
Sudut pandang orang pertama, Isabella.
Jantungku berdetak dengan sangat cepat ketika melihat Rama yang secara tiba-tiba kini berada ada di depan mataku.
"Bagaimana bisa Dia ada disini?!!"
"Apa ini semua kebetulan semata?!!" Ucap panikku dalam hati.
"Aku bersyukur, ternyata ada seseorang yang akan menemaniku di pasar malam ini." Ucapnya yang masih memegangi tanganku.
Aku kemudian melihat tanganku yang kini dipegang oleh Rama. Dia secara cepat melepaskan tangannya dariku, mengira Aku tidak nyaman.
"M-Maaf ... " Ucapnya seketika melepaskan tangannya dariku.
"Apa ini?! Aku ingin Kamu lebih lama memegangi tanganku!!" Teriakku dalam hati protes.
Kami berdua sama-sama tidak berbicara dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Kami berdua malah akan berbicara secara bersamaan.
"Kamu ..."
"Apa yang ... " Ucap Kami secara bersamaan namun tidak meneruskan.
"Kamu dulu." Ucap Rama.
"Anu .. Apa yang sedang kamu lakukan disini, Rama?" Tanyaku.
"Oh itu, Aku cuman mampir kemari."
"Rasanya berdiam diri dikamar seharian tidaklah menyenangkan."
"Aku memutuskan untuk berjalan keluar mencari angin, sampai kusadari ternyata ada pasar malam disini." Jawabnya sambil melihat-lihat kondisi pasar malam.
"Begitu, yah ... " Ucapku mengerti dengan perkataannya.
"Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan disini?" Rama berbalik tanya padaku.
Entah kenapa, Aku merasa begitu sulit menjawab pertanyaan darinya. Badanku terasa sangat panas dan darinya keluar keringat yang begitu dingin.
"Anu ... Aku ... "
Rama kemudian meletakkan tangannya di atas dahiku Dia mengira bahwa Aku sedang demam.
"Kamu demam ya, Isabella?" Ucapnya sambil memegangi dahiku.
Sontak perlakuannya membuatku semakin tidak karuan. Dadaku dan juga denyut jantungku semakin berdetak dengan sangat cepat.
"Kamu benar-benar panas, Isabella!" Teriaknya khawatir.
"Ayo kita pergi ke tempat medis!" Lanjut perkataanya yang masih khawatir.
Dia kemudian memegangi tanganku, berniat untuk membawaku ke tempat medis.
"Tunggu, Rama!" Ucapku menahan Dirinya.
"Ada apa, Isabella?" Tanya Dia.
Mengumpulkan keberanian, Aku mencoba mengajaknya untuk berjalan-jalan bersama mengelilingi pasar malam ini.
"Apa .. Apa Kamu mau menemaniku .. Di .. Di pasar malam ini?! Ucapku dengan malu-malu.
Kami kemudian sama-sama tidak mengatakan sepatah kata apapun setelah itu. Dan Aku mulai murung, mengira bahwa Rama akan menolak ajakan Dariku.
"Dia sepertinya, tidak ingin ... " Ucapku dalam hati.
"Kenapa tidak bilang daritadi ... Ayo!" Jawabnya.
Dia seketika menarik tanganku ke arah pasar malam berada.
...----------------...
Pertama-tama, Kami berdua mengunjungi kedai makanan. Terlihat penjualnya sedang membuat sesuatu dari gula pasir!
__ADS_1
"Apa itu?" Tanyaku.
"Oh, itu namanya arum manis!" Rama menjawab.
"Arum manis?" Tanyaku kembali padanya tidak tahu apa itu.
"Dengan memasukkan gula pasir ke dalam mesin khusus yang diputar cepat dan juga menghasilkan panas, Gula akan berubah menjadi serat-serat tipis dan juga panjang. Lihatlah!" Jawab Rama sambil memperlihatkannya padaku.
"Tolong 2 Arum manisnya ya, Pak!" Lanjut perkataanya memesan.
Aku kemudian melihat bahwa bapak penjual arum manis tersebut memasukkan sebuah tusukkan ke dalam sela-sela mesin. Kemudian, darinya terbentuk sebuah gulungan berwarna pink!
"Terimakasih." Ucap Rama sambil memberikan uang.
Dia kemudian memberikan satu arum manis kepadaku dan awalnya kukira bahwa ini tidaklah dapat dimakan.
"Apa ini bisa dimakan, Rama?" Tanyaku padanya.
"Apa-apaan Kamu ini, tentu saja bisa!" Jawabnya yang seketika menggigit arum manisnya.
Awalnya, Aku sempat merasa agu dengan makanan yang bernama arum manis ini. Bentuknya cukup aneh mengingat seperti rambut nenek-nenek namun berwarna pink.
"Cobalah!" Lanjut perkataan Rama menyuruhku mencoba arum manis ini.
Karena Rama yang meminta, Aku kemudian memberanikan diri dan menggigit arum manis ini secara perlahan. Saat ku gigit, ternyata bayanganku selama ini salah, arum manis memiliki rasa yang begitu enak!
"Enak!" Ucapku.
"Benar, kan? Rasanya enak." Balas Rama.
Rasa manis yang langsung meleleh di mulut membuat lidahku merasa ketagihan. Jangan pernah menilai makanan dari luarnya saja!
...----------------...
Kami kemudian berjalan ke kedai makanan lain. Terlihat, Ibu penjual sedang membuat sesuatu dari bahan dasar santan!
"Apa ini, Rama?" Tanyaku padanya.
