
Sudut pandang orang pertama, Rama.
"Red ardor fire strike!" Teriakku dengan jurusku.
Vanisha tampak tersenyum dan malah menyambut seranganku menggunakan tangan kirinya.
*Bommmmm!!!
Dengan sekuat tenaga Aku mencoba agar pukulan berapiku bisa mengenainya walau sedikit saja. Tapi, tenaga dan juga kekuatannya terlalu besar untuk ku gapai.
"Nampaknya sampai disini saja batas kekuatanmu." Ucapnya sambil tersenyum jahat ke arahku.
Dengan tangan kirinya, Ia lalu membuat tanganku membeku dan tentu saja Apiku langsung padam setelahnya tidak kuasa menahan dinginnya es.
"Apa?!?!" Ucapku seketika.
Dengan satu ayunan, Dia kemudian menghancurkan tanganku yang nampak sudah membeku.
*Krekkkksss!!!!
"Rama!!!" Teriak Isabella dan Renia ke arahku.
"Menyebalkan!!!" Teriakku dengan marah ke arah Vanisha.
Dengan tangan kiri, Aku kemudian menyerangnya menggunakan serangan apiku yang lain!
"Meski belum sempurna, tidak ada pilihan lain!" Ucapku dalam hati bersiap akan menyerangnya menggunakan jurusku yang lain.
"Sihir api : Maximum Red ardor fire strike!" Teriakku.
Dan bushhhhhhhh.
Seketika terciptalah ledakan api yang begitu dahsyat dan juga hebat yang secara langsung mementalkan segalanya termasuk Diriku.
Akibat seranganku sendiri, Aku terhempas dan kemudian membentur dinding bangunan dengan sangat keras.
Dalam keadaan setengah sadar aku berusaha sekuat tenaga untuk melihat keadaan Vanisha.
"Apakah .. Berhasil ..?" Ucapku.
Alangkah terkejutnya Diriku ketika melihat keadaan Vanisha yang masih baik-baik saja. Es nampak mulai mencair sebagaimana akibat dari panasnya apiku.
Dia kemudian bertepuk tangan, memujiku karena sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkannya.
"Aku sangat mengapresiasi usahamu, bocah."
"Belum pernah ada yang bisa menyentuhku sebelumnya, selain Dirimu saat ini." Ucapnya.
"Namun, itu semua belumlah cukup untuk bisa mengalahkanku!" Lanjut perkataanya dengan nada sombong.
"Wuahahahahahahaha!" Tawanya begitu jahat.
Saat akan bangkit dan kembali bertarung, Aku merasakan sebuah keanehan. Dimana ada sebuah suara yang memerintahkan Diriku untuk jangan memaksakan diri.
"Jangan memaksakan dirimu!" Ucap entah darimana suara tersebut.
__ADS_1
"Biarkan Aku yang melanjutkannya!" Lanjut ucap suara itu.
Entah bagaimana ceritanya, Aku kemudian jatuh. Terdengar dengan cukup jelas, Renia dan Isabella memanggil-manggil namaku. Namun, suara mereka menghilang seiring dengan kesadaranku yang juga ikut menghilang.
...****************...
Beralih sudut pandang orang pertama, Isabella.
"Gawat, Rama pingsan!" Ucapku dalam hati.
"Orang ini benar-benar sangat kuat dan juga berbahaya!" Lanjut perkataanku sambil melihat ke arahnya.
Namun, saat Aku melihat ke tempat dirinya berdiri tadi, Dia sudah tidak ada!
"Kemana, Dia?!" Ucapku dengan panik.
"Hai gadis manis."
Kaget bukan main, tiba-tiba Vanisha kini sudah berada tepat dibelakangku!
Kak Renia kemudian datang dan berniat menyerang Vanisha menggunakan tebasan pedang miliknya. Namun, saat akan mengenai leher Vanisha, tiba-tiba tercipta es yang lalu melindungi lehernya. Pedang milik Kak Renia seketika patah saat itu!
"Mustahil!" Ucap tidak percaya Kak Renia.
"Kau menggangguku saja!" Balas Vanisha yang lalu meninju wajah Kak Renia.
Kak Renia terpental dan menabrak sebuah kios penjual makanan, Dia terlihat tidak sadarkan Diri setelah itu!
"Kak Renia!!!" Sontak teriakku melihat kejadian tersebut.
Dia kemudian mencekik dan mengangkat ku ke atas menggunakan tangan kirinya.
