
Arabella dan pengikutnya segera diamankan oleh para prajurit. Mereka dimasukkan ke dalam kurungan besi yang memang sudah disiapkan untuk menangkap para pengikut sekte itu. Dua kurungan besi yang disiapkan sudah penuh, yang mati terbunuh pun dibereskan namun satu kurungan besi belum diisi dan kurungan itu disiapkan untuk sang penyihir.
Pemanah yang bersembunyi di semak-semak pun sudah tertangkap oleh Bastian dan pemanah itu tak lain tak bukan adalah pelayan Arabella. Dia mendapat tugas untuk mengambil sesuatu ke istana dan begitu kembali, pelayan Arabella mendapati para pengikut sekte sedang di serang. Pelayan Arabella tidak berani keluar, dia terus mengintai sampai akhirnya dia melihat putri Arabella terpojok oleh sebab itu dia memanah Alena dengan harapan, Alena mati akibat panah beracun.
Lucius segera membawa Alena yang sudah tidak sadarkan diri untuk kembali ke istana. Perasaannya tak menentu apalagi percakapannya dengan Alena beberapa hari belakangan teringat. Sungguh dia sangat takut, takut jika ini menjadi hari terakhirnya bersama dengan Alena.
Raja Leon yang begitu kecewa karena telah membesarkan seorang penyihir memerintahkan seorang prajurit untuk menarik Arabella ke sebuah kerangkeng besi yang memang sudah disiapkan khusus untuk sang penyihir agar besok rakyat bisa melihat rupa sang penyihir tentunya di dalam kerangkeng besi itu sudah ada Mauren.
"Jangan perlakukan aku seperti ini, Ayahanda. Aku putrimu!" teriak Arabella memohon.
"Diam, sejak awal kau bukan putriku!" teriak raja Leon murka.
"Aku putrimu, Ayahanda. Aku putrimu!" teriaknya lagi.
"Bawa mereka ke alun-alun. Besok kumpulkan para rakyat agar mereka melihat siapa penyihir sebenarnya agar mereka tahu jika Ernest bukanlah penyihir seperti yang mereka kira!" perintah raja Leon.
"Tidak, tolong ampuni aku ayahanda. Aku dipengaruhi oleh ibuku!" teriak Arabella. Sebisa mungkin dia akan memohon agar tidak dibawa ke alun-alun agar para rakyat tidak tahu jika dia adalah seorang penyihir.
"Bawa!" perintah raja Leon tanpa mau mempedulikan permintaan Arabella.
Arabella berteriak, memohon pengampunan raja namun raja Leon yang begitu kecewa sudah tidak mempedulikan dirinya lagi. Pelayan Arabella yang sudah tertangkap pun berteriak berharap sang ratu yang mereka puja bisa melepaskan dirinya begitu juga para pengikut yang sudah terpedaya dengan tipu muslihat yang ditunjukkan oleh Arabella dan Mauren.
Matahari sudah hendak menyingsing saat raja Leon dan prajurit kembali ke istana. Alena sedang dirawat oleh seorang tabib, panah beracun sudah dicabut dari bahu dan lukanya pun sudah diobati. Obat penawar racun sudah diberikan, namun Alena masih belum juga sadarkan diri.
Amy dan Agnes menangis tiada henti di sisi ranjang, mereka sungguh tidak menyangka ada pemanah yang bersembunyi sehingga melukai putri Ernest padahal kemenangan sudah berada di depan mata. Lucius sampai terduduk di depan pintu dan menunduk, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa semua yang terjadi bagaikan mimpi? Seandainya bisa diulang untuk sesaat saja, dia tidak akan membiarkan Ernest yang menghadapi Arabella.
Bastian yang sudah kembali ke istana, mendapat sang pangeran duduk di depan pintu kamar putri Ernest dan terlihat kacau. Keadaan istana mulai memiliki kehidupan karena para prajurit dan pelayan yang berada di bawah pengaruh obat bius mulai sadar. Mereka tampak linglung namun suara keributan di luar menarik perhatian mereka.
