Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Apa Yang Sebenarnya Terjadi Pada Diri Rama?!


__ADS_3

Sudut pandang orang pertama, Putri Isabella.


Rama kemudian turun kembali ke bawah, dan melihat keadaan sekitar hutan, yang tampak kini sudah terbakar.


Aku yang melihatnya tentu merasa senang, karena ini tentunya tanda kemenangan bagi Kami.


"Hore, kita menang!"


Ucapku.


Namun, kesenanganku tidak bertahan lama. Ai datang dan kesal karena kembarannya Ao kalah oleh Rama.


"Dimana adikku, bocah?!"


Tanya Ai pada Rama dengan nada kesal.


"Tidakkah Kau melihat?"


"Dia sudah menjadi abu!"


Tegas Rama sambil tersenyum.


"Akan kuhabisi Kau!!!"


Teriak Ai yang seketika menyerang Rama.


Dia terlihat bersusah payah menyerang Rama dengan sekuat tenaga, melancarkan pukulan secara bertubi-tubi padanya. Namun, Rama dengan gesit bisa menghindarinya dan malah membalasnya dengan menendang perut Ai.


Ai seketika berlutut kesakitan, akibat tendangan yang dilancarkan oleh Rama tersebut.


"Ayolah, Ku kira Kau dapat menghiburku."


Ucap Rama sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Ayo, serang Aku kembali!"


Lanjut perkataan Rama sambil tersenyum dan mengejek Ai.


"Jangan remehkan Aku, bocah!!!"


Teriak Ai menyerang Rama menggunakan pukulan.


Ai menyerang Rama menggunakan serangan fisik, baik pukulan maupun tendangan. Namun, tidak ada satupun serangan Ai yang mengenainya. Padahal, yang dilakukan oleh Rama hanya menghindar dan tidak membalasnya sama sekali.


Kesal dengan apa yang terjadi, Ai kemudian mengeluarkan pedangnya kembali.


"Sihir kegelapan : Pedang bayangan!"


Ucap Ai dengan jurusnya.


Dia kemudian menebaskan pedangnya ke arah leher Rama, Aku yang melihat kejadian tersebut, reflek berteriak.


"Rama, awas!!!"


Teriakku.


Saat pedang tersebut mengenai leher Rama, terlihat tidak terjadi apapun. Malah, pedang bayangan tersebut seperti tidak bisa menggores kulit Rama sedikitpun.


Ai tampak bingung dengan apa yang terjadi, Dia terlihat membeku dalam kebingungannya sendiri.


"Wahhhh"


Ucap Rama menguap.


"Kau membosankan, yah!"


Lanjut perkataan Rama.


Dengan cepat, Rama melancarkan tendangan berputar ke arah perut Ai. Akibatnya, Dia terhempas jauh dan menabrak beberapa pohon.


Rama kemudian berjalan perlahan, mendekati Ai yang terlihat muntah-muntah darah.


"Kau mengecewakanku … "


"Padahal Dirimu adalah salah satu dari 14 orang yang terkuat, kan?"


Tanya Rama dengan nada kecewa.


Ai terlihat terus muntah-muntah darahnya sendiri, dan tidak memiliki kesempatan untuk menjawab pertanyaan dari Rama.


"Hoek … Hoek … "


(Ai muntah-muntah darah)


Rama kemudian tersenyum dan tertawa dengan pemandangan yang terjadi. Dia terlihat sangat senang dengan keadaan lawannya yang tersiksa saat ini.


"Hahahahahahaha!"


Rama tertawa.


"Aku tarik perkataanku kembali!"

__ADS_1


Teriak Rama.


"Ternyata Dirimu sangat menghiburku!"


"Sebagai rasa terimakasih, akan ku beri kematian yang menyakitkan untukmu!"


Lanjut perkataan Rama setelah berhenti tertawa.


Rama kemudian membakar Ai tepat setelah itu, Dia terlihat begitu kesakitan dengan apa yang dilakukan oleh Rama.


"Hahahahahahahahahahah!"


Tertawa Rama sambil membakar Ai.


Aku yang melihat pemandangan tersebut, tidak bisa berkata apa-apa. Dan hanya diam menyaksikan perbuatan keji yang Rama lakukan.


Dirinya yang saat ini seperti bukan Rama yang kukenal. Mulai dari energi Mana, sifat bahkan perbuatannya yang sekarang tidak mencerminkan kepribadian Rama sama sekali.


"Rama, berhenti!"


Teriakku memintanya untuk menghentikan perbuatannya.


"Berisik!"


Jawab Rama yang seketika melepaskan bola apinya ke arahku.


Aku hanya bisa diam, menyaksikan bola api milik Rama kian mendekat ke arahku. Dengan cepat, Kak Renia datang dan membuat tembok air untuk melindungiku.


"Kak-kak Renia?"


Ucap reaksiku dengan kehadirannya.


"Rama, apa yang sebenarnya yang terjadi padamu?!"


