
Sudut pandang orang pertama, Rama.
Sesaat setelah menusuk diriku sendiri, Aku bisa mendengar Renia dan lainnya berteriak ke arahku. Dengan kesadaran yang mulai memudar, Aku berusaha untuk meminta maaf kepada mereka. Namun semua itu terlambat, ketika dunia yang kulihat mulai berubah menjadi gelap.
Sadar, kini aku berada disebuah tempat yang sekelilingnya tampak gelap. Melihat ke bawah, terdapat genangan air yang hampir menutupi mata kakiku.
" ... dimana aku sekarang .." Ujarku sambil melihat ke sekeliling.
Aku kemudian tersenyum dan pasrah jika harus di masukkan ke dalam neraka sekalipun, mengingat aku juga bukanlah manusia suci.
" ... sepertinya neraka adalah tempat yang cocok untuk diriku." Lanjut perkataanku.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sepertinya kukenal siapa dia!
"Tidak ada tempat seperti itu .. "
Berbalik dan melihat kebelakang, ternyata benar dugaanku! Alter Rama kini kembali!
"Cih .. Kau lagi!"
"Padahal aku sudah sangat senang karena berpikir tidak akan bertemu denganmu lagi!" Kataku berteriak padanya.
Tapi kali ini Dia terlihat cukup tenang, dan sama sekali tidak terpancing dengan perkataanku.
"Sabarlah, dasar manusia ..."
"Sekarang, Aku sama sekali tidak memiliki minat untuk mengambil alih ragamu. Mengingat, kita berdua akan sama-sama mati." Jawabnya dengan begitu tenang.
Aku yang mendengar hal tersebut tentu merasa aneh. Kenapa Alter Rama sekarang bersikap lunak dan juga sabar?
" ... dimana dirimu yang selalu berteriak itu?" Ucapku bertanya kepadanya.
Sambil memejamkan mata, Dia diam untuk beberapa saat. Aku yang melihatnya tentu merasa kesal, seolah kehadiranku tidak dianggap olehnya.
"Kau malah enak-enaknya tidur!"
"Bangun! Cepatlah bangun!" Ujarku berteriak padanya.
Dia kemudian menyela perkataanku, dan bertanya mengenai Renia.
"Bagimu .. Renia wanitanya seperti apa?" Tanyanya menyela perkataanku.
Aneh bukan main, kenapa Dia menanyakan tentang Renia padaku? Apa jangan-jangan, Dia suka dengan Renia?
" ... tunggu, jangan bilang Kau suka padanya?!" Balasku bertanya balik padanya.
Kali ini, Dia terlihat marah dan sepertinya serius!
"Aku sedang tidak main-main!"
"Saat ini, suasana hatiku sedang baik .. Cepat jawablah atau akan ku cincang dirimu dan kujadikan makanan babi?!" Ucapnya kembali bertanya dengan suara yang begitu kesal dan juga marah.
Takut, Aku kemudian menjelaskan bagaimana Renia dalam sudut pandangku.
__ADS_1
"Yayaya!"
" ... bagiku, dia wanita yang hebat dan tentunya kuat!"
"Bisa dibilang ... dia wanita idaman, walaupun sebenarnya dia tidak pandai dalam memasak ..." Jawabku sambil memanyunkan bibirku.
"Tapi ada satu hal yang kusuka darinya ... "
" ... dia adalah wanita yang tegas, disiplin dan lebih mementingkan teman dibandingkan dirinya sendiri ... "
"Bagiku, dia salah seorang teman yang harus kulindungi bagaimanapun caranya!" Lanjut perkataanku menjawab pertanyaannya.
"Sudah itu saja?" Tanya dia kembali.
"Ya, hanya itu saja yang bisa ku ceritakan padamu!" Tegasku.
"Dia banyak memiliki kekurangan! suka marah-marah, suka berteriak, suka memukulku, suka mengancamku, suka apalagi yah ... pokoknya segala hal buruk ada pada dirinya!" Lanjut perkataanku sambil menghitung sisi negatifnya.
Terkejut bukan main, Aku melihat Alter Rama tersenyum dengan tulusnya!
"Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" Ucapku dalam hati tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini.
Tiba-tiba, sebuah cahaya berwarna merah datang dan masuk ke dalam tubuhku!
"Ada apa, ini?" Ujarku kaget karenanya.