Ratu Hana yang tertidur akibat obat tidur yang diberikan oleh Mauren pun sudah sadar. Ratu Hana belum mengerti apa yang terjadi namun keributan di luar sana dan teriakan para pelayan yang mengatakan jika penyihir sudah tertangkap tentu membuat ibu ratu keluar dari istana.
Pagi pun sudah menjelang, para rakyat mulai berdatangan ke istana karena kabar jika penyihir sudah tertangkap. Gerbang istana dibuka agar mereka bisa melihat penyihir yang sesungguhnya. Mereka berbondong-bondong menuju aula di mana Mauren dan Arabella berada bersama dengan para pengikutnya.
__ADS_1
Mauren dan Arabella terikat di tiang dan pengikut yang tersisa berada di belakang mereka. Mayat para pengikut sekte yang terbunuh di bariskan satu persatu di lantai aula, para rakyat yang sudah berada di aula terkejut ketika melihat putri Arabella yang mereka cintai justru terikat di tiang bersama dengan pelayan sang ratu. Tidak saja rakyat, ratu Hana pun terkejut melihat putrinya.
"Arabella, kenapa kau terikat di sini?" ratu Hana berlari ke arah putrinya karena dia memang masih tidak tahu apa yang terjadi.
"Tolong aku, Bunda. Aku difitnah. Aku bukan penyihir, aku di jebak olehnya, Bunda!" pinta Arabella yang melontarkan kesalahan pada ibunya kandungnya sendiri.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" ibu ratu melihat ke arah pelayan karena dia belum tahu jika pelayan yang sangat dia percayai adalah Mauren.
"Memang aku yang menghasutnya. Aku ingin dia mati bersama denganku jadi aku menghasut dirinya dan menjebaknya!" teriak Mauren. Untuk menyelamatkan putrinya, dia akan melakukan apa pun.
"Bunda sudah mendengarnya, tolong lepaskan aku, Bunda," pinta Arabella. Dia berharap ikatannya dilepaskan sehingga dia bisa lari dari tempat itu.
"Akan Bunda lepaskan, bunda akan melepaskan ikatanmu!" ratu Hana berusaha melepaskan tali yang mengikat Arabella.
"Jangan lakukan itu, Hana!" cegah raja Leon yang sedang melangkah mendekati mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Baginda?" tanya sang ratu tidak mengerti.
"Kita sungguh sudah tertipu oleh mereka selama ini dan kita sudah menaruh duri di dalam daging kita sendiri karena kita sudah memelihara penjahat di dalam rumah kita!" jawab raja Leon.
"Pelayanmu itu, dia adalah Mauren dan Arabella adalah putrinya!"
"Apa?" ratu Hana terkejut dan memekik.
"Tidak mungkin?" teriaknya.
"Penyihir yang selama ini diisukan adalah Arabella dan aku yakin, yang menyebarkan jika Ernest sebagai penyihir adalah Mauren. Kita sungguh tidak tahu, sekarang terjawab sudah kenapa kita tidak bisa mendapatkan pelaku karena mereka begitu dekat dengan kita sehingga mereka tahu apa yang kita lakukan!"
"Tidak mungkin, tidak!" ratu Hana melangkah mundur dan memandangi Arabella dengan tatapan tidak percaya.
"Jangan percaya, Bunda. Aku bukan penyihir!" teriak Arabella.
__ADS_1
Raja Leon melangkah maju lalu berdiri di tengah-tengah di mana para rakyat juga pejabat serta menteri yang tidak terlibat dengan sekte sesat itu sudah berkumpul tentunya mereka sudah berbisik-bisik sedari tadi dengan rasa penasaran yang cukup tinggi.
"Para rakyat yang aku cintai, pagi ini aku mengumpulkan kalian untuk meluruskan satu hal. Sebuah kesalahpahaman yang selama ini terjadi dan setelah ini aku sangat berharap, tidak ada yang menuduh Ernest sebagai seorang penyihir karena yang ada di hadapan kalian saat ini, mereka berdualah penyihir yang sesungguhnya!" teriak raja Leon.
