Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Belajar Di Hari Pertama


__ADS_3

Sudut pandang orang pertama, Rama :


"Batas ambang?"


Ucapku dalam hati karena penasaran.


*Tingtonggg


Tiba-tiba, terdengar bel sekolah. Tanda istirahat jam makan siang saat ini.


"Baiklah, sekarang waktunya istirahat, Bapak harap kalian pergi ke kantin dan mengisi tenaga kalian kembali."


Ucap Pak Guru sambil pergi meninggalkan kelas.


"Ya! Akhirnya makan!"


Ucapku dalam hati karena senang.


Tiba-tiba, Pak Guru mendorongku ke dalam kelas, yang menyebabkan diriku yang sedari tadi berdiri terus di depan garis pintu masuk, akhirnya masuk ke dalam kelas.


"Awww sakit."


Ucapku sambil mencoba berdiri.


Saat akan keluar kelas, justru aku terkena ilusi lainnya. Dimana, saat akan keluar kelas, justru diriku malah masuk ke dalamnya.


"Apa-apaan ini!"


Ucapku dengan nada kesal.


Terlihat orang-orang sudah pergi meninggalkan kelas menuju kantin. Berbeda dengan diriku yang malah terus dikerjai oleh Guru daritadi.


Ditengah rasa frustasiku, aku kemudian duduk saja pasrah di lantai. Menunggu bel masuk tiba, walaupun perutku daritadi sebenarnya mengeluarkan bunyi tanda lapar.


"Masih berapa lama lagi yah, sebelum bel masuk kelas."


"Mana perutku lapar."


Ucapku sambil memegangi perut.


"Masih lama … ini, makanlah."


Ucap seseorang yang tiba-tiba menyodorkan bekalnya padaku.


Aku kemudian menoleh padanya, dan ternyata Dia adalah Putri Renia.


"Ren … Tidak … Tidak …"


"Putri Renia." Ucapku.


"Tidak usah terlalu formal, kita ini teman sekelas." Balasnya.


"Aku hampir tidak mengenalimu sama sekali dengan pakaian seperti itu, Kau terlihat manis."


Ucapku padanya.


Setelah mengucapkan hal tersebut, tiba-tiba wajah Putri Renia terlihat memerah, dan seketika itu juga, Dia memukulku.


"Apa-apaan Kau ini!"


Ucapnya padaku dengan nada kesal.


Singkat cerita kami pun duduk di bangku yang sama. Karena rasa lapar begitu tidak tertahankan, dengan sangat lahap, Aku memakan bekal yang tadi Dia tawarkan.


"Rama, dengan caramu makan seperti ini. Kau seperti belum pernah makan saja dari kecil." Ucap Putri Renia padaku.


"M-maaf."


Balasku dengan makanan penuh di mulutku.


"Kau ini … " Lanjut perkataanya.


__________________________________


Beralih sudut pandang orang pertama, Putri Renia :


Rama terlihat makan dengan sangat lahap dengan bekal makanan yang kuberikan tadi padanya.


"Dilihat-lihat … wajah Rama ini … ganteng juga."


Ucapku dalam hati sambil mencuri-curi pandang padanya.


Bagaimana tidak, dengan Rambut putih seperti memberikannya kesan tersendiri, mata biru yang dimilikinya memancarkan cahaya yang indah, wajahnya begitu putih di padu dengan kulitnya yang mulus, rahangnya cukup tegas, yang padahal Dia masih berumur 12 atau 13 tahunan.


Tiba-tiba, Rama menyadari bahwa daritadi diriku sedang memandang ke arahnya.


"Ada apa, Renia?" Tanya Dia.


Panik serta kaget karenanya, akupun beralasan bahwa suka melihat orang makan.


"Ti-tidak, aku suka melihat orang yang sedang makan, apalagi memakan bekalku."


Ucapku.


Sejenak, Rama terlihat diam beberapa saat. Tanpa kuduga Dia langsung mengambil bekal makananku dan langsung memakannya.


"Apa-apaan Kau ini!"


Ucapku dengan nada kesal.


"Barusan Dirimu bilang, bahwa Kau suka apabila bekal makananmu dimakan oleh orang lain, kan?" Jawab Dia.


"Bukan itu maksudku!"


Ucapku sambil memukul Dia.


Aku melihat Ayam goreng yang sudah susah payah ku masak, habis dimakan olehnya.


"Ayam goreng ku … "


Ucap tangisku, sambil melihat Rama yang sudah memegang tulangnya saja.


__________________________________

__ADS_1


Beralih sudut pandang orang pertama, Putri Isabella :


Saat itu istirahat jam makan siang, aku bermaksud ke kantin terlebih dahulu untuk mengambil beberapa makanan disana.


