Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Cemooh Di Perayaan Minum Teh


__ADS_3

Kasak kusuk akan putri Ernest mengiringi perjamuan teh. Para putri pejabat bersikap anggun di hadapan raja dan ratu namun ada yang tidak ragu untuk membicarakan putri Ernest secara diam-diam. Putri Ernest benar-benar diacuhkan, para putri pejabat itu mengerumuni Arabella dan tidak ada satu dari mereka pun yang mau bersama dengan Ernest.


Dari sana Alena jadi tahu, jika putri Ernest benar-benar tidak disukai oleh siapa pun. Mungkin karena isu yang beredar telah membuat mereka membenci Ernest karena di jaman itu seorang penyihir dianggap begitu jahat dan seorang penyihir harus dibakar tapi karena Ernest adalah putri raja, tidak ada yang berani menangkapnya secara terang-terangnya.


Arabella benar-benar menikmati pujian demi pujian yang diberikan untuknya. Semua putri pejabat memuji kecantikannya apalagi dia digadang-gadangkan akan menjadi ratu selanjutnya. Ernest yang malang pun sendirian tapi itu di mata orang-orang karena bagi Alena itu justru bagus untuknya. Dia bisa menikmati makanan apa pun yang dia inginkan dan dia bisa mempelajari situasi dan yang paling penting adalah, tidak akan ada yang curiga akan gerak geriknya namun walau begitu, timbul perasaan iba pada putri Ernest. Apakah sang putri harus menjalani hal demikian setiap saat? Pasti tidak menyenangkan, berada di dalam istana yang luas tapi dia kesepian. Entah bagaimana Ernest menjalani harinya yang sepi.


Arabella yang sedang berbincang, melihat ke arah Ernest yang sedang sendirian. Dia jadi iba dengan adiknya karena tidak seharusnya Ernest dikucilkan seperti itu. Sebagai seorang kakak, dia terlalu menikmati waktunya sendiri dan melupakan saudaranya sendiri.


"Mari kita berbincang dengan Ernest," ajak Arabella.


"Tapi, Princess. Dia adalah?" sang putri pejabat pun menutup mulut karena hukum pancung bagi orang yang berani berbicara jika Putri Ernest adalah seorang penyihir di dalam istana.


"Kenapa? Apa gara-gara isu tentangnya sehingga kalian tidak mau dekat dengannya?" tanya Arabella.


"Bukan seperti itu, Putri. Kami hanya?" semua tampak ragu.


"Sudahlah jika kalian tidak mau," Arabella beranjak, lebih baik dia bersama dengan adiknya.


"Bukan seperti itu!" para putri pejabat itu saling pandang tapi mau tidak mau mereka mengikuti princess Arabella.


"Ernest, kenapa kau sendirian di sini?" tanya Arabella.


"Aku suka sendirian, Kakak. Nikmati saja waktu kakak dengan yang lainnya," ucap Ernest.


"Jangan seperti itu, kita di sini untuk menikmati perjamuan minum teh jadi mari kita menikmati perjamuan ini bersama-sama."


"Terima kasih tapi aku lebih suka menikmati pemandangan yang indah ini."

__ADS_1


"Princess Arabella sudah berbaik hati untuk mengajakmu tapi kenapa kau begitu sombong?" ucap seorang putri pejabat yang sudah tidak tahan melihat keadaan itu.


"Sudah, jangan menyalahkan Ernest. Sejak dulu Ernest memang lebih suka menyendiri," sela Arabella.


"Tapi, Putri. Sekalipun dia adalah adikmu tapi tidak seharusnya dia tidak menghargai dirimu apalagi kau adalah calon ratu di masa depan."


"Hentikan, jangan berbicara seperti itu. Masalah itu tidak boleh dibicarakan dengan sembarangan apalagi Baginda Raja dan Ibu Ratu masih sehat!"


"Maaf," putri pejabat itu tampak menunduk.


"Jangan dipikirkan apa yang mereka katakan, Ernest. Kau adalah adikku, jadi tidak ada yang boleh menjelek-jelekkan dirimu apalagi di dalam istana ini."


"Terima kasih, Kakak. Aku tidak apa-apa seorang diri. Pergilah nikmati waktumu bersama dengan mereka."


"Apa kau yakin?" tanya Arabella.


"Baiklah jika itu yang kau mau, tapi jika kau ingin bergabung dengan kami, jangan ragu sama sekali. Kau mengerti?"


