oleh Ayah. Beliau mengatakan bahwa, hal yang telah kulakukan merupakan perbuatan yang benar, namun aku juga diminta untuk menyelesaikan sendiri masalahku nantinya.
Kami pun pergi ke sebuah Desa, yang bernama desa Gunung kecil. Disini, warganya terlihat bahagia dengan kebanyakan penduduk bermata pencaharian sebagai petani gandum.
"Sepertinya disini tidak ada masalah" Ucapku dalam hati.
Kami pun melewati sebuah pasar, dan ternyata diriku beserta para prajurit disambut dengan baik oleh orang-orang disini. Terlihat ramah sekali sambutan yang mereka lakukan, mereka bertepuk tangan sambil berteriak mengatakan namaku yang tentunya kubalas dengan senyuman dan sapaan hangat.
Namun, petapa mulai datang karena tiba-tiba didepanku terjadi sebuah ledakan yang menghancurkan bangunan yang akan kami lewati. Bukan itu saja, saat debu hasil peledakan itu menyebar, satu-persatu prajuritku terlihat pingsan karena di serang oleh orang-orang yang tidak dikenal.
"Semuanya! Awas hati-hati … " Ucapku agar semua prajurit bersiap siaga.
Namun, tiba-tiba saja ada orang yang menyerang dan membuatku pingsan setelahnya.
_Bersambung
__ADS_1