
Agnes diawasi tentunya kali ini bukan mata-mata tapi seorang pelayan yang memang diutus untuk melihat gerak gerik yang dia lakukan. Agnes tidak tahu siapa tapi dia tahu ada yang memperhatikan dirinya saat sedang membuat sup kacang merah yang diinginkan oleh putri Ernest.
Semoga saja tidak ada racun, semoga tidak karena dia tahu putri Ernest menyukai sup kacang merah dan dia ingin putri Ernest menikmatinya. Agnes tampak waspada, dia membuat sup kacang dengan terburu-buru namun pada saat itu, seorang pelayan lain menghampirinya.
"Masukkan benda ini!" perintah pelayan itu.
Agnes mengambilnya, dia sungguh tidak bisa menolak demi mendapatkan kepercayaan dari musuh sesuai dengan perintah putri Ernest. Mau tidak mau racun pun dimasukkan ke dalam sup kacang merah. Semoga saja putri Ernest tidak memakannya dan sudah membaca pesan yang dia tinggalkan. Agnes terus diawasi, sekarang musuh juga berada di dapur dan segala tempat yang ada di istana memang ada musuh yang harus dia waspada.
Alena sudah menunggunya, dia akan pergi menginterogasi mata-mata yang sudah ditangkap oleh Bastian untuk mencari tahu dan mungkin saja dia mendapatkan petunjuk dari mata-mata tersebut. Agnes kembali dengan sup kacang merah, dia harap tidak ada mata-mata tapi ternyata ada. Meski Alena tahu tapi dia membiarkannya.
"Sup yang kau inginkan, Putri," Agnes memberikan sup kacang merah yang mengandung racun mematikan.
"Terima kasih, Agnes," Alena pura-pura meminumnya dan mata-mata yang sedang mengawasi tampak puas.
"Aku harus pergi sekarang, kau tunggulah di kamar!" perintah Alena.
"Apa yang akan kau lakukan, putri?"
"Pergi menginterogasi mata-mata yang aku tangkap, mungkin saja ada petunjuk yang aku dapatkan jadi berjagalah dengan baik."
"Baik, Putri," jawab Agnes.
Alena keluar dari kamar bersama dengan Amy. Mereka pergi ke penjara di mana mata-mata musuh disekap, tentunya itu penjara yang sudah tidak terpakai namun segala alat penyiksaan masih tertinggal di dalam penjara itu. Setelah kepergian Alena dan Amy, seseorang mengetuk pintu jendela. Agnes tahu itu pasti mata-mata yang ingin tahu apa yang hendak dilakukan oleh Putri Ernest.
"Katakan, ke mana putri Ernest akan pergi?" terdengar pertanyaan seorang pria di luar jendela.
"Putri akan pergi ke penjara untuk menginterogasi mata-mata yang dia tangkap untuk mencari tahu siapa musuh yang harus dia hadapi," jawab Agnes.
"Baiklah, terus cari informasi apa yang dilakukan oleh Putri Ernest dan laporkan padaku!" perintah orang itu.
"Aku akan melakukan apa pun yang diperintahkan!"
__ADS_1
Agnes tahu ini adalah siasat putri Ernest untuk menyusupkan dirinya dan sesuai dengan rencana, musuh tidak curiga sama sekali. Alena yang sudah tahu keberadaan mata-mata itu berdiri di balik tembok di mana dia bisa melihat jendela kamarnya. Amy pun melihat dan terkejut melihat keberadaan mata-mata musuh.
"Apa kau sudah mengetahuinya, Putri?" tanya Amy.
"Tentu saja, semakin Agnes dipercaya semakin dia bisa menyusup ke markas musuh dan aku harap dia tahu apa yang akan musuh lakukan di tanggal lima belas nanti!"
"Rencanamu memang sempurna, Putri. Tapi mengenai sup kacang merah?" dia tahu sup itu pasti beracun, lalu bagaimana putri Ernest masih baik-baik saja padahal air dari sup itu habis.
"Kita harus lebih pintar dari musuh, ayo pergi!"
Alena mengajak Amy pergi, untuk menginterogasi. Apa yang dia lakukan sudah pasti diketahui oleh musuh karena mata-mata itu sudah memberikan laporan jika putri Ernest akan menginterogasi mata-mata yang menghilang dan ternyata sudah tertangkap.
Seorang pria terikat pada tiang, pria itulah yang ditangkap oleh Bastian. Pria itu tampak tidak berdaya karena dia tidak beri makan dan minum. Alena melangkah mendekati pria itu dan berdiri di hadapannya.
