
Pasar malam begitu ramai, Alena dan kedua pelayannya tentu menyamar agar tidak ada yang tahu. Mereka berbaur dengan para gadis yang hendak melihat pertunjukan dan membeli beberapa barang yang dijual di pasar malam itu.
Setelah meminum obat yang dibuat oleh Agnes, Alena sudah merasa lebih baik oleh sebab itu dia memutuskan untuk pergi membeli cindera mata yang akan dia berikan pada Pangeran Lucius nanti. Alena benar-benar tidak tahu jika pria itu sudah pergi untuk kembali ke istananya.
Alena dan kedua pelayannya sedang berdiri di depan sebuah pertunjukan. Para masyarakat pun berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan itu. Para aktor dan artis memainkan kisah penyihir yang mengutuk seorang putri cantik lalu seorang pangeran tampan menyelamatkan sang putri dan menghabiskan Pangeran.
"Aku suka kisah ini," ucap Alena yang sedang menonton sambil bersandar di sebuah batang pohon namun jauh dari orang-orang. Jangan sampai ada yang tahu siapa dirinya. Alena pun menikmati manisan yang dia beli, pertunjukan yang sangat bagus untuk era kuno seperti itu. Ternyata sejak jaman dulu orang-orang sudah pandai berakting.
"Sepertinya mereka menyinggung dirimu, Putri," ucap Amy yang sedang berdiri sisi sang putri.
"Benar, penyihir itu pasti adalah dirimu dan sang putri yang dikutuk oleh penyihir adalah putri Arabella. Pangerannya sudah pasti tanpa perlu kita katakan," ucap Agnes.
"Jangan mengada-ada, ini hanya drama saja jadi jangan disangkut pautkan!" ucap Alena.
"Tapi drama ini sudah jelas menyinggung putri," ucap kedua pelayannya.
"Sttss, sebaiknya pelankan suara kelian agar tidak ada yang tahu jika tidak kita akan di arak dan dibakar seperti waktu itu!"
"Baik, Putri. Kami tidak akan asal bicara!"
Mereka kembali menonton pertunjukan, pasar malam semakin ramai saja oleh sebab itu Pangeran Lucius tidak melewati tempat itu karena bisa menghambat perjalanan. Mereka sudah harus tiba besok sore oleh sebab itu pangeran Lucius tidak melewati pasar malam itu agar dia bisa cepat tiba.
Lucius memacu kudanya dengan kecepatan tinggi, menebus hutan yang lebat. Rasa penyesalan tidak bisa bertemu dengan Ernest dia rasakan tapi dia akan menemui Ernest secara diam-diam nanti. Untuk saat ini dia harus fokus untuk kembali ke istana.
Alena sudah selesai menyaksikan pertunjukan, dia segera mengajak kedua pelayannya untuk bergegas membeli hadiah untuk Pangeran Lucius. Mereka sudah harus kembali ke istana agar tidak ketahuan dan memang pada saat itu, Arabella sedang menuju kamar Ernest karena dia ingin mencurahkan kesedihan yang dia rasakan pada adiknya akibat harus berpisah dengan Pangeran Lucius.
"Ernest, apa kau berada di dalam?" Arabella memanggil sambil mengetuk pintu. Hening, tidak ada yang menjawab. Arabella sangat heran, dia kembali memanggil tapi adiknya tidak menjawab sama sekali. Kini dia mulai curiga, jangan katakan Ernest tidak ada.
"Panggil seseorang untuk mendobrak pintunya!" perintah Arabella.
"Baik, Putri," sang pelayan bergegas pergi untuk memanggil penjaga sesuai dengan perintah sang putri. Sang pelayan pun terburu-buru sampai membuat ibu ratu yang hendak masuk ke dalam kamarnya menjadi curiga apalagi itu adalah pelayan putrinya. Jangan katakan terjadi sesuatu pada putrinya, sebaiknya dia segera melihat apalagi sang pelayan kembali dengan dua orang prajurit.
Pelayan Arabella kembali, sang putri menunggu dengan cemas. Dia sudah memanggil Ernest dan juga kedua pelayannya tapi tidak ada yang menjawab sama sekali. Perasaan jika telah terjadi sesuatu yang tidak bisa adiknya hindarkan membuat Arabella semakin cemas.
__ADS_1
"Segera dobrak!" perintah Arabella.
"Tunggu!" perintah sang ratu yang sudah mendekati putrinya.
"Hormat kepada Bunda," Arabella memberi hormat, begitu juga dengan yang lain.
"Apa yang kalian lakukan, Arabella? Kenapa kalian berdiri di depan kamar Ernest?" tanya ibu ratu.
