
Obat untuk putri Ernest pun sudah jadi, obat itu dibawa oleh pelayan ibu ratu ke taman di mana putri Ernest dan Pangeran Lucius masih berada di sana. Alena benar-benar dongkol, hari tenangnya jadi terganggu karena Pangeran Lucius tidak juga pergi.
Arabella yang baru keluar dari kamarnya tanpa sengaja berpapasan dengan pelayan ibu ratu yang membawa obat. Dia tahu itu obat untuk adiknya oleh sebab itu dia berniat melihat keadaan Ernest yang dia kira ada di dalam kamar.
"Berikan obat itu pada pelayanku!" perintah Arabella.
"Baik Putri, tapi Putri Ernest tidak ada di kamarnya," ucap pelayan ibu ratu.
"Apa maksudmu? Di mana Ernest?"
"Tuan Putri ada di taman bersama dengan Pangeran Lucius."
"Apa?" Arabella terkejut, Ernest dan pangeran Lucius berada di taman? Bagaimana bisa? Tanpa membuang waktu, Arabella bergegas ke taman karena dia ingin melihat apa yang sedang dilakukan oleh Ernest dan pangeran Lucius.
Alena sudah tidak tahan lagi, dia benar-benar tidak suka berduaan dengan pangeran itu. Sudah cukup, lagi pula matahari sudah bersinar dengan terik, dia pun sudah mulai kepanasan.
"Matahari sudah begitu terik, Pangeran. Sudah saatnya aku kembali ke kamarku," ucap Alena.
"Kenapa begitu cepat, Ernest. Kita bahkan belum membicarakan apa pun!"
"Maaf, fisik lemahku ini tidak cocok berada di bawah teriak sinar matahari," jawab Alena beralasan.
"Kau takut dengan sinar matahari atau kau ingin menghindari aku?" tanya Lucius.
"Tidak, untuk apa aku melakukannya?" Alena sudah beranjak. Bahaya, dia harus segera menjauh dari Pangeran Lucius William.
"Aku tahu itu, Ernest. kau tidak bisa berbohong!"
"Apa sebenarnya yang kau inginkan, Pangeran?" tanya Alena dengan nada tidak senang. Lucius beranjak dan mendekati Alena, pria itu berdiri di sisi Alena dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Nanti malam datanglah ke kamarku, aku tunggu!" pinta Lucius.
"Apa?" Alena berpaling, menatap pria itu tajam.
"Jika tidak mau rahasiamu aku sebar maka kau harus datang!" bisik Lucius lagi lalu pria itu melangkah mundur.
"Terima kasih atas perjamuan tehnya, Putri Ernest. Aku akan menjamu dirimu nanti saat kau berada di istanaku," setelah berkata demikian, Lucius mengajak para pengawalnya untuk pergi.
__ADS_1
Kedua tangan Alena mengepal dengan erat. Rahasia apa yang dimaksud oleh Pangeran Lucius? Tidak, jangan katakan Lucius sudah menyadari jika dia adalah wanita yang pria itu temui saat di tengah jalan. Mungkin pangeran sudah tahu dan karena hal inilah sang pangeran berkata jika dia tahu rahasianya.
Alena segera mengajak Amy dan Agnes kembali, celaka, Sungguh celaka. Dia benar-benar harus wadpada pada pria itu. Putri Arabella yang tidak mendapati mereka berdua berada di taman! lagi tampak kesal. Mau tidak mau Arabella pergi ke kamar adiknya untuk mencari tahu apakah Alena sudah kembali atau tidak.
Alena yang kembali dengan perasaan dongkol melangkah mondar mandir di dalam ruangannya. Dia sedang berpikir apa yang harus dia lakukan pada pangeran Lucius yang sudah mengetahui rahasianya. Semua benar-benar diluar rencana, tidak seharusnya dia bertemu dengan pangeran Lucius.
"Ada apa denganmu, Putri?" tanya Amy.
"Aku rasa pangeran Lucius sudah mengetahui jika yang bertemu dengannya waktu di jalan adalah kita berdua!"
"Apa?" Amy terkejut, apa benar? Apa karena hal itu sikap Pangeran terlihat aneh hari ini?
"Bagaimana ini, Putri?" tanya Amy. Dia mulai terlihat khawatir.
"Entahlah, jangan panik. Aku sedang memikirkannya!" dia sungguh tidak menduga ada yang tahu dan sialnya yang tahu justru Pangeran Lucius. Entah apa yang diinginkan oleh pria itu, dia jadi khawatir.