"Dengan memasukkan santan cair yang lalu dipanggang ke dalam cetakan khusus kamu akan mendapatkan sebuah kudapan lezat!" Lanjut perkataanya menjelaskan apa serabi itu.
"Saya pesan 2 serabinya, Bu." Ucap Rama memesan.
Terlihat, makanan yang bernama serabi ini cukup unik. Tercium aroma harum darinya karena terbuat dari santan kelapa, kemudian bentuknya bulat dipadukan dengan pinggirannya yang sedikit cembung, bawahnya berwarna kecokelatan karena hasil pemanggangan. Saat akan memakannya, Rama dengan tiba-tiba menghentikan Diriku.
"Tunggu dulu, Isabella!" Ucap Rama menghentikanku.
"Ada apa, apakah ini beracun?!" Tanyaku yang seketika juga ikutan panik.
"Tidak, bukan itu!"
"Kamu belum menambahkan ini." Jawabnya sambil menunjukkan suatu kuah yang terlihat merah.
"Apa ini, darah?" Tanyaku.
"Hadeh, anak ini ... "
"Ini gula merah!" Jawab Rama.
Rama kemudian membaluri serabi dengan sirup gula merah.
"Sekarang, cobalah!" Ucapnya memerintahkan Diriku untuk memakan serabi ini.
Pada gigitan pertama, terasa sebuah rasa yang begitu manis dari sirup gula merah. Saat mengunyahnya, Aku merasakan rasa yang begitu gurih dari santan kelapa.
"Enak!" Kataku.
"Benar kan, serabi paling enak ketika ketika menambahkan sirup gula merah." Balas Rama yang kemudian Dia juga sama memakan serabinya.
...----------------...
Puas makan, Kami kemudian mengunjungi permainan. Terlihat, orang-orang begitu asik bermain permainan menembak.
__ADS_1
"Kamu mau main itu, Isabella?" Tanya Rama padaku.
"Iya!" Balasku.
"Apa peraturan dari permainan ini?" Tanya Rama kepada Bapak penjaga dari permainan ini.
"Sederhana, kalian hanya harus menjatuhkan salah satu dari boneka itu!" Jawab Bapak tersebut.
"Semakin tinggi poin yang kalian dapat, semakin besar juga hadiah yang akan kalian terima!"
"Namun, poin tertinggi tentu sangat sulit!" Lanjut perkataan Bapak tersebut.
Terlihat, orang-orang begitu kesulitan karena ingin mendapatkan poin tertinggi. Setiap kali bola akan mengenai boneka itu, akan langsung mental karena adanya sebuah sihir pelindung.
"Licik." Gumamku.
Bapak penjaga tersebut malah mendengar perkataan Dariku, karenanya Dia marah serta karena tidak terima dengan ucapanku yang mengatakan bahwa dirinya bermain curang.
"Hah? Apa yang barusan Kamu bilang, hah?!" Tanya Dia dengan nada marah.
Rama dengan segera melindungiku dan memintaku untuk tetap berada disampingnya.
"Sudah .. sudah .. jangan emosi."
"Isabella, tetap di sisiku, yah!" Ucapnya.
"Oiya paman, apa Aku boleh menggunakan sihir?" Tanya Rama dengan senyum jahatnya.
"Tentu, kenapa tidak." Jawabnya.
"Tapi jika kalau Kau kalah, nona manis ini untukku, hahaha!" Lanjut perkataanya sambil tertawa dan melirik ke arahku.
Tentu Aku merasa jijik dengannya dan meminta Rama untuk segera pergi dan tidak jadi bermain permainan disini. Tapi, diluar dugaan Rama malah menyetujuinya.
"Sudah Rama, ayo kita pergi dari sini!" Ucapku
"Baiklah, Aku setuju!" Balas Rama pada Bapak penjaga permainan.
"Tunggu, Kamu menjadikanku sebagai bahan taruhan?!" Tanyaku padanya dengan kesal.
"Tenang, Aku akan menang!" Jawab Rama dengan percaya diri.
Rama dengan percaya dirinya mengambil satu bola dan bersiap akan melemparkannya ke salah satu boneka yang memiliki poin tertinggi.
Berkonsentrasi, Dia mengumpulkan energi sihir miliknya dan mengumpulkannya di satu titik yakni tangan kanannya.
Seketika, Api berwarna jingga berkobar hebat dari tangan kanannya yang sontak membuat Bapak penjaga permainan kaget.
"Tunggu, Kau bisa menghancurkannya tempatku!" Teriaknya mencoba menghentikan Rama.
Namun, itu semua sudah terlambat ketika Rama langsung melemparkan bola tersebut.
Bola yang dilemparkan oleh Rama tampak melesat dengan sangat cepat meninggalkan boneka lain yang terlihat hangus terbakar!
Arahnya lurus dan langsung menghantam boneka yang memiliki poin tertinggi!
Namun, terlihat sebuah pelindung yang langsung aktif melindungi boneka tersebut. Tampak bola berapi tersebut saling beradu kekuatan dengan pelindungnya.
"Tidak, tempat ini akan hancur!" Teriak bapak penjaga permainan.
Dan duarrrr!
Seketika meledak, membakar serta menghancurkan kios tempat permainan melempar bola.
Rama dengan santai mengambil boneka yang memiliki poin tertinggi. Terlihat bahwa, satu-satunya yang masih baik-baik saja adalah boneka itu.
"Aku menang kan, Paman?" Tanya Rama.
"Ya, Kamu memang!" Jawab Bapak penjaga permainan lempar bola.
_Bersambung.
__ADS_1