Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Pembunuh Bayaran Yang Tertangkap


__ADS_3

Alena dan kedua pelayannya mengikuti pembunuh yang dimaksud oleh Agnes. Pelayan itu melangkah dengan cepat, dia sudah mendapatkan perintah untuk menaruh racun untuk minuman yang akan dia berikan pada putri Ernest tapi sekarang, dia merasa sedang diikuti.


Suara musik semakin meriah, para penari menghibur para tamu. Pelayan itu menyelinap dengan cepat, Alena dan kedua pelayannya mulai kehilangan pembunuh bayaran itu. Mereka mencari di antara para tamu yang ada tapi pembunuh bayaran yang berkedok sebagai pelayan itu tidak terlihat.


"Dia tidak ada, Putri." bisik Agnes.


"Cari, jangan sampai lolos!" perintah Alena. Setidaknya Agnes sudah mengatakan pada mereka ciri-ciri pelayan yang dia curigai.


"Baik, Putri," Amy dan Agnes pun kembali berpencar. Alena ikut mencari. Karena dia dikenal sebagai seorang pecundang dan penyihir jadi tidak ada yang mau mempedulikannya dan tidak ada yang mau dekat dengannya. Dia bahkan dibiarkan lewat begitu saja dan untuk kali ini dia sangat bersyukur akan hal itu.


Pelayan yang mereka cari sudah akan pergi dari ruangan perjamuan, Agnes yang sedang mencari pun melihat pelayan itu. Dia segera memberi isyarat pada sang putri dan Amy. Mereka pun bergegas mengikuti Agnes. Pangeran Lucius yang sedari tadi memperhatikan semakin mencurigai gerak gerik Ernest. Apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh pecundang itu?


Ernest yang tidak dibutuhkan di dalam ruangan itu sudah menyelinap pergi untuk mengejar pembunuh bayaran yang hampir saja membunuh Agnes. Pelayan itu sangat cepat, dia menyelinap dari ruangan ke ruangan lain untuk mengecoh. Amy dan Agnes mengejar, mereka tahu seluk beluk istana itu. Alena yang tidak tahu apa pun mengikuti Amy, mereka terus mengejar sang pelayan yang terus lari dengan lincah.


Sial, jangan katakan jika putri Ernest sudah mengetahui bahwa dia yang hendak membunuh sang putri semalam. Pelayan itu terus saja berlari, dia tidak boleh tertangkap karena bisa celaka.


"Hati-Hati, Putri. Jangan sampai terjadi sesuatu padamu," ucap Amy.


"Jangan pedulikan aku, kita harus mengejar dan menangkapnya!" ucap Alena.


Mereka sibuk mengejar tanpa tahu jika seorang utusan dari pangeran Lucius mengikuti mereka. Karena ingin tahu, pangeran Lucius meminta pelayan pribadinya untuk mengikuti putri Ernest untuk mencari tahu apa yang hendak dilakukan oleh putri  itu.


Agnes sudah mengejar pembunuh bayaran itu terlebih dahulu, Putri kesulitan bergerak akibat gaunnya yang berat. Amy pun tidak bisa meninggalkan sang putri begitu saja, dia harus tetap menjaga putri Ernest. Mereka mengejar pembunuh bayaran itu sampai ke atas menara, dengan fisik Ernest yang lemah dan gaun yang cukup berat membuat Alena hampir kehabisan napas saat menaiki tangga yang melingkar.


"Sial, aku benci tubuh lemah dan gaun berat ini. Sungguh menghambat pergerakanku saja!" ucap Alena saat dia harus mengambil napas.


"Putri istirahat saja terlebih dahulu, aku akan menyusul Agnes!" ucap Amy.


"Pergilah, bantu Agnes. Jangan sampai dia terluka!" perintah Alena.


Amy berlari ke atas, menyusul Agnes yang sudah hampir mencapai pembunuh bayaran itu. Pembunuh bayaran itu sudah kehabisan jalan, sudah tidak ada tangga lagi. Dia benar-benar sudah tidak memiliki ruang untuk lari lagi. Agnes pun sudah berada di atas, sungguh lelah.

__ADS_1


"Apa maumu, kenapa kau mengejar aku?" teriak pembunuh bayaran itu.


"Kau sendiri, kenapa lari?" teriak Agnes pula.


"Kau mengejar jadi aku lari!"


"Tidak perlu membual, kau yang hendak membunuh putri Ernest semalam. Katakan apa alasanmu ingin melakukannya dan katakan pula padaku, siapa yang memerintahkan dirimu?"


"Jangan mengada-ada, siapa yang yang hendak membunuh Putri Ernest?" teriak pelayan itu.


"Jangan kira kau bisa menipu aku? Aku tidak akan melupakan suaramu jadi jangan mengira kau bisa menipu aku!"


