
Sudut pandang orang pertama, Putri Renia.
Rama dengan tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya pada bunga mawar hitam. Setelahnya, Dia terlihat oleng dan kemudian jatuh pingsan.
Melihat hal tersebut tentu saja membuat kami cemas.
"Sadarlah Rama!"
"Apa yang terjadi padamu, Rama?!"
"Rama, bangunan!"
Ucap cemas kami bertiga.
Isabella kemudian mengambil dan melihat kebagian tangkai bunga hitam tadi.
"Berduri?"
Ucapnya
"Jangan-jangan, mawar hitam ini beracun!"
Ucapku dengan yakin
"Bukankah bunga mawar memang beracun?"
"Namun, tidak sampai menimbulkan hal yang fatal seperti ini?"
Ucap Nyx.
Ditengah kebingungan yang kami rasakan. Tiba-tiba, semak bergerak seolah-olah ada orang yang sedang memperhatikan kami di baliknya.
"Siapa itu?!"
Teriakku sambil melihat ke area semak yang bergerak dari tadi.
Tak lama kemudian, keluarlah dua orang pria dari balik semak tersebut. Mereka bertelanjang dada namun memakai perhiasan emas. Mulai dari telinga, leher, lengan atas, pergelangan tangan, dan celana mereka diikat oleh kain panjang berwarna emas.
Bukan itu saja. Di wajah mereka, tidak terlihat adanya garis yang menghubungkan antara hidung dan mulut.
"Wah, mereka ganteng!"
Ucap Nyx setelah melihat kedua Pria itu.
"Apa-apaan Kau ini, Nyx!"
Ucapku menegurnya.
"Dilihat-lihat, wajah mereka berdua memanglah tampan. Namun tetap saja, Rama nomor satu bagiku."
Ucapku dalam hati sambil tersenyum memandang ke arah Rama.
Setelah mengatakan hal itu, Aku kemudian menggelengkan kepala seolah tidak percaya dengan apa yang barusan kukatakan.
"Apa yang barusan kukatakan?!"
Ucapku memegang kedua pipiku.
"Maaf, tapi kalian siapa, yah?"
Tanya Isabella kepada mereka berdua.
"Kami datang kemari, tanpa berniat jahat."
Ucap salah seorang dari mereka.
"Benar, Kami datang kemari karena mendengar keributan."
Ucap salah seorang dari mereka yang lain.
Kami berdua hanya bisa diam, setelah mereka mengatakan hal tersebut.
Namun, Nyx dengan meminta tolong kepada mereka untuk memeriksa kondisi Rama.
"Paman tampan, apakah kalian bisa memeriksa kondisi teman kami?"
Ucapnya.
"Benar, Dia tiba-tiba saja jatuh pingsan setelah terkena racun dari bunga mawar hitam itu."
Ucap Isabella sambil menunjuk bunga mawar hitam tersebut.
Mereka kemudian berjalan mendekatiku Rama. Aku yang melihatnya tentu saja menghentikan mereka, karena belum percaya dengan orang baru.
"Berhenti!"
Ucapku.
"Ada apa, Kak Renia?"
__ADS_1
Tanya Isabella Padaku.
"Tidakkah kalian merasa curiga kepada mereka berdua?"
Ucapku berbalik tanya pada Renia dan Isabella.
"Mana mungkin orang setampan mereka melakukan hal jahat?!"
Teriak Nyx padaku.
"Apa yang Kau katakan, Nyx?!"
"Sejak kapan wajah menjadi tolak ukur, baik atau buruknya seseorang?!"
Ucapku berteriak balik kepadanya.
Isabella kemudian menengahi Kami berdua.
"Sudah, sudah. Kenapa kalian berdua malah bertengkar?!"
Ucap Isabella menengahi pertengkaran kami.
"Nyx, yang dikatakan oleh Kak Renia itu benar!"
"Dan untuk Kak Renia, sekali-kali berilah kesempatan untuk orang-orang!"
Lanjut perkataan Isabella.
"Tak apa jika kalian tidak mempercayai kami."
"Namun, orang itu sedang membutuhkan pertolongan"
Ucap salah seorang dari mereka sambil kembali menghampiri Rama.
Aku kemudian berlari dan mencoba menyerang orang yang terlihat mendekati Rama.
"Renia!"
"Kak Renia!"
Teriak Isabella dan Nyx padaku.
Saat akan menebaskan pedangku padanya, salah seorang dari yang lain menghentikan diriku. Dengan cara menangkis pedangku menggunakan sebuah tombak.
Aku kemudian melompat mundur kebelakang, dan bertanya-tanya dari mana orang itu mendapatkan senjata berupa tombak.
Ucapku dalam hati dengan yakin.
Orang itu kemudian berlutut dekat Rama. Dia kemudian mengeluarkan pisau sesaat setelah bayangan hitam muncul dari telapak tangannya.
Aku kemudian sadar bahwa bagaimana caranya orang-orang ini bisa mendapatkan senjata.
