Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Tiga Bula Berlalu


__ADS_3

Di tengah siang yang terik, Rama dan gurunya berdiri di lapangan yang luas. Matahari menyinari mereka dengan cahaya terang, menciptakan bayangan-bayangan panjang di tanah gersang. Rama memegang pedangnya dengan tekad yang kuat, bersiap untuk mengasah keterampilannya.


"Siap, guru?" tanya Rama seraya mengambil kuda-kuda.


Gurunya kemudian membalas, "Ya, serang aku kapanpun kau mau, Rama!" balasnya seraya ikut berkuda-kuda.


Draven gurunya, merupakan salah satu dari the mighty fourteen, memandu Rama dengan penuh kesabaran.


"A! teriak Rama menyerang gurunya.


Mereka berdua saling bertukar serangan dan belajar teknik-teknik baru. Angin sepoi-sepoi berbisik di telinga mereka, memberikan sedikit kesejukan di bawah matahari yang panas.


Di tengah latihan mereka, Rama merasa semangatnya berkobar-kobar. Dia tahu bahwa persiapan ini adalah kunci untuk melindungi teman-temannya.


"Lihatlah, mereka hampir seimbang," ujar Isabella.


Renia, Nyx dan April hanya bisa berdecak kagum, melihat perkembangan Rama dalam kurun waktu secepat ini.


Sudah tiga bulan lebih, Alter Rama tidak menunjukkan dirinya kembali. Dan dalam kurun waktu tersebut jugalah, kemampuan Rama sudah meningkat berkat pelatihan yang diberikan oleh gurunya, Draven Darkheart.


"Sihir tanah : Pelindung tanah!" teriak Rama dengan jurusnya.


Rama sadar bahwa kemampuan tanah dalam menahan serangan, jauh lebih baik di bandingkan elemen lain. Itulah alasan mengapa, dia memutuskan untuk lebih mengasah kemampuan elemen tanahnya ini.

__ADS_1


Draven kemudian berlari dan mengayunkan pedangnya pada perisai tersebut. "Keras!" ucap kagum Draven dalam hati.


Melihat celah, Rama segera keluar dan menyerang gurunya menggunakan tebasan pedangnya. "Rasakan ini …!"


Namun, pengalaman tidak pernah berbohong. Gurunya dapat dengan mudah membalikkan serangan menggunakan sihir angin. "Sihir angin : Hempasan!"


Rama seketika terhempas dan kalah telak di tangan gurunya tersebut. Renia kemudian datang menghentikan latihan yang sedang mereka lakukan. "Sudah-sudah, waktunya istirahat," ujarnya.


April kemudian memberikan bekal kepada Draven dan juga Rama. "Terimakasih anak baik," ucap Draven sambil tersenyum. "Terimakasih, April!" Rama menambahkan.


April kemudian tersenyum dan terlihat senang karena dipuji oleh keduanya.


...****************...


Rama kemudian mencicipi kue yang dibuat oleh teman-temannya, lidahnya terasa dibuat bergoyang dan tanpa henti mengunyah kue tersebut. "Enak!" kata itu yang selalu terucap dari mulutnya.


"Kamu tahu, kue ini dibuat oleh April, loh … " balas Isabella sambil tersenyum manis.


"Benarkah itu, April?" tanya Rama padanya.


April kemudian menganggukkan kepala, tanda bahwa itu memang kue yang dibuat olehnya. "Wah, kamu hebat!" ujar Rama seraya mengelus kepala April.


Melihat hal tersebut membuat hati Draven terenyuh, Dia merasa kasihan dengan keadaan April saat ini. "Kasihan April, aku tidak tega melihat keadaannya, "ujarnya dalam hati.

__ADS_1


Ya, April memiliki keterbatasan dimana Dia memiliki masalah pada pita suaranya. Hal itu mengakibatkan dirinya sama sekali tidak bisa mengucapkan apapun.


Terkadang di siang hari, Draven melihat April sedang tertidur pulas di sofa. Hatinya gusar ketika melihat seorang bidadari kecil itu tidur, dia selalu teringat akan mendiang anaknya yang sudah tiada.


Diam-diam di malam hari, Draven selalu meracik berbagai macam ramuan obat agar kondisi April kembali seperti semula. "Aku harap obat ini bekerja, "ujar Draven dengan begitu optimis.


Tanpa diketahui oleh yang lainnya, Draven selalu memasukkan obat racikannya ke dalam makanan atau minuman yang akan dikonsumsi oleh April, namun semua itu sia-sia karena Draven tahu mustahil untuk menyembuhkan April.


Meskipun peluangnya adalah satu persen, tapi Draven masih berharap akan datangnya sebuah keajaiban, dia tetap melanjutkan misi diam-diamnya tersebut. "April … aku berharap … kamu bisa segera sembuh," ucapnya sambil memandang ke arah April.


Rama sendiri merasa bahagia, inilah momen yang selama ini dia inginkan. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari siapapun ketika masih berada di dunia modern. Satu-satunya orang yang selalu memperhatikan dirinya, tidak lain dan tidaklah bukan hanya Hani si ketua ekstrakurikuler pencak silat seorang. Namun, perhatian baginya belumlah cukup, dia ingin dicintai, dia ingin dikasihani dan dia ingin diandalkan.


"Aku harap, momen seperti ini tidak akan pernah hilang … Aku ingin, kalian semua tetap berada di sisiku," ujar Rama dengan penuh pengharapan.


Tapi, Dia tidak tahu bahaya yang akan segera menimpanya suatu hari nanti. Bahaya yang bisa saja, merenggut nyawa orang-orang yang disayanginya saat ini.


"Bawa kepala bocah yang bernama Rama itu!"


"Dia adalah pembawa masalah besar!" tegas perintah raja Skyline.


"Baik, Raja. Saya pastikan, bahwa kepala bocah tersebut itu akan sampai dan menggantung di atas jubah kebesaran anda … " jawab Falconor seraya tersenyum dengan jahatnya.


_Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2