"Tentu, terima kasih atas kebaikan kakak yang sudah peduli denganku," Alena tersenyum. Dia menolak karena dia ingin melihat situasi yang ada.


"Baiklah, ayo kita melanjutkan rencana kita yang tertunda," Arabella beranjak. Putri pejabat berbondong-bondong mengikutinya. Sebagian dari mereka melihat ke arah Ernest lalu mencibir putri itu dalam hati. Ernest tidak peduli, dia acuh tidak acuh dan tentunya sikapnya itu membuat semua orang sangat heran karena tidak saja terkenal putri yang tidak berguna, Ernest pun dikenal sebagai putri yang manja dan tidak pernah ingin berjauhan dengan Arabella tapi untuk hari ini, ini kali pertama Ernest menolak ajakan Arabella.


Arabella pun sangat heran dengan sikap adiknya, biasanya Ernest akan langsung menempel padanya dan begitu manja setelah diabaikan tapi kenapa dia justru menolak? Aneh, rasanya sangat ingin tahu tapi dia akan mencari tahu nanti.


Sang ratu yang melihat putrinya hanya sendirian tampak cemas, para putri pejabat itu hanya mengerumuni Arabella saja. Apa Ernest tidak suka berteman dengan siapa pun? Alena yang sedang mempelajari situasi dengan baik justru harus kembali mendengar cemooh yang ditunjukkan padanya.


"Dasar putri tidak berguna!"

__ADS_1


"Dia dan Princess Arabella bagaikan langit dan bum!"


"Kenapa raja dan ratu harus memiliki seorang putri tidak berguna seperti ini?"


"Dia hanya pecundang yang berstatus putri!"


Cemooh demi cemooh itu Alena dengar, tentunya tidak ada yang berani berbicara di dekat raja dan ratu, cemooh itu hanya terdengar di dekat Ernest dan yang membicarakannya dirinya tentunya orang-orang yang ada di sekitarnya. Alena yang mendengar pun hanya diam, sungguh kehidupan sang putri yang menyedihkan. Tidak saja dibenci tapi dia pun harus menjadi bahan cemooh di istana bahkan di luar istana.


Tapi setelah mendengar hinaan-hinaan itu, dia justru memiliki tekad yaitu merubah semuanya. Penghinaan yang Ernest dapatkan hari ini, tidak akan didengar lagi di kemudian hari walau dia tahu jalan untuk merubah cemooh itu menjadi sebuah pujian tidaklah mudah.


Isu mengenai dirinya sebagai seorang penyihir akan dia ungkap dan akan dia buktikan jika putri Ernest  bukanlah seorang penyihir. Jika mendengar perkataan Amy dan Agnes mengenai isu sekte sesat yang memakan korban, berarti memang ada dalang di balik kejadian yang terjadi dan dia rasa, untuk menutupi kejahatan tersebut putri Ernest dijadikan korban. Entah kenapa dia merasa kasus ini sangat mirip dengan kasus yang sedang dia tangani. Apakah ini misi yang harus Ernest pecahkan?


Alena sedang memikirkan hal ini namun dia dikejutkan oleh sentuhan tangan seseorang yang menyentuh bahunya. Alena berpaling, ibu ratu tersenyum dan duduk di sisinya.


"Kenapa kau tidak berbaur dengan yang lain?" tanya ibu ratu.


"Aku lebih suka di sini," Alena tersenyum, cemooh-cemooh akan putri Ernest pun tidak terdengar lagi.


"Bunda ingin kau berbaur dengan yang lainnya, Ernest. Kau selalu menyendiri seperti ini, bagaimana kau bisa punya teman?"


"Tidak apa-apa, Bunda. Aku akan berbaur dengan mereka nanti."


"Baiklah, aku harap kau memiliki beberapa teman. Beberapa hari lagi ada kunjungan dari istana tetangga, jadi aku harap kau tidak sendirian seperti ini agar tidak ada yang berbicara buruk tentangmu."


"Kunjungan?" Alena melihat ke arah ibu ratu.


"Benar, seorang pangeran akan berkunjung ke istana kita jadi kau tidak boleh pergi ke mana-mana dan harus hadir, kau paham?"

__ADS_1


Alena mengangguk, kunjungan dari seorang pangeran? Dia tidak peduli karena yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah, bagaimana dia menemukan pelaku yang menyebarkan isu jika Ernest adalah seorang penyihir? Sejak tadi dia sudah memperhatikan jika tidak ada yang mencurigakan sama sekali dari orang-orang yang ada di Istana.


__ADS_2