
Sudut pandang orang pertama, Rama.
Kami semua memutuskan untuk pergi terlebih dahulu ke desa Trunyan, tempat tinggal Anna.
"Apa masih jauh, Anna?"
Ucapku bertanya padanya.
"Tidak kok, Desa Trunyan sudah dekat!"
Jawabnya.
"Nah itu, Desa Trunyan!"
Lanjut perkataanya sambil menunjuk ke tempat tersebut.
Kami kemudian bisa merasakan, bahwa Desa Trunyan sangat asri dan juga sejuk. Sejauh mata memandang, terlihat orang-orang yang begitu ramah dan juga murah senyum. Kehangatan sangat terasa dari para penduduk Desa. Tanpa menganggap Kami sebagai orang asing, mereka justru selalu menyapa Anna dan tentunya Kami semua.
"Wahai anak muda, kalian semua mau kemana?"
Ucap salah seorang penduduk desa.
"Anu - mereka adalah para petualang yang akan membantu Anna!"
Jawab Anna dengan bersemangat.
Tampak, penduduk Desa tersebut tidak merespon perkataan Anna sama sekali.
"Kami akan mencari tanaman herbal di hutan merah." Jawabku
"Kalau begitu, Aku do'akan agar kalian semua selamat."
Lanjut ucap penduduk Desa tersebut.
Dia kemudian pergi, yang sepertinya akan melanjutkan aktivitasnya sebagai seorang petani.
Kami berjalan mengikuti Anna. Terlihat disisi kiri maupun kanan, orang-orang tengah melakukan aktivitas mereka sebagai seorang petani gandum. Suasana desa ini, mengingatkanku kembali terhadap kampung halamanku, di desa Gunung kecil.
"Kangennya ... "
Ucapku dalam hati sambil melihat aktivitas para petani gandum.
Tiba-tiba, Renia menanyakan tentang kemana Anna akan membawa kami semua pergi.
"Kemana kamu akan membawa kami, Anna?"
Tanya Renia.
"Tentu saja, rumahku!"
Jawabnya.
Kami kemudian sampai di sebuah bangunan yang terlihat begitu sederhana. Dindingnya terbuat dari lumpur dan atapnya di berbagai macam rumput-rumput kering secara bertumpuk.
"Selamat datang, di rumah Anna!"
Ucapnya dengan penuh ceria.
"Dimana kedua orang tuamu, Anna?"
Tanya Isabella.
"Aku tidak tahu."
"Penduduk Desa ini mengatakan, bahwa Ayah Anna tidak akan kembali karena berperang melawan Caligor ... "
Jawab Anna sambil berpikir.
"Untuk Ibu Anna, Dia pergi mencari tanaman herbal ke hutan, dan sampai saat ini belum kembali ... "
Lanjut perkataanya.
"Tapi Anna percaya, suatu hari nanti mereka pasti akan kembali untuk menemui Anna ... "
Ucapnya sambil tersenyum.
Sontak, Aku hanya bisa menatap Anna dengan tatapan tidak percaya. Begitu pula teman-temanku yang lain, mereka seperti menahan air mata mereka.
"Siapa yang membuat rumah sebagus ini, Anna?"
Tanyaku padanya.
__ADS_1
"Tentu saja Anna, namun dibantu dengan beberapa penduduk Desa."
Jawabnya.
"Rumah Anna yang dulu dijual oleh kepala Desa, dan uangnya dipakai untuk menutupi utang Ayah ... "
Lanjut perkataan Anna.
"Biaya pemakaman, ya ... "
Gumamku dengan yakin.
Kami kemudian masuk ke rumah Anna. Di dalam begitu pengap dan juga gelap, karena tidak ada pencahayaan sedikitpun.
"Rama!"
Ucap Renia.
"Ya, Aku mengerti!"
Jawabku.
Aku kemudian menyalakan api di tanganku, untuk setidaknya membuat pencahayaan agar kami dapat melihat.
"Onii-chan keren, bisa menyalakan api!"
Ucap kagum Anna sambil melihat ke arahku.
Ruangan disini tidak sempit, dan juga tidak luas. Mungkin luasnya sekitar 4×3 meter. Tidak ada dapur, kamar mandi ataupun kamar. Segalanya, mungkin dilakukan oleh Anna disini.
"Jadi Anna, bagaimana cara kita mendapatkan obat herbal itu ... "
Kataku bertanya padanya.