"Rama!"
Teriakku kembali berlari.
Orang yang memegang tombak terlihat akan menghalangi diriku kembali. Namun, dengan sigap Aku berhasil lolos darinya. Dirasa cukup dengan dekan orang yang memegang pisau, Aku kemudian melemparkan pedangku ke arahnya.
Sesaat sebelum pedangku mengenainya, tiba-tiba saja Isabella membelokkan arah tusukkan pedangku.
"Apa yang kau lakukan, Isabella?!"
Teriakku bertanya kepadanya.
"Justru Akulah yang harus bertanya demikian padamu!"
Teriaknya padaku.
"Apa Dirimu buta?!"
"Lihatlah, orang ini sedang menyembuhkan Rama!"
Lanjut ucapannya padaku.
Terlihat memang bahwa, orang yang memegang pisau menyembuhkan Rama. Dia menggores sedikit lengan kanannya yang memegang pisau, dan memasukkan sesuatu seperti sebuah serbuk.
"Tenang, Aku hanya memasukkan anti racun padanya."
"Tidak lama lagi, Dia akan kembali siuman."
Ucapnya setelah mengobati Rama.
Tak lama kemudian, Rama membuka kedua matanya, tanda bahwa dirinya sudah sadar.
...****************...
Beralih sudut pandang orang pertama, Rama.
Aku kemudian sadar dan membuka mataku.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?"
Ucapku sambil mencoba untuk bangun.
Isabella dan Renia dengan tiba-tiba berlari ke arahku, mereka tampak menangis tersedu-sedu, dan setelah itu memeluk Diriku.
Aku kemudian ingat, hal yang terakhir kali kulakukan adalah dimana berdebat tentang bunga mawar hitam dengan Renia.
Melihat ke sekeliling, tampak dua orang pria yang memiliki wajah sangat menyeramkan. Yang seketika melihatnya saja, membuat diriku kaget bukan main.
"Siapa Kau?!"
Teriakku pada kedua pria tersebut.
"Rama, tenanglah!"
"Merekalah yang telah menyembuhkanmu!"
Ucap Isabella padaku.
"Benar, Aku juga salah sangka terhadap mereka tadi."
Ucap Renia membenarkan perkataan Isabella.
Aku kemudian melihat kembali kepada dua pria tadi. Dengan hati yang masih dipenuhi oleh rasa takut, Aku mencoba berterimakasih dan juga meminta maaf kepada mereka.
"Te-terimakasih karena sudah menyelamatkan nyawaku."
"Dan maaf, karena sudah salah sangka terhadap kalian berdua."
Ucapku.
Tanpa mengatakan apapun, mereka kemudian pergi.
"Tunggu, Kalian mau kemana?!"
Ucap Nyx seolah mencoba untuk mengikuti mereka.
Isabella kemudian mengeluarkan sihir air dan mengikat Nyx dengan itu. Dia terlihat meronta-ronta seolah ingin mengejar kedua pria itu tadi.
Melihat tingkah laku Nyx, membuat Diriku heran bukan main.
Singkat cerita, malam pun tiba.
Kami kemudian mendirikan tenda untuk berteduh dari dinginnya malam, sekaligus tempat dimana kami akan tidur.
Kami kemudian berbagi tugas meninggalkan Nyx yang terlihat murung daritadi. Bersama Isabella, Aku membuat api unggun, dan sedikit berbincang dengannya tentang kejadian tadi sekaligus membicarakan tingkah laku Nyx yang kini seolah berubah.
"Begitu, yah."
Ucapku mengerti dengan penjelasan Isabella.
"Oh iya, Isabella."
"Apa Kau merasakan, bahwa ada sesuatu yang aneh dari Nyx?"
Tanyaku padanya.
"Wajar saja, ditinggalkan oleh Pria setampan itu, wanita mana yang tidak patah hati?"
Jawab Isabella.
"Apa maksudmu, Isabella?"
Kembali aku bertanya padanya.
"Kedua Pria tadi terlihat begitu tampan, kan?"
"Wajar saja bilamana Dia sedih, karena kedua pria itu tidak membalas Nyx sama sekali."
Jawab Isabella kembali.
"Namun bagiku, ada seorang pria yang jauh lebih dari tampan dimataku."
"Bagiku, Dia terlihat begitu sempurna."
Ucap Nyx sambil memandang ke arahku dengan wajahnya yang tersenyum.
Mendengar jawaban tersebut darinya, tentu membuat diriku heran. Mengapa Dia menyebut kedua pria tadi itu tampan. Yang padahal, terlihat bahwa wajah mereka begitu menyeramkan. Saking menyeramkannya aku saja sampai merinding ketakutan.
Tiba-tiba, Renia datang dan mengacaukan obrolanku dengan Isabela.
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?!"
"Cepatlah, carilah buah atau apapun yang bisa dimakan!"
Ucap Renia dengan nada kesal
_Bersambung.
__ADS_1