Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Melawan Lisa Si Resepsionis Guild (Serikat)


__ADS_3

Sudut pandang orang pertama, Rama.


"Apa-apaan ini semua?!"


Tanyaku padanya.


"Kau masih belum mengerti, Akulah yang akan mengetes kalian pada ujian tahap kedua ini."


"Sebelum itu, izinkan Aku memperkenalkan diri."


"Namaku Lisa, seorang yang ahli dalam pertarungan jarak dekat."


Ucap Lisa si resepsionis Guild.


"Berhati-hatilah, Rama!"


"Ucapannya bukanlah gertakan semata!"


"Aku bisa merasakan kekuatan luar biasa pada dirinya!"


Ucap Renia memperingatiku.


"Baiklah, sekarang hiburlah Diriku!"


Lanjut perkataan Lisa.


Dia kemudian merapalkan mantra sihirnya.


"Keluarlah, pedang suci!"


Teriak Lisa.


Cahaya kemudian muncul dari telapak tangannya, yang kemudian membentuk sebuah pedang yang bersinar.


"Pedang itu … "


Ucap kaget Renia melihat penampakan pedang milik Lisa.


"Ada apa, Renia?"


Tanyaku padanya.


Lisa dengan cepat datang ke arah kami, Dia kemudian menyerang kami menggunakan tebasan pedangnya.


Namun beruntung bagi Kami karena bisa menghindari serangannya tersebut.


"Berhati-hatilah dengan pedang itu, jika tergores sedikit saja, maka nyawamu akan menjadi taruhannya!"


Ucap Renia dengan tegas.


"Memangnya, ada apa dengan pedangnya itu?"


Tanyaku pada Renia.


"Pedang itu merupakan satu dari 14 senjata terkuat!"


Jawab Renia kepadaku.


"Senjata yang hanya dimiliki oleh 14 orang terkuat di Dunia ini!"


"7 diantara merupakan seorang pengguna sihir cahaya dan 7 lainnya merupakan pengguna sihir kegelapan!"


"Masing-masing senjata yang mereka miliki, melambangkan sifat asli mereka!"


"Merekalah … The Mighty Fourteen!"


Lanjut penjelasan Renia.


Mendengar hal tersebut membuat bulu kudukku langsung berdiri. Melawan satu dari 14 orang terkuat di Dunia ini, tentunya merupakan sebuah ide yang buruk.


"Sudah ngobrolnya?"


Ucap Lisa sambil tersenyum.


"Kau … ras iblis, kan?"


Tanyaku pada Lisa diam.


"Jika iya, mengapa?"


Balas Lisa berbalik tanya padaku.


"Kenapa Kau, bisa menggunakan sihir cahaya. Padahal Kau merupakan Ras iblis?"


Lanjut pertanyaanku pada Lisa.


"Di dunia ini, tidaklah serumit dunia lainnya."


"Baik atau buruk, negatif atau positif, semua orang pasti mengalami semua itu."


"Tidak terlepas pada makhluk hidup apapun."


"Selama mereka memiliki yang namanya pikiran, maka mereka akan memiliki perasaan!"


Jawab Lisa padaku.


"Lantas, orang-orang yang Dirimu lawan selama ini … ?"


"Termasuk Dirimu sendiri?

__ADS_1


Lanjut perkataan Lisa bertanya padaku.


Aku kemudian menyadari bahwa semua perkataannya merupakan sebuah kebenaran. Baik Aku, maupun orang yang pernah menjadi musuhku, menggunakan emosi negatif mereka untuk dijadikan energi Mana.


"Dari reaksimu, sepertinya Kau mengerti, yah?"


Ucap Lisa padaku.


Lisa kemudian merapalkan mantra sihir miliknya, dan terciptalah sebuah cahaya yang begitu menyilaukan mata.


"Arrg!!"


"Aku tidak bisa melihat!"


"Silau sekali!"


Ucapku, Renia dan Nyx.