"Obat itu terletak di hutan merah ... "
"Aku bersama Ibu biasa mencarinya sampai ke pedalaman hutan ... "
"Namun karena waktu itu aku sakit, jadi hanya Ibu seorang diri yang mencarinya ... "
Jawab Anna.
"Terus, Kamu biasa menjualnya kemana?"
Tanya Isabella.
"Apalagi jika Kami olah terlebih dahulu menjadi obat siap pakai!"
kembali jawab Anna.
"Tapi, semenjak Ibu tidak kunjung kemari ... Aku tidak berani masuk ke hutan sendirian ... "
Ucapnya dengan raut muka murung.
"Lalu, apa kamu punya uang sekarang?
Tanya Nyx.
Sontak, pertanyaan dari Nyx membuat ku kesal padanya.
"Oi, Nyx!"
"Kenapa Kamu bertanya itu sekarang?!"
Ucap tanyaku padanya dengan nada kesal.
"Apa? Aku hanya bertanya."
Jawab Nyx dengan muka tanpa dosa.
"Untuk uang, Aku hanya punya 30 perak dan 10 tembaga."
Ucapnya sambil menunjukkan kantong dan setelah itu mengeluarkan semua uangnya.
Nyx terlihat akan mengambil uang Anna, yang sontak aku menepis tangannya.
*Plakkkk
"Apa-apaan Kau, Nyx?!"
Ucap kesalku dengannya.
__ADS_1
"Tapi kalian semua tidak perlu khawatir!"
"Jika Anna berhasil menjual tanaman dan obat herbal, Anna berjanji akan membayar kalian secara penuh!"
Ucap Anna dengan nada yakin.
"Sudah-sudah!"
"Ayo kita segera tidur!"
Ucap Isabella.
"Benar, Kamu tidur duluan yah, Anna ..."
"Agar pagi-pagi sekali kita dapat pergi ke hutan merah ..."
Ucap Renia.
Anna setelahnya terlihat menguap tanda Dia memang sudah benar-benar ngantuk.
"Baiklah, Anna tidur duluan yah ..."
Ucapnya sambil tangan kanannya menggosok matanya.
Saat akan merebahkan badannya, Isabella menyadari bahwa disini tidak ada kasur dan mempersilakan Anna untuk tidur di pangkuannya.
"Tunggu, Anna!"
"Kemarilah ... "
Ucap Isabella sambil membuat gestur akan memeluk.
Anna terlihat antuasias, dan langsung memeluk Isabella. Terlihat juga, Isabella mengelus-elus kepala Anna untuk membuatnya segera tidur. Tidak lama kemudian, Anna langsung tidur.
"Dia sudah tidur ... "
Ucap Isabella.
"Sulit dibayangkan, anak sekecil ini merasakan pahitnya dunia ... "
Ucapku sambil melihat ke arah Anna.
"Banyak anak korban perang, yang seperti ini sudah biasa, Rama."
Ucap Renia padaku.
"Apa yang dikatakan oleh Lisa itu benar."
"Manusia akan semakin egois ketika situasinya memungkinkan."
"Kita tidak bisa menyalahkan pribadinya, namun kita bisa menyalahkan apa yang membuat situasi itu terjadi."
"Dalam kasus ini Caligor ..."
Lanjut perkataanya.
"Anna terbilang sangat beruntung, karena dapat kita temukan."
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada anak korban perang lainnya ... "
"Apakah bernasib sama seperti Anna, atau malah lebih buruk."
Ucapku menambahkan.
Tiba-tiba, Anak berbicara kepada Kami dengan keadaan mata yang tertutup.
"Terimakasih semuanya, biasanya Anna akan susah tidur karena keadaan tempat ini yang sedemikian rupa ... "
"Namun kali ini, Anna bisa merasakan kehangatan kalian semua ... "
Kami semua kemudian diam, sambil melihat Anna yang begitu nyenyak tertidur.
Kami merasa kasihan padanya, mengingat serta membayangkan tentang anak berusia 9 tahun harus hidup sendirian dan tidak ada seorang pun yang mau membantunya.
Namun, Nyx tiba-tiba mendengkur dengan sangat keras. Dan membuat suasana yang tadinya penuh empati dan kesedihan, berubah menjadi gelak tawa dan juga kekesalan.
"Zzzz .... zzzzz."
Nyx mendengkur.
"Dasar kucing Oren!"
__ADS_1
Ucapku sambil melemparkan api ditanganku padanya.
_Bersambung