Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Apakah Ini Benar-Benar Sebuah Kebetulan?


__ADS_3

Sudut pandang orang pertama, Isabella.


"Jadi begitu ceritanya, yah." Ucap Lisa memahami perkataanku.


"Benar, sampai saat ini Rama masih terlihat sedih karena kehilangan Anna." Ucapku menambahkan.


Sejenak kami berdua kemudian sama-sama diam untuk beberapa saat memikirkan perasaan Rama. Namun, seketika Lisa berbicara mengenai kasus Anna yang tentu saja memecah keheningan diantara kami.


"Aku tidak tahu bahwa Anna adalah roh yang masih terikat dengan dunia ini."


"Energi kehidupan yang dimilikinya sama persis seperti manusia pada umumnya."


"Apa dia, dihidupkan kembali, ya?" Ucap Lisa memikirkan perkataannya sendiri.


Lantas, Aku menyanggah perkataan Lisa yang mengatakan bahwa terdapat sebuah kekuatan untuk menghidupkan orang yang telah tiada.


"Tidak ada kekuatan seperti itu, menurutku." Kataku.


"Ya kamu benar." Balas Lisa.


"Kekuatan untuk menghidupkan orang yang sudah meninggal tentu tidak dapat dijelaskan secara akal sehat."


"Bahkan jika kekuatan itu ada, tentunya akan sangat merepotkan karena berurusan dengan takdir." Lanjut perkataanya sambil meminum bir.


"Kamu mau?" Tanya Lisa menawarkan minumannya padaku.


"Tidak .. tidak. Aku masih dibawah umur." Jawabku menolak.


"Kembali kepada Rama. Apa Dia akan baik-baik saja dengan kondisiku yang seperti itu?" Tanya kembali Lisa.


"Aku tidak tahu." Jawabku dengan raut wajah murung mengkhawatirkannya.


"Orang sekuat Dia bahkan bisa merasakan arti kehilangan ... "


"Tidak, bahkan Ryugawa saja yang seorang pahlawan tentu pernah merasakan perasaan itu ... " Ucap Lisa sambil melihat langit-langit guild home seperti mengingat-ingat sesuatu.


Tiba-tiba, Lisa langsung meneguk semua minumannya. Aku yang melihatnya tentu merasa khawatir dengannya.


"Lisa ... " Ucapku khawatir karena Lisa meneguk semua minumannya dalam sekali teguk.


"Hahhh ... Setelah dewasa kamu akan mengerti, Bella." Balasnya.


"Oke, sekarang pergilah ke tempat Rama. Hiburlah Dia!" Lanjut perkataanya sambil berdiri dari kursi dan berteriak.


"Tu-tunggu ... Itu lah hal yang ingin kulakukan, namun Aku tidak tahu bagaimana cara agar bisa menghiburnya ... " Kataku sambil malu-malu.


Lisa kemudian duduk kembali, sambil memegang kedua pundakku Dia mengatakan.


"Jadi kedatanganmu kemari adalah untuk meminta saran?"


"Hahaha ... Kamu datang ke orang yang tepat!" Ucapnya.


Lantas, Aku melihat Lisa seperti orang yang sudah mabuk. Aku khawatir Dia akan memberikan saran aneh-aneh kepadaku.


"Gawat, Lisa sepertinya sudah mabuk ... "

__ADS_1


"Apa yang harus kulakukan?" Ucapku dalam hati.


"Bagaimana dengan rencana malam." Ucapnya memberikan saran.


Lantas, Aku penasaran dengan saran yang diberikannya itu.


"Apa? 'Rencana malam'?" Ucapku menanyakannya kembali.


"Ya, Bagaimana jika malam ini kamu pergi menyelinap ke kamar Rama."


"Lalu, hiburlah Dia ... " Kata Lisa memperjelas apa itu 'rencana malam'


Sontak, Aku kemudian merasakan rasa malu yang begitu besar jika harus masuk dan menyelinap secara diam-diam ke kamar Rama. Bukan itu saja, di sisi lain Diriku merasa bahwa rencana ini tidaklah buruk mengingat Aku ingin lebih "dekat" lagi dengan Rama.


"Bagaimana dengan rencanaku, hebat kan? Wahahahahaha!" Lanjut perkataan Lisa sambil tertawa dengan sangat kerasnya.


Tiba-tiba, rekan kerja Lisa yaitu Nia menyela pembicaraan Kami.


"Menurutku cara seperti itu terlalu frontal dan juga tidak baik." Ucapnya menyela pembicaraan kami yang kemudian di susul dirinya meminum secangkir teh.


"Apa maksudmu, Nia?"


"Tidak tidak! Sedari tadi kamu menguping pembicaraan kami, hah?!" Tanya Lisa dengan nada kesal.


"Maaf karena saya lancang menguping pembicaraan anda, Putri Isabella."


