
Alena tampak gelisah di dalam kamar karena sebentar lagi dia harus pergi ke kamar Lucius. Terus terang saja dia tidak mau tapi jika dia tidak datang, maka pria itu akan membocorkan rahasianya. Ini benar-benar situasi yang tidak bagus, dia tidak boleh berada di bawah kendali seseorang apalagi seorang lelaki.
Dia tidak tahu bagaimana laki-laki di abad itu dan dia tidak tahu bagaimana derajat seorang wanita di mata seorang pria pada masa itu. Biasanya wanita pada jaman seperti itu dianggap rendah dan jika memang demikian, dia tidak boleh dikendalikan oleh pangeran Lucius.
Dia datang dari jaman modern, di mana derajat para wanita dan pria sama. Orang dari jaman modern seperti dirinya jangan sampai ditindas oleh orang jaman kuno apalagi seorang pria. Jangan sampai dia mempermalukan kedua orang tuanya.
Alena melangkah mondar mandir sampai membuat kedua pelayannya saling pandang karena heran. Alena bahkan bergumam pelan, agen seperti dirinya tidak mungkin kehabisan akal untuk menghadapi pangeran dari jaman kuno itu.
"Baiklah, kau pasti bisa!" ucap Alena pada diri sendiri.
"Putri?" Agnes dan Mia memanggilnya karena sang putri tak henti mondar mandir.
"Kalian berdua beristirahatlah, jangan pedulikan aku!"
"Tapi bagaimana denganmu, Putri. Aku takut Pangeran memanfaatkan dirimu karena dia memegang kelemahanmu," ucap Amy.
"Tidak perlu takut, Amy. Aku bisa mengatasinya tapi kita tidak bisa bergerak sembarangan selama ada dirinya. Kita pun belum bisa mencari tahu dari mana racun yang ada di dalam obat itu berasal dan belum bisa mencari tahu siapa yang ada di dalam istana ini yang telah memesan racun itu."
"Kenapa kau tidak meminta bantuan Pangeran Lucius, Putri? Dengan statusnya sebagai seorang pengeran, bukanlah tidak sulit baginya mencari tahu apa yang putri inginkan?" tanya Agnes.
"Kau memang benar tapi kita tidak boleh sembarangan mempercayai orang apalagi yang baru kita kenal. Kita tidak tahu apakah Pangeran Lucius adalah pangeran yang baik atau tidak dan kita pun tidak tahu dia bisa dipercaya atau tidak. Jangan sampai kita justru jatuh ke dasar jurang yang lebih dalam karena kita sembarangan mempercayai orang hanya karena status dan derajatnya."
"Baiklah, yang dikatakan oleh putri memang benar. Memang kita tidak terlalu mengenal pangeran Lucius William bahkan pangeran Lucius diisukan tidak menyukai Tuan Putri karena Tuan putri dianggap pecundang oleh banyak orang," ucap Amy.
"Kalian lihat? Dia tidak menyukai aku karena aku adalah seorang pecundang. Tidak mungkin tiba-tiba dia menyukai aku hanya karena dia melihat aku memukul para bandit itu. Rasa tidak suka yang ada sejak lama tidak mungkin tiba-tiba menjadi sebuah rasa yang berbeda oleh sebab itu kita harus berhati-hati padanya!"
"Baiklah, Putri. Semoga pangeran Lucius tidak meminta hal yang aneh padamu sebagai ongkos tutup mulutnya."
"Tidak perlu khawatir, dia tidak akan bisa menindas aku. Tidak akan pernah bisa selama aku masih hidup!" yeah... tidak akan ada yang bisa selama dia, Alena Herbert berada di dalam tubuh Ernest.
__ADS_1
"Sudah tengah malam, Putri. Sebaiknya kau berhati-hati," ucap Amy dan Agnes.
"Ambilkan jubahku!" pinta Alena.
Agnes segera beranjak untuk mengambil jubah sang putri. Ernest sudah menggunakan pakaian pelayan, jangan sampai ada yang melihat jika dia masuk ke dalam kamar sang pangeran. Dia tidak mau menambah isu buruk lagi apalagi Arabella menyukai pangeran Lucius. Dia bisa dibenci oleh seluruh istana jika sampai isu dirinya yang ingin menyaingi sang kakak menyebar.
"Hati-Hatilah putri," ucap kedua pelayannya.
"Jangan khawatirkan aku, tetaplah berjaga sampai aku kembali!"
Amy dan Agnes mengangguk, mereka membukakan pintu untuk sang putri dan melihat situasi dan setelah itu mereka memberi aba-aba pada Putri Ernest jika dia sudah bisa keluar dari kamar. Alena bergegas sambil mengendap, kini dia hanya seorang diri jadi dia bisa bergerak dengan leluasa.
