Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Kecurigaan Pelayan Ernest Dan Fitnah Dari Pelayan Arabella


__ADS_3

Tiba-Tiba Alena merasa tidak enak badan setelah menikmati sup yang dibuatkan oleh Agnes. Perutnya bahkan terasa mual setelah menikmati sup itu. Agnes yang membuat makanan tentu saja jadi cemas dan merasa bersalah karena keadaan putri Ernest jadi seperti itu akibat sup yang dia buat.


Amy mengambil handuk basah dan juga sebuah wadah agar putri Ernest dapat memuntahkan makanannya ke dalam wadah tersebut. Handuk basah tentu saja untuk menyeka keringat yang mengalir dari dahi sang putri.


"Ampuni aku, Putri. Aku tidak menaruh apa pun ke dalam sup itu," pinta Agnes yang sedang duduk di sisi ranjang.


"Apa hanya kau seorang diri di dalam dapur, Agnes?" tanya Amya.


"Tidak, banyak pelayan yang sedang sibuk. Aku memang meninggalkan sup itu sebentar untuk mengambil sesuatu. Mungkin saat itulah ada yang menaruh sesuatu ke dalam sup yang aku tinggalkan. Aku berani bersumpah putri, bukan aku yang melakukannya," ucap Agnes.


"Sudahlah," Alena memegangi dadanya yang sesak, "Tidak perlu menyalahkan diri, jadikan pelajaran untuk kita agar lebih berhati-hati di kemudian hari," ucap Alena.


"Bagaimana dengan keadaan Putri? Bagaimana Putri bisa pergi menikmati teh bersama dengan putri Arabella nanti?" tanya Amy.


"Aku tidak tahu, biarkan aku beristirahat sebentar dan pergilah buatkan obat untukku!" perintah Alena.


"Baik, Putri," Agnes beranjak dan segera pergi untuk membuatkan obat.


"Aku sangat lelah," ucap Alena.


"Beristirahatlah, Putri. Aku akan membangunkanmu jika putri Arabella datang," ucap Amy.


Alena memejamkan mata, drama istana sungguh membuatnya lelah. Jika hal seperti ini terjadi di jaman modern, sudah pasti tertangkap dengan mudah tapi sekarang, dia justru terjebak dalam istana dengan banyaknya drama yang tiada henti. Sepertinya selain dia harus mencari pelaku yang pandai bersembunyi, dia pun harus melewati banyak drama yang tak akan terduga.


Amy yang tidak meninggalkan dirinya, memijat kaki dan lengan Alena tiada henti. Keadaan sang putri tidak sedang baik-baik saja, padahal mereka berniat pergi ke pasar malam tapi sepertinya mereka tidak bisa melakukan hal itu.


Arabella yang sudah terlihat cantik luar biasa pun bergegas menuju kamar adiknya karena dia ingin mengajak Ernest serta ke taman. Sang pelayan yang sudah menaruh racun ke dalam sup putri Ernest sangat yakin putri Ernest tidak akan bisa menikmati teh bersama dengan putri Arabella. Racun yang dia berikan tentunya tidak berbahaya tapi cukup membuat putri Ernest tidak berdaya.


Alena sudah tertidur saat pintu kamarnya diketuk, Amy bergegas menuju pintu dan membukanya. Putri Arabella yang terlihat luar biasa sudah berdiri di depan pintu sehingga membuat Amy memberi hormat dengan cepat.


"Mana Ernest? Apa dia sudah siap?" tanya Arabella.


"Maaf, Putri. Putri Ernest sedang sakit," ucap Amy.


"Apa? Kenapa begitu mendadak?" Arabella menerobos masuk ke dalam karena dia ingin melihat apa yang terjadi dengan adiknya.


"Kakak, sepertinya aku tidak bisa pergi denganmu," ucap Alena yang memang sudah terbangun.


"Ada apa denganmu? Bukankah tadi kau baik-baik saja?" Arabella duduk di sisi ranjang dan memegangi tangan adiknya.

__ADS_1


"Aku terlalu lelah berlatih, Kakak. Kau tahu keadaanku sangat lemah, aku terlalu berlebihan apalagi ini hari pertama aku berlatih jadi maafkan aku yang tidak bisa menikmati teh dengan kakak," ucap Alena berdusta.


"Jangan memikirkan hal itu, yang penting keadaanmu. Kita bisa minum teh bersama setelah keadaanmu membaik jadi jangan dipikirkan."


"Terima kasih atas pengertian kak Arabella."


"Sudah, beristirahatlah. Aku sudah harus ke taman, jangan sampai pangeran Lucius menunggu aku terlalu lama."


"Nikmatilah waktumu, Kak. Aku harap kau dan Pangeran semakin dekat," ucap Alena.


"Hei, jangan mengucapkan perkataan yang bisa membuat aku malu!" ucap Arabella.


"Aku tahu kakak menyukai pangeran."


"Apakah itu terlihat jelas dari wajahku?" Arabella memegangi wajahnya dan tersipu malu.


"Semua orang bisa melihatnya, oleh sebab itu kakak jangan salah paham dengan apa yang aku lakukan dengan Pangeran Lucius. Semua orang tahu aku adalah seorang penyihir, aku rasa pangeran tidak mungkin tertarik dengan putri yang memiliki rumor buruk seperti aku ini."


"Apa yang kau katakan, Ernest. Pangeran pasti tahu kau tidak seperti itu. Dia akrab denganmu karena dia percaya jika kau bukan penyihir," ucap Arabella.


"Baiklah, aku harap kakak menikmati waktu kakak dengan pangeran dan gunakan kesempatan ini dengan baik," ucap Alena.


