
Sudut pandang orang pertama, Rama.
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan disini?!
"Cepatlah, carilah buah atau apapun yang bisa dimakan!"
Ucap Renia dengan nada kesal.
"B-baik!"
Jawabku.
Aku kemudian pergi mencari makanan. Entah itu berburu hewan ataupun memetik buah dari poho.
Namun, sepanjang perjalanan yang kulalui, sampai saat ini tidak menemukan apapun selain rindangnya pohon.
"Apa benar, dihutan ini ada makanan?"
Gumamku.
Aku kemudian menyadari, bahwa ada sesuatu yang bergerak dari semak-semak. Yang seketika Diriku melemparkan batu ke arahnya.
Tiba-tiba, keluarlah seekor serigala dari balik semak-semak tersebut. Dia terlihat terluka sangat parah dengan adanya begitu banyak anak panah tertancap di tubuhnya.
Melihat hal tersebut tentu saja membuatku iba kepada dirinya. Dengan hati-hati, Aku kemudian mendekatinya. kemudian, Dia terlihat mengeram ke arahku.
"Aku tidak akan menyakitimu."
Ucapku meyakinkannya dengan suara pelan.
Aku kemudian menyadari, bahwa sedari tadi diriku memegang pedang. Pada akhirnya, Aku meletakkan pedangku ke tanah dan berjalan perlahan mendekatinya sambil mengangkat kedua tanganku.
"Aku berjanji, tidak akan menyakitimu!"
Ucapku kembali meyakinkannya.
Setelah dekat, pertama Aku mengelus kepalanya terlebih dahulu. Setelah itu, mencoba melepaskan satu persatu anak panah yang tertancap pada dirinya.
Aku sadari bahwa hal yang kulakukan saat ini cukup beresiko. Ji berada di duniaku sebelumnya, melepaskan senjata tajam yang tertusuk justru akan menyebabkan pendarahan menjadi semakin hebat.
Namun sekarang, saat ini Diriku sedang berada di isekai dan dapat merapalkan sihir penyembuhan/heal.
Dengan hati-hati, Aku kemudian mencabut anak panah dari tubuhnya dengan tangan kananku. Setelah mencabutnya, serigala ini dengan segera menggigit bahuku dengan sangat kuat. Rasa sakit begitu terasa ketika Dia menggigit bahuku.
"Tenang kawan."
Ucapku kembali mengelus kepalanya menggunakan tangan kiri.
Dengan tangan kanan, aku segera melemparkan anak panah yang kucabur tadi dan merapalkan mantra heal padanya. Terlihat, Serigala ini kemudian sedikit lebih tenang setelah ku sembuhkan.
Namun, tantangan masih belum selesai. Masih begitu banyak anak panah yang tertancap di badannya.
"Gawat, apa yang harus kulakukan?!"
Gumamku.
Serigala ini kemudian dengan pelan-pelan melepaskan gigitannya dari bahuku. Dia terlihat begitu pasrah dengan posisi duduk. Sambil menjulurkan lidah, dia seolah berkata untuk melakukannya segera.
"Aku paham!"
Ucapku dalam hati.
Singkat cerita aku berhasil mencabut semua anak panah yang tertancap pada tubuhnya, Serigala ini kemudian berlari-lari ke sana kemari dengan penuh semangat.
Tiba-tiba, Dia melompat ke arahku dan menjilati wajahku.
"Hahaha, sudah, geli."
Ucapku sambil tertawa-tawa dan mengelus-elus dirinya.
Perutku dengan segera bersuara, tanda bahwa memang lapar.
"Hem, Aku belum makan sedari tadi, hehe."
__ADS_1
Ucapku sambil mengelus kepala.
Serigala ini kemudian berlari dengan sangat kencang, Dia terlihat bergerak lebih cepat dari kecepatan suara.
"Ini serigala apa roket, yah?"
Gumamku bertanya dengan fenomena yang barusan terjadi.
"Tapi, syukurlah. Dia sudah sembuh sekarang."
Ucapku sambil melihat jejak kakinya berlari tadi.
Saat akan kembali ke tempat Renia, Isabella dan Nyx berada. Tiba-tiba, Diriku mendengar suara lolongan serigala, dan seketika menghentikan langkah kakiku.
Melihat kebelakang, serigala yang ku tolong nampak membawa rusa yang cukup gemuk bersamanya.
Melihat hal tersebut lantas membuat diriku kagum. Dan memutuskan untuk memeliharanya saja.
Kembali ke penginapan, nampak Renia, Nyx dan Isabella begitu ketakutan.
"Aku pul-"
"Ada apa dengan kalian?"