Dengan tubuh lenturnya, Alena menyelinap dari satu sisi ke sisi lain bahkan dia tidak ragu untuk bersalto untuk menghindari para penjaga yang sedang berpatroli.
Pangeran Lucius sudah menunggu, dia tidak sabar menunggu kedatangan putri Ernest yang misterius. Dia sudah tidak sabar untuk melihat kejutan apa yang akan diberikan oleh putri Ernest.
"Siapa?" terdengar suara Lucius dari dalam.
"Aku," ucap Alena dengan pelan.
Lucius tersenyum, kakinya sudah melangkah menuju pintu kamar. Alena masih bersikap waspada dan ketika daun pintu terbuka, Alena langsung menerobos masuk ke dalam. Dia sungguh tidak menduga karena Pangeran Lucius menyerangnya secara tiba-tiba menggunakan pedang.
Alena menghindar dengan cara bersalto ke belakang. Lucius kembali mengayunkan pedangnya tentunya hal itu memaksa Alena untuk mencabut sebuah pedang yang memang dia bawa untuk jaga diri dan dengan pedang pendek itu pula, Alena menangkis pedang yang ayunkan oleh pangeran Lucius.
"Apa maksudnya ini?" tanya Alena namun pelan.
"Menurutmu, Ernest?" Lucius justru kembali mengayunkan pedangnya.
"Sungguh sambutan yang meriah, Pangeran!" Alena sengaja melemparkan pedangnya saat kembali menangkis pedang Lucius, dia melakukan hal itu agar terlihat dia kalah. Pedang Lucius kembali terayun ke arah leher Alena tapi Alena justru tidak mengelak sehingga Lucius harus menghentikan mata pedangnya.
__ADS_1
"Kenapa kau membuang pedangmu, Ernest?" tanya Lucius.
"Maaf, Pangeran. Untuk putri tidak berguna seperti aku ini, apakah aku mampu memegang pedang begitu lama?"
Lucius melihat ke arahnya, putri yang cerdik tapi dia tidak tahu apa yang direncanakan oleh Ernest sehingga membuang pedangnya dengan sengaja.
"Ada urusan apa Pangeran memanggil aku kemari?" tanya Alena.
"Aku hanya ingin mengajakmu minum teh," jawab Lucius.
"Minum teh, tengah malam seperti ini?"
"Apa kau tidak tahu perjamuan teh tengah malam, Ernest? Lihatlah bulannya, bukankah itu indah?" Lucius membuka jendela sehingga bulan yang sedang bersinar terang dapat terlihat dari dalam kamar.
"Katakan padaku terus terang, Pangeran. Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?" Alena menatap pria itu dengan tajam, dia yakin ada maksud tersembunyi di balik perjamuan teh tengah malam itu.
"Jika begitu katakan padaku, Etrnest. Siapa kau sebenarnya?" tanya sang pangeran pula yang sedang menatap Alena tajam. Mereka berdua saling pandang, seperti yang Alena khawatirkan jika pria itu berbahaya dan dia khawatir pria itu bisa mengetahui siapa jati dirinya.
"Sungguh lucu pertanyaanmu, Pangeran. Aku, putri Ernest. Apa ada yang lain?"
"Kau seorang pecundang yang pandai menyembunyikan jati diri, Ernest."
"Terima kasih atas pujian yang pangeran berikan tapi aku memang seorang pecundang. Mengenai yang pangeran lihat malam itu, sekalipun pangeran ingin menyebarkannya aku tidak takut," Alena mengambil pedang kecilnya yang ada di atas lantai dan setelah itu dia kembali berkata, "Aku adalah seorang pecundang dan semua orang tahu itu jadi apa pun yang akan pangeran katakan mengenai malam itu, tidak akan ada satu orang pun yang akan percaya bahkan mereka akan menganggap Pangeran sudah gila jadi sebaiknya tidak asal bicara agar Pangeran tidak menjadi buah bibir di istana ini!" setelah berkata demikian, Alena keluar dari kamar pangeran Lucius dan kembali ke kamarnya.
Pintu kamar tertutup, Lucius tersenyum penuh arti setelah putri misterius itu pergi. Padahal dia ingin berbincang lebih lama tapi Ernest sungguh sudah tidak sabar.
"Menarik, Ernest. Kau semakin membuat aku penasaran dan membuat aku ingin mengenali dirimu lebih jauh!" ucap Lucius.
Alena bergegas kembali ke dalam kamar. Semoga setelah ini dia tidak bertemu dengan Pangeran Lucius tapi sayangnya, dia justru semakin membuat pangeran Lucius tertarik dengannya dan pria itu pun semakin penasaran dengan putri yang disebut sebagai pecundang tapi nyatanya, bukanlah pecundang.
__ADS_1