
"Kenapa, kekuatanku tidak bekerja?" Ucapku.
Saat itu, aku masih berusaha untuk menyembuhkan luka-lukanya Rama. Namun, kekuatan heal ku seperti tidak berefek sama sekali padanya. Bingung harus bagaimana lagi, aku kemudian memeluknya dengan harapan bahwa keajaiban akan segera terjadi.
"Kamu tidak akan pergi sendirian, Rama." Ucapku.
Tiba-tiba, entah darimana muncul hujan yang seketika memadamkan kebakaran hutan. Saat melihat ke atas, terlihat langit tidak mendung sama sekali yang tentu saja membuatku bingung. Kemudian dari rindang pepohonan yang hangus, Kak Renia datang menghampiri kami.
"Minggir." Ucapnya
Bingung karena kedatangannya, aku kemudian mencoba untuk bertanya. Namun, Dia masihlah Kak Renia yang kukenal selama ini.
"Aku datang bukan untukmu, melainkan datang untuk menyelamatkan orang ini!" Ucapnya sambil memandang rendah diriku.
Dia kemudian jongkok, dan terlihat sedang berkonsentrasi pada sesuatu. Saat itu, terasa energi alam yang begitu kuat terserap ke dalam tubuh Kak Renia, yang setelahnya Dia merapalkan mantra healnya. Terlihat bahwa, sihirnya cukup efektif. Namun, tetap saja luka yang dialami Rama masih lambat untuk beregenerasi.
"Mustahil, padahal aku sudah memperkuat sihir heal ku menggunakan energi alam, namun lukanya masih lambat dalam beregenerasi."
Ucap Kak Renia sambil keheranan.
Mendengar perkataannya tentu saja membuatku panik, aku takut Rama takkan terselamatkan.
"Apa kata Kakak? Apa Rama takkan selamat?" Tanyaku padanya.
"Aku sedang berkonsentrasi, diamlah!" Jawabnya.
Disaat Kak Renia sedang mengobati Rama, kemudian datanglah Kak Wulan sambil berlari ke arah kami.
"Apa yang sedang terjadi, Putri?"
"Seperti yang terlihat, lula Rama sangatlah parah." Jawabku.
"Ini aneh, seharusnya sihir yang diperkuat oleh energi alam bisa menyembuhkan luka apapun." Ucap Kak Wulan.
"Apa maksudnya, apa Rama tidak akan selamat?" Tanyaku pada Kak Wulan.
"Dia akan selamat, itu pasti!" Jawab Kak Wulan dengan yakin.
Setelah itu, Kak Wulan mulai merapalkan mantra healnya. Terlihat, mereka berdua sama-sama menggunakan energi alam untuk memperkuat efek penyembuhan. Luka bakar yang tadinya menyelimuti tubuh Rama, perlahan mulai sembuh.
"Hebat!" Ucap kagumku dalam hati.
Terlihat Rama sudah sembuh, dan setelahnya Kak Wulan menggendong Rama untuk dibawa ke suatu tempat.
"Aku akan membawa Rama kembali ke rumah, terima kasih atas bantuan kalian berdua." Ucap Kak Wulan.
"Apa yang Kak Wulan katakan?
"Bawa saja Rama ke istana!" Ucapku
"Benar apa yang dikatakannya, terlalu berbahaya untuk kembali, bawa anak ini ke istana." Ucap Kak Renia.
"Dan setelahnya, kalian berdua harus menceritakan semuanya kepadaKu." Lanjut perkataannya.
__________________________________
Singkat cerita, kami pun berada di istana. Membawa Rama ke kamar tentunya untuk menidurkan serta mengistirahatkannya.
Aku bersama Kak Wulan kemudian menghadap kepada Raja sekaligus ayahku.
"Apa kalian bisa menceritakan semuanya kepadaKu?" Tanya Ayah.
Kami berdua kemudian menceritakan semuanya kepada Raja Verdifield, dimulai dari pertemuan kami dan juga pertarungan dengan 2 makhluk yang tidak diketahui tadi.
