
Sudut pandang orang pertama, Rama.
"Dimana … Aku?"
Gumamku setelah bangun dari pingsan.
Ditengah rasa bingung, tiba-tiba terdengar suara merdu orang bernyanyi.
Karena rasa penasaran, Aku kemudian beranjak dan pergi menuju suara nyanyian tersebut.
Suaranya begitu merdu dan juga memikat, alunan lirik bahasa yang tidak ku pahami, namun terdengar sangatlah lembut di telingaku.
"Tidak salah lagi!"
"Suara ini berasal dari wanita!"
Gumamku dengan yakin.
Diluar, terlihat Nyx yang sedang duduk bersandar pada sebuah pohon. Dia tampak bernyanyi dan menghayati lagunya tersebut. Cahaya malam bulan tampak seolah-olah menjadi lampu sorot bagi Dirinya.
"Nyx … Kau … "
Gumamku.
Saat akan mendekatinya, tiba-tiba Renia dan Isabella berteriak memanggil namaku.
"Rama, awas!"
"Berhenti, Rama!"
Aku kemudian sadar, dan mendapati Diriku sedang berada ditepi jurang.
Kaget karenanya, Aku dengan segera menjauhi tepi jurang tersebut.
"Ada apa dengan Diriku?"
Ucapku dalam hati.
Renia dan Isabella kemudian datang.
"Kau tidak apa-apa, Rama?"
"Apa yang terjadi?"
Ucap tanya mereka berdua.
Mereka bercerita bahwa Diriku tidak ada di tempat tidur. Karena khawatir, mereka kemudian mencari Diriku, disetiap penjuru reruntuhan istana Volcanofall.
Karena tidak menemukan keberadaanku, mereka memperluas area pencarian di sekitar reruntuhan istana. Dan akhirnya, mereka menemukan Diriku disini.
"Jadi itu yang terjadi."
__ADS_1
Gumamku.
"Kenapa Kau bisa ada disini, Rama?"
Lanjut tanya Isabella.
"Aku juga tidak mengerti."
"Saat terbangun dari pingsan, Aku mendengar suara wanita yang sedang bernyanyi. Ketika Aku menelusurinya, ternyata Nyxlah orangnya."
Jawabku menjelaskan.
"Apa maksudmu, Rama?"
"Nyx sedari tadi bersama Lisa!"
Ucap Renia.
"Hah, Aku tadi melihatnya di san … "
Ucapku sambil menunjuk pohon, tempat Nyx bersandar. Namun, Dia tidak ada disana!
"Ini sungguh tidak logis!"
"Aku tadi melihatnya, disana!"
Lanjut perkataan Ku.
Kata Renia.
"Tidak mungkin … "
"Mana mungkin aku berjalan sejauh itu dalam keadaan setengah sadar!"
Balas tegasku kepada Renia.
"Tapi, hanya itu saja yang dapat kita simpulkan."
"Selebihnya, kita abaikan terlebih dahulu"
"Mengingat, kondisimu terluka parah."
Lanjut perkataan Renia.
"Baiklah."
Balasku sambil kembali melihat pohon tempat Nyx bersandar tadi.
Kami kemudian masuk kembali ke reruntuhan istana Volcanofall. Terlihat, kondisi bangunan disini begitu memprihatinkan. Baik dinding maupun lantai mengalami retak yang cukup besar dan juga dalam, tangga menuju lantai kedua dan seterusnya hampir roboh, atap bangunan dipenuhi oleh sarang laba-laba. Sekilas, terlihat satu dua tiga kerangka manusia yang tergeletak begitu saja.
"Kemungkinan, mereka korban jiwa dari tragedi pengepungan yang dilakukan oleh kerajaan Turifnes."
__ADS_1
Ucap Renia.
"Lantas, kenapa tidak ada yang menguburkan mereka secara layak?"
Tanyaku padanya.
"Entahlah, Aku tidak tahu pasti alasannya."
"Namun, jika dipikir secara logika mungkin, butuh biaya yang cukup besar untuk membawa mereka dari sini."
Jawab Renia.
"Jika para keluarga ingin mengubur para jenazah disini, mereka tetap harus mengeluarkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Mengingat, jarak istana Volcanofall dengan Ibu kota terdekat saja lumayan jauh."
Lanjut perkataan Renia padaku.
"Begitu yah … "
Ucapku dengan raut wajah murung.
Tiba-tiba, Nyx datang bersama dengan Lisa. Mereka ternyata pergi berburu, namun tidak mendapatkan hasil.
"Susah juga, hehe."
Kata Nyx sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Padahal, Aku berburu bersama dengan Ras setengah binatang. Namun, sulit mendapatkan hasil."
Ucap Lisa.
"Tidak, yang lebih penting dari itu adalah Apa Kau mengikuti Kami?"
Ucap tanyaku pada Lisa.
"Ketahuan, kah? Hehe"
Ucap Lisa.
"Kalian mengingatkanku pada teman satu partyku dulu."
"Namun, Dia entah dimana sekarang."
Ucapnya dengan raut wajah sedih.
"Hah? Siapa yang Dia maksud?"
"Elyzia atau Ryugawa?"
"Apa jangan-jangan … Fifi?"
Ucapku dalam hati.
__ADS_1
_Bersambung.