"Jangan sampai dia membocorkannya, Putri," ucap Amy.
"Aku rasa tidak, tenang saja!"
"Segera berbaring, Putri!" ucap Agnes yang sudah membuka selimut. Tanpa membuang waktu, Alena segera berbaring. Amy bergegas membuka pintu dan Agnes sudah mengambil kompres lalu berpura-pura mengompres dahi sang putri.
"Selamat datang, Putri," ucap Amy.
"Mana Ernest? Dia baik-baik saja, bukan?" tanya Arabella.
"Putri kurang sehat dan hampir pingsan karena dia terlalu lama berada di bawah terik sinar matahari," dusta Amy.
"Apa? Apa yang kalian lakukan, kenapa kalian membiarkan Ernest berjemur terlalu lama?" Arabella mendekati Ernest yang pura-pura sakit dengan perasaan kesal. Obat yang dibawa oleh pelayan Arabella sudah berpindah ke tangan Amy, gara-gara obat itulah yang membuat Alena terpaksa memanfaatkan pangeran Lucius dan sekarang, dia berada di dalam masalah.
"Jangan memarahi mereka, Kakak. Aku yang salah karena terlalu lama berjemur," ucap Alena dengan nada lemah.
"Ernest, kau sudah tahu tubuhmu lemah tapi kenapa kau justru pergi berjemur?" Arabella sudah duduk di sisi adiknya dan terlihat khawatir.
"Maaf kakak, aku hanya ingin sebentar saja tapi aku tidak bisa pergi karena Pangeran Lucius berada di taman," ucap Alena.
"Apa? Oh, astaga Ernest. Betapa beruntungnya dirimu!" ucap Arabella.
__ADS_1
"Benarkah? Aku tidak merasa beruntung sedikitpun, kakak."
"Tentu saja, kau sangat beruntung bisa menghabiskan waktu dengan pangeran Lucius."
"Tapi aku tidak merasa itu sebuah keberuntungan, kakak. Kami hanya tanpa sengaja bertemu saja."
"Baiklah, jika aku maka aku akan menganggap itu sebagai sebuah keberuntungan karena aku memang mengagumi dirinya."
"Dia pasti mengagumi dirimu juga kakak, karena kecantikan yang kak Arabella miliki. Pria mana yang bisa menolak? Seperti pangeran yang lain, pangeran Lucius juga tidak akan bisa menolak kecantikanmu," puji Alena.
"Jangan berkata demikian, aku jadi malu. Apa dia ada membicarakan aku?" Arabella terlihat bersemangat. Dia harap Lucius membicarakan dirinya dan mungkin saja, pria itu bersama Ernest untuk mencari tahu tentangnya.
"Yeah, begitulah tapi aku tidak bisa terlalu lama dengannya."
"Lain kali, ajak aku jika kau ingin duduk di taman lagi. Kau mengerti?"
"Tentu, Kakak. Aku hanya sebentar saja tanpa tahu akan bertemu dengannya."
"Baiklah, beristirahatlah. Jangan lupa minum obat dari Bunda," ucap Arabella.
"Terima kasih karena kakak sudah mengkhawatirkan aku."
"Jika begitu aku harus kembali," Arabella sudah beranjak, dia ingin menemui ibunya.
Alena kembali mengucapkan terima kasih, obat pun disingkirkan dengan terburu-buru setelah Arabella keluar. Alena bernapas dengan lega tapi kini dia justru mengkhawatirkan hal yang lainnya dan tentunya yang dia khawatirkan adalah permintaan pangeran Lucius yang memintanya untuk ke kamarnya nanti malam. Sungguh celaka padahal dia tidak suka dengan pangeran itu.
"Tuanku, kedua gadis yang kau perintahkan untuk aku mencarinya, mata-mata yang aku utus tidak bisa menemukan keberadaan mereka," ucap Bastian.
"Tidak perlu lagi, Bastian. Dia sudah ada di depan mata!"
"Benarkah? Apakah mereka adalah kedua gadis yang kita lihat semalam dan apakah mereka adalah?"
"Stts.. pelankan suaramu!" ucap Lucius.
"Bagaimana mungkin, Pangeran. Dia hanya seorang pecundang!" ucap Bastian tidak percaya.
"Menarik, bukan?" Lucius tersenyum penuh arti. Benar-Benar menarik karena si pecundang ternyata menyembunyikan jati dirinya dan dia semakin ingin mengetahui lebih banyak akan putri yang selalu dianggap pecundang itu.
__ADS_1