
Sudut pandang orang pertama, Rama :
"Kalau begitu, bagaimana cara kita untuk kembali, Renia?"
Tanyaku Padanya.
Renia kemudian menunjukkan sebuah peta dunia ini. Dia menjelaskan bagaimana cara kita semua untuk kembali ke istana Verdifield.
"Lihatlah!"
Ucap Renia sambil menunjukkan peta Dunia.
"Lokasi kita saat ini adalah disini, benua Ignis."
Lanjut perkataan Renia sambil menunjuk ke arah Benua yang dimaksud.
"Kita berada di kota Flameforg, bergerak ke arah utara, kita akan munuju kota Blazehaven dan selanjutnya kita harus berada di kota utama benua ini, yakni Inferno citandel."
Lanjut penjelasannya.
"Namun, untuk kesana kita harus memiliki uang. Apa Kau tahu caranya mencari uang, Rama?"
Tanya Renia padaku.
"Bagaimana jika kita membentuk party saja?"
Balasku pada Renia.
"Aku juga sempat berpikiran kesana. Namun, untuk membentuk sebuah party kita masih kekurangan orang."
Balas Renia atas saranku.
"Untuk membentuk sebuah party, kita harus memiliki anggota setidaknya tiga orang. Setelah itu, akan ada sebuah tes untuk mengukur kekuatan serta kelayakan party kita."
Lanjut penjelasan Renia.
"Bagaimana jika kita mengajak Isabella?"
Tanyaku pada Renia.
"Itu mungkin saja. Namun, kita belum meluruskan kesalahpahaman diantara kita semua."
Balas Renia.
"Kau benar … " Gumamku.
Singkat cerita aku bersama Renia keluar penginapan, kami memutuskan untuk mencari angin di malam hari sambil berdiskusi tentang langkah apa yang akan diambil nantinya.
Saat berjalan ke sebuah gang sempit, terlihat seorang kakek-kakek yang sedang mengemis. Karena kasihan, Aku memutuskan untuk memberinya sejumlah uang.
"Terimakasih, Anak muda."
Ucap kakek pengemis tersebut.
"Tidak usah berterima kasih, Kakek."
"Ini memang sudah kewajiban kami."
Balasku pada Kakek pengemis tersebut.
"Dari pakaian kalian, sepertinya kalian adalah petualang, kan?"
Tanya Kakek tersebut pada Kami.
"Maaf, Kek."
"Sebenarnya kami berdua masih kekurangan orang untuk membentuk sebuah party."
Jawab Renia.
"Apa maksudmu, bukankah kalian sudah bertiga, yah?"
Balas Kakek tersebut.
Mendengar ucapan Kakek tersebut, lantas membuat Kami berdua bingung bukan main. Karena seperti yang dilihat, saat ini anggota party kita kekurangan satu orang dan hanya terdiri dari Aku dan Renia saja.
"Jadi teringat masa-masa dulu … "
"Saat Kakek masih menjadi seorang petualang."
"Saat itu, masih dalam keadaan perang melawan Raja Iblis Caligor. Dimana, semua petualang sangatlah dibutuhkan tentunya dalam setiap misi."
Lanjut perkataan Kakek tersebut.
Renia kaget, karena bisa bertemu dengan seorang veteran petualang yang sudah pensiun. Namun, dalam hatiku bertanya mengapa Dia kini hidup sebagai pengemis.
"Aaaa!!!"
"Jadi Kakek mantan petualang, bersama melawan Raja Iblis Caligor di masa lalu?"
Tanya Renia dengan antusias.
__ADS_1
"Tentu saja."
Jawab Kakek tersebut sambil tersenyum.
"Maaf menyela, mengapa Kakek sekarang menjadi seorang pengemis."
Ucap tanyaku.
"Oiii, Rama !!!"
"Dasar tidak sopan, mengapa Dirimu menanyakan hal itu?!"
Ucap kesal Renia terus memukulku.
"Maaf … maaf … "
Ucapku setelah dipukul olehnya.
"Tidak apa-apa."
Ucap Kakek tersebut sembari menengahi Kami.
"Lihatlah … "
Ucap Kakek tersebut sembari membuka jubahnya.
Kami berdua pun kaget ketika melihat badannya yang sudah rusak parah. Terlihat kedua Kaki beserta 1 tangannya sudah mulai membusuk, disusul dengan mata kirinya yang terlihat sudah memutih, bukan itu saja, badan si Kakek terlihat menghitam karena suatu alasan.
"Mustahil … "
"Sampai segitunya … "
Ucap kaget kami berdua.
"Inilah resiko yang harus Kami para petualang terdahulu ambil, ketika melawan Raja Iblis Caligor."
"Dia sangatlah kuat, lebih kuat dari perkiraan Kami."
"Kakek sebenarnya sangat beruntung karena masih bisa menghirup udara bebas di masa kini."
