Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Mencari Isabella Di Gedung Terbengkalai


__ADS_3

Sudut pandang orang pertama, Rama.


Setelah party kami resmi terbentuk, hari berikutnya Aku, Nyx dan Renia pergi mencari keberadaan Putri Isabella. Kami sebisa mungkin menemukannya dengan cepat, karena khawatir dengan keadaannya.


"Gawat!"


Ucap Renia.


"Ada apa, Renia?"


Tanya Nyx.


"Aku tidak bisa merasakan aura Mana miliknya!"


"Terakhir kali, Aku merasakannya ada disekitar sini."


"Namun sekarang, Mana miliknya tiba-tiba hilang!"


Jawab Renia.


Renia merupakan salah seorang penyihir dengan kemampuan sensorik. Wajar bila Dia panik, karena sekarang energi Mana yang dimiliki oleh Isabella tiba-tiba saja menghilang.


"Kita berpencar!"


Ucapku pada Nyx dan Renia.


Mereka berdua kemudian mengangguk tanda setuju. 


"Dimana Kau, Isabela?!"


Ucapku sambil berlari mencarinya.


"Andai saja Aku memiliki kemampuan sensorik, mungkin akan jauh lebih mudah untuk mencarinya!"


Ucap kesalku dalam hati.


"Tapi, Renia saja yang memiliki kemampuan sensorik, bisa kehilangan jejaknya."


Lanjut perkataanku dalam hati.


Aku kemudian teringat perkataan Renia tentang kemampuan sensorik.


"Sensorik merupakan sebuah kemampuan unik, dimana penggunanya dapat merasakan keberadaan energi sihir orang-orang disekitarnya.


"Kemampuan ini memiliki keuntungan lebih, selain dipakai untuk bertarung. Kemampuan ini juga dapat dipakai untuk mendeteksi ancaman, karena berkaitan dengan Indra peraba manusia."


Ucap Renia dalam ingatanku.


"Lantas, bagaimana cara mengaktifkannya?"


Tanyaku pada Renia.


"Hemmm … Sulit menjelaskannya. Namun, konsepnya mirip seperti kelelawar yang melepaskan sebuah gelombang ultrasonik."


Jawab Renia.


"Ekolokasi maksudmu?"


Kembali tanyaku pada Renia.


Penjelasan : Ekolokasi adalah kemampuan beberapa makhluk hidup, seperti kelelawar dan lumba-lumba, untuk menggunakan gelombang suara atau gelombang lainnya yang dipantulkan kembali (echo) dari objek di sekitarnya guna mendeteksi dan mengidentifikasi lokasi, ukuran, bentuk, dan gerakan objek tersebut. Ini adalah sebuah mekanisme penting yang membantu makhluk-makhluk tersebut berorientasi, berburu, dan berkomunikasi dalam lingkungan mereka. Makhluk-makhluk yang memiliki kemampuan ekolokasi dapat "melihat" lingkungan mereka melalui suara yang dipantulkan, mirip dengan bagaimana radar atau sonar bekerja dalam teknologi manusia.


"Jika kelelawar menggunakan gelombang suara, maka kita sebagai penyihir menggunakan energi Mana yang kita miliki!"


"Memanipulasinya menjadi gelombang Mana."


"Saat gelombang energi tersebut kembali kepada kita, saat itulah kita bisa mendeteksi baik ukuran, bentuk, lokasi maupun gerakan disekeliling kita."


Lanjut perkataan Renia padaku.

__ADS_1


Sadar dengan teorinya, Aku kemudian mencoba untuk mempraktekkannya.


Pertama, Aku berkonsentrasi. Kedua, mengumpulkan energi Mana milikku dan mengumpulkannya di telapak tangan kananku. Ketiga, mempraktekannya.


Energi Mana milikku terlihat melesat dengan cepat, Dan seketika itu kembali kepada diriku namun tidak dengan kecepatan yang sama.


"Aku bisa!"


Ucapku dengan yakin.


Setelah yakin bisa, Aku kemudian secara berulang kali menggunakan kemampuan sensorik ini.


Meskipun begitu, Aku sadar dengan kelemahan dari kemampuan ini.


Yakni, jarak dari kemampuan ini cukup terbatas, kemungkinan hanya 50 meter saja. Semakin jauh, semakin kurang jelas. Dan aku harus berkonsentrasi lebih, agar dapat membedakan benda satu dengan lainnya.


Kelemahan kedua adalah tidak bisa mendeteksi energi sihir seseorang secara 100% akurat, dan hanya bisa mendeteksi pada bagian permukaannya saja. Jika seorang penyihir memiliki kemampuan untuk menyembunyikan hawa keberadaannya, baik fisik maupun energi sihirnya, maka Dia pasti akan lolos dengan mudah. Meski Diriku menggunakan kemampuan ini.


