
Sudut pandang orang pertama, Rama.
Suara burung-burung berkicau dengan riang di bawah langit pagi yang masih terbungkus embun. Semilir angin sejuk merayap pelan, membuat daun-daun pepohonan bergoyang dalam tarian yang seolah menyambut matahari yang baru terbit.
Aku kemudian melihat ke sekeliling, menyadari bahwa Anna dan Isabella tidak ada disini. Selain itu, sekilas Aku melihat sebuah gundukan tanah berada di samping tempat tidurnya Anna tadi.
"Kemana mereka berdua?"
Gumamku.
Tidak lama kemudian, tercium aroma wangi yang khas. Yang membuat hidung beserta lidahku seolah-olah menari karenanya.
"Wangi apa ini?"
Lanjut perkataanku dengan penuh penasaran.
Tiba-tiba, Anna berteriak menyuruh kami semua untuk segera bangun.
"Kakak-kakak semuanya, ayo segera bangun!"
"Anna membuat sarapan untuk kita semua!"
Ucapnya dengan antusias.
Aku kemudian bangun terlebih dahulu, dan melihat mereka berdua tampak begitu akur. Tanpa memperdulikan batas-batas seperti Ras ataupun status sosial, mereka bisa bekerja sama dan membuat hidangan yang tampak begitu lezat.
"Oh iya Anna."
"Kamu bisa masak ternyata."
Ucapku sambil mengelus kepalanya.
"Anna belajar dari Mama!"
"Mama adalah koki paling hebat!"
Jawabnya sambil tersenyum kepadaku.
"Tapi, Kak Isabella juga membantuku dalam memasak, Anna sangat berterimakasih kepadanya."
Lanjut perkataan Anna sambil melihat ke arah Isabella.
Terlihat, Isabella hanya bisa tersipu malu dan bereaksi dengan memeluk Anna.
"Kenapa kamu imut sekali, Anna!"
Ucap Isabella dengan nada gemas sambil memeluk Anna.
Singkat cerita, Kami semua bersiap menyantap masakan buatan Anna dan juga Isabella. Tentu saja, Aku yang paling bersemangat dan meminta tolong agar dilebihkan jatah makannya.
"Selamat makan!"
Ucap Kami semua dengan bersamaan.
"Enak!"
"Sup apa ini?! enak sekali!"
"Aku mau tambah!"
Ucapku, Nyx dan Renia.
Sambil makan, kami mendiskusikan tentang bagaimana cara mencari tanaman yang nantinya akan diolah menjadi berbagai obat herbal. Anna menjelaskan, bahwa tanaman itu berada di pedalaman hutan merah dan cukup sulit untuk ditemukan. Terlebih lagi, orang-orang kerap keliru dalam membedakan tanaman herbal dengan tanaman rambat lainnya, dikarenakan bentuknya yang hampir sama.
"Lalu, bagaimana cara kita bisa mengenali tanaman itu Anna?"
Tanyaku padanya.
"Onii-chan tidak perlu khawatir, Anna ada disini!"
Jawabnya dengan antusias.
Tiba-tiba, Anna tersedak karena Dia tidak mau diam saat makan.
"Uhu ... uhu ... uhu ... "
Anna batuk.
"Kalau makan, lebih baik jangan sambil berbicara ... "
"Atau setidaknya telan dulu ... "
Ucap Renia.
"Minumlah air ini, Anna!"
__ADS_1
Ucap Isabella sambil memberikannya minum.
"Anna sudah terbiasa dalam membedakan tanaman herbal dengan tanaman biasa!"
Ucap Anna segera setelah minum.
"Terlebih lagi ... kita punya kucing disini ... "
Lanjut perkataanya.
"Hah? kucing?"
"Apa maksudmu, Anna?"
Ucapku keheranan dan tanya Renia.
Kami berdua kemudian melirik ke arah Nyx yang sedang makan begitu lahap.
"Apa?"
"Kenapa kalian semua milirikku dengan tatapan aneh seperti itu?"
Ucap Nyx dengan makanan masih belum ditelan olehnya.
"Dia seperti orang yang belum makan dari kelas 3 SD saja ... "
"Tidak, lebih tepatnya Dia seperti anak kecil!"
Ucapku dan Renia berbalas kata.
Kami kemudian pergi ke hutan merah untuk mencari obat herbal tersebut.
"Yosh! Ayo semua! Kita cari yang banyak!"
Ucapku dengan nada semangat.
"Ya!"
Balas yang lain dengan bersemangat juga.
......................
