
Sudut pandang orang pertama : Rama.
"Gawat! Padahal ini hari pertamaku masuk akademi Verdifield, tapi malah telat!"
Gumamku sambil berlari.
Aku berlari menelusuri semua ruangan kerajaan Verdifield, namun tidak berhasil menemukan dimana letak akademi berada.
"Sial, istana ini terlalu luas!" Ucapku.
Kemudian, aku mendapati diri berada di arena pertarungan kemarin. Namun suasananya terasa sangat sepi dan juga hening.
"Sepi sekali, disini."
Ucapku sambil memandangi sekitar.
"Aku akan terlambat jika begini terus!"
Ucapku kembali berlari mencari keberadaan Akademi Verdifield.
__________________________________
Beralih ke sudut pandang orang pertama : Isabella.
"Rama kemana, yah?"
Ucapku dalam hati sambil melihat pintu masuk kelas.
"Padahal ini hari pertama, tapi Dia sudah melakukan kesalahan."
"Ayahanda mengatakan … kalau kondisinya baik-baik saja, karena kelelahan ditambah Mananya tinggal sedikit."
"Tapi, Aku masih meragukan hal itu."
Lanjut perkataanku.
Aku kemudian teringat perkataan Ayahanda lainnya, bahwa diriku terlalu bersikap plin-plan dan sebisa mungkin untuk segera membuang sikapku itu.
Namun, pada akhirnya, Kak Renia lah yang terpilih sebagai pewaris kerajaan ini, posisinya satu langkah lebih kuat dariku.
"Tidak ada cara lain!"
"Aku harus bertambah kuat dan bertarung melawan Kak Renia nanti, di ujian kenaikkan peringkat akademi Verdifield!"
Ucapku dalam hati dengan tegas.
"Tolong bacakan Bab 10 tentang Mikromagis, Putri Isabella!"
Ucap Guru.
"Baik!" Jawabku sambil berdiri.
Saat akan membacanya, tiba-tiba, Rama datang membuka pintu kelas dengan sangat kencang.
*Blakkk (Suara pintu dibuka dengan keras)
"Permisi!"
"Saya Rama, Maaf karena sudah terlambat!" Ucapnya dengan nada tinggi.
Terlihat, Dia begitu ngos-ngosan, mungkin sehabis lari-lari, mencari letak keberadaan Akademi ini.
"Ra-rama?"
"Aku kira kamu takkan masuk kelas hari ini." Ucapku.
__________________________________
Beralih ke sudut pandang orang pertama : Rama.
"Ra-rama?"
"Aku kira kamu takkan masuk kelas hari ini." Ucap Putri Isabella padaku.
"Apa yang Anda bicaran?"
"Tentu saja saya akan masuk hari ini, karena ini merupakan hari pertama saya." Jawabku.
"Kalau begitu, masuklah."
Balas perkataan Putri Isabella kembali
Aku kemudian melangkah masuk ke dalam kelas. Namun, entah kenapa saat akan memasukinya kepalaku seperti terbentur tembok.
"Apa ini?" Ucapku dalam hati sambil meraba tembok tidak terlihat tersebut.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk, Anak baru?" Ucap Guru.
"Apakah Kau bisa melihat jam berapa sekarang?" Lanjut perkataanya.
Alangkah kagetnya diriku, karena jam sudah menunjukkan tepat jam X.
"Sial, daritadi aku berlari-lari kesana kemari selama 1 jam." Ucapku dalam hati.
"Jam 10, Pak." Jawabku sambil membuang muka ke bawah.
"Kau seharusnya tahu kan, bahwa jam masuk akademi Verdifield itu adalah jam VIII." Ucapnya.
"Lantas, kenapa Kau baru masuk sekarang!"
Ucapnya langsung dengan nada tegas.
Aku kemudian tidak mengucapkan sepatah kata apapun, dikarenakan percuma juga untuk jujur, Orang ini pasti tak akan pernah mempercayaiku.
__ADS_1
"Sudahlah, masuk!" Ucap perintah Guru.
Mendengar hal tersebut membuatku senang, ternyata diam dan tidak menjawab akan membawa diriku ke dalam situasi menguntungkan, sama seperti diriku di dunia sebelumnya, yang hanya akan diam ketika ditanyai suatu kesalahan dan setelahnya, diriku akan dimaklumi.
Aku kemudian masuk ke dalam kelas, namun entah kenapa aku tidak masuk ke dalam sana.
Saat akan masuk, justru diriku malah keluar dari kelas.
"Apa-apaan ini?!"
"Apakah ini … Sihir ilusi?!"
Ucap panikku dalam hati.
