
Setelah mendengarkan perkataan Kak Renia yang begitu menyakitkan, aku kemudian menangis dan berlari meninggalkannya bersama Rama di kamar.
Terdengar suara Kak Wulan yang sedari tadi berteriak memanggil-manggil namaku.
"Tunggu, Putri Isabella!" Ucap teriakannya.
Namun, aku tidak menghiraukannya dan memilih untuk berlari sejauh mungkin. Karena hafal betul dengan tata letak ruangan kerajaan Verdifield, aku berhasil membuat Kak Wulan kebingungan dan membuatku tidak dikejar-kejar lagi olehnya.
Aku kemudian berada di taman kerajaan, disini biasanya merupakan tempatku untuk menenangkan diri. Disini juga, aku tidak perlu khawatir dengan adanya orang lain yang bisa saja melihatku menangis.
Aku kemudian memikirkan semua yang dikatakan oleh Kak Renia terhadapku, mengapa Dia begitu membenciku bahkan saat kami masih kecil. Wajar saja, umur kami hanya selisih 2,5 tahun, dimana Dia lebih tua dariku.
Kami berdua hidup di istana yang sama, namun sangat jarang sekali untuk bertemu. Dan jika bertemu, kami hanya akan dijadikan sebagai musuh saja.
Kami berdua hidup dengan didikan yang berbeda, dimana Kak Renia hidup dengan didikan yang begitu keras dan juga kasar. Namun berbeda dengan diriku yang hidup dimanja oleh Ayah sedari kecil.
Di tengah-tengah rasa bingung, sedih serta keadaanku yang saat ini sedang menangis, tiba-tiba Kak Wulan datang mengagetkanku.
"apa yang kamu lakukan disini, Putri?" Ucap Kak Wulan dengan tiba-tiba.
"Kak Wulan, bagaimana caranya Kakak bisa menemukanku?" Tanyaku padanya.
"Itu mudah, aku hanya mengikuti jejak air matamu saja." Jawab Kak Wulan.
Setelah itu, aku kemudian melihat ke lantai dan memang benar terlihat aku menjatuhkan beberapa tetes air mata.
Tiba-tiba, Kak Wulan memeluk diriku dengan sangat erat sambil mengatakan.
"Kamu tidak sendirian, Isabella."
"Jika kamu memang tidak dianggap olehnya, maka izinkan diriku untuk menganggapmu sebagai adikku!"
Ucap Kak Wulan sambil memelukku.
Mendengar hal tersebut darinya, tentu membuatku menangis karena terharu. Selain Rama, ternyata ada orang lain lagi yang masih memperhatikanku selama ini, dan dialah Kak Wulan.
Aku kemudian balik memeluknya, dan menumpahkan segala perasaanku padanya.
"A~"
"Kak Wulan~"
Ucapan tangisku sambil memeluknya.
Singkat cerita, kami akhirnya saling mengobrol guna memperdalam hubungan diantara kami. Walaupun tidak satu darah, namun semua itu bukanlah penghalang kami dalam menjalin hubungan Kakak-beradik.
Saat ditengah asiknya tertawa, Aku dan Kak Wulan merasakan aura Mana yang begitu kuat.
"Rama!"
Ucap kami berdua secara bersamaan.
"Aura Mana satu lagi, sepertinya aku pernah merasakannya disuatu tempat!"
Ucap Kak Wulan.
Aura Mana yang tentunya diriku tahu, karena aku selalu bertarung dengan pemilik aura mana ini.
"Benar, aura mana yang satunya lagi berasal dari Kak Renia!" Ucapku.
"Apakah mereka berdua sedang bertarung, Putri Isabella?"
Tanya Kak Wulan padaku.
"Sepertinya … Iya."
"Aku bisa merasakan, bahwa memang mereka sedang bertarung!"
Ucapku dengan penuh yakin.
"Tapi mengapa?"
"Bukankah mereka tadi setuju, untuk tidak bertarung terlebih dahulu sampai kondisinya Rama sembuh total?"
__ADS_1
Tanya kembali Kak Wulan.
"Aku juga tidak mengetahui, Kak Wulan."
Jawabku
"Namun, Aku khawatir bilamana mereka nantinya akan bertarung secara berlebihan, terutama kondisinya Rama yang belum sepenuhnya pulih."
Ucapku dengan nada khawatir.
