
"Rama, aku mohon … sadarlah!"
…
"Bukankah Kau berjanji untuk selalu berada di sampingku dan juga melindungiku?"
"Aku menyukaimu, Rama."
Sebuah kata-kata ungkapan perasaan baru saja terucap dari lisan seorang Putri kerajaan. Walaupun, tidak cukup masuk akal gadis belia sepertinya sudah merasakan apa itu perasaan suka.
Menyadari bahwa tidak ada yang bisa Dia lakukan sekarang, membuatnya semakin putus asa. Melihat orang yang disukainya terbujur kaku tidak berdaya, tentu membuat hatinya merasa sedih.
Dia terus memandang ke sekeliling berharap, bantuan dari seseorang segera tiba.
Namun lama menunggu, tidak pernah ada yang datang.
____________________________________________
Saat itu merupakan hari seperti biasanya di Istana, Aku berlatih tanding melawan Kakakku sendiri.
"Bangun … !
Bisa-bisanya seorang Putri pewaris kerajaan bisa selemah ini!
Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang, ketika melihat Kau sangatlah lemah!"
Sebuah perkataan menusuk hati, baru saja terucap dari Kakak perempuanku sendiri.
"Aku muak melihat wajahmu, cepat berdiri!"
"B-baik!" Jawabku
Aku memiliki seorang Kakak perempuan, yang merupakan hasil hubungan Ayahanda dengan seorang selir. Alhasil karenanya, Dia tidaklah pantas menjadi pewaris kerajaan meskipun Dia lebih tua.
Kami selalu berlatih, tidak, lebih masuk akal bila disebut sebagai pertarungan. Karena, Kakakku selalu menyerangku tanpa menahan diri, berbanding terbalik dengan diriku yang selalu saja masih ragu-ragu untuk menyakitinya.
Selama pertarungan, Dia tidak pernah kalah sekalipun. Namun, hari itu pun tiba, dimana Kakakku sudah keterlaluan menjelekkan nama Ibunda.
"Dengan kekuatan seperti itu, Kau tidaklah layak menjadi seorang Putri, Isabella.
"Andai saja …
Andai saja Aku tidak dilahirkan dari rahim seorang selir, tahta kerajaan tentunya akan jatuh kepadaku!
"Apa jangan-jangan sebenarnya kita adalah anak yang tertukar?
"Tidak, buah tidak jatuh dari pohonnya. Jika anaknya sampah makan Ibunya pun-"
Ucap Kakak belum menyelesaikan perkataannya.
"Diam!" Ucapku menyela perkataanya.
__ADS_1
Karena sudah tidak tahan, terlebih lagi perkataanya sudah melampaui batas. Pada akhirnya, Aku membentaknya untuk pertama kali.
"Kau dari tadi terus berkata omong kosong!
Sampai Kau tidak menyadari bahwa perkataanmu sudah melampaui batas!
Jika Kakak begitu menginginkan tahta kerajaan, kenapa Kakak tidak membicarakannya kepada Ayahanda?!
Kau selalu saja menyinggung Diriku, terutama Ibundaku akhir-akhir ini!
Yang padahal keputusan berada mutlak di tangan Ayahanda!
Apa Kau tuli? Siapa juga yang menginginkan tahta kerajaan ini?!"
Teriakku kepada Kakak kemudian pergi dari ruang latihan.
Saat berjalan pergi, Kakak tiba-tiba menyerangku. Darinya, terasa aura emosi negatif yang kuat sekali.
"A-apa yang ingin Kakak lakukan?" Tanyaku pada Kakak dengan panik.
"Aku akan melenyapkanmu!" Ucapnya dengan emosi yang memuncak.
Saat Dia akan menyakitiku lebih jauh menggunakan kekuatan petir nya, tiba-tiba Ayahanda datang dan langsung menghentikan Kakak menggunakan kekuatannya.
Setelah itu, Aku kemudian berlari ke arah Ayahanda dan berlindung di belakangnya.
"Renia, Kau sudah keterlaluan jika sampai menyakiti seorang Putri pewaris kerajaan ini.
Bersyukurlah karena di dalam darahmu, terdapat darahku!
Namun sebagai hukuman, Kau harus ku peringatkan agar jangan sampai bertindak kelewatan!" Ucap Ayahku.
Terlihat Kak Renia begitu kesakitan karena di hukum oleh Ayahanda. Dia menggunakan sihir elemen petir berwarna ungu dan langsung mengarahkannya pada Kak Renia.
"Ayo kita pergi, Isabella!" Ucap Ayahanda sambil membawaku pergi.
