Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Mengalahkan Buto Ijo


__ADS_3

"Rama … Kamu … "


Ucap Kak Wulan setelah ku obati.


"Kak Wulan diam saja, biar aku yang menghadapi dua monster jelek ini!"


Ucapku dengan sangat yakin.


Kemudian, ke dua sosok Buto ijo tersebut melompat ke belakang untuk mengambil jarak di antara kami. Namun, dengan cepat aku mengayunkan pedangku dan membuat sebuah tebasan api untuk serangan jarak jauh. Alhasil kedua sosok Buto ijo tersebut terkena serangan tebasan api ku dan seketika mereka terbakar dengan sangat hebat.


Alangkah terkejutnya diriku saat api mulai padam, terlihat sosok lainnya. Dia memiliki empat lengan dan dua wajah pada kepalanya, yang masing-masing terletak pada depan dan belakang.


Kemudian, sosok itu mengayunkan ke empat tangannya secara bersamaan dan langsung berhasil memadamkan api ku.


"Sekarang apa lagi?"


Ucapku dengan rasa tidak percaya.


"Apakah kedua Buto ijo itu menggabungkan diri mereka?"


Ucapku bertanya-tanya dalam hati.


Kemudian, dengan cepat sosok baru Buto ijo dengan empat lengan itu langsung melayangkan serangan beruntun padaku. Dia berkali-kali melayangkan pukulan dengan keempat lengannya, namun aku berhasil menghindar. Terlihat serangannya sangat kuat, tanah yang Dia pukul langsung retak meninggalkan bekas yang besar dan dalam. Aku tahu bahwa pertarungan kami bisa saja melukai orang lain, alhasil aku menggiringnya untuk sedikit lebih jauh dari para prajurit khususnya Kak Wulan dan Putri Isabella.


Saat dirasa jarak kami sudah cukup jauh, aku kemudian berencana untuk mengalahkannya dengan satu serangan pamungkas. Namun, tidak ada celah sama sekali untuk menyerangnya.


"Apa yang harus kulakukan … ?



Dengan keempat lengan dan juga dua wajahnya itu, sulit sekali untuk mencari celah." Ucapku.


Saat itu, sosok Buto ijo tersebut dengan kekuatannya mengangkat sebuah pohon dan langsung melemparkannya padaku, dengan sigap aku membuat sihir air untuk membuat sebuah proyektil air. Terlihat pohon yang dilemparkannya terbagi dua dengan seranganku tersebut.


Setelahnya, sosok Buto ijo itu menghilang dari pandanganku. Yang tentu saja membuatku panik dan khawatir, aku melihat ke segala arah namun tidak berhasil menemukannya.


"Sial, dimana Dia?!" Ucap kesalku.


Dengan kecepatan tinggi, Dia kemudian tiba-tiba muncul di belakangku dan melayangkan serangan menggunakan tangan kanan atasnya. Namun, aku berhasil menangkisnya menggunakan tangan kiriku sambil dilapisi energi sihir. Kami berdua saling beradu pukulan, terasa pukulannya sangatlah kuat dan juga berat, jika saja aku tidak melapisi tangan kiriku menggunakan Mana, aku bisa terhempas seperti tadi.


Dengan sekuat tenaga, aku mencoba untuk menghempaskannya.


"Aaaaa!" Teriakku.


Tak lama kemudian, makhluk Buto ijo tersebut terhempas dengan pukulanku. Saat terhempas, tubuhnya menabrak beberapa pohon dan langsung berhenti ketika menabrak sebuah batu.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas, dengan sekuat tenaga aku mengalirkan energi sihir pada tangan kanan dan juga pedang yang ku pegang. Dan saat akan melemparkan pedangku kepada sosok Buto ijo tersebut, tiba-tiba tubuhku terasa lemas dan juga penglihatanku menjadi sangat kabur. Alhasil, diriku jatuh tergeletak di atas tanah.


"Kenapa …


__ADS_1


Kenapa harus sekarang!" Ucap kesalku.


Aku menyadari bahwa ini merupakan batasan yang kumiliki. Karena sejatinya, aku tidak memiliki energi Mana sebanyak Mama maupun Selvia. Namun, aku tidak ingin menyerah begitu saja. Dengan tenaga yang masih tersisa, aku mencoba untuk bangkit kembali.


"Aku mohon! Untuk sekali ini saja! Tubuhku! Ayo bangkit!" Ucapku.


Walau ku coba untuk bangkit tetap saja tubuhku ini seperti mati rasa, terutama pada kakiku. Dengan perasaan membara ingin melindungi orang-orang yang ada disini, terutama melindungi harapan Mama, aku mencoba untuk bangkit kembali.