"Saya hanya khawatir kepada anda, takut Lisa memberikan saran yang aneh-aneh." Ucapnya dengan sopan padaku sambil menundukkan kepala.


"Tidak-tidak .. Tidak apa-apa!" Ucapku sambil memintanya mengangkat kepalanya.


"Tuan Putri bisa menghiburnya dengan cara lain." Ucapnya.


"Saran seperti apa itu?" Tanyaku.


"Bagaimana jika tuan Putri memberikan sesuatu yang membuat diri tuan Rama kembali ceria."


"Kita katakanlah bahwa tuan Rama menyukai senjata berupa pedang, dan Putri Isabella bisa memberikan itu sebagai hadiah." Jawabnya.


"Saranmu bagus juga, Nia."


"Tapi Aku tidak tahu pasti tentang apa saja yang menjadi kesukaannya." Ucapku.


"Tunggu ... bukankah itu buruk karena aku yang sebagai rekan satu partynya saja tidak tahu mengenai apapun tentangnya!" Lanjut perkataanku dengan nada panik.


"Tidak usah panik, Putri Isabella."


"Anda bisa mencari tahu itu dari sekarang."


"Anda bisa memperhatikan tingkah laku, sifat, bertanya kepada orang tua ataupun bertanya kepada orang yang dikenalnya." Ucap Nia sambil menghitung ke empat hal itu.


"Satu lagi, jangan pernah meminta saran kepada Lisa."


"Dia selalu memberikan saran yang cukup nyeleneh apalagi ketika dirinya mabuk." Lanjut perkataanya.


"Hey, apa maksudmu?!" Tanya kesal Lisa dengan seketika setelah mendengar perkataan Nia itu tadi.

__ADS_1


"Apa Kamu sudah kehilangan akal dengan memberikan saran seperti itu ke seorang gadis berusia 12 tahun?" Jawab Lisa dengan tenang sambil kembali meminum tehnya.


Terlihat, Lisa sudah begitu mabuk. Dia sepertinya terlalu banyak minum minuman, dan karena itu akhirnya Ia tidak sadarkan diri. Nia kemudian membawa Lisa ke tempat lain untuk segera menyadarkannya, namun sebelum itu Dia memintaku untuk segera membuat hati Rama ceria kembali.


"Maaf karena sudah merepotkan."


"Saya akan membawanya pergi dan membuatnya sadar kembali." Ucap Nia sambil membopong tubuh Lisa.


"Oh iya Putri Isabella."


"Saya sarankan untuk anda segera bergegas menghiburnya, jika tidak kondisi Rama akan semakin down jika terus dibiarkan sedih seperti itu."


"Kalau begitu, saya pamit." Lanjut perkataanya yang kemudian pergi.


...----------------...


Singkat cerita, Diriku kini sedang berada dalam perjalan kembali ke penginapan. Sepanjang perjalanan, Aku memikirkan kedua saran baik dari Lisa ataupun Nia.


"Saran dari Lisa terlalu frontal!" Teriakku.


"Atau lebih baik jika sarannya Nia ku turuti, ya?" Ucapku memikirkannya.


Dalam perjalanan pulang kembali ke penginapan, Aku melewati pasar malam. Terlihat, suasana disini begitu ramai dan juga berisik karena orang-orang tengah melakukan transaksi jual-beli.


"Ramai sekali ... " Ucapku.


Seketika, Aku mengingat perkataan Nia kembali.


"Bagaimana jika tuan Putri memberikan sesuatu yang membuat diri tuan Rama kembali ceria."


"Apa Aku harus membeli sesuatu, untukku hadiahkan pada Rama, ya?" Gunamku sambil melihat-lihat kondisi pasar malam.


"Tapi, Aku tidak tahu apa yang disukainya." Lanjut gumamku.


"Tidak ... Bagaimana jika Rama ku ajak saja datang ke pasar malam!" Ucapku dengan nada yakin.


"Tunggu, bukankah itu akan menjadi sebuah kencan diantara kami?"


"Aaaa!!!" Teriakku karena membayangkannya.


"Tapi ... Bagaimana jika Dia menolaknya, ya?" Lanjut perkataanku.


"Isabella! Isabella!"


Ditengah kebingungan yang kurasakan, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tengah memanggil-manggil namaku dari kejauhan. Saat melihat kesana kemari Aku tidak bisa menemukan sumber suara dari orang yang memanggil namaku tersebut.


"Mungkin perasaanku saja." Gumamku.


Saat akan pergi beranjak dari tempat ini, tiba-tiba tanganku dipegang oleh seseorang. Saat berbalik, ternyata orang yang sedari tadi berteriak memanggil namaku adalah Rama.


"Daritadi kamu ku panggil, loh." Ucapnya sambil tersenyum dan memegangi tanganku.


"Ra-rama? Bagaimana bisa kamu disini?!" Ucapku dalam hati tidak percaya dengan kebetulan yang terjadi saat ini.


_Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2