"Katakan, siapa yang memerintahkan kau untuk memata-matai aku!" tanya Alena tanpa ragu.
"Siapa pun itu, dia jauh lebih pantas darimu!" jawab pria itu dengan sinis.
"Kau bisa menyimpulkan sesuka hatimu tapi yang pasti, aku tidak akan menjawab apa pun pertanyaan yang kau berikan!"
"Apa kau yakin?" Alena meminta sebatang besi panas yang sudah dibakar oleh Bastian.
"Apa kau yakin tidak mau menjawab apa pun yang aku tanyakan? Aku tidak menanggung akibatnya saat besi panas ini membakar anggota tubuhmu!"
"Lakukan apa pun karena ratuku dapat membangkitkan aku!" ucap pria itu dengan begitu percaya diri.
"Wah.. wah, apa kau kira ratumu adalah Tuhan?"
"Apa pun itu, dia pasti akan membangkitkan aku!"
"Sungguh ajaran yang sangat sesat. Sekarang katakan, apa putri Mauren masih hidup dan di mana dia?" tanya Alena.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, aku tidak akan menjawab apa pun yang kau tanyakan!" teriak pria itu dengan lantang.
"Diam!" Alena pun berteriak lalu besi panas di tempelkan ke dada sandera sehingga teriakannya kembali terdengar.
Besi yang panas membara membakar kulit dan dagingnya sehingga bau daging yang terbakar pun tercium. Di balik teriakan pria itu, terdengar mantera yang diucapkan tentunya itu mantera yang dia ucapkan adalah mantera yang dipercaya oleh pria itu jika dia akan kembali hidup.
Alena menarik besi yang sudah tidak begitu panas, pria itu masih saja mengucapkan mantera bahkan tawa mengerikannya terdengar.
"Aku akan kembali hidup setelah ini, aku akan kembali hidup!" teriaknya.
Amy melangkah mundur karena takut, pria itu masih saja membaca mantera. Benar-Benar sekte yang menyesatkan bahkan dia tidak peduli dengan teriakan Alena yang memintanya untuk diam. Tawanya bahkan kembali terdengar walau Alena kembali membakarnya dengan besi panas. Pria itu tetap percaya jika dia akan hidup meski dia sudah mati.
"Apa pun yang kau lakukan percuma, Putri," ucap Amy.
"Aku akan menginterogasinya lagi nanti!" Alena kembali memberikan besi panasnya pada Amy tapi pada saat itu, tanpa ada yang menduga dan tanpa ada yang tahu, sebuah jarum beracun melesat dengan cepat ke arah mata-mata yang masih juga tertawa.
Jarum beracun itu menancap ke lehernya, tawanya mendadak terhenti dan kedua mata melotot. Agnes sangat heran dan berpaling, pria itu terlihat tidak bergerak sama sekali dengan kedua bola mata yang melotot.
"Sial!" Alena berlari mendekati pria itu dan mendapati sebuah jarum berada di leher namun dia pura-pura tidak tahu dan juga tidak mengambil jarum itu.
"Apa yang terjadi, putri?" tanya Amy.
"Entahlah, sebaiknya kita pergi karena kita tidak mendapatkan apa pun!" Alena mengajak Amy pergi dari penjara.
Lucius yang mendapat kabar itu sudah berada di luar istana, Alena sedikit terkejut namun dia buru-buru mengajak mereka untuk pergi dan bersembunyi.
"Apa yang terjadi?" tanya Lucius.
"Sttss... musuh berada di sekitar kita jadi jangan berisik!" Alena tahu ada musuh yang mengintai dan Agnes berhasil memancing musuh. Panah beracun itu sudah membuktikannya, dia ingin melihat apakah musuh akan muncul atau tidak oleh sebab itu dia tidak mengambilnya dan pura-pura tidak tahu.
Mereka mengintai cukup lama, Amy sampai bosan dan menghitung daun yang berguguran. Alena bahkan berpikir musuh tidak mungkin datang tapi siapa yang menduga, dua orang yang sedang memakai jubah hitam tiba-tiba terlihat mengendap mendekati penjara.
__ADS_1
Alena dan dan Lucius juga kedua pelayan mereka kembali bersembunyi. Akhirnya yang dia tunggu, ternyata dugaannya benar dan jangan katakan pria itu benar-benar akan dibangkitkan karena itu sangat mengerikan.