"Kira-kira Rama suka tidak, yah?"


Ucapku sambil berjalan menuju kelas kembali.


Saat tiba di pintu kelas, kagetnya diriku saat melihat Rama bersama Kak Renia sedang berduaan. Tangan mereka saling memegang satu sama lain, apa yang sedang mereka lakukan, sekarang?


Karena tidak tahan, Aku kemudian lari dan tanpa sadar sudah menjatuhkan bekal makananku di lantai.


Aku tidak tahu kemana kaki ini membawaku lari, dan terus menabrak orang-orang yang menghalangi jalanku.


Saat melihat mereka, seperti ada sesuatu yang menusuk dadaku ini, rasanya sakit, sesak dan juga pengap.


Tanpa sadar, aku sudah berada di dalam toilet siswa. Dan masuk kedalam salah satu kamar kecil. Disini, aku bisa menangis sepuasnya.


__________________________________


Beralih sudut pandang orang pertama,


Rama :


*Ting tongggg


Terdengar suara bel sekolah, tanda bahwa jam istirahat makan siang berakhir. Aku pun bersiap mencari tempat duduk, karena takutnya disini sudah diduduki oleh orang lain.


"Kau mau kemana, Rama?" Ucap Renia.


"Pulang."


"Ya mencari tempat duduklah." Jawabku.


"Semua tempat duduk sudah terisi, kecuali ini saja yang kosong." Lanjut perkataanya.


Mendengar hal tersebut membuatku berpikir, untuk tidak duduk disampingnya saja. Mengingat Dia adalah wanita yang kasar bagiku.


"Ji-jika Kau mau, Kau boleh duduk di sampingku." Ucapnya dengan suara agak pelan dan pipinya yang memerah.


Aku pun melihat ke sekeliling dan ternyata memang benar semua bangku sudah diisi. Mau tidak mau, aku pun duduk disampingnya.


"Mau bagaimana lagi … "


Ucapku dalam hati, sambil menghela nafas.


Guru akhirnya masuk ke dalam kelas kembali, dan mengabsen kami satu persatu. Tidak terkecuali diriku yang juga ikut diabsen olehnya.


"Rama!" Ucap Guru mengabsen


"Hadir!" Jawabku.


"Isabella Verdifield?"


"Isabella Verdifield?"


"Isabella?"


Terlihat dibangku yang Isabella duduki tadi, Dia tidak ada disana.


"Apa ada yang tahu kemana Isabella?" Tanya Guru kepada kami.


"Tidak, Pak."


"Tadi saya lihat Dia di kantin, Pak."


"Tapi, tadi saya lihat Dia ke kelas, loh." Jawab orang-orang dikelas.


"Mungkin Dia ada urusan."


Jawab Renia.


"Apa Kau yakin, Renia?"


Tanyaku padanya.


"Entahlah, aku hanya ikut menjawab."


Ucapnya padaku.


"Anak ini … "


Ucap kecewaku.


"Sambil menunggu kedatangan Putri Isabella."


"Kita lanjut diskusi tentang materi Bab 10 nya, Yakni tentang Mikromagis, Bapak harap kalian sudah paham secara garis besar."


"Namun, jika masih bingung, kalian dipersilahkan untuk bertanya atau berdiskusi dengan teman kalian."


"Sementara, Bapak akan menulis materi lain di papan black board ini."


Karena penasaran yang begitu dalam tentang ambang batas, aku berniat bertanya pada Renia.


"Hei, Renia." Ucapku


"Apa, Rama?" Balasnya.


"Apa kau tahu sesuatu tentang ambang batas?" Tanyaku padanya.


Dia kemudian membuka bukunya, dan membacakan tentang apa itu ambang batas.


"Ku kira … anak ini sedikit lebih pintar." Ucapku dalam hati dengan nada kecewa


"Ambang batas merupakan sesuatu yang menjadi batas level seorang penyihir.


Dengan kata lain, bila seorang penyihir menuju tahap selanjutnya, Dia sedang berada dalam level ambang batas.


Misal, ada seorang penyihir A, dengan level individu menengah menuju atas. Bisa dikatakan, dia merupakan salah satu dengan level ambang batas, karena kriteria Dia menuju level individu selanjutnya belum terpenuhi.


Ada pemula ambang batas, Menengah ambang batas, Atas ambang batas dan seterusnya.


Ringkasan, semua ini merupakan masa transisi yang sedang dilakukan atau dialami oleh setiap penyihir, dari dan ke level individu selanjutnya, yang belum memenuhi 100% kriteria level tersebut."