"Jika begitu, kau akan mati!" pelayan itu berlari ke arah Agnes lalu menendangnya sampai membuat tubuh Agnes terpental ke belakang. Amy yang melihat itu berteriak, teriakannya bahkan dapat di dengar oleh Alena. Celaka, jangan sampai pelayannya justru mendapat celaka.


Alena kembali berlari ke atas, semoga tidak ada yang menyadari dirinya yang menghilang dan semoga raja dan ratu tidak mencarinya yang tidak ada di tempat perjamuan. Alena berlari dengan cepat, Amy membantu Agnes tapi sayangnya mereka tidak bisa bela diri namun mereka masih bisa memukul melawan pelayan yang ternyata tidak bisa terlalu memiliki kemampuan bela diri.


"Aku akan membunuh kalian berdua!" teriak pelayan itu.


Saat Ernest tiba, kedua pelayannya sedang adu pukul dengan pembunuh bayaran itu. Alena melihat situasi, tidak ada orang lain selain mereka. Sepertinya aman jika dia memukul pelayan itu, lagi pula tidak ada yang melihat tapi utusan sang pangeran sedang mengintip untuk melihat apa yang akan dia lakukan.


"Amy, Agnes!" Alena memanggil kedua pelayannya.


"Putri, apa kau baik-baik saja?" tanya Amy dan Agnes.


"Aku tidak apa-apa, bagaimana dengan kalian?"


"Dia tidak mau mengaku, Putri," ucap Agnes.


"Aku tidak melakukan apa pun, Putri. Percayalah padaku!"


"Katakan padaku, apa asalanmu ingin membunuh aku dan siapa yang memerintahkan dirimu?" tanya Alena.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa yang Tuan putri maksud, aku tidak melakukan hal keji itu!" teriaknya.


"Tidak melakukannya? Walau rupamu tidak aku lihat tapi aku ingat suaramu, saat aku mengatakan pada Raja dan Ratu jika kau ingin membunuh aku, kau tahu hukuman apa yang akan kau dapatkan, bukan?"


"Tidak, Putri. Aku tidak melakukan apa pun!" pelayan itu melangkah mundur, celaka. Ternyata putri Ernest sudah tahu, dari pada mendapat hukuman dari raja lebih baik dia mati.


"Katakan, cepat!" perintah Ernest.


"Tidak, aku sudah bersumpah setia dan jika aku tidak bisa membunuh penyihir seperti dirimu maka sebaiknya aku mati!"  pelayan itu berlari menuju jendela yang ada di ujung ruangan puncak menara itu.


"Jangan kira kau bisa!" Alena berlari ke arah pelayan itu, dia harus menghentikannya jika tidak dia tidak akan mendapatkan apa pun.


"Lebih baik aku mati. Ha.... Ha... Ha...!" teriaknya sambil tertawa.


"Putri!" Agnes dan Amy berteriak melihat putri mereka sedang berlari menuju sisi ruangan untuk mengambil kursi. Pelayan itu sudah akan mencapai jendela, dia akan melompat ke bawah tapi pada saat itu, Alena melemparkan kursi yang dia dapatkan ke arah pelayan itu.


Kursi yang terbuat dari kayu mendarat tepat dan mengenai punggung sang pelayan. Pelayan itu pun terjungkal ke lantai, teriakan dan makiannya pun kembali terdengar. Alena berlari mendekati target, kedua tangannya langsung dikunci ke belakang agar pelayan itu tidak bisa melawan.


"Apa maumu, Putri?" tanya pelayan itu.


"Mencari tahu kenapa kau ingin membunuhku dan siapa yang memerintahkan dirimu?"


"Aku ingin membunuhmu karena kau seorang penyihir dan tidak ada yang memerintahkan aku!"


"Tidak perlu berbohong, sekarang katakan!"


"Aku sudah mengatakannya, sekalipun kau membunuh aku, aku tidak akan berbicara apa pun!"


"Baik, kita lihat nanti!" Alena memukul tengkuk pelayan itu sampai pingsan. Percuma menginterogasinya sekarang. Lagi pula dia harus cepat kembali sebelum ada yang menyadari jika dia tidak ada.


"Bawa dia dan sembunyikan, aku akan menginterogasinya nanti!" perintah Alena.

__ADS_1


"Baik, Putri," Amy dan Agnes segera bergerak, sedangkan Alena berdiri didepan jendela yang tidak memiliki daun pintu. Sedikit demi sedikit, dia harus mencari infromasi dan dia harap pelayan itu memberinya informasi. Pelayan yang diutus oleh pangeran Lucius pun pergi karena dia tidak mau ketahuan, pangeran pasti tidak akan percaya dengan apa yang akan dia sampaikan.


__ADS_2