
Dalam kegelapan malam berhembus angin yang dingin, Rama bersama yang lainnya tengah berhangat di sekitar api unggun. Sambil ditemani oleh secangkir teh, mereka semua tengah berdiskusi tentang misi yang sedang dijalankan.
Sambil memegangi dagunya Rama kemudian mengemukakan pendapat, "Menurutku, dengan menyerang tempat persembunyian mereka justru akan membuat situasi menjadi lebih kacau. Kita tidak tahu juga musuh, ditambah lagi ketidaktahuan kita tentang kondisi para korban."
Isabella menambahkan, "Benar apa yang dikatakan oleh Rama. Prioritas kita semua adalah korban penculikan, kita boleh gegabah dalam hal ini," imbuhnya.
Renia terlihat berpikir keras. Dia kemudian mencari alternatif lain, karena rencana yang diusulkan olehnya baru saja ditolak oleh Rama dan juga adiknya, Isabella.
Untuk Nyx sendiri, dia hanya bisa duduk diam dengan mulut yang menganga karena tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka bertiga.
Di lain sisi, April sedang tertidur pulas, senyum yang terpancar dari raut wajahnya menandakan bahwa dia sedang bermimpi basah, eh bermimpi indah. Tubuh kecilnya ditutupi oleh daun kering besar, yang bagi dirinya adalah selimut.
Kembali, Renia menemukan sebuah ide. Dia kemudian mengusulkannya, "Bagaimana jika kita menyamar?" ungkapnya.
"Menyamar? Kedengarannya cukup bagus," balas Rama menyetujui.
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Isabella kembali.
"Pertanyaan yang bagus. Pertama, kita akan …, " Renia menjelaskan rencananya.
...****************...
Keesokkan harinya.
Udara terasa begitu dingin, Embun pagi terlihat membasahi rerumputan, tanaman dan tentunya dedaunan pohon. Nyx, April dan yang lainnya nampak begitu pulas tertidur, mereka begitu nyaman dalam dekapan satu sama lain di dalam tenda.
Berjarak sekitar 20 meter dari tempat mereka berkemah, terlihat Rama yang begitu bersemangat berlatih pedang. Dia adalah orang yang selalu pertama bangun dibandingkan teman-temannya yang lain. Baginya, udara dingin bukanlah halangan untuknya agar bertambah kuat!
"Kurasa semua ini sudah cukup," ujar Rama yang kemudian memasukkan pedangnya ke dalam sarung.
Perlahan-lahan matahari mulai menunjukkan kehadirannya, cahayanya mulai menutupi hutan tempatnya berdiri. Rama tampak tersenyum, melihat ke arah matahari yang sedang terbit. "Indah sekali," ucap Rama.
__ADS_1
Di tengah rasa kagumnya melihat pemandangan tersebut, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak dari balik semak. Rama sadar akan hal itu, dan dia mulai bersiaga. "Siapa kau … tunjukkan jati dirimu!" tegas Rama.
Rama nampak memperhatikan semak itu, pandangannya sama sekali tidak beralih padanya. Penasaran, Rama lalu berjalan mendekati semak, perlahan tapi pasti dia akan dikejutkan oleh sesuatu.
Melihat ke balik semak, ternyata hanya ada seekor anak beruang yang terluka dan nampak linglung. "Hanya anak beruang," ucapnya lega kemudian membuang nafas.
Rama kemudian menurunkan tingkat kewaspadaannya kembali. Saat akan mendekat ke anak beruang tersebut, tiba-tiba seekor beruang besar menyerangnya dari gelapnya belantara hutan.
Kaget, Rama kemudian melompat menghindari serangan beruang tersebut. "Kau membuatku kaget!" celetuk Rama kesal.
Beruang itu nampak begitu marah, dia sedari tadi meraung ke arah Rama.
"Rawrrrrrrrrr."
Sadar ada sesuatu yang tidak beres, Rama mencoba untuk menenangkan beruang tersebut, "Cup-cup-cup, sini-sini."
Entah Rama yang terlalu bodoh atau tidak tahu, dia malah mencoba untuk menenangkan seekor beruang liar yang terkenal buas.