"Sepertinya kita berdua tidak jadi mati." Balas Alter Rama.
"Apa maksudmu?" Jawabku mempertanyakan perkataanya.
"Hei. bocah! Setelah ini, ada yang ingin Aku bicarakan!"
"Aku ingin tahu reaksimu, setelah mengetahui semua kebenaran ini!" Lanjut perkataanya.
Tiba-tiba, Aku sadar dan mendapati diriku berada di dalam goa!
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Ujarku sambil bangun dari posisi tidur.
Melihat ke sekeliling, Renia, Nyx dan Isabella tampak berbaring tidak sadarkan diri!
Panik, Aku kemudian menghampiri dan menggoyang-goyangkan badan mereka.
"Renia! Nyx! Isabella! Apa yang sebenarnya terjadi?!" Ucapku.
Aku kemudian menyadari bahwa April tidak ada disini!
"April, dimana Dia?!" Ucapku dengan paniknya.
Saat akan berlari keluar untuk mencari April, tiba-tiba aku dikejutkan oleh datangnya Draven dari arah luar mulut goa!
"Kau mau kemana malam-malam seperti ini?" Ujarnya.
"Draven!!!" Tegasku.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi?! Kenapa aku masih hidup?! Dan terlebih lagi, dimana April?! Tanyaku sambil berteriak padanya.
Ditengah rasa kesal dan juga marahku padanya, Aku kemudian melihat April yang kini berada dibelakang Draven!
"April? April!" Ucapku.
April dengan berlari ke arahku dan setelahnya ku peluk dengan sangat erat.
"Aku senang kamu baik-baik saja, April!" Ujarku sambil menangis dan memeluknya.
Sadar bahwa terjadi sesuatu yang aneh, Aku kemudian bertanya pada April tentang apa yang sebenarnya terjadi setelah aku menusuk diriku sendiri.
" ... April, apa yang terjadi setelah Kakak tiada?" Tanyaku pada.
April secara antusias menjelaskan semuanya kepadaku, tentu dengan isyarat dan juga suara "Hmphhhh ... Hmphhhh"
" ... aku sama sekali tidak mengerti." Ujarku sambil melihat april dengan raut muka bingung.
"Biar aku yang menjelaskan semuanya!" Ucap Draven dengan begitu tiba-tiba.
"Setelah kamu menuntaskan 'sumpah jiwa'. Aku dan yang lainnya melakukan penawaran." Lanjut perkataanya.
"Penawaran .. penawaran apa itu?" Ucapku bertanya kepadanya.
"Aku akan menyembuhkanmu jika mereka bertiga dapat melukaiku walaupun satu gores saja ... "
" ... ternyata, mereka berhasil melukaiku tepat di disini." Ujar Draven sambil memperlihatkan lehernya yang tergores cukup dalam.
"Aku sengaja tidak menggunakan sihir penyembuh, guna mengingat momen ini ... " Lanjut perkataanya.
Mendengar perkataan tersebut darinya, aku lantas tidak bisa berkata apa-apa. Aku bahkan tidak merasakan aura apapun apalagi membunuh darinya. Namun aku mengumpulkan keberanian, untuk bertanya mengenai statusnya saat ini!
"Sebenarnya .. Kau musuh atau teman kami, Draven?" Tanyaku.
"Namamu Rama, kan?" Tanya Dia yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan dariku.
"Kamu memiliki potensi untuk menjadi lebih kuat, bahkan melampaui diriku."
"Apa kau akan menerima tawaran dariku?" Lanjut perkataanya bertanya.
"Aku akan menjadi sosok guru bagimu, melatihmu dan juga membimbingmu."
"Sungguh sangat disayangkan jika ada orang seperti Vanisha nantinya ... "
Mendengar penjelasannya tersebut, aku merasa ragu dengan perkataannya. Bagaimana mungkin seorang yang beringas, tiba-tiba saja menjadi lunak seperti ini?
Namun, keraguan dalam hatiku seketika sirna. Ketika April mengambil tangan kami berdua dan secara perlahan-lahan membuatnya berjabat tangan.
"April ... "
Segera, Aku memantapkan hati dan menerima tawarannya untuk menjadi guruku!
"Baik, Aku akan menerima tawaran darimu!"
__ADS_1
"Tolong latih dan bimbing aku, Guru!"
_Bersambung.