__ADS_1


Ucap Renia membaca buku tersebut.


"Jadi intinya?" Tanyaku.


"Intinya … Apa yah … "


Ucapnya sambil menggaruk kepala dan membuat ekspresi bingung.


"Dasar, anak ini juga tidak mengerti!"


Ucapku dalam hati dengan nada kesal.


"Intinya adalah, ambang batas merupakan sesuatu yang masih bersifat gantung atau berada di tengah-tengah."


Ucap seseorang yang berada duduk didepanku.


"Te-terimakasih … Aku lebih paham sekarang." Ucapku padanya.


"Jangan sungkan, kalian boleh bertanya padaku." Ucapnya.


Dia kemudian meminta maaf karena sudah tiba-tiba berbicara.


"Maaf karena sudah mengatakan sesuatu secara tiba-tiba, kalian pasti kaget." Ucapnya.


"Tidak, justru aku terbantu. Terimakasih!"


Ucapku dengan nada senang.


"Oh iya, namaku Nadara Ryugawa. Aku harap kita bisa akrab, yah!"


Ucapnya memperkenalkan diri, dengan nada senang.


"Ryu-gawa?"


"Bukankah itu marga pahlawan?"


Ucapku dalam hati.


"Namamu?" Ucap dia bertanya namaku.


"Oh iya, maaf. Namaku, Rama."


Ucapku.


Kami berdua kemudian berjabat tangan dan saling mengatakan "salam kenal."


Tidak terasa waktu belajar hampir selesai. Karena aku tidak membawa buku, pada akhirnya tidak menulis apapun dan hanya bisa diam sambil mendengarkan penjelasan guru daritadi tentang materi selanjutnya.


"Mau bagaimana lagi."


Ucapku dalam hati anda tersenyum.


"Bukannya membawa buku, Kau malah membawa pakaian dalam."


Ucap Renia menyindirku.


"Ya tadinya kan aku buru-buru."


Jawabku sambil menggaruk kepala.


Saat itu, ku sadari bahwa Putri Isabella belum juga kunjung kembali dari istirahatnya. Bertanya dalam hati kemana Dia daritadi, padahal jam pulang akan segera tiba.


"Pak Guru, Isabella masih belum kembali."


Ucapku.


Pak Guru kemudian diam sejenak sambil memikirkan sesuatu, meminta kami teman sekelasnya untuk tetap tenang dan fokus belajar sampai jam pulang tiba.


Namun, tiba-tiba, ada seorang pengawas sekolah lainnya yang datang dan memberitahukan bahwa Putri Isabella berada di dalam kamar mandi sedang mengurung diri.


Mendengar hal tersebut, membuatku khawatir padanya. Dengan cepat, Aku beranjak dari bangku dan berlari keluar kelas.


Terdengar Renia dan Pak Guru memperingatkanku akan suatu hal, namun aku justru tidak terlalu mendengarkannya.


__________________________________


Beralih sudut pandang orang pertama : Pak Guru.


"Apa maksudmu, Isabella mengurung diri di kamar mandi dari tadi?"


Saat sedang berbicara dengan rekanku, yang berprofesi sama sebagai tenaga pengajar di akademi ini. Tiba-tiba, Rama beranjak dari bangku tempat duduknya dan keluar dari kelas.


Aku memperingatkannya karena Dia bisa saja terluka, akibat penghalang yang ku pasang untuknya belum ku nonaktifkan.


"Rama, jangan berlari, penghalang-"


Belum menyelesaikan perkataanku, Rama berhasil menabrak dan menghancurkan penghalang yang tadi ku pasang untuknya.


"Mustahil …"


"Bagaimana bisa?"


Ucapku kaget dengan kejadian tersebut.


__________________________________


Beralih sudut pandang orang pertama : Putri Renia.


Mendengar bahwa orang menyebalkan itu sedang mengurung diri dikamar mandi, membuatku muak.


Dia selalu saja menyusahkan orang lain, namun sekarang diriku sedikit penasaran, alasan apa yang melatarbelakangi Dia melakukan hal tersebut.


Tiba-tiba, Rama berlari keluar dari kelas. Hal tersebut bisa saja melukainya, Mengingat Guru membuat sihir penghalang didepan pintu kelas untuknya. Jangan salah, penghalang yang dibuat olehnya, memiliki tingkat kekerasan serta ketebalan nomer satu di kerajaan Verdifield.


"Rama, awas … Disana ada penghalang!"


Teriakku padanya.


Namun, Dia justru berhasil menerobos penghalang Guru tersebut. Yang sontak membuatku kaget serta kagum padanya.


"Rama … Kau … "


_Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2