"Darahmu sepertinya cocok untuk kujadikan air mandi, agar Diriku semakin awet muda!" Ucapnya tersenyum jahat sambil mencekik dan mengangkatku ke atas.
Dalam keadaan itu, Aku masih berusaha berbicara padanya bertanya mengenai tujuannya mendatangi kami.
"Apa sebenarnya .. tujuanmu, hah?! Teriakku bertanya padanya.
"Tujuan?" Tidak-tidak!"
"Aku sama sekali tidak memiliki tujuan khusus!" Balas.
"Namun sebenarnya Aku ingin menjadikan bocah itu sebagai bawahan ku, mengingat Dirinya memiliki potensi."
"Tapi sayang, Dia tidak bisa diajak bernegosiasi, yah." Ucapnya dengan nada kecewa.
"Haha, mana mungkin Rama setuju bergabung dan mau menjadi bawahanmu!" Teriakku mengejeknya.
Terlihat, Vanisha sedikit terprovokasi dengan perkataanku barusan dan terasa cekikkan tangannya semakin kuat!
"Sebaiknya sadarilah posisimu!"
"Nyawamu kini, berada ditanganku!" Ucapnya dengan nada sedikit kesal.
Dalam keadaan sedemikian rupa dan pasrah, Aku hanya bisa menengadah melihat ke atas langit dan mengingat-ingat kembali pertemuan pertamaku dengan Rama.
__ADS_1
"Andai, kita bisa menjalaninya lebih baik ya, Rama." Ucapku dalam hati sambil meneteskan air mata.
"Aku sangat bahagia, karena bisa bertemu denganmu ..."
"Kini, sepertinya kita semua akan bereuni di atas sana ... " Lanjut perkataanku dalam hati pasrah dengan keadaan.
Berpikir Diriku akan mati sekarang, tiba-tiba aku terjatuh kembali ke atas tanah.
Setelahnya, Aku bersusah payah untuk kembali bernafas mengingat sedari tadi dicekik oleh Vanisha.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyaku heran dengan apa yang terjadi.
Melihat ke bawah, terlihat tangan Vanisha yang kini sudah terpotong bersamaan dengan jatuhnya Diriku!
Bukan itu saja, Rama kini sedang berada tepat di belakangku!
"Rama?" Ucapku bertanya kepadanya.
Aku menyadari bahwa hawa kekuatannya kini berubah drastis. Matanya yang tadi berwarna biru, kini berubah menjadi merah!
"Tidak salah lagi, ini diri Rama yang waktu itu!" Ucapku dalam hati.
Ya, Rama yang saat ini adalah orang yang berbeda yang saat itu mengalahkan si kembar Ao dan Ai!
"Tampaknya, Kau belum puas yah, Vanisha." Kata Rama dengan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Mustahil, bagaimana caranya tanganmu bisa beregenerasi?!"
"Tidak, meskipun regenerasi bisa dipelajari .. Untuk orang seusiamu, bukankah itu merupakan hal yang mustahil!" Ucap panik Vanisha.
"Bagiku, tidak ada yang mustahil." Balas Rama sambil tersenyum jahat.
Dengan cepat, Rama langsung menghantamkan tendangan ke arah wajahnya Vanisha.
*Dashhhhhhh
Dia dengan seketika terhempas dan langsung menabrak bangunan yang terbuat dari besi.
"Cepat sekali ... " Ucap kagumku pada Rama.
Namun, serangan seperti itu tidak ada apa-apanya. Vanisha malah terlihat senang dan tangan yang tadi terpotong kini telah beregenerasi!
"Serangan seperti itu tentu tidak akan melukaimu, kan?" Tanya Rama memprovokasi.
"Ayolah, Kau salah satu dari the mighty fourteen, seharusnya Kamu lebih bisa menghiburku!" Lanjut perkataan Rama kembali memprovokasi.
"Cih, seharusnya Akulah yang mengatakan itu, bocah!" Balas Vanisha.
"Kalian begitu, Ayo buktikan siapa yang akan dipermainkan dan siapa yang akan terhibur!" Ucap Rama yang lalu mengambil kuda-kuda bersiap untuk menyerangnya.
"Dasar bocah kemarin sore! Aku akan memberikanmu pelajaran!" Balas Vanisha yang ikut mengambil kuda-kuda bersiap juga untuk bertarung.
Terasa dari keduanya mengeluarkan energi sihir yang begitu besar dan juga kuat!
Ya, Mereka akan bertarung secara habis-habisan setelah ini!
__ADS_1
_Bersambung.