Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Ujian Tahap Kedua Penerimaan Party


__ADS_3

Sudut pandang orang pertama, Rama.


"Arrgggg!"


Teriakku bertubi-tubi menyerangnya.


Tebasan demi tebasan sudah ku lancarkan padanya. Namun, tidak satupun seranganku berhasil mengenainya.


Dalam satu momen, Aku memperkuat kembali pedangku dengan energi Mana yang kumiliki. Aura yang menyelimuti pedangku seketika semakin besar, tanpa menunggu lama, Aku kemudian menyerangnya dengan tebasan dari bawah ke atas. 


Boom! Seketika pedang Lisa terlepas dari genggaman tangannya. Melihat kesempatan emas, Aku langsung menusukkan pedangku berniat mengincar perutnya.


Namun, sebelum pedangku menggores perutnya, tiba-tiba bilahnya langsung pecah menyisakan gagangnya saja.


"Apa?"


Ucap kagetku.


Lisa dengan seketika tersenyum, dan langsung mendaratkan tendangan ke arah wajahku. Akibatnya, Aku terhempas cukup jauh.


Aku kemudian berdiri setengah lutut, Menatap ke arah pedangku yang sekarang nampak bilahnya sudah hancur dan hanya menyisakan gagangnya saja.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Ucapku dalam hati sambil melihat pedangku.


"Rama!"


Teriak Renia.


Melihat kebelakang, nampak Dia sungguh marah terhadap apa yang sudah kulakukan.


"Sudah kubilang untuk menggunakannya secara hati-hati!"


Teriaknya dengan ekspresi marah dan juga kesal.


"Maafkan aku."


Balasku dengan tersenyum sambil menggaruk kepala.


"Pokoknya, Kau harus menggantinya!"


Teriak Renia kembali.


"Ya, aku berjanji!"


Balasku sambil membuat gestur kelingking padanya.


Ditengah pembicaraanku dengan Renia. Tiba-tiba, Lisa memotong dan mengatakan.


"Kalian sungguh serasi … "


Ucapnya sambil tersenyum.


Mendengar hal tersebut darinya tentu membuatku bingung.


"Hah?"


Reaksiku.


"Kalian sungguh serasi, layaknya party yang ideal."


"Pertahankan itu!"


Tegasnya kembali sambil tersenyum.


"Aku sungguh tidak mengerti dengan perkataanmu"


Ucapku bingung dengan perkataan Lisa.


"Intinya … Jika Kau memang ingin menjadi seorang petualang, maka menangkan lah pertarungan ini dengan segera!"


Ucapnya dengan tegas sambil membuat kuda-kuda.


"Itulah yang ingin kulakukan!"


Balasku dengan tegas sambil membuat kuda-kuda juga.


Kami berdua kemudian melesat, menyerang satu sama lain. Dengan kaki kiriku, Aku melayangkan serangan lutut padanya. Namun, Lisa dengan mudah bisa menangkisnya menggunakan kedua tangannya.


Tak hilang akal, aku kemudian melayangkan tendangan kakiku yang satunya. Dengan cepat, Dia bisa menghindar dan mundur kebelakang.


Saat mendarat kembali ke atas tanah, aku dengan cepat berlari ke arahnya. Kedua tanganku sudah dialiri energi Mana yang begitu besar, dan bersiap untuk melayangkan tinjuan ke arahnya secara bertubi-tubi.


Lisa dengan mudah bisa menghindari tinjuanku tersebut.


"Apa hanya ini, Rama?!"


Ucapnya meledek diriku sambil menghindari seranganku.


Terprovokasi dengan ucapannya, Aku kemudian melayangkan serangan pukulan yang sangat kuat kepadanya. Namun, Lisa mengambil kesempatan dengan segera menangkap tangan kananku tersebut dan dengan segera menguncinya.


"Gawat!"


Ucap panikku dalam hati.


Lisa berniat mengunciku dengan cara mencekik sekaligus menahan tangan kananku dari belakang. Namun, sebelum itu semua terjadi, dengan segera kilatan petir muncul dan menyambar tubuh kami berdua.


"Argggg!"


Teriak kami berdua kesakitan.

__ADS_1


Lisa dengan cepat mundur ke belakang, meninggalkan diriku yang jatuh lemas serta gosong akibat kilatan petir.


"Maaf, Rama."


Ucap Renia.


"Kenapa Diriku harus kena juga!"


Ucap protesku.


"Banyak bicara!"


"Jika Aku tidak melakukan itu, Kau pasti akan menyerah karena dikunci leher sekaligus tangan olehnya!"


Balas Renia dengan berteriak padaku.


"Bukankah Kau bisa mengukur petirmu, untuk tidak terlalu kuat?!"


Balasku padanya sambil berteriak juga.


"Ya, Aku memang bisa!"


"Tapi, bagaimana jika Dia dapat menahannya dan terus mengunci dirimu?!"


"Lebih baik begini, daripada mengambil resiko, kan?!"


Balasnya kepadaku.


"Lagian, Aku juga sedikit kesal padamu akibat menghancurkan pedang kesayanganku!"


