
Setelah menangkap pembunuh bayaran yang hampir saja membunuh Agnes, Alena memutuskan kembali ke kamarnya. Sangat tidak bijak kembali ke ruang perjamuan karena orang-orang bisa mencurigainya. Kali ini dia benar-benar memanfaatkan kelemahan Ernest, dia memiliki alasan saat ibu ratu bertanya kenapa dia meninggalkan perjamuan.
Pengawal pangeran Lucius sudah kembali, dia tidak bisa mengatakan apa yang dia lihat pada Pangeran di tempat itu. Sebuah isyarat dia berikan pada sang pangeran jika dia akan menunggu di kamar. Pangeran Lucius yang tidak bisa meninggalkan perjamuan pun hanya memberikan sebuah isyarat pada pengawal pribadinya. Meski penasaran tapi dia harus menahannya.
"Bagaimana dengan perjamuan ini, Pangeran? Aku harap kau senang," ucap putri Arabella.
"Tentu saja aku senang, putri Arabella. Aku akan menyambutmu dengan baik saat kau datang ke istanaku nanti."
"Wah, apakah kau akan mengundang aku ke istanamu?"
"Begitulah, aku akan menyampaikan undangan pada baginda raja."
"Aku sangat tersanjung, Pangeran. Aku tidak sabar menantikannya," Arabella tersenyum manis, dia sungguh tidak sabar karena dengan begitu dia dan pangeran Lucius akan semakin dekat.
Baginya pria itu sangatlah sempurna, Lucius William adalah pangeran pertama dari kerajaan Kenneth dan sebentar lagi dia akan dinobatkan sebagai putra mahkota. Dia adalah pangeran idaman bagi banyak putri dari kerajaan dan dari kaum bangsawan. Sepak terjangnya yang telah memenangkan sebuah pertempuran membuatnya disegani sehingga banyak kerajaan yang sungkan dengannya.
Arabella menganggap jika yang cocok menjadi pendampingnya hanya pangeran Lucius saja. Dia adalah calon ratu masa depan Kent Arsia oleh sebab itu, di saat mereka berdua bersatu, mereka berdua akan menjadi pasangan yang serasi dan mereka berdua akan memimpin dua kerajaan besar.
Bayangan itu sudah berada di dalam kepalanya oleh sebab itu dia harus mewujudkan apa yang ada di dalam bayangan itu agar menjadi nyata.
Perjamuan yang meriah, tidak ada yang menyadari keberadaan Ernest. Mereka menikmati perjamuan itu yang semakin meriah saja apalagi saat Lucius menyampaikan undangan yang dia berikan pada kerajaan Kent Arsia agar dapat hadir dalam pesta yang akan diadakan di istananya.
Suara musik semakin nyaring terdengar, semua bergembira tapi ibu ratu mulai menyadari jika putri Ernest tidak ada di tempat perjamuan itu. Sang ratu melihat tempat itu dengan teliti namun putri Ernest benar-benar tidak ada.
"Baginda, aku tidak melihat Ernest," ucap ibu ratu pada suaminya.
"Benarkah? Apa dia tidak bersama kita sedari tadi?"
"Ada apa, Bunda?" tanya Arabella.
"Adikmu tidak terlihat di mana pun. Sebaiknya bunda melihatnya di kamar."
__ADS_1
"Biar aku saja, Bunda. Mungkin Ernest sedang tidak enak badan."
"Baiklah, kembalilah lagi setelah kau memastikan keadaannya," pinta ibu ratu.
Arabella mengangguk lalu beranjak, kedua pelayan mengikutinya untuk menuju kamar Ernest. Pangeran yang sedari tadi sudah sangat ingin tahu pun begitu penasaran kenapa Ernest tidak kembali lagi ke perjamuan. Apa sudah terjadi sesuatu pada si pecundang itu? Sungguh dia sangat ingin tahu dan berharap perjamuan yang mulai membosankan itu segera berakhir.
Alena yang sudah kembali ke kamar pun tidak melakukan apa pun. Dia sengaja berbaring agar saat ada yang masuk ke dalam kamarnya, tidak ada yang curiga dengan keadaannya. Hari ini dia memang mau beristirahat apalagi racun yang sempat dia konsumsi masih membuat kepalanya pusing.
"Bagaimana dengan pelayan yang kita tahan itu, Putri?" tanya Amy.
"Stss.. hari ini kita tidak membahas apa pun mengenai hal itu. Pergilah buatkan sesuatu untukku di dapur, mungkin akan ada desas desus yang kau dengar di sana," pinta Alena dengan suara pelan.
"Maaf, putri. Aku akan melakukan perintahmu. Apa yang Tuan Putri inginkan, apa Putri mau sup kacang merah?" tanya Amy.
