Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Kerja Sama!


__ADS_3

Sudut pandang orang pertama : Rama.


Serangan yang dilancarkan oleh Isabella dalam wujud kuntilanak berbaju merah sangatlah kuat. Terlihat serangan sederhana saja sudah membuatku merinding, apalagi Raja sampai terpental cukup jauh.


"Apa yang harus kulakukan?"


"Sial, jika pertarungan ini terus berlanjut, aku akan terpojok olehnya!"


Ucap kesalku dalam hati, sambil menghindari serangannya.


"Prioritas utamaku bukanlah menang, melainkan menyadarkannya!"


"Tapi bagaimana, andai saja ada petunjuk!"


Lanjut perkataanku.


Karena lengah, aku hampir terkena oleh serangannya.


"Gawat!" Ucap panikku.


Tiba-tiba, sebuah kilatan petir datang dan menghalangi serangan Isabella.


"Kilat ini … bukankah kekuatannya … !"


Ucapku, menyadari pemilik kekuatan kilat petir tersebut.


"Jangan lengah, Rama!"


Ucap Putri Renia kepadaku.


"Terimakasih." Ucapku padanya.


"Jangan dipikirkan, prioritas utama kita adalah mengalahkannya!"


"Tapi jangan sampai membunuhnya!"


Ucap Renia dengan tegas.


Mendengar itu, membuatku menjadi sedikit lega. Karena panther bertarung ku sekarang, memiliki prinsip yang sama denganku.


"Yah, Kau benar!" Ucapku


"Ternyata … Kau masih memiliki sedikit kebaikan kepada adikmu, yah!"


Gumamku.


"Apa yang Kau bilang barusan?" Tanya Renia.


"Tidak, lupakan!" Jawabku.


Kemudian, Kami berdua mengambil kuda-kuda bersiap untuk menyerang.


"Kau siap, Rama?!"


Tanya Renia dengan nada tegas.


"Tentu!" Jawabku.


Dengan cepat, kami berdua melesat menuju tempat Isabella berada. Kami berdua menyerangnya saling bergantian, entah itu menggunakan pukulan atau tendangan. Jika salah satu dari kami akan terkena serangannya, maka dari kami yang lain akan melindungi.


Aku maju dengan menggunakan pukulan yang diperkuat oleh energi sihir dan berhasil memukulnya berkali-kali, namun sosok hantu kuntilanak merah ini dengan cerdik menyelipkan serangan tersembunyi dengan mengikatkan rambutnya ke kakiku, yang seketika membuat keseimbanganku menjadi kacau.


Namun, dengan kerja sama yang baik, Renia berhasil merobek ikatan rambut pada kakiku menggunakan sihir kilatan petirnya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan emas, aku menggunakan sihir tanah dan membuatnya terjebak di dalam gundukkan tanah.


Dan dengan segera, menggunakan sihir api dan membakar tanah tersebut. Terlihat, tanah itu kemudian berubah warna menjadi merah karena dipanaskan oleh apiku.


"Sudah cukup, Rama!"


Teriak Renia padaku tanda untuk berhenti menyerangnya.


"Baik!" Jawabku.


Aku pun menghentikan seranganku, mengeluarkannya dari gundukkan tanah yang kubakar tadi.

__ADS_1


Terlihat, bahwa Putri Isabella hanya pingsan. Mana gelap yang tadi menyelimuti dirinya, seolah melindunginya dari segala serangan yang kami lancarkan.


Namun, tetap saja, basis serangan api bukan hanya pada serangan pertama yaitu ledakan, namun setelahnya akan ada reaksi lain, yakni pembakaran.


Badan Isabella terasa panas, disebabkan apiku tersebut.


Kami berdua pun menyembuhkannya, Renia menggunakan sihir heal, sementara diriku mengalirinya dengan sihir air, agar badannya menjadi lebih sejuk.


Raja kemudian datang dan memastikan kondisi semuanya. Termasuk diriku dan Renia, namun Dia lupa dengan keadaan anaknya yang lain, yakni Isabella.


Selama ini, diriku merasa aneh padanya. Entah kenapa, dalam semalam saja perhatiannya bisa berubah, dari yang tadinya lebih menyayangi Isabella, kini berubah menjadi lebih menyayangi Renia.


Alangkah terkejutnya kami bertiga, Karena secara tiba-tiba, Mana kegelapan itu kembali muncul.


___________________________________________


Beralih sudut pandang orang pertama :


Putri Isabella.


"Semua orang … "


"Begitu jahat padaku … "


"Aku hanya … "


"Ingin menjadi lebih baik lagi … "


"Rama … Kak Renia … Ayah … "


"Aku benci kalian!"


Gumamku dalam kamar mandi.


_____________________________________________


Beralih sudut pandang orang pertama, Rama :


Ucap panikku.