"Apa kalian berdua tahu nama 2 makhluk itu?" Tanya Ayah.
"Maaf Ayahanda, saya tidak mengetahuinya." Jawabku.
"Maaf jika saya lancang, Baginda. Namun, saat adik saya melawan kedua makhluk itu, jika tidak salah Dia menyebutnya sebagai Buto ijo." Jawab Kak Wulan.
Mendengar jawaban dari Kak Wulan, membuat seisi istana menjadi kaget. Terlihat Ayah seolah tidak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh Kak Wulan tadi.
"Apa yang barusan Kau katakan, Buto ijo?" Ucap Ayah tidak percaya.
"Mustahil! Seharusnya makhluk itu sudah musnah bersama dengan Caligor!"
__ADS_1
Bentak Menteri.
"Saya mempercayai ucapan adik saya, jika menganggapnya sebagai penipu, kalian boleh memenggal kepala saya."
Ucap Kak Wulan.
"Namun, setelahnya, maafkan adik saya dan bebaskan Dia."
Lanjut perkataan Kak Wulan.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuatku marah kepada Kak Wulan.
"Apa yang barusan kamu katakan, Kak Wulan?"
"Jangan pernah mengatakan sesuatu yang omong kosong!" Ucapku.
Setelah itu, Ayah kemudian meminta Kak Wulan untuk mengangkat kepalanya.
"Angkat kepalamu, Anak muda."
Ucap Ayah.
"Aku justru yang harus berterima kasih kepadamu dan adikmu karena sudah menyelamatkan Putri Isabella dari bahaya."
Lanjut perkataan Ayah.
"Aku belum pernah merasakan aura Mana yang begitu kuat, terkhusus untuk anak seusianya."
"Setelah Dia siuman, Tolong segera periksa keadaannya secara rinci, dan setelahnya Aku akan menemuinya!"
Ucap perintah Ayah.
"Baik!" Jawabku bersama Kak Wulan.
__________________________________
"Di-dimana, aku?" Ucapku sesaat setelah membuka mata.
Aku kemudian mendapati diriku sudah berada di sebuah kamar yang nuansanya seperti kerajaan. Tercium wangi harum dan sekeliling kamar ini dipenuhi barang-barang mewah ala kerajaan, dan kemudian kusadari ada seseorang yang tertidur dengan posisi kakinya berada dibawah namun kepalanya berada di atas kasur sambil memegang tangan kiriku.
Yang seketika itu, membuatnya bangun. Terlihat Dia menggosokkan matanya terlebih dahulu.
"Aku ketiduran, yah?"
"Kau akhirnya bangun, Rama." Ucapnya.
Kami saling menatap beberapa saat dan kemudian pandangan kami akhirnya tertuju pada tangan kiri kami yang saling memegang satu sama lain. Seketika itu, wajah Putri Isabella memerah dan berteriak ke arahku.
"A~" teriaknya
*Plakkkk
Putri Isabella dengan segera melepaskan tangannya dan menampar wajahku saat itu juga. Setelah itu, sambil tergesa-gesa datanglah Kak Wulan bersama satu wanita lainnya yang tidak ku kenal.
"Apa ada musuh, Putri?" Tanya Kak Wulan pada Putri Isabella.
"Ti-tidak." Jawab Putri Isabella.
Setelah itu, Kak Wulan kemudian menyadari diriku sudah siuman dan setelahnya memeluk diriku.
"Ramaaa."
"Akhirnya kamu sehat."
Ucap haru Kak Wulan sambil memelukku dengan sangat erat.
"Kak Wulan… Pelukanmu terlalu erat!" Ucapku sambil mencoba melepaskan diri dari jepitan dua gunung kembar Kak Wulan.
Tiba-tiba, wanita yang tidak kukenal tadi memperkenalkan dirinya dan menanyakan keadaanku.
"Perkenalkan, namaku Renia Verdifield."
