Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Adik Kakak Yang Tidak Pernah Akur


__ADS_3

"Hebat." Ucap Putri Renia sambil melihat kekuatan apiku.


"Bagaimana jika kita bertarung, Rama?" Lanjut perkataanya.


Mendengar pertanyaan darinya, tentu saja membuatku kaget, karena dengan tiba-tiba Putri Renia mengajakku untuk bertarung atau duel.


"M-maaf, bukankah aku baru siuman dari pingsan."


Ucapku sambil menggaruk kepala.


"Benar juga sih." Ucap Putri Renia.


Tiba-tiba, Putri Isabella datang sambil membanting pintu.


"Rama!


Ayo cepat, bertarung dengan Kak Renia!" Teriaknya.


Terlihat Kak Wulan sambil memegang tangan Putri Isabella, mencoba untuk menariknya keluar dari kamar.


"Maaf, Putri Isabella dengan tergesa-gesa datang kemari."


"Padahal aku sudah memintanya agar membiarkan kalian berdua mengobrol untuk sementara waktu."


Ucap Kak Wulan sambil cemas.


"Apa yang dikatakan oleh Wulan itu benar, Kau sungguh tidak sopan dengan datang tiba-tiba sambil berteriak seperti itu."


Ucap Putri Renia.


"Bilang saja kalau Kau takut, Kak Renia!"


Ucap Putri Isabella sambil mengejeknya.


"Apa yang Kau katakan, Isabella?!"


Ucap kesal Putri Renia.


"Kak Renia pasti takut dengan kekuatan yang dimiliki oleh Rama, iyakan?" Tegas kembali Putri Isabella.


"Justru temanmu yang bernama Rama ini tidak akan memiliki kesempatan untuk menang saat melawan ku!" Ucap Putri Renia dengan nada sombong


"Lagian, apakah Kau tidak melihat kondisinya saat ini?"


"Jika memang dirimu adalah temannya, seharusnya Kau mengerti kondisinya sekarang!"


Ucap Putri Renia.


Mendengar perkataan tersebut, seketika membuat Putri Isabella menjadi murung memikirkan sesuatu. Raut wajahnya terlihat sedih tanda seolah Dia menyadari kesalahannya.


"Kau memang selalu merepotkan orang lain, Isabela!"


"Seharusnya Dirimu bercermin, dan lihatlah keadaanmu saat ini!"


"Bukankah Dia telah menyelamatkan nyawamu, dan inikah caramu berterima kasih padanya?!"


Ucap tegas Putri Renia.


Setelah mendapatkan perkataan tersebut dari Putri Renia, terlihat Putri Isabella seperti ingin mengatakan sesuatu, namun Dia tidak bisa mengatakannya.


Kesal karena mereka tidaklah akur, Aku kemudian mencoba untuk menasehati mereka berdua.


"Putri Renia, apa yang anda katakan ada benarnya."


"Namun, bisakah anda sedikit lebih akur dengan temanku, Isabella?" Tanyaku.


"Apa yang kau bicarakan?!"


Ucap kesal Putri Renia kepadaku.


"Aku hanya ingin kalian berdua menjadi akur layaknya Kakak berad-"

__ADS_1


"Berisik!" Putri Renia menyela perkataanku dengan nada tinggi.


"Apa yang kamu ketahui tentang kami?!"


"Sedari kecil, aku tidaklah pernah menganggapnya sebagai adikku!"


"Itu takkan pernah terjadi!"


Ucap Putri Renia dengan nada tegas.


Mendengar perkataan tersebut dari lisan Kakaknya secara langsung, membuat Putri Isabella seketika menangis. Dia kemudian pergi berlari dari kamar dan meninggalkan kami, terlihat Kak Wulan mengejarnya.


"Putri Isabella, tunggu!"


Ucap Kak Wulan sambil berlari mengejarnya.


Mendengar hal tersebut juga seketika membuatku kesal dan marah kepadanya. Walaupun mereka merupakan saudara beda Ibu, tentu itu bukanlah menjadi halangan mereka dalam menjalin hubungan Kakak beradik.


"Apa yang sudah Anda bicarakan?!"


"Apa Anda tidak memikirkan perasaan Putri Isabella, setelah mengatakan hal sekejam itu didepannya?!" Ucapku dengan nada kesal.


"Sekarang, kau jadi banyak mengoceh, yah." Ucap Putri Renia.


"Kakak beradik? Hahaha."


"Jangan pernah mengatakan hal omong kosong itu lagi!"


"Bahkan sampai neraka menjadi dingin pun, Aku takkan pernah sudi menganggapnya sebagai adikku!"


Ucap tegas Putri Isabella sambil pergi dari kamarku.


Namun, sebelum Putri Renia keluar dari kamar, aku dengan segera memintanya untuk berhenti.


"Oii, berhenti … " Ucapku.


Setelahnya, Putri Renia kemudian berhenti dan menoleh ke arahku.


Tanya Putri Renia dengan nada kesal.


"Segeralah minta maaf, kepada Isabella!" Ucapku dengan tegas.


Putri Renia seketika tersenyum setelah mendengarkan ucapanku tersebut.


"Takkan pernah!"


Jawabnya dengan nada tegas dan sombong.


"Jika dirimu begitu menginginkan hal itu, kenapa tidak dengan menantangku saja?" Ucap kembali Putri Renia.


"Aku belum pernah bertemu dengan orang sekeras kepala dirimu."