"Kamu benar, Putri."
"Ayo kita bergegas ke tempat mereka!" Ucap Kak Wulan
Aku kemudian mengangguk tanda menyetujuinya. Dan kami berdua akhirnya bergegas menuju tempat Rama dan Kak Renia berada.
__________________________________
"Hiburlah aku lebih lama, Rama!" Ucap Putri Renia kepadaku.
Terlihat Dia begitu menikmati pertarungan kami berdua, namun justru berbeda dengan diriku yang merasa dipojokkan olehnya. Kekuatan kami berada di tingkatan berbeda, terasa dengan kekuatan fisik dan juga kekuatan sihir yang Dia miliki.
Terlihat, arena pertarungan kami yang tadinya sepi, berubah menjadi cukup ramai dengan berdatangannya siswa-siswi akademi sihir Verdifield. Siswa-siswi akademi melihat pertarunganku melawan Putri Renia, yang dianggap oleh seru dan juga ketat.
"Cih, malah ada penonton."
Ucapku sambil melirik ke sekeliling.
Tiba-tiba, Putri Renia datang menyerangku dengan sangat cepat.
"Kau lengah, Rama!" Ucapnya.
"Sial." Ucap panikku.
Dia melancarkan pukulan bertubi ke arah tubuhku, karena serangannya begitu cepat, aku tentu saja tidak bisa menghindari apalagi menangkisnya.
Alhasil, aku jatuh dengan posisi berlutut kembali, Sambil menahan rasa sakit tentunya. Aku kemudian mencoba untuk bangkit kembali, dan berniat menyerangnya menggunakan kekuatan sihir. Namun, saat mencoba mengeluarkan sihir api, kekuatanku tidak keluar!
Ucapku sambil melihat kedua tanganku.
"Pukulanku tadi bukanlah sekedar pukulan biasa. Namun, aku berhasil menutup beberapa aliran Mana di dalam tubuhmu!" Ucap penjelasan Putri Renia.
"Kau sudah kalah, Rama!" Lanjut perkataan Putri Renia.
Mendengarkan penjelasan tersebut, membuatku terpaku diam karena sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. Aku kemudian menyadari bahwa diriku terlalu sombong dan juga tidak mengukur baju di badan sendiri.
Saat akan menyerah, dengan berteriak, Putri Isabella tiba-tiba datang dan mengatakan sesuatu yang membangkitkan semangatku kembali.
"Rama!"
"Jangan menyerah!"
"Bukankah Kau mengatakannya sendiri!
"Bahwa Kau tidak akan pernah menyerah pada takdir!"
Teriak Putri kepadaku.
Mendengar hal tersebut darinya, seketika membuatku teringat pada ketua ekstrakurikuler pencak silat. Yang mengatakan kepada diriku untuk jangan segera menyerah sebelum mencoba.
"Jangan pernah menyerah, jika Kau belum pernah mencobanya, Rama."
Ucap Ketua ekstrakurikuler pencak silat.
Kata-kata Putri Isabella serta senyuman Ketua yang terukir dalam ingatanku, seperti memberiku tenaga baru untuk bertarung.
Aku kemudian membuat kuda-kuda silat depan, dengan memperagakan gaya harimau. Dan dengan cepat aku kemudian maju dan menyerang Putri Renia.
Dengan membuat tanganku seolah-olah menjadi cakar harimau, terlihat Putri Renia seperti kesulitan menghindari seranganku. Dia kemudian melompat ke arah belakang guna mengambil jarak di antara kami, dan seketika menggunakan sihir proyektil airnya kembali.
"Aqua Burst!"
Dengan cepat, aku berlari menghindari serangannya dengan berlari memutarinya. Saat proyektil airnya berhenti, dengan segera aku melompat dan menyerangnya menggunakan kekuatan tendangan, seranganku tersebut berhasil mengenai pipi kanannya dan membuatnya terpental membentur tembok arena bertarung.
__ADS_1
Suara sorak-sorai para murid akademi sihir Verdifield kemudian terdengar, mereka seolah mendukungku.
Tak lama, terlihat Putri Renia kembali bangkit dan segera mengeluarkan kekuatan selanjutnya, yakni membuat sebuah kilatan petir. Dengan sigap, aku kemudian menghindari serangannya dengan melompat. Namun, ternyata serangan tersebut merupakan sebuah pengalihan, agar diriku terjebak dengan serangan kilatan petir selanjutnya.