"Tentu, aku butuh sesuatu yang bisa menambah energi."
"Aku akan segera membuatkan sup kacang merah yang tuan putri inginkan," Amy melangkah menuju pintu dan ketika pintu terbuka, Amy terkejut mendapati putri Arabella sudah berdiri di depan pintu dengan kedua pelayannya.
Alena melihat ke arah pintu, apa itu kakaknya?
"Mana Ernest? Kenapa dia tidak berada di perjamuan?" tanya Arabella.
"Aku di sini, Kakak," ucap Alena. Jangan sampai kakaknya curiga.
"Ernest, kenapa kau berada di kamar? Apa penyakitmu kambuh?" Arabella melangkah masuk dan duduk di sisi ranjang.
"Maafkan aku, Kakak. Keadaanku benar-benar tidak mendukung. Aku tidak mau ada keributan di perjamuan jadi aku pergi secara diam-diam."
"Apa kau sudah minum obat? Jika belum aku akan meminta seseorang membuatkan obat untukmu."
"Terima kasih kakak sudah mengkhawatirkan aku, aku sudah meminta Agnes membuatkan obat untukku."
__ADS_1
"Baiklah, tapi lain kali kau harus mengatakan hal ini padaku agar aku bisa mengantarmu ke dalam kamar."
"Terima kasih, Kakak," Alena tersenyum. Entah siapa yang harus dia percaya dan entah siapa yang harus dia waspadai karena dia masih belum tahu siapa yang menginginkan kematian Ernest. Bisa saja orang itu adalah putri Arabella, dia memang baik tapi bisa saja kebaikan yang dia tunjukkan adalah sebuah topeng dan bisa saja yang harus dia waspadai adalah ibu ratu yang tidak menginginkan dirinya. Bisa saja ibu ratu menganggapnya sebagai penghalang bagi Arabella, oleh sebab itu ibu ratu ingin menyingkirkan dirinya dan bisa saja raja sendiri yang menginginkan kematiannya tapi untuk apa? Dia harus menemukan motif yang kuat dan masuk akal baru bisa menuduh anggota keluarganya sendiri.
Semua masih misteri dan tampak abu-abu, kurangnya pengetahuan membuatnya kesulitan bahkan dia belum tahu misi apa yang yang harus Ernest lakukan. Pelayan itu, semoga dia mendapat petunjuk walau sedikit setidaknya petunjuk akan ritual yang akan diadakan pada tanggal lima belas nanti.
"Ernest," Arabella memanggilnya karena Ernest diam saja.
"Oh, ada apa?" Alena tampak gugup.
"Ada apa denganmu? Aku memanggilmu sedari tadi," Arabella memegangi lengan adiknya dan tampak khawatir.
"Tidak apa-apa, maaf jika aku melamun."
"Baiklah, sebaiknya kau beristirahat. Aku akan menyampaikan pada Bunda jika kau berada di kamar untuk beristirahat."
"Terima kasih, Kakak. Terima kasih pula kau sudah mengunjungi aku."
"Sudah, kami khawatir dengan keadaanmu yang tiba-tiba tidak berada di ruang perjamuan. Sekarang aku sudah melihatmu, aku pun sudah tenang."
"Tolong sampaikan maafku pada bunda dan ayahanda," pinta Ernest.
"Pasti," Arabella sudah beranjak dan keluar dari kamar Ernest.
Arabella kembali ke ruang perjamuan untuk menyampaikan keadaan Ernest pada kedua orangtuanya. Dia juga ingin berbincang dengan sang pangeran karena dia ingin semakin dekat dengan sang pangeran yang dia idam-idamkan tapi sayangnya Lucius sudah kembali ke kamar dengan alasan hendak beristirahat padahal dia ingin mendengar apa yang hendak disampaikan oleh pengawal pribadinya.
"Katakan, apa yang kau lihat saat kau mengikutinya!" pinta Lucius.
"Tuanku, sepertinya kabar akan dirinya seorang pecundang tidaklah benar," ucap sang pengawal.
"Apa maksudmu?" tanya Lucius tidak mengerti.
__ADS_1
Sang pengawal melangkah mendekat lalu mengatakan apa yang dia lihat pada Pangeran dengan cara berbisik. Lucius terkejut, apakah yang dikatakan oleh pengawal pribadinya adalah benar? Terus terang saja dia tidak percaya tapi pengawal pribadinya tidak mungkin berbohong. Apakah Ernest benar-benar bukan pecundang ataukah dia berpura-pura lemah hanya untuk menutupi dirinya yang adalah seorang penyihir? Entah kenapa dia jadi sangat penasaran akan sosok Ernest.