"Putri Arabella pasti sangat senang putri tidak pergi," ucap Agnes.


"Kenapa kau berkata demikian?" tanya Alena.


"Putri bisa melihat ekspresi wajah pelayannya yang begitu senang, dia pasti berharap putri tidak ikut serta dalam perjamuan teh itu."


"Tunggu, sepertinya aku melihat pelayan putri Arabella saat membuat sup di dapur," ucap Agnes.


"Benarkah?" Jangan-jangan pelayan putri Arabella menaruh sesuatu di dalam sup tuan putri agar putri tidak bisa pergi ke perjamuan," ucap Amy.


"Sepertinya begitu, karena dia tidak mau kebersamaan putri Arabella dan Pangeran Lucius terganggu jadi dia menggunakan cara licik agar tuan putri tidak bisa pergi," ucap Agnes pula.


"Hei, jangan asal menuduh seperti itu, tidak baik apalagi tanpa adanya bukti. Jika kakak Arabella mendengar, tidak saja kalian yang berada di dalam masalah aku pun akan terseret ke dalamnya."


"Tapi tebakan kami tidak mungkin salah, Putri. Aku benar-benar melihatnya saat meninggalkan sup dan lihatlah ekspresinya tadi, dia sangat mencurigakan!" ucap Agnes.


"Seharusnya tuan Putri mengambil tindakan untuk hal ini," ucap Amy pula.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Apa kalian ingin aku menuduh pelayan kakakku tanpa adanya bukti? Orang-Orang yang tidak menyukai aku akan menebar isu jika aku mulai mencari perkara dengan kakakku sendiri bahkan mereka akan menyebar isu jika aku sedang menjatuhkan pamor kakakku agar aku bisa menguasai tahta kerajaan jadi sebaiknya jangan sembarangan mengambil tindakan meskipun memang pelayannya yang melakukan terlepas apakah kakak Arabella tahu akan hal ini atau tidak. Kita ambil hikmahnya, dengan begini aku tidak perlu pergi ke perjamuan minum teh itu karena aku juga tidak mau pergi dan mengenai cindera mata, masih ada hari esok jadi jangan gegabah dalam mengambil tindakan!"


"Putri, kau semakin bijak saja," ucap Amy.


"Benar, dulu putri pasti akan menangis jika putri tidak bisa hadir dalam acara minum teh," ucap Agnes.


"Dulu aku naif tapi sekarang, sudah tidak lagi jadi jangan mengambil tindakan dengan gegabah!" ucap Alena beralasan padahal dia tidak tahu bagaimana kehidupan Ernest dulu.


"Baik, Putri," jawab Agnes dan Amy. Mereka akan selalu setia tapi bagaimana jika mereka akan menghadapi sebuah pilihan sulit nanti. Apakah salah satu dari mereka akan bertahan setia dengan putri Ernest?


Di luar sana, pangeran Lucius mencari keberadaan Ernest saat dia sudah berada di taman. Hanya terlihat putri Arabella saja, sedangkan Ernest tidak terlihat di mana pun.


"Akhirnya kau datang, Pangeran. Aku sudah menunggu," ucap Arabella.


"Mana Ernest, kenapa hanya kau seorang diri saja?" tanya Lucius.


"Adikku tidak bisa datang, Pangeran. Mohon maafkan," pinta Arabella.


"Kenapa? Apa dia sedang sakit? Jika begitu aku harus pergi melihatnya!" ucap Lucius seraya melangkah pergi.


"Jangan, pangeran. Ernest sedang tidak bisa diganggu," ucap Arabella. Jangan sampai acara minum teh mereka jadi gagal.


"Ada apa dengannya, Putri Arabella? Pasti ada alasannya, bukan?"


"Putri Ernest berkata dia tidak sudi minum teh dengan pangeran!" ucap pelayan Arabella dengan cepat. Dia ingin sang putri menikmati malam itu jadi dia harus mencegah Pangeran pergi melihat putri Ernest jika tidak usaha yang dia lakukan akan sia-sia.


"Apa?" Arabella terkejut mendengar perkataan pelayannya.


"Apa yang kau katakan itu benar?" tanya Lucius yang juga terkejut karena perkataan pelayan Arabella.


"Jangan sembarangan bicara, dari mana kau tahu akan hal ini!" ucap Arabella.


"Mohon ampun, Putri," sang pelayan pun berlutut di hadapan putri Arabella, "Aku mendengarnya di dapur, mendengar perkataan kedua pelayan putri Ernest. Mereka berkata putri Ernest tidak mau datang ke acara minum teh ini karena putri tidak mau minum teh dengan Pangeran Lucius oleh sebab itu dia berpura-pura sakit," ucap sang pelayan. Dia benar-benar mengarang cerita yang penting tidak ada yang mengganggu kebersamaan putri Arabella dan pangeran.


"Jadi itu sebabnya Ernest tidak mau datang?" Arabella terduduk, seperti tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Kedua tangan Lucius sudah mengepal erat, apa benar yang dikatakan oleh pelayan Arabella. Rasanya tidak ingin percaya tapi melihat ekspresi Arabella yang juga terkejut sepertinya dia harus mempercayai hal itu.


"Pangeran, bagaimana jika kita mulai saja acara minum tehnya?" ajak Arabella.

__ADS_1


"Baiklah," Lucius menghampiri putri Arabella. Bulan malam ini memang indah, tapi sayangnya tidak ada Ernest di tambah dia harus mendengar ternyata Ernest tidak mau minum teh dengannya. Entah benar atau tidak, akan dia pastikan nanti.


__ADS_2