Ucapnya sambil tersenyum.
"Namun, tidak dengan teman satu party Kakek yang harus gugur."
Lanjut perkataannya sambil menengadah ke atas.
"Kenapa Kakek tidak membicarakan hal ini kepada pihak kerajaan?!"
"Setidaknya, agar kehidupan Kakek tidaklah semenyedihkan ini?!"
Lanjut perkataanku.
"Rama, kenapa Kau berteriak padanya?!"
Ucap Renia menyela perkataanku.
"Tidak apa-apa, Kakek paham perasaannya."
Ucap Kakek menenangkan Renia sambil tersenyum.
"Kakek sudah melakukannya, sejak dari dulu. Namun sekarang, Kakek sudah menyerah."
"Kerajaan ini seolah lupa dengan keringat, darah serta perjuangan Kakek di masa lalu."
"Kakek seolah-olah dilupakan oleh sejarah dan digantikan oleh Petualang baru yang lebih kuat."
"Bukan itu saja, masih banyak veteran petualang yang nasibnya sama seperti Kakek."
"Namun, tujuan Kami sebenarnya bukanlah ingin diakui."
"Yang kami inginkan hanyalah … "
"Kalian anak muda bisa merasakan kebebasan."
Ucap Kakek sambil tersenyum tulus.
"Meskipun tujuan Kakek begitu, bukan berarti Kakek harus menjadi seorang pengemis!"
"Kakek setidaknya layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi!"
Ucap kesalku entah kepada siapa.
"Hahaha, sudahlah jangan diperpanjang lagi."
Ucap Kakek tersebut sambil tertawa.
Aku hanya bisa diam, memikirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini. Rasanya begitu sesak ketika melihat orang yang berjuang kini terbuang.
"Rama?"
Bisik Renia memanggilku.
__ADS_1
"Apa, Renia?"
Balasku.
"Kurasa … Verdifield juga … Sama seperti ini … " Lanjut bisik Renia padaku.
"Begitu, yah …. "
Balasku dan tidak bisa berkata apapun lagi.
"Oh iya, Anak muda!"
Ucap Kakek memanggilku.
"Iyaa … ?"
Sahutku pada Kakek.
"Kakek bisa merasakan aura negatif yang begitu kuat di dalam dirimu!"
"Berhati-hatilah dalam menggunakannya!"
Balas perkataanya mengingatkanku.
Aku hanya bisa diam ketika Kakek tersebut kembali mengatakan hal aneh. Pertama, Kami sudah beranggotakan tiga orang. Kedua, Dia bilang tidak apa-apa jika hidupnya demikian. Dan sekarang, Dia mengatakan bahwa Aku memiliki aura negatif yang padahal sedari tadi menonaktifkan kekuatanku.
Memang benar bahwa keahlianku adalah mengubah emosi negatif menjadi energi Mana. Namun, bukankah saat menonaktifkannya atau saat diriku tenang, energi Manaku tidak akan keluar, kan?
Singkat cerita Aku bersama Renia sudah kembali ke penginapan.
"Aaaa!!!"
"Aku bingung!"
Teriak kesalku.
"Tidak ada gunanya berteriak seperti itu."
Ucap Renia kepadaku.
"Lebih baik, Kau pikirkan bagaimana cara kita keluar dari situasi ini!"
Ucap perintah Renia padaku.
"Ya, itulah yang kupikirkan dari tadi!"
Balasku pada Renia.
"Sepertinya, satu-satunya cara adalah dengan mengajak Isabella."
Ucap Renia sambil memegang dagunya.
"Bagaimana lagi, karena kita tidak memiliki kenalan siapapun disini."
Lanjut perkataanya.
"Baiklah, Aku akan pergi mencarinya!"
Ucapku sambil beranjak dari tempat tidur.
"Tunggu …! Hari sudah larut, sebaiknya kita istirahat terlebih dahulu."
Ucap Renia padaku.
"Tapi, bagaimana jika jejak Isabella menghilang?"
Tanyaku.
"Tenang saja, Dia tidak bisa melakukan itu!"
Ucap Renia dengan yakin.
Karena hari yang sudah larut ditambah kakiku terasa pegal, aku kemudian menuruti sarannya.
Dan aku juga menanyakan alasannya, mengapa menyewa satu kamar dan bukannya dua.
"Oh iya, Renia. Kenapa Kau menyewa satu kamar untuk kita isi berdua?"
Tanyaku padanya.
Setelahnya, wajah Renia terlihat memerah. Dengan nada kesal, Dia berkata serta melemparkan bantal kepadaku.
"Da-dasar Anak Goa … Uang kita tidaklah cukup,tau!"
"Dan satu lagi, jangan berpikiran aneh-aneh!"
Teriaknya sambil melemparkan bantal ke wajahku.
"Aduuhh!!!"
Ucapku terkena lemparan bantalnya.
__ADS_1
_Bersambung