
Sudut pandang orang pertama, Rama.
"Aaaaaa!" Diriku berteriak.
Sadar akan terluka parah jika tidak segera mengambil tindakan, aku kemudian mencoba untuk merapalkan sihir angin.
"Sihir angin : Terbang!" teriakku.
Tapi tidak ada perubahan sama sekali, dan hasilnya tetap saja aku akan terjatuh menghantam permukaan tanah.
"Gawat, ini sama sekali tidak bekerja," ujarku dalam hati.
Tiba-tiba, aku teringat dengan perkataan Mama, "Apa kamu tahu, Rama?" tanya Dia padaku.
Tentu saja aku membalas perkataannya, "tahu tentang apa, Mama?"
"Inti dari kekuatan adalah pemahaman hati," jawabnya menjelaskan.
Aku tentu tidak mengerti dengan maksudnya tersebut.
"Kamu tidak mengerti, Rama?" tanya Dia kembali.
Aku kemudian menggelengkan kepala, tanda tidak mengerjakan dengan "pemahaman hati" yang dimaksudnya.
Mama kemudian tersenyum, Dia mengatakan bahwa, "Saat nyawamu berada di ujung tanduk, Kau akan memikirkan orang-orang yang begitu penting bagimu,"
"Pemahaman hati, ialah segala tentang apa itu kekuatan. Karena dibalik kekuatan yang besar, ada sebuah tanggung jawab yang besar pula."
Kini, aku mengerti dengan maksud ucapannya. Dengan segera aku sadar dan membuka mataku secara lebar-lebar, lalu mengatakan, "Sekarang ini ... Aku tidak ingin mati terlebih dahulu! Ada senyuman orang-orang yang harus ku lindungi! Aku tidak akan menyerah!" ujarku.
"Sihir angin : Aerial wind strike!" teriakku.
Tiba-tiba muncul sebuah angin yang langsung membungkus tubuhku.
__ADS_1
"Apa ini ... " kataku kaget.
Terasa tubuhku begitu ringan layaknya bulu, aku juga bisa mengendalikan angin ini sesuai kemauanku.
"Hahahahahaha, hebat!"
"Aku seperti burung!" ujarku dengan begitu senang.
Aku kemudian melihat ke atas, tempat guru berada. Tak lama, aku kemudian melesat untuk kembali ke tempatnya berada.
...----------------...
Beralih sudut pandang orang pertama, Draven Darkheart.
"Lama!" ujar kesalku.
Tapi aku masih merasa tidak enak, karena tadi mengatakan Rama tidak memiliki kemampuan menggunakan sihir angin. Meski begitu, bohongku ini adalah untuk memotivasi dirinya.
"Guru, lihatlah!"
"Aku bisa terbang!" teriaknya dengan bahagia.
"Jika boleh jujur, anak itu terlalu berbakat," gumamku dalam hati.
Aku kemudian sama menggunakan kemampuan sihir angin untuk terbang, dan lalu menyusulnya.
...----------------...
Beralih kembali sudut pandang orang pertama, Rama.
Di tengah kegembiraan yang kurasakan, tiba-tiba aku merasakan sebuah sihir jahat!
Sadar akan kedatangan bahaya, aku kemudian waspada dengan melihat sekitar.
__ADS_1
Dari bawah, secara tiba-tiba muncul angin badai yang begitu besar!
"Gawat, aku bisa terhisap ... " kataku dengan perasaan panik.
Aku dengan sekuat tenaga bertahan, dari hisapan badai besar tersebut.
Tidak lama kemudian munculah guru yang sama-sama menggunakan sihir terbangnya.
"Hebat, Rama!" teriaknya memujiku.
Aku tentu merasa kesal karena di serang olehnya secara tiba-tiba, "Guru apa-apaan, sih?"
"Ini semua belum ada apa-apanya!"
"Bersiaplah, Rama!" ujarnya dengan raut muka jahat.
Kembali, guru mengeluarkan sihir angin berupa badai yang berbentuk naga!
"Sihir kehampaan : badai naga!" teriaknya.
Aku kemudian merapalkan sihir angin, namun memunculkan sebuah tornado, "Sihir angin : Tornado!" teriakku.
Tentu saja tornado angin milikku dapat dengan mudah dihancurkan oleh serangannya tersebut.
Aku seketika terhempas dan akan jatuh ke permukaan tanah.
Saat dalam keadaan jatuh itu, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang dari dalam kepalaku!
"Alter Rama!" ujarku menyadari.
"Kita tukar posisi, aku ingin sedikit bermain-main dengannya ... " kata Alter Rama.
_Bersambung.
__ADS_1