Merasa yakin, aku kemudian berkonsentrasi seolah petir tersebut bisa ku kendalikan. Ternyata, saat petir tersebut mengenai tangan kiriku, aku berhasil mengendalikannya dan menjadikan kilatan petir tersebut sebagai kekuatanku.
"Mu-mustahil, bagaimana hal itu bisa terjadi?" Ucap tak percaya Putri Renia.
Dengan segera, Aku kemudian melapisi kedua tangan dan kakiku menggunakan petir tadi. Dan segera setelahnya, menyerang Putri Renia kembali.
Terlihat, kecepatanku bertambah berkali-kali lipat dan juga pukulan yang ku lancarkan menjadi jauh lebih kuat. Namun, Putri Renia masih bisa menghindari pukulan yang kulancarkan tersebut, saat pukulanku mengenai lantai ataupun tembok arena pertarungan, terasa seperti ada petir yang menyambar dan membuat sebuah guncangan yang cukup kuat. Dengannya juga, seperti meninggalkan bekas yang begitu dalam.
Setelah beberapa kali berusaha menyerangnya, akhirnya pukulanku berhasil mengenainya. Terlihat Putri Renia terhempas jauh sampai menabrak dinding tembok kembali dan meninggalkan bekas yang begitu dalam.
Sorak-sorai orang-orang kembali terdengar, namun lebih keras dari sebelumnya. Terlihat Putri Renia sudah terkapar tidak berdaya dan terlihat juga Kak Wulan serta Putri Isabella tersenyum ke arahku.
"Kau menang, Rama!"
Teriak Putri Isabella.
Sementara Kak Wulan tersenyum dan mengangguk ke padaku.
Di tengah kegembiraan yang kurasakan, tiba-tiba terasa sebuah energi Mana yang sangat kuat dan juga pekat, dari arahnya berasal dari tempat Putri Renia berada.
Saat menoleh, terlihat bahwa Putri Renia sudah berdiri sambil memandang tajam ke arahku.
"Jangan sombong dulu, Rama!"
"Pertarungan kita masih belum berakhir!"
Teriak Putri Renia kepadaku.
Dia kemudian membuat sebuah kilatan petir hitam, yang terasa sangat kuat. Dengannya tentu aku merasakan sebuah kekhawatiran karena Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Namun, aku tidaklah gentar dengan kekuatannya.
"Jika Kau begitu menginginkan keseriusan dariku, maka baiklah!"
Ucapku dengan yakin.
Aku kemudian memusatkan seluruh Mana yang masih tersisa di telapak tangan kananku, dengannya membuat sebuah bola api berwarna jingga dan juga menyelimutinya dengan kilatan petir tadi.
Aku kemudian teringat pertarunganku saat melawan Buto Ijo, menyadari bahwa serangan bola apiku ini merupakan ide yang buruk jika digunakan untuk jarak dekat.
Sambil membayangkan sebuah busur dan juga anak panahnya, dengan segera aku mempraktekkannya. Setelahnya, terciptalah sebuah anak panah api jingga diselimuti oleh petir.
Aku menamai jurus baruku ini sebagai
"Crimson Thunderflare!"
Teriakku dan seketika melepaskan ketiga jari tanganku tanda melepaskan serangan.
Kami berdua beradu serangan jarak jauh, aku dengan panah petir api jingga milikku dan Putri Renia dengan kilatan petir hitam miliknya.
Namun, saat serangan kami akan beradu satu sama lain, dengan tiba-tiba datang sebuah lubang hitam dan disusul dengan terhisapnya serangan kami berdua.
Segera setelahnya, di udara, terjadi ledakan yang begitu dahsyat, sampai-sampai ledakan tersebut seperti membuat sebuah guncangan gempa.
"Apa kalian berdua ingin melenyapkan orang-orang yang ada disini!"
Ucap seseorang.
Saat menoleh ke sumber suara tersebut, terlihat ada seseorang yang mengenakan jubah putih dan kepalanya dihiasi oleh mahkota.
"Raja!"
"Raja Verdifield!"
"Itu Raja!"
Ucap semua orang.
Aku kemudian menyadari bahwa sosok yang berada disini sekarang, merupakan Raja Verdifield sekaligus Ayah dari Putri Isabella dan Renia.
_Bersambung.
__ADS_1