"Namun, jika itu satu-satunya cara agar Kau bisa meminta maaf kepada Putri Isabella. Maka, baiklah!" Jawabku.


Aku kemudian beranjak dari tempat tidur dan menantang Putri Renia untuk duel satu lawan satu saat itu juga!


"Ikutlah denganku, akan kutunjukkan tempat kita bertarung." Ucapnya sambil menyodorkan-nyodorkan jari telunjuknya.


Aku kemudian dibawa ke sebuah arena pertarungan yang begitu luas, terlihat sisi kiri-kanan serta depan-belakang merupakan tempat duduk bagi penonton.


"Aku sengaja membawamu kemari, Aku tahu bahwa ini bukanlah permainan anak-anak. Meskipun usia kita sebenarnya tidaklah jauh berbeda." Ucapnya.


"Ya … yang lebih penting dari itu adalah, Kau tidak akan mengingkari janji, bukan?!"


"Jika Aku menang, Kau harus meminta maaf kepada Putri Isabella!" Ucapku kepada Putri Renia.


"Tentu, namun jika itu dirimu yang menang, bukan?!" Ucapnya.


Mendengar hal tersebut membuatku semakin kesal padanya.


"Jika Kau kalah, turuti semua perkataanku!"

__ADS_1


Lanjut perkataan Putri Renia.


Kami berdua kemudian memasang kuda-kuda sebelum bertarung, terlihat dari posisi kuda-kudanya begitu rapat dan tidak ada celah dari sisi manapun.


"Sial, Dia tidak memiliki celah!"


Ucap panikku dalam hati.


Dengan cepat, Putri Renia sekejap menghilang dari pandanganku.


"Kemana Dia?!"


Ucapku dengan nada panik.


Dengan tiba-tiba, Dia berada di belakangku dan menyerangku menggunakan tangan kosong berniat mengincar wajahku. Dengan cepat aku berhasil menangkis serangan cepatnya tersebut, dan kemudian mencoba untuk menyerang balik menggunakan tangan kiri.


Namun, Dia berhasil menghentikan pukulanku dengan cara menggenggam tangan kiriku. Setelahnya, Dia kemudian menarik tanganku guna memperpendek jarak diantara kami, dan seketika melancarkan serangan lutut guna melukai perutku.


Karenanya, Dia berhasil melukaiku dan membuatku jatuh berlutut. Dalam posisi tersebut, aku memegangi perutku karena rasa sakit.


"Kau sudah menyerah, Rama?"


Ucapnya dengan nada sombong.


"Belum!" Teriakku kepada Putri Renia.


Aku kemudian segera bangkit dan menggunakan sihir elemen api berniat menyerangnya, namun dengan tiba-tiba Dia berhasil melancarkan serangan selanjutnya dengan cara memegang tanganku dan kembali menendang perutku.


Aku tahu bahwa pukulannya ini tidak diperkuat oleh energi sihir alias pukulan biasa, namun terasa sangat menyakitkan bagiku.


Dalam posisi berlutut sambil memegangi perut kembali, dengan cepat aku menyentuh lantai dan merapalkan mantra sihir tanah dengan niat membuat gundukan tajam darinya, guna melukai Putri Renia.


Namun, dengan cepat Putri Renia berhasil menghindari serangan tiba-tiba ku tersebut. Kesal dengan itu, aku kemudian membuat kembali beberapa gundukan tanah yang tajam. Tapi lagi-lagi, Putri Renia berhasil menghindarinya sambil melompat ke belakang dengan gerakan akrobatik.


Namun, rencana ku berhasil, karena yang sebenarnya ku lakukan adalah untuk kembali membuat jarak diantara kami.


"Dia kuat, cepat dan juga lincah!"


Ucapku dalam hati.


"Ditambah lagi, Dia belum mengeluarkan kekuatan sihirnya, sial!"


Lanjut ucap panikku dalam hati.


Dengan tiba-tiba, Putri Renia menggunakan sihirnya.


"Wahai Pencipta Langit dan Bumi … Surga dan Neraka … Kebajikan dan Kejahatan … Namaku Renia Verdifield … Tunjukkanlah siapa yang benar dan juga yang salah pada lawanku saat ini!"


"Aqua Burst!" Rapalan mantranya.


Setelah itu, Dia kemudian menembakkan proyektil air yang sangat amat banyak dan menyerangku secara beruntun dengannya.


Dengan cepat, aku kemudian menunduk sambil memegang lantai guna membuat perisai menggunakan sihir elemen tanah.


Tidak puas, aku kemudian melapisi perisai tanah milikku menggunakan energi sihir agar semakin kuat.


Perisai tanah milikku perlahan-lahan mulai hancur, dikarenakan serangan proyektil airnya sangat banyak. Sadar dengan hal itu, aku kemudian kembali membuat 5 lapis perisai tanah, dan karenanya aku bisa bertahan. Tapi, semua perisaiku perlahan-lahan hancur dan jatuh.


Terlihat, Putri Renia tersenyum ke arahku dan dengan nada sombong Dia mengatakan.


"Tak ku sangka Kau akan bertahan selama ini, Rama."


"Namun, kupastikan dirimu akan segera kalah!" Ucapnya


Aku kemudian ngos-ngosan tanda kelelahan, dikarenakan Mana yang kumiliki tinggal sedikit, mengingat dari tadi menggunakan sihir yang berlebihan dan juga tidak terlalu efektif.


"Hiburlah aku lebih lama lagi, Rama!"


Lanjut perkataannya.


_Bersambung

__ADS_1


__ADS_2