Kelemahan ketiga sekaligus terakhir adalah sulit dipahami untuk orang yang baru mengaktifkannya. Mengingat, jika ada dua atau tiga buah benda memiliki ciri yang sama, pasti akan sulit untuk membedakannya. Namun, kelemahan poin ketiga ini dapat diatasi, jika penggunanya tahu betul terhadap apa yang akan Dia lacak.


Walaupun begitu, kemampuan sensorik yang terinspirasi dari ekolokasi kelelawar ini terbilang cukup hebat. Mengingat setiap orang yang dalam keadaan siap bertarung pasti tidak akan menonaktifkan energi Mana miliknya.


Tak lama kemudian, Aku menyadari letak keberadaan Putri Isabella. Yang berada di sebuah bangunan rusak terbengkalai.


"Baik energi Mananya sama persis, didukung dengan tinggi serta tekstur badannya yang mendekati asli."


Ucapku dengan yakin


Aku kemudian sampai tempat keberadaan Isabella. Melihat ke sekeliling, benar bahwa adanya bangunan kosong yang terbengkalai.


Masuk ke dalam, keadaan begitu gelap. Lantai bangunan nampak dipenuhi lumut dan juga rumput liar, dinding bangunan dipenuhi oleh coretan dan juga rusak dimakan usia.


"Bekas apa bangun ini? Rumah sakit jiwa?"


Gumamku.


Lanjut Gumamku.


Menyusuri tiap ruangan, tidak ditemukan keberadaan Isabella. Namun, Aku tidak menyerah dan terus melanjutkan pencarianku.


Tiba-tiba, Aku mendengar sebuah jejak kaki. Yang semakin lama mendekati Diriku. Bersiap dengan serangan musuh, Aku kemudian memasang kuda-kuda untuk bertarung.


"Tak … tak … tak … "


Suara langkah kaki tersebut semakin mendekat, dan kemudian berhenti secara tiba-tiba.


Perasaan takut kemudian menyelimuti diriku, sambil menelan ludah dan badan gemetar, Aku berteriak memanggil siapapun yang sekarang sedang mengawasiku.


"Ke-keluarlah!"


"Aku tidak takut!"


Teriakku.


Tiba-tiba, terdengar suara yang menyebutkan namaku dari belakang.


"Rama?"


"Aaaa!!!"


"Setan!!!"


Teriakku dengan panik yang kemudian lari sekencang-kencangnya.


Entah kemana Aku berlari, namun yang kupikirkan saat itu hanyalah hantu seram.


"Bagaimana bisa ada setan di Isekai?!"


Ucapku sambil berlari.

__ADS_1


"Tunggu, bukankah selama ini … Aku bertemu dengan kuntilanak maupun Buto ijo, yah?"


Lanjut perkataanku yang kemudian berhenti berlari.


Suara yang memanggilku itu kemudian kembali terdengar. Namun, sekarang Dia memintaku untuk berhenti.


"Berhenti, Rama!"


Aku sontak kembali berlari sekuat tenaga, mengabaikan suara tersebut entah dari orang ataupun setan.


"Jika memang bukan hantu … mengapa Dia bisa tahu namaku?!"


Ucapku sambil berlari kembali.


Singkat cerita, Aku kemudian berhenti dan menarik nafas, karena capek berlari dari tadi.


"Sepertinya … Dia tidak mengejar … "


Ucapku sambil ngos-ngosan.


Tiba-tiba, ada sebuah tangan yang memegang pundakku. Kaget karenanya, aku kemudian berlutut memohon ampun.


"Tolong ampuni saya, sosok hantu penghuni bangunan ini."


Ucapku.


"Hahaha, apa-apaan Dirimu ini?"


Aku kemudian melihatnya, ternyata sosok yang ku anggap hantu adalah Isabella.


"Tidak lucu tahu!"


Teriak kesalku padanya.


Dia terlihat tertawa terbahak-bahak karena kelakuanku yang takut dengan hantu. Namun, tawanya seketika berhenti dan menanyakan tentang Diriku yang kemari.


"Untuk apa Kau kemari?"


"Bukankah sudah bahagia bersama Kak Renia?"


Ucapnya sambil membuang muka.


"Sudah 3 hari ini aku tidak melihatmu, tentu saja aku khawatir."


Jawabku pada Isabella.


"Kau makan apa selama ini, Isabella?"


Kembali tanyaku.


"Tidak perlu mencemaskanku, lagipula aku sudah bahagia disini!"


Ucapnya dengan nada tegas.


"Disini, ada orang yang lebih jauh mengkhawatirkanku."


Lanjut perkataanya sambil tersenyum.


"Hah, dimana?"


Tanyaku pada Isabella.


"Apa dirimu buta, Dia daritadi berada di belakangmu!"


Jawabnya dengan tegas.


Melihat kebelakang, tidak ada siapapun yang dikatakannya sedang berdiri di belakangku. Terlihat, hanya ada sebuah lorong bangunan yang gelap.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2