Kegaduhan terjadi, sebagian dari mereka seperti tidak percaya namun mereka tahu raja Leon tidak mungkin berbohong apalagi mereka tahu jika raja Leon dan ratu Hana sangat menyayangi putri Arabella. Ratu Hana menangis di aula, menangis akibat rasa tidak percaya dan kenyataan yang benar-benar diluar dugaan. Dia sungguh tidak menduga jika Mauren kembali ke istana dengan menyamar dan menyusupkan putrinya. Tidak hanya itu saja, dia sungguh kecewa karena putri yang dia besarkan dengan penuh kasih sayang bahkan yang akan menjadi ratu selanjutnya justru seorang penyihir bahkan Arabella begitu tega memfitnah Ernest sehingga dia dibenci banyak orang. Rasa kecewa yang ratu rasakan membuatnya tidak mau melihat Arabella sama sekali.
"Aku memang salah, Bunda. Tolong maafkan aku dan lepaskan aku!" pinta Arabella.
"Diam, jangan memanggil aku dengan sebutan Bunda. Aku tidak mau jadi ibumu lagi!" teriak ratu Hana dengan perasaan kecewa yang teramat sangat.
"Ampuni aku, Bunda. Aku mengaku salah!" Arabella masih berusaha memohon.
"Mengampuni dirimu? Setelah apa yang kau lakukan?" kini ratu Hana melangkah mendekati Arabella.
"Kau begitu tega memfitnah Ernest, sehingga dia dibenci oleh banyak orang bahkan banyak yang ingin membunuhnya dan semua itu gara-gara dirimu tapi begitu mudahnya kau meminta maaf?" ratu Hana terlihat murka.
"Aku menyesal, Bunda. Aku menyesal," Arabella pun menangis, dia harap ada belas kasihan pada diri ratu Hana sehingga mau memaafkan dirinya.
"Terlambat, Arabella!" ratu Hana melangkah pergi, air mata dihapus lalu napas ditarik sejenak.
"Aku sungguh tidak menduga jika putri yang aku besarkan ternyata adalah seorang penyihir dan aku rasa tidak aku saja yang kecewa karena aku yakin kalian pun kecewa oleh sebab itu, mulai sekarang Arabella bukan putriku lagi dan bukan calon ratu Kent Arsia lagi. Siapa pun yang ada di aula ini wajib melempari mereka dengan batu. Bagi siapa yang tidak melakukannya maka dia akan dianggap sekutu dan akan berakhir seperti mereka semua!" ucap ratu Hana di hadapan para rakyatnya.
"Lakukan apa yang ratu Hana perintahkan!" teriak raja Leon yang setuju dengan apa yang diperintahkan oleh istrinya.
"Jangan lakukan hal itu pada putriku!" teriak Mauren.
"Maafkan aku, Bunda. Aku memohon pengampunanmu ayahanda!" teriak Arabella pula tapi raja dan ratu sudah tidak peduli lagi.
"Di mana Ernest, Baginda?" tanya ratu Hana karena dia tidak melihat putrinya yang lain.
"Ernest terkena panah beracun!"
__ADS_1
"Apa?" ratu Hana terkejut dan terhuyung sehingga raja Leon langsung memeganginya. ratu Hana tampak shock, dia pun meninggalkan aula dengan terburu-buru untuk melihat keadaan putrinya yang lain.
Para rakyat yang ada di aula mulai menjalankan perintah, mereka mengambil batu yang sudah tersedia untuk melempari Arabella dan Muaren. Tidak saja melempari mereka berdua, namun para rakyat yang marah juga melempari para pengikut sekte sesat. Arabella berteriak memohon tapi para rakyat yang dulunya sangat mencintai dirinya sudah tidak peduli lagi karena mereka begitu kecewa dan mereka pun sudah begitu lama ingin menghakimi sang penyihir yang membuat mereka resah.