"Aku khawatir dengan Ernest, Bunda. Aku sudah memanggil sedari tadi tapi tidak ada jawaban. Amy dan Agnes juga tidak menjawab panggilanku. Aku takut terjadi sesuatu dengan Ernest karena dia kurang sehat saat aku menjenguknya sebelum aku pergi minum teh," jawab Arabella.
"Apa, benarkah?" ibu ratu tampak cemas, dia bergegas mendekati pintu dan mengetuknya sambil memanggil Ernest.
"Ernest, ini bunda. Apa kau mendengar Bunda?" panggil ibu ratu.
"Percuma, Bunda. Aku sudah memanggil sedari tadi," ucap Arabella.
"Baiklah, segera dobrak!" perintah ibu ratu.
Dua prajurit yang dipanggil oleh pelayan Arabella sudah mendobrak pintu yang terkunci. Ibu ratu dan Arabella tampak khawatir. Mereka harap Ernest baik-baik saja di dalam sana. Sang ratu justru takut, putri dan kedua pelayannya diracuni.
"Tunggu, Putri. Jangan buru-buru!" teriak kedua pelayannya.
"Cepat, jangan sampai ada yang melihat kita!" Alena terus berlari, dia sungguh tidak menduga jika ibu dan kakaknya sudah berada di dalam kamarnya untuk mencari keberadaannya.
"Ernest!" ibunya memanggil, Arabella pun mencari keberadaan adiknya di dalam kamar tapi tidak ada.
"Di mana Ernest? Apa tidak ada yang melihatnya?" tanya ibu ratu. Dia sangat khawatir karena putrinya tidak ada.
"Sebelum aku pergi menemui pangeran Lucius, Ernest berbaring dan berkata dia ingin beristirahat," ucap Arabella.
"Sekarang di mana dia?"
"Entahlah, Bunda. Sebaiknya kita mencarinya."
__ADS_1
"Jika begitu, segera cari!" perintah ibu ratu.
Kedua prajurit segera bergegas mencari, pelayan Arabella pun melakukannya. Entah kenapa dia justriu berharap Ernest tidak pernah kembali lagi.
Alena yang sudah hampir tiba di kamarnya menghentikan langkah dengan terburu-buru saat melihat beberapa pengawal keluar dari kamarnya. Celaka, Alena bahkan mengintip dari balik tembok untuk melihat apa yang terjadi dan terkejut saat melihat ibu ratu dan putri Arabella keluar dari kamarnya.
"Oh, tidak. Bagaimana ini putri?" tanya Amy yang juga mengintip dari belakangnya.
"Gawat!" Alena memutar otak, bagaimana dia harus kembali agar tidak dicurigai?
"Bagaimana ini, Putri?" tanya Agnes.
"Sttss... aku sedang berpikir!" sungguh bisa celaka jika mereka ketahuan pergi ke pasar malam tapi bagaimana dia harus mengelabui ibu ratu dan Arabella?
"Bagaimana, Putri?" Amy dan Agnes tampak panik.
"Pergilah ke dapur dan bawa ini bersama dengan kalian!" Alena memberikan barang yang dia beli dan melepaskan samarannya, dia bahkan berusaha terlihat santai saat melangkah kembali menuju kamarnya agar tidak ada yang curiga.
Ratu dan Arabella masih terlihat panik, mereka pun mencari Ernest tapi ketika sang ratu melihat putrinya, ibu ratu langsung berlari menghampiri putrinya.
"Ernest, dari masa saja kau?" ibu ratu memeluk putrinya dengan erat, dia benar-benar khawatir.
"Maaf, Buda. Di kamar panas, jadi Ernest pergi jalan-jalan sebentar untuk mencari angin," dusta Alena.
"Benarkah?" tanya Arabella tidak percaya. Tidak biasanya Ernest pergi dari kamarnya apalagi saat larut malam seperti itu.
"Percayalah padaku, Kakak. Agar tidak ada yang tahu, aku menyamar jadi pelayan. Aku jalan-jalan sebentar bersama dengan Amy dan Agnes."
"Sekarang di mana kedua pelayanmu?" tanya kakaknya lagi.
"Aku meminta mereka membuatkan sup dingin untukku," dusta Alena.
"Baiklah, tidak perlu berdebat. Kau benar-benar membuat Bunda khawatir. Sekarang pergilah beristirahat, jangan sampai kau jatuh sakit," ucap ibunya.
__ADS_1
"Baik, Bunda," Ernest sangat lega. Hampir saja. Ibu ratu meminta mereka untuk kembali ke kamar. Sebaiknya dia tidak gegabah lagi karena dia tidak mungkin memiliki keberuntungan seperti itu dan memang, Arabella yang curiga dan tidak percaya dengan alasan yang diberikan oleh Ernest mengutus seseorang untuk memata-matai Ernest.