"Bagaimana dengan kondisimu, Rama?"
Tanya Dia.
__ADS_1
Setelah mendengar namanya, tentu saja membuatku sadar bahwa dia merupakan Kakak dari Putri Isabella.
"A-aku baik, Putri." Jawabku
"Syukurlah, namun untuk memastikannya, aku harus memeriksa tubuhmu secara langsung." Ucap Dia
"Kalian berdua, bisa meninggalkan kami untuk sementara waktu?" Lanjut perkataanya.
Mendengar hal itu, tentu saja membuatku panik, berduaan dengan seorang Putri Renia adalah ide yang buruk. Terlebih lagi, Dia akan memeriksa tubuhku.
"Hahaha …."
"Lihatlah, aku sudah sembuh!"
Ucapku sambil berdiri dari tempat tidur.
"Apa yang barusan Kau katakan, Kau baru saja siuman dan harus diperiksa olehnya." Ucap Isabella.
"Baiklah, aku serahkan dia Padamu, Putri Renia." Ucap senyum Kak Wulan sambil pergi dan menutup pintu.
Aku bersama Putri Renia, akhirnya berduaan di dalam kamar. Jantungku terasa berdetak dengan sangat cepat saat ini. Karena, ini pertama kalinya aku mengalami situasi seperti ini.
"Apa kau bisa duduk?"
"Aku tidak bisa memeriksa kondisimu, jika berdiri seperti itu." Ucap Putri Renia.
"B-baik." Jawabku.
Aku kemudian merebahkan badanku, dan kemudian Putri Renia memegang tanganku sambil mengatakan.
"Aku sudah tahu semuanya, Rama."
"Kau yang mengeluarkan kekuatan sebesar itu, bukan?" Ucapnya.
"Hah?" Ucapku dalam hati.
Ternyata bayangan imajinasiku terlalu jauh, Putri Renia ternyata tidak menginginkan apapun dariku.
Sambil memeriksa tubuhku, menggunakan sihirnya, Kami berdua mengobrol tentang banyak hal.
"Bagaimana Kau bisa memiliki kekuatan sebesar itu, Rama?" Tanya Dia.
"Aku hanya giat berlatih saja." Jawabku.
"Meskipun begitu, kekuatan yang dirimu hasilkan berada di luar batas pengetahuan dunia ini." Ucapnya.
"Apa maksudnya, Puteri?" Tanyaku.
"Kekuatan Mana yang Dirimu hasilkan, memiliki tingkat residu diatas rata-rata. Tingkat kemurniannya saja, bisa kurasakan walaupun dari jarak jauh sekalipun." Jawabnya.
"Metode pelatihan apa yang dirimu lakukan selama ini, Rama?" Tanya Dia kembali.
"Hanya berlatih biasa pada umumnya, mencari objek untuk di serang.
Walaupun, aku berhasil menggunakan api berwarna jingga." Ucapku.
Setelah mendengar jawaban dariku, Putri terlihat kaget dengan apa yang sudah kulakukan.
"Apa yang barusan Kau katakan, Rama?!" Tanya Dia dengan sangat serius.
"Mengubah api dari yang tadinya berwarna merah, menjadi jingga." Jawabku.
"Mustahil Kau bisa mengubah sifat alami elemen dasar. Hanya penyihir dengan tingkat lanjut sampai atas saja yang bisa melakukan itu!" Ucapnya.
"Sekarang katakan padaku, Apa Kau memiliki rahasia dalam metode latihan?!" Tanya Dia.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuatku bingung, mengingat aku tidak pernah melakukan metode latihan khusus apalagi rahasia.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang anda katakan, Putri."
"Sudah kubilang, Aku hanya melakukan latihan biasa pada umumnya." Jawabku.
Setelahnya, aku kemudian membuat bola api menggunakan tangan kiri ku dan memperlihatkannya kepada Putri Renia.
"Hebat … " Ucapnya, sambil kagum melihat bola api jingga milikku.
__ADS_1
_Bersambung.