"Rama, Ayah … Ayo kita Mundur!"


Teriak Putri Renia pada kami.


Kami bertiga melompat ke belakang untuk mundur, Mana gelap yang semula hilang, kini kembali muncul pada diri Isabella. Namun sekarang, jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Mana kegelapan itu kemudian mengangkat tubuh Isabella, seolah-olah membuatnya terbang. Luka yang belum sempat kami sembuhkan pada diri Isabella, dalam sekejap sembuh dengan sangat cepat.


Mana kegelapan itu kemudian menyelimuti tubuh Isabella, dan sosok Kuntilanak merah itu pada akhirnya kembali muncul.


Segera, Dia melancarkan serangan membabi-buta ke segala arah dengan sihir anginnya. Namun beruntungnya, karena Raja dengan segera membuat perisai untuk melindungi kami.


"Gawat, jika terus seperti ini, keselamatan orang-orang akan terancam!"


Ucap Raja.


"Rama, kita harus mengalihkan area pertarungan segera!"


"Jika tidak, orang-orang disini akan terkena dampaknya!"


"Dan lagi, baik Aku, Ayah maupun Kamu tidak akan bisa bertarung secara maksimal jika harus sambil melindungi, kan?"


Ucap Renia padaku.


Aku pun menganggukkan kepala, tanda menyetujuinya.


"Tapi, kemana kita harus pergi?"


"Saat ini kita berada di Ibu kota Verdifield, sejauh yang aku tahu, tidak ada tempat yang cocok untuk dijadikan arena pertarungan di sekitar sini!"


Balasku pada Renia.


Sejenak, Renia pun berpikir. Dia juga sepertinya menyadari bahwa memang tidak ada tempat yang cocok untuk dijadikan arena pertarungan. Karena, hampir semua tempat di Ibu kota kerajaan, sudah beralih fungsi menjadi tempat tinggal maupun tempat lain yang pastinya ada orang disana.

__ADS_1


"Sial!" Ucap kesal Renia karena tidak memiliki ide.


"Aku punya satu ide!"


Ucap Raja dengan tiba-tiba.


Kami berdua sontak kaget dan bertanya, perihal rencana apa yang dipikirkan olehnya.


"Apa rencanamu, Ayah?"


Tanya Renia.


"Kenapa gak bilang dari tadi, dasar muka marmer!"


Gumamku.


Catatan : muka marmer adalah sebuah ejekan untuk orang yang yang jarang menunjukkan ekspresi, layaknya patung marmer.


"Aku akan menggunakan kekuatan lubang hitam, untuk memindahkan kalian berdua sekaligus makhluk itu ke tempat yang sangat jauh dari sini!"


Ucap Raja dengan tegas.


"Tunggu dulu, memangnya kemana kami semua akan di teleportasikan?!"


Tanyaku pada Raja.


"Lembah Neraka!"


Jawab Raja.


Aku sejenak berpikir, dimana letak lembah Neraka itu berada. Karena sejatinya, aku adalah orang yang tidak tahu tentang semua hal yang ada disini.


Namun, dengan cepat, Renia menyetujui ucapan Raja.


"Baik, jika itu satu-satunya pilihan, maka baiklah!"


Ucap Renia dengan nada yakin.


"Hah?" Ucapku dengan keheranan.


"Baiklah, kalian semua cepatlah kembali!"


Ucap Raja Verdifield.


Kemudian, Raja mengeluarkan kekuatan lubang hitamnya, yang tentu saja menghisap apa saja yang dilalui olehnya.


Raja dengan segera mengendalikan serta mendekatkan kekuatan tersebut pada sosok kuntilanak merah itu. Walau sosok kuntilanak tersebut masuk ke dalam, terlihat Dia masih memberikan sedikit perlawanan dengan mengikatkan rambut panjangnya pada kaki Renia dan Kakiku.


"Aku duluan."


Ucap Renia yang kemudian pasrah masuk ke dalam lubang hitam.


Aku kemudian memegangi jubah Raja. Karena tentu saja, tidak ingin masuk ke dalam lubang hitam.


"Lepaskan jubahku, dasar Kuyu ketar-ketir!"


Teriak Raja padaku.


Catatan : Kuyu ketar-ketir merupakan ejekkan untuk anak laki-laki yang penakut atau mudah gemetar.


"Kenapa Kau mau mengirim kami ke sebuah tempat, yang bahkan Kami sendiri tidak tahu, apa yang sedang menunggu kami disana!"


Ucapku sambil memegang jubahnya.


"Aku titipkan kedua anakku padamu, jagalah mereka berdua sampai kalian kembali!"


Ucapnya yang dengan segera melepaskan jubahnya.


Akibatnya, Aku kemudian terhisap ke dalam lubang hitam, bersama dengan jubah yang dia lepaskan.


"Muka marmer!!!" Teriakku.


_Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2