Terdengar murid-murid yang berada didalam kelas menertawakanku, termasuk Putri Isabella juga, namun Dia justru terlihat berdiri sambil memegang buku yang sepertinya Guru menyuruh untuk membacanya.
"Silahkan lanjutkan, Putri Isabella!"
Ucap Guru.
"Baik Guru!" Jawab Putri Isabella.
Mau tidak mau, untuk sementara, Aku mendengarkan apa yang sedang dibacakan oleh Isabella diluar kelas.
"Bab 10. Mikromagis.
Merupakan salah satu kemampuan yang hanya di miliki oleh para penyihir tingkat atas.
Mikromagis sendiri, merupakan sebuah konsep dimana para penyihir mengeluarkan seminimal mungkin energi Mana, namun mengeluarkan kekuatan yang semaksimal mungkin.
Efisiensi kekuatan serangan, bertahan, ataupun yang lainnya tergantung daripada pengguna itu sendiri.
Seseorang yang sudah terampil menggunakan kemampuan ini, dapat menekan penggunaan energi Mana sampai 55%.
Namun dalam beberapa kasus, seperti Ryugawa Sang Pahlawan, Dia bisa menekan penggunaan energi Mananya sampai 99,99%.
Seorang penyihir yang dikatakan sukses dalam menggunakan kemampuan ini, adalah bilamana Dia berhasil menekan penggunaan energi Mananya sampai angka 75%."
Penjelasan buku yang dibacakan oleh Isabella.
"Mikromagis?"
"Seperti yang pernah dikatakan oleh Mama!" Ucapku dalam hati.
"Baiklah, terimakasih, Putri Isabella."
"Sekarang Anda boleh duduk."
Ucap Guru.
"Baik Pak, terimakasih kembali karena sudah memberikan saya kesempatan."
Jawab Putri Isabella.
"Baiklah, Apa ada yang masih kurang dimengerti tentang Mikromagis ini?"
"Jika ada, kalian boleh bertanya."
Lanjut perkataan Guru.
Terlihat, semua siswa-siswi dikelas saat itu saling melihat satu sama lain. Mereka seolah enggan untuk memberikan pertanyaan kepada Guru, atau mungkin mereka sudah paham dengan materi pembahasan kali ini? Aku juga tidak tahu isi hati mereka seperti apa.
Namun, berbeda dengan diriku yang memiliki banyak pertanyaan. Tapi, semua itu terhalang karena rasa takut salah, serta malu.
Aku kemudian melihat ke jendela kelas, terlihat disana bayanganku pada kaca. Bertanya dalam hati setelah diberikan kesempatan hidup untuk kedua Kalinya, namun tidak ada keinginan untuk berubah.
"Siapa Dia?"
"Aku?"
"Ya, itu aku."
Ucapku dalam hati, sambil melihat bayanganku pada kaca jendela kelas.
"Apa aku akan terus seperti ini?"
"Menjadi yang paling terbelakang dan juga tertinggal?"
Ucapku dalam hati bertanya-tanya.
"Tidak!"
"Ini adalah kesempatan yang belum tentu didapat oleh orang lain!"
"Diberikan kehidupan untuk kedua kalinya!"
"Aku harus berubah!"
"Ke arah yang lebih baik lagi!"
Ucapku dalam hati, dengan nada tegas.
Aku kemudian mengangkat tangan kananku, bermaksud untuk bertanya kepadanya. Saat itu, Guru sama sekali tidak melirik ke arahku, padahal aku sudah mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepadanya.
Aku kemudian melihat kebawah dan perlahan menurunkan tanganku.
"Baik di dunia sebelumnya atau Dunia sekarang, aku tetaplah akan menjadi seorang pecundang."
"Tapi setidaknya … A-"
Belum menyelesaikan perkataanku, tiba-tiba Putri Isabella memanggil Guru.
"Guru!"
__ADS_1
"Lihat, Rama ingin bertanya!" Ucapnya.
Kemudian semua orang melirik ke arahku, terlihat pandangan mereka semua begitu tajam. Menyadari bahwa tanganku belum turun sepenuhnya, dengan cepat Aku menurunkan serta menyembunyikannya.
"Hemm anu … "
"Tangan kananku bau ketek, jadi aku mengangkatnya tadi, hehe."
Ucapku sambil menggaruk-garuk kepala dengan tangan kiri.
"Kamu ingin bertanya kan, Rama?"
"Jika ingin bertanya, Angkat tangan dan panggilah Gurumu ini." Ucapnya.
Mendengar hal tersebut membuatku menjadi lega, ternyata aku tidaklah diacuhkan olehnya. Melainkan karena kesalahanku sendiri karena tidak memanggil Guru.
"Aku ingin bertanya, Guru!"