Dalam memasuki hutan, Kami semua mengambil posisi. Aku dan Renia berada didepan, karena Kami berdua yang terkuat di antara semua anggota party kami. Sementara Anna berada dibelakang Kami untuk menjadi petunjuk arah jalan, Nyx berada tidak jauh dari Anna. Tugasnya adalah sebagai pengendus bau, bilamana ada musuh ataupun binatang liar yang akan menyerang, Nyx dapat segera memberitahu kami semua, dan setelahnya kami dapat segera melindungi Anna dari bahaya. Terakhir adalah Isabella, yang berada tepat diposisi belakang, mengingat kemampuan healing nya yang cukup hebat, Dia memiliki tugas menjadi support.
"Hutan ini begitu lebat!"
"Kamu benar, Rama."
Balas Renia membenarkan perkataanku.
"Tidak heran jika hutan ini dinamakan hutan merah."
"Selain zona teritorialnya yang cukup berbahaya, keadaan hutan ini berbeda dengan hutan lain."
Ucap Anna.
"Memangnya apa yang membedakan hutan ini dengan hutan lainnya, Anna?"
Ucapku bertanya kepadanya.
"Pepohonan dihutan ini terkenal karena cepat sekali tumbuh."
"Entah karena kondisi alam ataupun magis, tapi itu salah satu pembeda hutan ini dengan yang lain."
Balas Anna.
"Rasanya kondisi alam sedemikian rupa pun, tidak dapat membuat keanehan itu terjadi!"
Ucapku dalam hati dengan yakin.
"Itu dia!"
Teriak Anna sambil menunjuk sesuatu.
Dia kemudian berlari dan mengacaukan posisi Kami.
"Anna, tunggu!"
Teriakku berusaha untuk menghentikannya.
"Tanaman herbal!"
Lanjut teriak Anna.
Tiba-tiba, Anna berhenti berlari. Dia tampak terpaku diam memandang tepat ke arah yang ditunjuknya tadi.
__ADS_1
"Ada apa, Anna?"
Tanyaku penasaran kepadanya.
Memandang sama ke tempat Anna melihat, terdapat sebuah tengkorak manusia. Jasad itu sudah berubah menjadi kerangka tulang, namun masih memakai pakaian yang kemungkinan besar itu busana yang di pakainya terakhir kali.
Melihat Anna, Dia masih terpaku Diam. Tiba-tiba, Dia menjatuhkan dirinya dan setelah itu meneteskan air mata.
Sontak, tentu saja Aku khawatir dengan keadaan Anna. Dengan segera, Aku berlari dan memeluknya dengan erat.
"Ada apa, Anna?"
Ucapku sambil memeluknya.
"Mungkin, ini pertama kalinya Dia melihat seperti itu."
Ucap Renia.
"Memang, pemandangan seperti ini terlalu kejam bagi seorang gadis kecil."
Ucap Isabella menambahkan.
"Mama ... "
Ucap Anna sambil menangis.
"Mama?"
"Siapa?"
Ucap Renia keheranan dengan apa yang dikatakan oleh Anna.
Aku kemudian menyadari, bahwa yang dipanggilnya Mama tak lain dan tidak bukan adalah jasad yang kini sudah berubah menjadi tulang belulang itu.
"Anna ... "
Ucapku sambil melihat ekspresi wajah Anna yang begitu sedih.
Dia kemudian mencoba melepaskan diri dari pelukanku.
"Lepaskan Anna!"
"Anna mau menemui Mama!"
Ucap Anna berontak.
"Anna, tunggu!"
"Jangan kesana!"
Balasku sambil menahannya.
Tentu saja, Anna semakin memberontak agar segera bisa lepas dari pelukanku. Tiba-tiba, Dia menggigit tangan kananku dan segera berlari ke arah jasad tersebut.
"Aaaa!"
Ucapku kesakitan karena digigit oleh Anna.
Terlihat, Anna memeluk jasad Ibunya yang kini telah menjadi tulang belulang. Matanya yang tadi memancarkan cahaya kebahagiaan, kini redup oleh genangan air mata yang berjatuhan tanpa henti.
"Mama ... Mama ... "
Ucap Anna berharap agar Ibunya dapat kembali hidup.
Aku, Renia, Nyx dan Isabella hanya bisa berdiri melihat pemandangan tersebut. Dalam batinku, terasa sebuah gejolak emosi yang begitu kuat.
Kami berempat tidak bisa berkata-kata dengan apa yang terjadi saat ini.
Namun, Tiba-tiba Nyx berteriak dan memperingatkan kami untuk berhati-hati.
"Teman-teman! ada yang datang!"
Teriak Nyx.
Seekor serigala besar kemudian muncul dan mencoba untuk menerkam Anna. Dengan sigap, Aku meninjunya menggunakan pukulan berapiku.
Berpikir bahwa semuanya telah berakhir, Nyx kembali mengingatkan Kami.
"Tidak, masih belum!"
Ucapnya dengan nada khawatir.
Datanglah 3 serigala besar lainnya mengepung kami.
"Gawat, apa yang harus kulakukan?!"
__ADS_1
Ucapku dalam hati dengan panik.
_Bersambung.