
Terdengar kegaduhan ada dimana-mana, hampir semua warga Desa yang berada di pasar berlarian menyelamatkan diri. Saat itu, terlihat ada beberapa orang yang menyelinap masuk ke dalam formasi prajurit dan seketika membuat satu persatu dari mereka tidak sadarkan diri.
"Semuanya, hati-hati!" Ucapku memperingatkan prajurit.
Tiba-tiba, tanpa ku sadari ternyata ada seseorang yang berhasil mendekatiku dan seketika membuatku pingsan tidak sadarkan diri.
Saat tersadar, aku sedang dibawa oleh mereka ke suatu tempat. Tangan serta kakiku diikat oleh mereka, yang menyebabkan diriku tidak bisa melawan sama sekali. Sadar bahwa mereka belum menyadari diriku sudah siuman, dengan segera aku membuat sebuah petunjuk dengan mencabut rambut kepala dan berharap akan ada orang yang menyadari jejak petunjuk yang ku buat.
Kemudian, aku dibawa ke sebuah gudang tua. Tangan serta kakiku kemudian diikatkan ke kursi mereka, namun aku masih berpura-pura pingsan.
Kurang lebih sudah 1 jam aku disandera, namun tidak kunjung satupun orang untuk menyelamatkanku. Sadar bahwa diriku hanya sendiri bersama penculik tadi, aku kemudian meneteskan air mata tanda ingin menangis, karena pasti tidak akan ada yang menyelamatkanku. Baik Ayah ataupun orang lain.
Di tengah rasa putus asaku, ada beberapa batu yang terlihat jatuh dari atas dan mengenaiku. Saat menengadahkan kepala ke atas, terlihat seseorang sedang berada disana. Dia seperti membuat gestur jangan berisik dengan menutup-nutupi mulutnya menggunakan jari telunjuk.
"Tuan Putri akhirnya sadar, yah!" Ucap salah seorang penculikku
Seketika itu aku kaget, dikarenakan aku justru membuka mata padahal dari tadi sedang berpura-pura pingsan. Saat kembali menengadahkan kepala ke atas, terlihat bahwa seseorang tersebut sudah tidak ada.
Saat salah satu penculik tersebut akan mendekatiku, aku kemudian mencoba untuk melawan dengan menggoyangkan badan berharap bisa lepas dari ikatan tali ini. Namun, aku justru terjatuh dan hanya bisa diam kembali.
Bingung serta putus asa dengan keadaan, aku kemudian berteriak memanggil nama ayah karena saking takutnya.
Tiba-tiba, ada seseorang yang menerobos dari atap bangunan dan menyerang salah seorang penculik tadi. Saat ku lihat, ternyata dia seseorang yang kemungkinan berusia sama denganku.
Terlihat Dia sangat pandai sekali dalam menggunakan kekuatannya, terlihat bahkan, salah seorang penculik tersebut kewalahan karena karenanya. Bukan hanya sihir, Dia terlihat sangat lihai dalam seni beladiri tangan kosong.
Melihat Dia bertarung sendirian, mengingatkanku kepada sosok Kak Renia yang mungkin level kekuatannya takkan pernah ku samai atau bahkan ku lampaui.
__ADS_1
Singkat cerita Dia berhasil mengalahkan orang-orang yang sudah menculikku, kemudian mendekat dan melepaskan ikatan pada tangan dan kakiku. Namun, bukannya ucapan terimakasih yang ku sampaikan, diriku malah menampar pipinya. Dikarenakan, Dia berhasil membuatku iri terhadap kekuatan yang dimiliki olehnya.
"Aku tidak meminta bantuan darimu!" Teriakku terhadapnya sesaat setelah menamparnya.
Sebuah perkataan yang seharusnya tidak pernah kukatakan. Mengingat Dia merupakan penolong jiwaku, namun aku justru memperlakukannya demikian.
Aku kemudian berlari pergi menjauh darinya, dan kembali lagi bersama rombongan prajurit. Saat sampai, kulihat sebuah pemandangan yang buruk dimana orang kepercayaanku sudah tiada bersama dengan beberapa prajurit istana.
Saat itu, perasaan bersalah kemudian menyelimuti diriku. Bertanya-tanya kepada diri sendiri.
mengapa aku melakukan hal ini semua? Mengapa aku tidak bisa menjadi lebih kuat?