Lanjut perkataanya.


"Hah, pedang buruk seperti itu masih Kau bahas?!"


Balasku mengejek Renia.


"Coba Kau katakan sekali lagi, Rama?!"


Tanya Renia dengan raut wajah yang begitu kesal.


"Harus ku ejah? Baiklah."


"Pe-dang bu-ruk!"


Jawabku.


Mendengar jawabanku tersebut, raut wajah Renia tampak begitu kesal. Terlihat Dia mendekatiku dan bersiap untuk memukul. 


"Tu-tunggu, A-aku minta maaf."


Ucapku memohon padanya.


"Aaaa~" Tangisnya.


Dalam hatiku bertanya-tanya, mengapa Dia tiba-tiba saja bisa menangis.


Lisa kemudian datang mendekati kami, Dia dengan segera memeluk dan menenangkan Renia.


"Kau membuat seorang gadis menangis, menjijikkan!"


Ucap Lisa dengan ekspresi jijik melihatku sambil membawa Renia pergi.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Rama?"


Tanya Nyx yang tiba-tiba muncul dari belakangku.


Sontak hal tersebut membuatku kesal karena Nyx baru saja terlihat.


"Kau kemana saja, kampret?!"


Teriakku dengan keras serta berekspresi kesal.


Singkat cerita, Aku bersama Nyx kini berada di luar gedung serikat. 


"Kita akan kemana, Rama?"


Tanya Nyx.


"Aku mau kembali ke penginapan dan membersihkan badan."


"Kau tunggu lah disini, menunggu Renia!"


Ucapku yang masih kesal kepada Nyx.


"Oke!"


Teriak Nyx sambil hormat.


"Anak ini!"


Ucapku dalam hati dengan nada kesal.


Aku kemudian berjalan menuju penginapan, untuk membersihkan diri dan juga menyembuhkan luka-lukaku.


...****************...


Beralih sudut pandang orang pertama, Lisa.


"Pedangku, rusak~"


Ucap Renia sambil menangis.

__ADS_1


"Kenapa kamu begitu menyayangi pedang itu?"


"Hadiah dari seseorang, yah?"


Tanyaku sambil memberikan teh padanya.


"Ya."


Balasnya sambil menerima teh buatanku.


Saat ini, Kami sedang berada di salah satu ruangan gedung serikat, yang lain tidak bukan merupakan tempat kerjaku mengurus dokumen-dokumen.


"Cowok?!"


Tanya dengan penasaran.


"Bukan!"


Balasnya dengan seketika sambil malu-malu.


"Pedangku itu … pemberian Ibuku."


"Dia memberikannya, sesaat sebelum di eksekusi mati … "


Ucapnya yang langsung membuat diriku kaget.


...****************...


Beralih sudut pandang orang pertama, Rama.


"Aw, sakit … "


Ucapku sambil memegangi kakiku.


Kemudian, Aku merapalkan sihir heal. Luka-luka nampak begitu banyak, akibat menjadi samsak Lisa saat ujian tahap kedua tadi.


Namun, pikiranku justru terus mengingat Renia.


"Mengapa tadi Dia menangis, yah?"


Gumamku memikirkannya.


"Renia pernah mengatakan : bahwa pedangnya itu merupakan pemberian seseorang. Namun, Dia tidak mengatakan dari siapa."


Ucapku mengingat perkataan Renia.


"Jangan-jangan … Pedangnya itu pemberian tunangannya?!"


Gumamku yang seketika panik membayangkannya.


"Tidak tidak … siapa juga yang mau menikahi gadis galak seperti itu … Hahaha."


Ucapku yang kemudian tertawa keras.


"Siapa gadis galak … dan siapa yang tidak mau menikah siapa?"


Tanya Renia dengan tiba-tiba.


Kaget karena kehadirannya, aku kemudian beralasan secara asal.


"Anu … itu … hem …"


"Ya! Anjingku, anjingku terlalu galak, jadi tidak mau ada yang mendekatinya, hehe."


Jawabku sambil menggaruk-garuk kepala.


"Ini … "


Ucap Renia sambil menunjukkan secarik kertas.


"Apa ini?"


Balasku sambil menerima kertas tersebut.


"Bacalah sendiri!"


Reaksi Renia sambil pergi dariku.


"Anak ini!"


Ucapku dalam hati sambil melihatnya pergi.


Aku kemudian membaca secarik kertas tersebut. Itu merupakan kertas resmi yang diberikan oleh serikat, menyatakan bahwa party kami lolos.


"Ya, akhirnya!"


Ucapku sambil melompat.


Aku kemudian menyadari, bahwa kertas tersebut ada dua lembar. 


"Ada dua?"


Ucapku sambil mengambil yang satunya.


Terlihat, itu merupakan tulisan tangan milik Lisa yang ditujukkan untuk diriku. Dia mengatakan bahwa, Aku harus segera mengganti pedang milik Renia. Jika tidak, Dia akan menculik dan menjadikanku sebagai budak tante-tante.


"Sialan!!!"


Teriakku setelah membaca kertasnya.


_Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2