Ya, beruang itu bukanlah beruang biasa. Melainkan beruang berjenis besi yang terkenal dapat memanipulasi tubuhnya sekeras besi.
Rama kemudian melompat ke belakang guna mengatur strategi baru, dalam hatinya berujar, "Ini pertama kalinya aku berhadapan dengan beruang besi. Sepertinya akan seru, yah!" ujar Rama bersemangat.
Beruang itu kemudian berlari dengan sangat kencang dan menyerang Rama kembali menggunakan cakarnya. Ia yang sadar, kemudian mengeluarkan sihir tanah berupa perisai untuk menahan cakaran beruang tersebut.
"Bushhhhhhhh." Suara perisai tanah Rama hancur.
Meski hancur, tampak perisai miliknya masih utuh dan hanya meninggalkan lubang saja. Di saat terakhir, Rama kembali mengeraskan perisainya dan menjebak beruang tersebut.
Rama kemudian berjalan mendekati beruang yang nampak sudah tidak berdaya itu. Tiba-tiba, beruang kecil yang tadi ada di semak keluar dan berlari ke arah beruang yang lebih besar. "Beruang itu … ibunya?" ujar Rama sadar.
"Ya … sepertinya itu induknya," lanjut perkataanya.
__ADS_1
Rama lalu mengeluarkan sihir air berupa heal pada kedua beruang itu. Dia sadar bahwa keduanya tampak terluka entah karena apa.
Sesudahnya, Rama lalu membebaskan induk beruang tersebut dan membiarkan mereka berdua pergi. Namun sesaat sebelum pergi, induk beruang tampak menundukkan kepalanya sejenak seperti berterimakasih.
Rama kemudian kembali ke tempat teman-temannya berada, tampak Renia, Isabella, Nyx dan April sudah bangun dan tengah merapihkan tenda mereka.
"Kau darimana, Rama?" tanya Renia dengan tatapan tajam.
Rama kemudian beralasan, "Ya … aku … aku baru saja pergi untuk pipis, hehe."
Renia masih menatap Rama dengan tatapan tidak percaya. "Aku tadi merasakan sedikit aura mana, apa itu kamu?" tanyanya kembali.
Fokus Rama berlatih saat ini adalah untuk menyembunyikan energi mana yang dia miliki, dan juga mengeluarkan sedikit mungkin. Tapi tetap saja, Renia bisa merasakannya. "Y-Ya … aku menggunakannya untuk … untuk … hemm untuk mengusir nyamuk, ya nyamuk," ujarnya beralasan.
Renia yang tidak ingin berdebat kemudian mau tidak mau mempercayainya saja. "Yayaya … terserah," ujarnya sedikit kesal.
Rama hanya bisa tersenyum lega, karena Renia sepertinya tidak akan marah-marah lagi saat ini.
Di lain sisi, di dalam goa yang gelap dan pengap. Nampak para korban penculikan di perlakukan tidak manusiawi, mereka terlihat sedang disiksa dan satu persatu dari mereka kehilangan nyawanya karena tidak tahan dengan siksaan orang-orang kejam tersebut.
"Tolong … lepaskan aku … " ucap lirih seorang tawanan meminta dibebaskan.
"Hahahahahaha … dasar tidak tahu diri!" balas seorang pelaku.
Si pelaku kemudian menendang wajah tawanan itu, dan terlihat dia pingsan seketika.
Seorang wanita yang berstatus anak kepala desa terlihat tidak terima dan berteriak ke arahnya, "Dasar kejam!"
Sadar dirinya diteriaki, kemudian si pelaku membalas dengan menampar wajahnya. "Dasar tidak tahu diri! Setidaknya sadarilah posisimu!" teriaknya marah.
Belum puas, si pelaku kemudian menjambak rambut si wanita malang itu. Akibatnya Dia terlihat begitu kesakitan, sedikit demi sedikit air matanya menetes keluar. "Siapapun … tolong aku … " lirih suaranya meminta untuk diselamatkan.
__ADS_1
_Bersambung.