Tanyaku pada mereka.
"Rama, apa Kau sadar dengan apa yang Kau bawa?!"
Tanya Renia padaku.
"Oh tentu, serigala!"
Ucapku sambil tersenyum dan memeluk serigala tersebut.
Mereka tampak begitu kaget sekaligus ngeri melihat diriku memeluk serigala ini.
"Itu bukan serigala biasa!"
"Lihatlah dikeningnya, terdapat simbol raja Iblis!"
Melihat keningnya, terdapat sebuah simbol sihir berwarna merah yang identik dengan Raja Iblis Caligor. Namun, Aku justru tidak merasakan aura jahat ataupun mengancam dari serigala ini.
"Meskipun begitu, Dia nampak baik, kan?"
Ucapku kembali memeluk dan mengelus-elus serigala ini.
Singkat cerita, Kami menyantap rusa yang sudah kami bakar di api unggun sebelumnya. Aku bersama serigala ini memakan daging rusa begitu lahap. Berbeda dengan Renia, Isabella dan Nyx yang terlihat masih ragu-ragu untuk memakan daging rusa tersebut.
"Apa yang kalian lihat? jika tidak ingin makan, berikanlah jatah daging kalian padaku!"
Ucapku seketika mengambil daging rusa bakat milik Renia.
"Itu punyaku, Rama!"
Reaksi ucapannya dengan nada kesal.
"Apa Kau yakin, kalau serigala ini bersahabat?"
Tanya Isabella padaku.
Sejenak, aku berpikir dan melihat serigala ini makan. Dan kemudian meyakini bahwa Dirinya bukanlah musuh.
"Tidak apa jika kalian memusuhinya."
"Namun, Dia adalah temanku!"
Ucapku dengan yakin.
"Bukan itu maksudku!"
Reaksi Isabella terhadap ucapanku.
"Aku khawatir, bila mana sisi liarnya keluar."
__ADS_1
Lanjut perkataan Isabella.
"Benar dengan apa yang dikatakan oleh Isabella."
"Serigala berbeda dengan anjing, yang dimana mereka merupakan hewan yang sulit untuk dijinakkan."
Ucap Nyx.
"Seperti dirimu bukanlah setengah hewan saja, Nyx!"
Ucapku dalam hati dengan nada kesal.
"Aku tidak pernah menganggapnya sebagai hewan peliharaan."
"Namun, Aku menganggap serigala ini sebagai partnerku."
Lanjut perkataanku sambil tersenyum.
Setelah itu, Nampak Isabella dan Nyx percaya dengan apa yang kukatakan.
"Baiklah, jika itu yang dipercayai oleh Rama. Maka Aku akan juga mempercayainya!"
"Benar!"
Ucap Isabella dan Nyx.
Namun, Renia masih terlihat was-was dengan serigala ini. Dia sesekali memandangnya, seolah serigala ini merupakan anak buah Raja Iblis Caligor. Meskipun begitu, Aku sudah terbiasa dengan sikapnya tersebut dan lebih mencoba untuk membuatnya percaya secara perlahan-lahan saja.
"Kau akan beri nama Dia apa, Rama?"
Tanya Isabella padaku.
"Karena aku menemukannya di malam hari, ditambah Dia merupakan serigala besar dan kuat."
"Hah Aku tahu, Luna!"
Teriakku dengan yakin.
Serigala tersebut kemudian melolong, tanda bahwa Dia suka dengan nama tersebut.
"Tunggu sebentar, memang Dia betina?!"
Tanya Isabella padaku.
"Entahlah, Aku juga tidak tahu."
Jawabku dengan tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala.
Pagi pun tiba, Kami bersiap untuk kembali ke serikat dan memberikan bunga mawar hitam sebagai pertanda misi kami selesai.
"Akhirnya, kita bisa pulang!"
Ucap Isabella.
Tiba-tiba, Luna membuka mulutnya, terlihat bahwa giginya begitu tajam dan seperti marah terhadap sesuatu.
"Ada Apa, Luna?"
Tanyaku padanya.
Dia terus mengeluarkan suara eraman ke arah semak-semak, tak lama kemudian keluarlah dua pria yang menyelamatkanku bersama yang lain.
"Serahkan serigala itu pada kami!"
Ucapnya sambil menghunuskan pedang.
"Jika tidak?"
Tanyaku.
"Jika tidak nyawa kalian akan menjadi taruhannya!"
Jawabnya dengan ekspresi muka yang datar.
__ADS_1
"Gawat, jumlah mereka sangat banyak, apa yang harus kulakukan?!"
Ucapku dalam hati.