Teriak Kak Renia bertanya kepada Rama.


Rama tidak membalikkan badannya sama sekali ke arah Kami dan terus membakar Ai.


"Panas!!!"


"Tolong hentikan!!!"


"Aku mohon!!!"


Ucap Ai kesakitan dibakar oleh Rama.


"Saat ada yang berbicara padamu, lihatlah mata mereka!"


Dengan tenang, Rama membuat sihir perisai menggunakan elemen air.


"Apa yang terjadi, bukankah air lemah terhadap petir?!?!"


Ucap Renia keheranan.


Rama kemudian membalikkan badannya, dan melihat ke arah Kami. Dia tampak tidak berekspresi sama sekali, dan matanya menatap dengan tatapan kosong.


"Rama, apa itu Kamu?"


Nyx bertanya.


Rama kemudian menyerang Kami menggunakan sihir apinya kembali. Renia dan Diriku seketika membuat sihir perisai dengan air.


"Sihir gabungan : Perisai air!"


Teriakku dan Kak Renia.


Perisai air yang kami buat tampak bisa menahan apinya, namun langsung membuat sebuah uap yang sangat panas dan besar.


Tiba-tiba, Rama kini berada di belakang kami semua dan meninju wajah Nyx seketika itu.


"Nyx!"


Teriak Kak Renia.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, bodoh!"


"Kenapa Kau melukai temanmu sendiri?!"


Lanjut perkataan Kak Renia dengan nada kesal.


Seolah tidak mendengar perkataan Kak Renia, Rama mencoba menyerangnya menggunakan tendangan.


"Tendangannya … kuat sekali!"


Ucap Kak Renia.


Aku kemudian berniat membantu, dengan mengikat Rama menggunakan sihir air. Namun, Rama dengan cepat bisa berpindah tempat dengan sangat cepat.


"Apa itu …?"


"Teleportasi …?"

__ADS_1


Ucapku dan Kak Renia.


Dia terlihat berganti posisi dengan sebuah pecahan kayu yang berada di belakang Kak Renia.


"Apa yang barusan terjadi?"


"Bukankah Rama barusan ada didepan, kenapa Dia kini berada dibelakangku?!"


Ucap Kak Renia keheranan.


"Bukan, Dia berganti posisi dengan kayu itu, Kak."


Ucapku sambil melihat pecahan kayu tersebut.


"Nostalgia, yah!"


Ucap Rama.


"Apa maksud perkataanmu?"


Tanya Kak Renia.


"Tidak, kalian berdua sama sekali takkan mengerti."


Jawab Rama.


"Sebenarnya, Aku saat ini tidak memiliki urusan dengan kalian berdua."


"Setidaknya untuk saat ini!"


Lanjut perkataan Rama.


Dia kemudian datang menyerang. Namun, Kak Renia bisa menahannya.


"Isabella, sekarang!"


Teriak Kak Renia ke padaku.


Aku yang mengerti dengan perkataannya kemudian menggunakan sihir air kembali, untuk menjeratnya dengan itu. Tapi, Rama berhasil menghindar dan kembali bertarung tangan kosong dengan Kak Renia.


Tampak, pertarungan fisik diantara mereka begitu cepat dan seimbang. Mereka saling jual beli serangan, baik pukulan maupun tendangan.


...****************...


Beralih sudut pandang orang pertama, Putri Renia.


"Gawat, keadaanku sangatlah tidak diuntungkan jika pertarungan ini berjalan lama!"


Ucapku dalam hati.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Rama!"


Lanjut perkataanku dalam hati.


Rama kemudian mendaratkan tendangannya padaku. Walaupun berhasil kutahan, namun karena keadaan fisikku yang telah lelah, aku terhempas karenanya.


Aku kemudian teringat, bahwa membawa bunga mawar hitam dan berencana untuk memakan satu kelopaknya, guna memulihkan energi Mana dan tenagaku.


Saat mencarinya di kantong yang kubawa, Aku sama sekali tidak menemukannya.


"Dimana … Bunga Mawar hitam itu?!"


Ucapku dengan nada panik.


"Mencari ini?"


Tanya Rama dengan tiba-tiba.


Kulihat, Rama memegang bunga mawar hitam yang ku maksud. Namun, kini hanya tersisa tangkainya saja.


"Apa yang sebenarnya sudah Kau lakukan?!"


Teriakku bertanya padanya.


Dia malah tertawa ketika ku tanya demikian.


"Hahahahahaha"


"Kau sama sekali tidak akan mengerti!"


Ucap Rama.


Dia kemudian mengangkat tangannya dan membuat sebuah bola api yang begitu besar.


"Kau akan tamat, Renia."


Lanjut perkataan Rama.


Aku hanya bisa diam pasrah, melihat Rama yang akan segera menghabisiku. Namun, dengan tiba-tiba Isabella datang dan memeluk Rama dari belakang.


"Sudah cukup!"

__ADS_1


Ucapnya sambil memeluk Rama.


__ADS_2