Saat itu terlihat bahwa sosok Buto ijo tersebut sudah duluan bangkit, dan dengan cepat dia berlari ke arahku. Dalam keadaan masih terlutut, aku kemudian menancapkan pedangku ke tanah sambil mengalirinya dengan Mana. Setelah menancapkannya, dengan tangan kiri aku membuat proyektil air dan menyerangnya secara bertubi-tubi.


Dalam keadaan berlari, sosok buto ijo itu menghindari dan juga menabrak serangan proyektil air yang ku buat.


"Makhluk ini!" Ucap kesalku.


Saat Dia hampir mendekatiku, tiba-tiba keluar benda tajam yang terbuat dari tanah, Benar! Itu merupakan jurus baruku dengan memanipulasi tanah, membuatnya seruncing mungkin dan berhasil membuat Dia tidak bisa bergerak sama sekali.


Saat aku menancapkan pedang ke tanah, sebenarnya yang kulakukan adalah berusaha membuat proyektil air yang bisa menyerang dari bawah tanah. Namun, aku merasakan bahwa diriku bisa memanipulasi tanah dan langsung menggunakannya pada saat itu.


"Kau sudah kalah! Dasar makhluk jelek!"


Ucapku.


Aku kemudian mencabut pedang yang tadi ku tancapkan ke tanah. Dengan tenaga terakhir yang kumiliki, aku mencoba untuk bangkit dari posisi berlutut. Saat sudah berdiri, dengan perlahan aku mendekati sosok buto ijo yang terlihat sudah tidak bisa bergerak.


"Hahaha … Lihatlah!




Dengan mudahnya Kau merebut nyawa orang lain!



Dengan mudahnya Kau merebut kebahagiaan seorang Ayah yang memiliki keluarga!



Dan dengan mudahnya Kau menyakiti Kakak Ku!"


Ucapku sambil perlahan-lahan mendekatinya.


"Kau kira Kami para manusia akan diam begitu saja?!



"Saat nyawa kami Kalian permainkan dengan mudahnya?!



"Aku akan terus berjuang sampai kalian semua para makhluk halus lenyap dari Dunia ini!" Lanjut perkataanku.

__ADS_1


Saat sudah dekat dengannya, aku kemudian mengangkat pedang yang kubawa, dan bersiap untuk melakukan serangan terakhir.


Aku kemudian mengaliri pedangku dengan sisa Mana yang kumiliki. Terlihat api jingga berkobar menyelimuti pedangku, dan dengan tanpa ampun langsung menyerangnya.


"Lenyaplah!"


Perkataan terakhirku pada sosok buto ijo.


______________________________________________


*Booommmmm


Suara ledakan terdengar bahkan sampai ke istana Verdified, meninggalkan pertanyaan yang sama diantara penghuni istana.


"Suara apa itu?"



"Apa yang meledak?"



"Energi sihir yang sangat kuat, aku bisa merasakannya!"


Dampak serangan api jingga yang di lancarkan oleh Rama tidak hanya meninggalkan ledakan yang keras saja, namun membuat sebuah kobaran api yang hebat dan akibatnya membuat hutan menjadi terbakar.


Serangan Rama ibarat pedang bermata dua. Dimana, disisi lain memberikan luka yang sangat fatal ke lawan, namun disisi lain juga melukai pengguna alias Rama itu sendiri. Terlihat sekilas setelah melancarkan serangan api jingganya, Rama terhempas sangat jauh dan juga menderita luka bakar serius.


Putri Isabella terlihat menerobos kebakaran untuk mencari keberadaan Rama, Dia berteriak kearah sana dan sini. Berharap Rama tentunya baik-baik saja.


Saat Dia menerobos lebih dalam, terlihat Rama sudah terbujur kaku dengan luka bakar parah di sekujur tubuhnya.


Putri Isabella dengan segera berlari ke tempat Rama berada, dan dengan cepat Dia merapalkan mantra heal. Namun, karena luka Rama terlalu berat, sihir heal yang Dia gunakan tidak efektif.


"Rama! Sadarlah!" Teriak Putri Isabella.


"Aku mohon, jangan tinggalkan aku!" Kembali teriak Putri Isabella.


Putri Isabella dengan segera mengangkat kepala Rama dan kemudian memeluknya.


"Rama! Sadarlah!"



"Bukankah dirimu berjanji untuk selalu bersama dan juga melindungiku!"


Kembali teriak Putri Isabella sambil memeluk Rama.


Meski Putri Isabella merasakan panas akibat tubuh Rama yang terbakar hebat, Dia tidak memperdulikan semua itu dan lebih memilih untuk terus memeluk dan berharap agar Rama segera sadar.


"Aku … Mencintaimu … Rama."

__ADS_1


Lanjut perkataan Putri Isabella sambil menangis mengatakannya.


__ADS_2