Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang

Rama Dan Seni Beladiri Yang Hilang
Membentuk Party


__ADS_3

Sudut pandang orang pertama, Rama.


Mbak Resepsionis kemudian menunjukkan arah, kemana kami akan diuji pada tahap pertama. Yakni, energi Mana kami akan di tes seberapa kuat dan besarnya.


"Baiklah, Kalian semua ikuti saya."


"Saya akan menunjukkan sebuah tempat dimana kalian semua akan diuji."


Ucapnya.


Kami kemudian berada di sebuah ruangan, terlihat ada seorang nenek-nenek yang tengah duduk sambil memperhatikan kami.


"Dia merupakan seorang veteran petualang yang kami pekerjakan, keahlian serta pengalamannya jangan diragukan lagi."


"Namun, Dia sekarang akan menguji kekuatan Mana kalian. Mengingat, salah satu keahliannya adalah menilai kekuatan serta kemurnian energi Mana."


Ucap penjelasan Mbak Resepsionis.


"Masih muda ... "


Ucap Nenek tersebut pada kami.


"Sebaiknya, Kalian bertiga cepat keluar dari ruanganku!"


Lanjut perkataanya meminta kami pergi.


Mendengar hal tersebut lantas membuat diriku kesal padanya, padahal Dia merupakan seorang veteran, namun tidak memberikan kesempatan bagi generasi muda.


Renia kemudian memberikan isyarat untuk tetap tenang kepadaku.


"Jangan pernah menganggap ini semua sebagai permainan!"


"Menjadi seorang petualang sekaligus membentuk Party bukanlah permainan anak-anak!"


"Bagi mereka yang menganggap bahwa ini semua merupakan untuk kesenangan belaka, tidaklah pantas menjadi seorang petualang!"


Kembali perkataan Nenek tersebut.


"Maaf Nek, Kami bertiga tidak menganggap hal ini sebagai sebuah permainan."


"Kami membutuhkan uang untuk kembali ke negeri kami."


Ucap Renia menjelaskan semuanya.


"Aku tidak peduli dengan semua alasanmu!"


"Pergilah, jika Kau masih ingin melihat hari esok!"


Balas perkataan Nenek tersebut.


"Mau tidak mau, suka tidak suka ... "


"Aku telah melihat begitu banyak jasad, baik teman, keluarga maupun orang-orang satu party ku saat masih aktif menjadi seorang petualang."


Lanjut perkataanya sambil murung.


"Namun, jika kalian begitu keras kepala. Maka baiklah!"


"Lagian, Aku juga memiliki firasat bahwa salah seorang diantara kalian tidaklah akan lolos."


Ucapnya dengan nada sombong.


Dia kemudian mempersilahkan kami bertiga duduk. Dan mengeluarkan bola kristal miliknya.


"Aliri bola kristal ini menggunakan energi Mana kalian!"


"Jika kristal ini memunculkan suatu elemen yang merupakan keahlian kalian, maka kalian dinyatakan lolos."


Ucapnya memberitahu ujian pertama.


"Namun, ingat ... ! bahwa bola kristal ini bukanlah sekedar bola biasa!"


"Karena bahannya terbuat dari sisik naga yang terkenal begitu keras!"


"Jika energi Mana kalian tidaklah kuat, dipastikan tidak akan terjadi apapun dan kalian dinyatakan tidak lolos!"

__ADS_1


Lanjut perkataan Nenek tersebut.


Aku, Nyx bersama Renia kemudian berdiskusi untuk menentukan siapa yanga pertama akan melakukan hal tersebut.


Singkat cerita, Kami mencapai kesepakatan dimana Nyx akan melakukannya terlebih dahulu, disusul dengan Renia dan diriku terakhir.


Nyx terlihat berkonsentrasi terhadap kekuatan yang Dia miliki. Aku sempat khawatir, mengingat Nyx pernah mengatakan bahwa Dirinya tidaklah begitu pandai dalam menggunakan sihir elemen yang dimilikinya.


"Tenang saja, jika Aku berkonsentrasi penuh. Maka akan terjadi sebuah keajaiban!"


Ingatku terhadap ucapannya saat berdiskusi tadi.


Terlihat, bola kristal yang dialiri energi Mana oleh Nyx secara perlahan memunculkan elemen air didalamnya.


"Aaa!"


"Kenapa harus air, padahal Aku tidak suka air!"


Teriak Nyx dengan kesal.


wajar saja, mengingat Nyx merupakan setengah kucing yang dimana air merupakan benda yang tidak disukainya.


"Baiklah, sekarang giliran ku!"


Ucap Renia dengan percaya diri.


Dia berkonsentrasi sambil memandang bola kristal tersebut. Dengan cepat, sebuah kilatan petir muncul di dalam bola kristal.


"Kau hebat, Renia!"


"Petir yang sangat indah!"