Disaat kami lengah, Lisa dengan cepat menyerang kami bertiga. Nyx dan Renia terhempas akibat pukulan dan tendangan yang dilancarkan olehnya.


"Nyx … Renia … !"


Teriakku menoleh ke arah mereka.


"Kau lengah, Rama!"


Ucap Lisa yang tiba-tiba berada di depanku.


Dia kemudian mengayunkan pedang cahaya miliknya, Aku yang tidak punya pilihan lain dengan terpaksa menahan serangannya menggunakan pergelangan tanganku.


Namun terlihat bahwa, pedang miliknya tersebut tidak bisa menggores bahkan melukai tanganku sedikitpun!


"Mustahil!"


Ucap kaget Lisa.


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Aku kemudian merapalkan mantra sihir Api dan berniat menyerangnya dari jarak dekat.


"Makanlah ini!"


Teriakku dengan jurusku.


Namun, Lisa dengan cepat berhasil menghindari serangan yang kulancarkan barusan.


"Sial, Dia begitu gesit!"


Ucap kesalku dalam hati.


Melihat ke belakang, terlihat Renia sedang merapalkan sihir heal pada nyx.


"Apa kau bisa mengulur waktu bagi kami, Rama?!"


Teriak tanya Renia padaku.


Sahutku.


"Renia, Apa Kau bisa meminjamkan pedangmu itu padaku?!"


Tanyaku padanya.


Raut wajah Renia terlihat sedikit kesal dengan permintaanku tersebut. Namun, karena kondisi kami sedang terdesak, akhirnya Dia melemparkan pedang miliknya padaku.


"Ini, pakailah dengan hati-hati!"


Ucap Renia sambil melemparkan pedangnya.


"Baiklah, terimakasih!"


Balasku.


Di dalam hatiku bertanya-tanya, apakah pedang biasa dapat bertarung secara maksimal melawan pedang suci.


Untuk mendapatkan jawaban tersebut, mau tidak mau aku harus mengambil sebuah resiko dengan bertarung pedang melawannya.


Di samping itu, Aku sedang mencoba mengasah kemampuan berpedang ku kembali.


Berkonsentrasi, Aku menyalurkan energi Mana milikku ke pedang yang ku genggam sekarang. Terlihat, aura hitam menyelimutinya.


Dengan segera, Aku melaju dan mengayunkan pedangku padanya. Namun, Lisa dengan cepat bisa menghindar dari seranganku.


"Cepat sekali!"


Ucapku dalam hati.


Lisa sekarang sudah berada di belakangku, Dia mengayunkan pedang miliknya dan berniat menyerang punggungku. Namun dengan segera, aku berbalik badan dan menangkis tebasannya tersebut.


Kami saling menahan serangan satu sama lain dengan sekuat tenaga. Dia terlihat bersusah payah untuk bisa menyerangku.


Mengambil kesempatan, Aku sedikit mengendurkan tenagaku dan bergerak sedikit ke arah kiri. Alhasil, Lisa terlihat kehilangan keseimbangan.


Dengan segera, Aku menebaskan pedangku dan berniat menyerang punggungnya.


Tapi lagi dan lagi, pergerakan Lisa layaknya seperti belut. Begitu licin dan juga fleksibel.


"Kamu memiliki potensi, Rama."


"Namun sayangnya, Aku takkan membiarkanmu lolos menjadi seorang petualang. Berikut dengan temanmu yang lain!"


"Menyerahlah!"

__ADS_1


Lanjut perkataan Lisa dengan tegas sambil mengacungkan pedangnya.


Mendengar perkataan tersebut darinya, lantas membuat Diriku menjadi kesal. Dengan amarah yang menggebu-gebu, aku kemudian menyerangnya dengan bertubi-tubi.


"Mengapa Dia begitu ingin menghalangi jalanku?!"


"Mengapa Dia begitu ingin membuatku menyerah?!