Kami berdua akhirnya meninggalkan arena latihan, saat menoleh ke belakang, terlihat Kak Renia sedang menatap ke arahku dengan tatapan penuh benci. Dengan segera aku memalingkan wajahku dan menunduk.
Sejak kejadian itu, Aku sudah tidak melakukan latihan bersama Kak Renia. Ayah sampai menanyakan tentang alasanku tidak melakukan hal itu.
"Ayah mendengar bahwa Kamu sudah tidak berlatih lagi, Isabella.
Mengapa Kamu tidak melakukan rutinitasmu?" Tanya Ayahanda padaku.
Di kepalaku hanya terlintas sebuah pemikiran, jika Aku hanya ingin tumbuh dan besar layaknya anak pada umumnya. Aku sama sekali tidak keberatan jika gelar Putriku dilepas. Namun, tidak ada keberanian untuk diriku mengatakannya.
"Mengapa Kau diam saja?" Tanya Ayahanda kembali.
Setelah itu, aku kemudian berlutut padanya dan meminta sesuatu.
"Ayahanda, maaf jika saya lancang.
__ADS_1
Namun, bisakah Ayahanda melepas gelar Putriku dan memberikannya pada Kak Renia?" Ucap permintaanku.
Mendengar ucapanku, seisi istana di mulai dari menteri, prajurit, pelayan dan lainnya menjadi kaget. Beberapa dari mereka tidak setuju dengan keputusanku.
"Maaf, jika berkenan saya ingin mengungkapkan pendapat saya, Raja.
Peraturan disini sudah ada sejak zaman Raja Verdifield pertama dan masih dipertahankan dengan baik sampai saat ini.
Jika kita melanggar, tentunya akan melukai perasaan para leluhur kita yang sudah susah payah membangun kerajaan ini." Ucap salah satu menteri.
"Benar apa yang dikatakan oleh menteri, tidaklah mungkin bagi seorang anak keturunan selir, menyandang gelar Putri." Ucap panglima prajurit kerajaan.
"Kenapa Kau begitu ingin melepaskan gelar Putri, wahai anakku?
"Jangan takut, ungkapkan semua rasa keluh kesahmu, disini!" Ucap Ayahanda.
Mendapat pertanyaan itu, aku kemudian ingin mengungkapkan semua perasaanku.
Dimulai dari cara didikkan kerajaan yang mengharuskanku bergaul hanya dengan sesama anak bangsawan, kemudian peraturan kuno serta kolot yang masih dipertahankan sampai saat ini dan tidak dilakukan penyesuaian sesuai perkembangan zaman. Salah satunya adalah, peraturan yang mengatakan bahwa anak dari seorang selir, tidak bisa menjadi kandidat penerus kerajaan selanjutnya meskipun anak tertua.
Hanya diperbolehkan menikah hanya dengan sesama anak berdarah bangsawan.
Penerimaan siswa di akademi Verdifield yang selalu dipersulit bagi rakyat biasa yang ingin memasukinya, dan ungkapan-ungkapan yang lain.
Semua hal itu kuungkapkan langsung dihadapan semua orang, yang tentunya tidak semua orang menerimanya.
"Maaf Raja, semua hal yang diungkapkan oleh Putri Isabella tidaklah masuk akal!
Kami sama sekali tidak menyetujuinya!
Kami harap, walau besar rasa sayang Anda kepada Putri, tidak menjadi alasan Anda mengubah semua peraturan yang ada!"
Ucap salah seorang Menteri lainnya.
"Kenapa Kau menginginkan semua ini, Isabella?" Tanya Ayahanda padaku.
"Aku merasa tidak berhak, menjadi penerus kerajaan ini, Ayahanda." Jawabku.
Ayahanda kemudian memanggil Kak Renia untuk menghadap, dan singkat cerita sampailah Dia dihadapan Ayah.
"Dengan keputusanku sebagai raja, aku mengasingkan Putri Isabella untuk sementara waktu.
Dan dalam pengasingan tersebut, Renia harus menunjukkan bahwa dirinya memang layak atau tidak untuk menyandang gelar seorang Putri dan tentunya menjadi pewaris kerajaan ini!
Selama dalam pengasingan, Kau harus tetap berada di bawah pengawasan para prajurit kerajaan dan didampingi oleh satu orang kepercayaanmu sendiri, dan harus kembali setelah puncak perayaan hari panen.
Setelah itu, Kalian berdua harus kembali bertarung di ujian kenaikkan individu, akademi Verdifield!
Semua keputusanku sudah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat!" Ucap Ayah kepada semua orang.
"6 bulan, yah?" Ucapku dalam hati
__ADS_1
_Bersambung