Ucap kagumku dan Nyx.


Renia secara tiba-tiba tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Alhasil, kilatan petir miliknya sampai keluar dari bola kristal dan seperti akan menyerang kami.


"Apa yang kamu lakukan, Renia!"


Tanyaku padanya.


Jawab Renia.


Segera, Nenek penyihir tersebut menetralisir kilatan petir milik Renia. Dengan cara menyerapnya ke dalam bola kristal miliknya.


"Ku akui kekuatanmu sungguh hebat. Namun, Kau masih perlu belajar dalam mengendalikannya."


"Dalam 5 tahun terakhir, mungkin Kau satu-satunya orang yang kembali mengagetkanku dengan kekuatan sebesar ini."


"Namun tetap saja, Aku tidak begitu tertarik!"


Ucap Nenek penyihir tersebut dengan nada sombong.


"Selanjutnya, Kau!"


Lanjut perkataanya sambil melirik ke arahku.


Aku kemudian maju, dan duduk berhadapan dengan dirinya. Terlihat bola kristal ada dihadapan kami berdua, dan tugasku hanyalah mengalirinya menggunakan energi Mana.


"Baiklah."


Ucapku sambil kedua tanganku memegang bola kristal tersebut.


Memejamkan mata setelahnya, Aku membayangkan semua hal yang pernah membuat Diriku kesal dan juga marah selama ini


Setelah dadaku terasa panas, dengan segera Aku mengaliri bola kristal tersebut menggunakan energi Mana milikku.


Tiba-tiba, bola kristal yang ku pegang langsung retak dan pecah. Membuat orang-orang yang berada disini menjadi heboh dan juga heran terhadap pemandangan yang baru saja mereka lihat.


"Mustahil!"


"Bagaimana bisa?!"


"Apa yang baru saja terjadi?!"


"Kau hebat, Rama!"

__ADS_1


Ucap mereka.


Aku kemudian berdiri dan menanyakan tentang ujian keduanya.


"Apa ujian tahap kedua?"


Tanyaku pada Mbak resepsionis.


Namun, Nenek penyihir tersebut malah marah-marah, seolah tidak terima dengan hasilnya.


"Tu-tunggu, Dia pasti melakukan kecurangan!"


"Mana mungkin bocah sepertinya bisa memecahkan bola kristal milikku!"


"Kau pasti melakukan sebuah trik, kan?!"


"Jawab pertanyaan Dariku, bocah!"


Ucapnya sambil marah-marah.


Aku kemudian menunjuk ke arah sebuah lemari kaca, tempat Dirinya menyimpan semua kristal miliknya.


Semua orang yang berada di dalam ruangan, terlihat heran dengan apa yang Diriku lakukan saat ini.


"Begitu, yah."


"Kau ingin mengulangi- "


Belum menyelesaikan perkataannya, Aku dengan segera menghancurkan semua bola kristal milik Nenek penyihir tersebut.


Dia terlihat terpaku dengan apa yang yang baru saja kulakukan.


"Maaf, tapi ... "


"Inilah saatnya generasi muda untuk menunjukkan taringnya."


"Kalian seharusnya menjadi membimbing, atau paling tidak jangan menghalangi mimpi kami."


"Kalian, selalu menganggap bahwa derajat kalian berada di atas kami."


"Dengan embel-embel, bahwa kalian lebih tua atau lebih berpengalaman, yang seolah-olah kalian tahu segalanya!"


"Padahal, hampir semua hal berjalan mengikuti zaman serta tidak terpaku pada peraturan kolot serta kuno!"


"Jadi, sekarang terimalah kenyataan!"


Ucapku yang lalu pergi meninggalkannya.


Kami kemudian pergi ke tempat ujian party tahap kedua. Tempat kali ini terlihat lebih mencekam, dengan kondisi yang terlihat seperti arena bertarung.


"Baiklah, ini adalah ujian tahap kedua kalian!"


Ucap Mbak resepsionis kepada kami.


"Lantas, dimana orang yang akan mengawasi kami?"


Tanyaku padanya.


"Apa maksud dari pertanyaan mu, sedari tadi Dia berdiri di hadapanmu."


Ucap Mbak resepsionis sembari tersenyum.


Mendengar hal tersebut darinya lantas membuatku bingung dan mencerna perkataanya.


Secara tiba-tiba, Mbak resepsionis kemudian menyerangku menggunakan pukulannya. Namun, Aku berhasil menghindari serangannya berkat Renia yang menarik tanganku.


"Rama awas!"


Teriak Renia sambil menarik Diriku.


"Wah, reflek yang bagus ... Gadis muda!"


Ucapnya memuji Renia.


Terlihat, hantaman pukulannya begitu kuat sehingga meninggalkan bekas yang begitu dalam di tanah. Yang jika itu diriku, pasti aku sudah lenyap!

__ADS_1


_Bersambung.


__ADS_2