Mengapa aku tidak kembali saja ke istana?
Singkat cerita, malam pun tiba. Saat itu diriku sulit sekali untuk tidur. Mengingat berbagai kejadian dan pengalaman yang masih saja berbekas dalam ingatan.
Di mulai dari Kak Renia yang selalu saja menyiksa diriku dengan cara melampiaskan kemarahannya padaku. Terlebih kejadian di desa yang pernah ku kunjungi, dimana aku tidak bisa menyelesaikan permasalah yang ada. Dan sekarang adalah diriku malah menampar seseorang yang menjadi penyelamat hidupku, yang kemudian disusul dengan tewasnya orang kepercayaan dan juga beberapa prajurit yang sudah menemaniku.
Tanpa sadar aku malah sudah berjalan cukup jauh dari penginapan, dan menyadari diriku sudah berada di tepi sebuah jurang. Melihat dasarnya, membuatku berpikir untuk segera mengakhiri hidup dan lari saja dari segala permasalahan yang ada.
Saat sudah menyakinkan hati, aku kemudian melompat dan memejamkan mata. Saat jatuh dari ketinggian dan ditengah-tengah angin yang menerpa diriku, aku mendengar suara teriakkan yang memanggil namaku dengan sangat jelas.
"Putri Isabella!"
Saat membuka mata, kulihat seseorang dengan susah payah meraih tanganku. Dan saat kuperhatikan lebih dekat, ternyata Dia adalah orang sama yang telah menyelamatkanku dari para penculik.
"Kenapa Dia ada disini?"
__ADS_1
"Kenapa Dia begitu ingin menyelamatkanku?" Ucapku dalam hati sambil keheranan.
Dia kemudian melindungiku dengan cara menjadi bantalan jatuhku.
Kami berdua berhasil selamat, namun Dia menderita luka-luka. Tentu saja aku bertanya perihal mengapa Dia menyelamatkanku kembali, terlepas dari perlakuan terakhirku kepadanya.
Tanpa kuduga, Dia mengatakan sesuatu yang berharga. Sebuah perkataan yang memang ada benarnya, yang sekaligus mengukuhkan posisiku sebagai manusia yang tidak sempurna.
Mendengar jawaban darinya membuatku sadar tentang langkah yang selalu diriku ambil, sebuah jalan pintas yang dimana diriku tidak ingin terlalu banyak menerima luka.
Berkaca pada Desa, membuatku sadar bahwa bilamana salah dalam memilih pemimpin tentunya akan berdampak buruk, yang padahal aku sangatlah tahu betul dengan sifat Kak Renia selama ini.
Dalam hati kecilku, sebenarnya ingin memimpin kerajaan dan membawanya makmur, namun selama ini diriku justru menutup-nutupi semua itu dengan dalih diriku tidaklah pantas.
Namun, setelah bertemu dengannya, pemikiranku menjadi lebih terbuka. Dan memutuskan untuk kembali ke istana dan menerima tawaran ayahanda menjadi seorang pewaris tahta kerajaan.
"Siapa, namamu?" Ucapku
"Rama." Jawabnya.
Seseorang yang pertama kali melihat diriku bukan sebagai putri pewaris tahta kerajaan, namun sebagai temannya.
Terlihat Dia begitu kesakitan akibat luka yang dialaminya, yang seketika diriku menyembuhkan dirinya. Beberapa saat kemudian, Dia menyuruhku untuk pulang ke penginapan. Tentu saja aku tidak mau, dikarenakan masih penasaran dengan sosok orang yang menyelamatkanku ini.
Tercetuslah ide untuk tinggal sementara saja di rumahnya.
Saat pertama kali melihat Rumahnya, mengingatkanku terhadap kediaman nenek, dimana terlihat sederhana dan juga rapih, dengan adanya pohon mangga di depan rumah membuat diriku semakin menyukai tempat ini. Keluarga yang dimilikinya terlihat baik, dengan adanya seorang Ibu dan tak kusangka juga dia memiliki seorang Kakak perempuan.
__ADS_1
Namun, saat ditanya tentang keberadaan Ayahnya, Ibunya Rama enggan untuk menjawab.
_Bersambung.