Ucapku dengan suara keras, sambil mengangkat tangan kanan.
"Silahkan!" Jawabnya.
"Dalam Mikromagis itu, terdapat sebuah konsep lainnya bukan? Yakni tentang Efisiensi, mengapa 2 atau 3 penyihir yang sudah bisa sekalipun, masih dikatakan berbeda setiap efisiensinya." Tanyaku.
"Terimakasih atas pertanyaannya, Rama."
"Bapak akan ibaratkan dengan 3 wadah ini. Dimana setiap wadah, akan kita masukkan air sama banyaknya, dan kita akan melubangi wadah tersebut sama besar."
Ucap Guru sambil.
"Kita anggap bahwa wadah ini merupakan fisik atau tubuh manusia. Dimana hal ini berkaitan juga dengan tempat menaruh atau cadangan Mana seseorang, air ini kita anggap sebagai energi Mana yang kita punya, dan untuk lubang ini kita anggap sebagai pengeluaran energi sihir seseorang."
"Karena daya tampung wadah ini tentunya berbeda-beda, isi daripada air tersebut akan berbeda-beda juga. Dimana ada yang sampai penuh, masih menyisakan ruang, bahkan ada yang masih banyak menyisakan ruang."
"Jika kita lihat lebih teliti, wadah yang diibaratkan fisik seseorang ini tentunya akan berbeda-beda. Tergantung dari gen orang tua, gaya hidup, makanan, usia bahkan suatu penyakit. Dari ke tiga wadah ini ada yang terbuat dari kaca, tanah liat, dan kayu."
"Meskipun di lubangi dengan ukuran yang sama, keluarnya air dari ke tiga wadah tersebut berbeda-beda karena dipengaruhi oleh bahan dasar, hal ini juga berkaitan dengan efisiensi dari Mikromagis itu sendiri. Itulah mengapa untuk seorang penyihir yang dikatakan terampil dalam Mikromagis, dimana Dia mampu menekan pengeluaran energi sihirnya di angka 55%"
Ucap penjelasan Guru.
Terlihat semua murid melongo dengan penjelasan Pak Guru, tanda tidak mengerti.
"Bapak akan contohkan dengan lebih simpel, lihatlah kedua tangan Pak Guru sekarang."
Ucap Pak Guru sambil menjulurkan kedua tangannya.
"Di kedua tangan Bapak sekarang akan mengeluarkan sihir api, yang mana tangan kiri, akan Bapak beri Mana normal pada umumnya untuk mengeluarkan sihir tersebut."
Ucap Pak Guru sambil mengeluarkan sihir api ditangan kirinya.
"Untuk ditangan kanan sendiri, Bapak akan menerapkan konsep Mikromagis, jadi lihatlah baik-baik."
Lanjut perkataanya
Setelah itu, muncul sebuah Api besar berkobar dari telapak tangan kanan Guru. Orang-orang di kelas tampak terlihat takjub dengan pemandangan tersebut.
"Jadi ini Mikromagis?"
"Hebat!"
"Bagaimana cara melakukannya?!"
"Padahal pengeluaran energi Mananya sedikit, tapi bisa membuat Api sebesar itu!"
"Aku ingin mencoba!"
Ucap orang-orang dikelasku.
Tidak terkecuali dengan diriku yang juga sama takjubnya dengan pemandangan tersebut.
"Sihir memang luar biasa!"
Ucapku dalam hati sambil memandang api yang berkobar.
"Seperti inilah efisiensi, tahap ini hanya bisa kalian capai dengan waktu tertentu."
"Itu artinya, kalian akan bertahap sampai pada level ini."
"Dan tidaklah seinstan yang kalian pikirkan."
Ucap Guru.
"Guru, berapa persentase angka penekanan efisiensi Mikromagis guru saat ini?"
Ucapku bertanya kembali padanya.
"Pertanyaan yang bagus, mungkin di sekitar angka 60%" Jawabnya.
Dalam hatiku bertanya-tanya, apa jadinya jika seseorang mampu menekan pengeluaran energi sihirnya sampai tahap efisiensi 99.99% seperti seorang pahlawan? Jika Di angka 60% saja sudah sehebat ini.
"Namun, bagaimana jika penyihir tersebut hanya mampu menekan pengeluaran energi Mananya pada angka 1-54%, Pak Guru."
Tanyaku kembali padanya.
"Jika seorang penyihir hanya mampu pada tahap demikian, maka Dia bisa disebut sebagai batas ambang. Karena konsep Mikromagisnya tidaklah sempurna."
Jawabnya.
"Batas ambang, apalagi itu?"
Ucapku dalam hati penasaran.
_Bersambung.
__ADS_1