"Mengapa Dia begitu ingin Diriku berhenti bermimpi menjadi seorang petualang?!


Ucapku dalam hati bertanya-tanya sambil menyerangnya.


...****************...


Beralih sudut pandang orang pertama, Lisa.


"Anak ini sungguh kuat dan memiliki potensi!"


"Namun, Aku takkan membiarkannya menjadi seorang petualang!"


"Aku takkan pernah membiarkan masa depannya menjadi hancur karena kematian!"


Ucapku dalam hati sambil menahan semua serangannya.


Flashback masa lalu Lisa.


Saat itu, merupakan hari dimana diriku menjalankan misi seperti biasa.


Sebuah masa kelam, dimana perang masih terjadi dan tidak pernah berakhir.


Aku sering sekali berpindah-pindah party, dikarenakan rekan satu partyku tewas saat dalam menjalankan misi.


Namun, kali ini, aku takkan membiarkan siapapun tewas lagi!


Sebuah tragedi pun dimulai, dimana kami menjalankan misi yang tergolong mudah. Dimana, Kami semua diminta untuk mengantarkan seorang Putri kerajaan Volcanofall, kembali ke tempatnya.


"Apakah perjalanan masih jauh?"


Ucap Putri kepada party kami.


"Masih, Tuan Putri."


Jawabku.


"Aku khawatir malam akan segera tiba, soalnya aku takut sekali dengan kegelapan."


Ucapnya dengan raut wajah ketakutan.


"Perjalanan kita masih sangatlah jauh, Tuan Putri."


"Mungkin kita akan bermalam di sekitar hutan ini!"


Balasku kepadanya.


"Tapi … "


Belum menyelesaikan perkataannya, orang terkuat di partyku menyela tuan Putri untuk membuatnya tenang dan mempercayai kami semua.


"Tenang saja, ada kami disini!"


"Monster apapun itu, akan kami hadapi!"


Ucapnya dengan nada sombong.


"Benar!"


"Ya, monster apapun itu … akan kami habisi!"


"Benar sekali!"


"Jangan risau, Tuan Putri!"


Ucap reaksi semua teman satu partyku.


Kami semua kemudian tertawa tanpa menyadari bahaya sudah berada di depan mata kami.


Saat itu, malam pun tiba. Karena perjalanan yang panjang dan juga melelahkan, Kami semua kemudian berkemah dan beristirahat. Awalnya tidak ada sesuatu yang mencurigakan, namun dengan tiba-tiba, beberapa panah api menancap dan seketika membuat kebakaran di sekitar hutan.


Api itu seperti memblokade jalan, agar kami tidak bisa keluar dengan mudah.


Aku bersama partyku kemudian bertarung melawan monster-monster yang berdatangan.


"Rasakan ini, dasar monster!"


Ucap salah satu teman partyku.


Dengan tiba-tiba, sebuah anak panah datang dan menembus kepalanya. Melihat kejadian tersebut, lantas membuat tuan Putri syok dan berteriak histeris.


"Semuanya, berhati-hatilah!"


Ucap orang terkuat di partyku.


Namun, Dia juga tidak luput menjadi korban. Dengan tiba-tiba, datang sebuah makhluk hijau berbadan tinggi besar langsung menyerangnya. Secara brutal, Dia memukulkan sebuah senjata mirip pentungan yang dibawanya ke kepala orang terkuat di party kami.


Dia langsung tersungkur di atas tanah dengan kepala sudah tidak berbentuk lagi.


Aku berusaha untuk menghentikannya makhluk itu, namun usahaku berakhir sia-sia.


Kebakaran, teriakkan serta bau amis darah ada dimana-mana. Putri yang seharusnya aku lindungi, juga tewas mengenaskan dengan tubuh yang terbelah menjadi dua.

__ADS_1


Beruntung, karena Diriku berhasil selamat atas insiden itu dan memutuskan untuk membalaskan dendam terhadap Raja Iblis Caligor.


_Bersambung.


__ADS_2