
Sudut pandang orang pertama, Draven.
"Gawat ... apa aku terlalu berlebihan, ya?" ujarku.
Baru saja aku mengeluarkan sebuah sihir tingkat menengah ke arah Rama. Dan sekarang aku justru mengkhawatirkannya karena takut dia tidak dapat bertahan.
Di tengah rasa khawatirku, tiba-tiba terasa sebuah aura mana yang begitu gelap!
"Energi siapa, ini? ucapku.
Saat akan memeriksanya, Rama kini sudah ada di belakangku!
"Kau mau kemana, guru?" ujarnya.
Karena kaget, aku langsung mundur darinya.
Sekarang dia terlihat begitu berbeda, terlebih lagi pada energi sihir yang dia miliki.
"Rama, apa yang sebenarnya terjadi ... " kataku dengan khawatir.
Rama malah mengejekku dengan mengatakan, "Ini aneh ... orang sepertimu ternyata memiliki rasa cemas, ya."
"Ini bukanlah main-main!"
"Katakan padaku, mengapa Kau tampak berbeda?" teriak tanyaku padanya.
Dia hanya tersenyum dan setelahnya mengeluarkan sihir angin yang begitu kuat ke arahku!
"Sihir angin, tingkat dasar : Hempasan!"
Meskipun sihir tingkat dasar, hempasan anginnya begitu kuat dan juga berat!
Aku kemudian mengeluarkan sihir petir untuk menetralkannya, "Sihir kehampaan : Thunderbolt!"
__ADS_1
Ketika lenyap, Rama sudah tidak ada di hadapanku. Melihat ke sisi kiri dan kanan, dia sama sekali tidak ada.
Dari balik awan, tiba-tiba dia muncul dengan kecepatan tinggi!
"Jangan lengah, Guru!" teriaknya padaku.
Aku kemudian membuat sihir perisai agar tidak terkena hantaman pukulannya.
*Dashhhhhhhhhh, seketika perisai yang kubuat hancur karena di pukul olehnya.
Tidak berhenti, dia melanjutkan serangan kedua berupa tendangan ke arahku!
Sontak, aku pun terhempas dan jatuh ke permukaan tanah!
Aku kemudian bangun, dan menyadari darah keluar dari mulutku.
"Rama itu .... "
Melihat ke atas, Rama terlihat masih melayang dengan kekuatan terbangnya. Wajahnya terlihat begitu senang karena telah melukaiku.
Rama kemudian turun dan berpijak kembali di atas tanah. Setelahnya dia mengatakan, "Ada apa ini, Ku kira Kau bisa menghiburku."
"Hiburan ... apa maksudmu, Rama?" tanyaku.
"Ya ... ternyata Kau memang sedang tidak dalam kondisi terbaik ya," ujarnya menyadari.
Kaget aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Bagaimana ... Kau bisa mengetahuinya, Rama?" tanyaku.
"Mataku ... tidak ada yang tidak bisa Ku lihat," jawabnya sambil menunjuk matanya sendiri.
Sadar bahwa mata merah Rama memiliki kemampuan khusus, aku hanya bisa terdiam dan semakin kagum pada potensinya.
__ADS_1
Tapi yang menjadi kekhawatiran diriku adalah, "Kau sebenarnya jahat atau baik, hah?" teriakku bertanya padanya.
Rama kemudian tertawa dengan tawa yang begitu jahat, "Hahahahahaha!"
"Bukankah kita tidak berhak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan aura mana yang kita miliki, Guru?"
"Energi positif atau negatif hanyalah rumpun darimana kita mendapatkan kekuatan,"
"Yang menjadikan seseorang baik atau tidaknya adalah akal,"
"Apakah aku salah, guru?" jawab dan Rama berbalik tanya.
Mendapat pertanyaan tersebut darinya, membuatku tidak bisa berkata-kata.
Dia kemudian mengambil kuda-kuda bersiap untuk menyerangku kembali!
"Akan Ku tunjukkan padamu arti dari perkataanku barusan," lanjut perkataanya.
Tiba-tiba energi gelap yang menyelimuti tubuh Rama menghilang!
Secara perlahan digantikan oleh energi yang begitu suci dan juga terang.
"Rama, siapa Kau sebenarnya?" tanyaku sambil menatapnya dengan tidak percaya.
"Seseorang dari masa depan yang dijuluki sebagai pembawa kehancuran!" balasnya.
Dia segera menyerangku menggunakan sihirnya!
"Sihir surgawi : Hujan kristal es!" teriak Rama dengan jurusnya.
Tiba-tiba terciptalah sebuah badai yang begitu kuat dan juga besar dari atas langit. Yang langsung memunculkan beribu-ribu kristal es yang begitu tajam!
Mataku hanya bisa terbelalak ketika melihat jatuhnya ribuan kristal es tersebut! "Mu-mustahil ... " ujarku dengan rasa tidak percaya.
__ADS_1
_Bersambunng.